
Suara pijakan dedaunan kering itu semakin mendekat. Flo yang kini dalam posisi berdiri bersiap untuk lari jika itu adalah sesuatu yang membahayakan.
1
2
3
“Tak perlu memasang raut wajah jelek seperti itu manusia hina, Huhh!!” Ucap seseorang.
Terkejut? Sudah pasti!! Suara itu adalah suara yang sama yang ia temui di istana langit.
Hanya satu orang saja yang mengatainya seperti itu.
“Cihh!! Ternyata kau?? Benar-benar mengganggu ketenanganku saja.” Dengus Flo dan duduk kembali ke ayunan.
Kalian sudah tau dengan siapa Flo berbicara! Siapa lagi jika bukan binatang berbulu yang selalu memanggil Flo dengan panggilan menohok.
Entah ada keperluan apa Leo datang kemari.
“Ada apa binatang berbulu seperti kau berkeliaran kemari? Aku sangat yakin, jika pengawal melihatmu akan langsung diburu.” Ucap Flo yang mana mengundang geraman dari moncong Leo.
Apakah manusia hina ini tengah mencemoohnya? Ingatkan Leo jika wanita di hadapannya adalah yang dipilih oleh Tuan Fenrir. Kesayangan dewa dan dewi mungkin??
Cakar tajamnya begitu siap ingin mencabik-cabik tubuh Flo dengan sadis.
“Cih!! Jika bukan karena perintah dewa, aku begitu malas melihat manusia hina sepertimu. Tak ada sopan santun sedikit pun kepada diriku yang derajatnya lebih tinggi.” Ucap Leo angkuh.
Tentu saja!! Dirinya adalah pengawal para dewa di istana langit. Sangat di agung-agungkan manusia.
Mau dilihat bagaimana pun, manusia adalah makhluk ciptaan yang derajatnya paling tinggi. Flo jadi ingin tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan yang bernada angkuh itu.
“Langsung saja, ada apa binatang berbulu yang derajatnya lebih tinggi berkeliaran di bumi yang hina ini?” Tanya Flo dengan penekanan di beberapa kata.
Tanpa banyak berkata, Leo membuat sebuah portal seperti sebelumnya. Melihat itu, Flo segera mengambil jarak dari Leo.
“Grrrr.... Mendekatlah kau kemari, manusia hina.” Gertak Leo.
“---”
Terdiam!! Hanya itu yang dilakukan Flo. Sudah cukup kerusuhan yang terjadi saat dirinya masuk ke dalam portal itu. Flo merasa hanya pergi beberapa saat saja tetapi sudah berminggu-minggu di dunia nyata.
“Kemari kubilang!!”
“Jangan memaksaku untuk menuruti perkataanmu, sialan!!” Balas Flo ikut membentak Leo.
Suasana hatinya sedang kacau dan Leo malah semakin menyulut kekesalan di hatinya.
GRRR....
Suara geraman dari Leo pertanda emosinya terpancing. Masing-masing dari keduanya bertahan dengan ego dan tak ada yang mau mengalah.
Perlahan tapi pasti Leo berjalan mendekat ke arah Flo. Tak lupa geraman mengancam juga terdengar darinya.
Tetapi...
Tubuh Leo tiba-tiba tak dapat digerakkan, seakan kaku bagaikan patung. Meskipun sudah sekuat tenaga dan menggunakan kekuatan sihirnya, namun ia tetap tak dapat bergerak juga.
Flo yang melihat hal itu juga kebingungan. Sepertinya ada yang tidak beres dengan binatang berbulu itu.
“Hei!! Apakah kau baik-baik saja?”
“T-tuan Fenrir?”
Tuan Fenrir? Nama yang selalu ditanyakan oleh Leo kepadanya. Tetapi siapa dan dimana?
Dari arah samping Flo, serigala kecil yang tak lain adalah Siu muncul dengan aura yang berbeda.
Flo pun bahkan tak dapat mengenali jika itu adalah Siu. Ibarat kau memiliki kucing dengan motif yang sama dengan kucing orang lain tetapi ikatan batin terasa berbeda. Seperti itu yang dirasakan Flo.
Tetapi tunggu dulu!! Tadi Leo memanggil Siu dengan sebutan apa tadi? Tuan Fenrir? Apakah pendengarannya sedang bermasalah? Jadi benar selama ini dugaannya jika Siu adalah Tuan Fenrir yang dimaksud Leo?
“Apa yang kau lakukan padanya?” Ucap Siu untuk pertama kalinya.
Suara yang berat tetapi begitu lembut masuk di pendengaran. Suara yang membuat kaum hawa terpikat, berbanding terbalik dengan suara Leo yang terkesan kasar.
“Dengan pemaksaan seperti ini? Apakah itu perintah dari mereka?”
“T-tidak Tuan!! Hanya saja manusia hina in---”
GRRR...
Meskipun Siu adalah serigala kecil, namun suara geramannya sangatlah menakutkan jika dibanding Leo. Flo bahkan sedikit merinding mendengar suara itu.
“Siapa yang kau sebut manusia hina? Bukankah kau begitu lancang menyebut Tuanku dengan panggilan seperti itu? Haha... Aku menjadi kesal!!”
Bukan pertemuan semacam ini yang diharapkan Leo. Jika saja manusia hina dihadapannya menuruti perkataannya, tentunya tak akan memancing emosi Tuan Fenrir.
Benar-benar, manusia sangatlah mengesalkan.
Setelah mengucapkan kalimat tadi, Siu tiba-tiba merubah bentuknya yang dari serigala kecil menjadi serigala yang ukurannya sedikit lebih besar dari Leo.
Bulu berwarna kemerahan gelap dengan 9 ekor yang menjuntai membuat penampilan Siu menawan.
Bulunya terlihat lebat dan mungkin sangat lembut saat di usap. Tetapi tiba-tiba pandangan Flo terasa mengabur dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
***
Saat membuka mata pertama kali, yang dilihat Flo adalah dahan pohon. Apakah tadi ia sedang bermimpi?
Entah mengapa Flo merasa jika alas bantal yang ia pakai terasa lembut dan juga wangi. Bahkan wanginya melebihi parfum yang digunakan Lylia, sahabatnya.
Bantal berbulu yang begitu nyaman...
T-tunggu!!
Bulu??
Segera Flo bangun dan melihat apa yang ia jadikan alas. Kepalanya terasa sedikit pusing dikarenakan langsung bangun tanpa aba-aba.
Benar!! Itu adalah bulu berwarna kemerahan yang dilihatnya sebelum jatuh pingsan.
“S-siu??”
“Oh Nona!! Aku mengira jika Nona akan terbangun esok hari. Tak apa!! Tidurlah di sisi perutku ini, bukankah terasa lembut?” Tanya Siu dan dibalas anggukan polos Flo.
“Apa yang terjadi? Dimana Leo si binatang berbulu itu? Dan k-kau? Bagaimana bisa ini terjadi?” Pertanyaan beruntun di lontarkan Flo kepada Siu yang nampak berbaring malas.
Tadi saat bersama dengan ketiga dayang permaisuri Ling yang telah tertidur di kamar mereka terdahulu, ia merasakan hawa keberadaan Leo.
Jujur saja ia cukup terkejut mengapa Leo bisa berada di bumi dan berada dekat dengan manusia. Siu tau betul jika untuk alasan apapun, Leo tak ingin berhubungan dengan manusia dan beranjak dari istana langit.
Jadilah ia memeriksa keadaan sekitar dan merasakan keberadaan Leo di area sana. Dan mengejutkan terjadi perselisihan antara Flo dengan Leo.
Melihat Leo akan melakukan kekerasan kepada Tuannya permaisuri Ling, segera Siu mengambil posisi dengan menahan pergerakan tubuh Fenrir.
“Nona!! Apakah itu penting dibahas sekarang?” Tanya Siu pelan
“Tentu saja!” Bisa semalaman Flo tak akan tidur memikirkan ini semua.
“Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?”
“Kesepakatan?”
Pembicaraan mereka berdua mulai serius saat ini. Siu yang tadinya berbaring kini mengambil posisi duduk dengan menatap lekat ke arah Flo.
“Jalinlah kontrak denganku, Nona!”
Ucapan Siu membuat Flo spontan mengerutkan kening. Kontrak katanya? Mengapa kata itu seakan memiliki korelasi dengan ucapan para dewa dan dewi, juga Kakek Mo?
Akal sehat Flo masih tak dapat mencerna semuanya. Berkontrak dengan hewan? Maksudnya apa?
“H-hah?” Hanya itu yang mampu di ucapkan Flo.
“Aku akan menjelaskan semuanya tetapi Nona harus menjalin kontrak denganku. Ayolah Nona!! Apakah kau tak merasa kasihan dengan serigala menggemaskan ini?” Tanya Siu.
Menggemaskan katanya? Mungkin dari wujud masuk ke dalam kategori itu. Tetapi suara Siu yang berat dan menyebut dirinya menggemaskan malah terkesan menggelikan.
......See You Next... ...