
Segala doa dipanjatkan Flo kepada Tuhan karena bisa terbebas dari pria tua yang ditemuinya tadi. Beruntung ia bisa beralasan jika ada hal yang sangat mendesak.
Ingatlah, Flo paling tidak bisa mengelabui atau bahkan berbohong di hadapan orang tua. Seketika ia teringat lagi dengan Nenek yang berada di dimensi yang berbeda.
“Huhffhh.. Untung saja aku sempat mencari alasan.” Gumam nya sembari menghela nafas lelah.
Flo sampai saat ini belum mengetahui jika rumor itu telah usai karena jarang keluar berkeliaran di istana. Jawabannya hanya satu, takut bertemu dengan sang Kaisar.
“Baiklah kita kembali ke rencana awal. Jika ingin mencari tanaman bumbu, mungkin tidak di pasar atau di wilayah ini. Apakah harus ke hutan?” Tanya Flo pada dirinya sendiri.
Ia masih menimbang-nimbang apakah ingin pergi atau masih ingin mencari di sekitaran dinasti Tang? Lagi pula pelayan istana saja tidak tau apa itu bumbu lalu bagaimana dengan para penjual yang berasal dari kalangan biasa?
Sudah diputuskan! Flo akan mencarinya ke hutan. Tetapi pergi sendiri? Oh tidak.. Tidak.. Di hutan sudah pasti banyak hal yang akan mengancam nyawa.
“Akan kubicarakan dengan dayang Wan juga dayang Fuo.”
Setelahnya Flo kembali berjalan menuju ke kediamannya yang berada agak di belakang istana kekaisaran. Ia harus cepat bergerak apalagi disituasi sekarang ini.
Sesampainya di sana, dilihat para dayang tengah menanam bunga di dekat pohon besar. Karena posisi kediaman Flo agak jauh dibelakang hingga mereka bebas melakukan apa saja.
Jika kalian berfikir itu adalah perintah Flo, maka kalian agak keliru. Para dayangnya lah yang menanam bunga dengan berdalih jika bosan tak melakukan apapun. Apalagi setelah permaisuri mendapat pekerjaan dan mereka pun dilarang untuk kembali bekerja di istana kekaisaran.
“Dayang Fuo, kau sedang menanam bunga apa?” Tanya Flo mengejutkan sang empu.
“Ya Dewa!! P-permaisuri mengejutkan hamba. Sekarang ini hamba sedang menanam bunga yang entah apa namanya. Kebetulan kemarin setelah membeli makanan hamba langsung membelinya karena terlihat sangat indah. M-maafkan hamba yang menggunakan sisa koin kemarin demi bunga ini permaisuri.” Sesal dayang Fuo.
Sedangkan Flo sendiri tak masalah. Lagi pula dilihat dari bentuknya ia sudah hafal betul dengan bunga yang dibeli dayang Fuo. Tentunya bisa dijadikan camilan, haruskah aku memujinya??
“Tak apa dayang Fuo, harusnya aku berterima kasih kepadamu. Rawatlah bunga ini sampai waktunya tiba akan menjadi camilan enak untuk kita berempat.” Kata Flo dengan senyum penuh misteri.
Hampir saja ia lupa tujuan datang kemari menemui para dayangnya. Karena hari masih pagi jadi akan cukup banyak waktu mencari bumbu.
“Apakah kalian tau hutan terdekat disini?”
“H-hutan? Permaisuri ingin apa di hutan? Akan sangat berbahaya untuk keselamatan permaisuri.” Ucap dayang Wan dengan tegas.
“Aku ingin mencari sesuatu di sana, ayolah!! Kita tak perlu masuk hingga ke dalam hutan, cukup di tepi saja bagaimana? Ku mohon!!” Pinta Flo dengan memasang wajah sedih tapi terkesan menggemaskan.
Siapa yang akan menolak tatapan mata bulat polos berair itu? Ibarat anak kecil yang harus sesegera mungkin dituruti permintaannya.
“Hamba tau, tetapi sebaiknya kita membawa pengawal untuk ikut serta permaisuri.” Usul dayang Fuo dan diangguki dayang Wan.
Pengawal? Pastinya akan sangat merepotkan. Dan satu lagi, pasti bidak kaisar itu akan melaporkan pada sang atasan.
Bidak? Apakah tidak ada kata yang lebih pantas sehingga menggunakan kata bidak? o(╥﹏╥)o
“Jika kita membawa pengawal untuk ikut serta, dia pasti akan melapor pada pria itu dan aku akan dilarang untuk bepergian. Apakah kalian senang jika aku dikurung atau bahkan disiksa karena lancang dengan sesuka hati keluar masuk istana?” Memang Flo ini sangat ahli dalam menarik simpati orang lain.
Memikirkan sejenak pernyataan permaisuri Ling yang cukup masuk akal, mereka pun pada akhirnya menyetujui meskipun terbesit rasa khawatir dengan apa yang akan mereka temui di hutan.
“Apakah ada bandit yang ingin menjarah wanita miskin seperti kita ini? Dari penampilan kita saja mereka akan berfikir ratusan kali untuk merampok.” Balas Flo telak.
Kau kira perompak hanya mencuri harta? Kalian adalah WANITA kalau lupa!  ̄へ ̄
Setelah negosiasi panjang yang dilakukan mereka berempat, telah diputuskan yang akan menemani Flo adalah dayang Wan. Sedangkan dayang Fuo akan tetap berada di sini dan menemani dayang kecil Wen.
“Baiklah, kami akan segera pergi dan pulang secepat mungkin. Dan ingat! Kalian jangan sampai ada yang bekerja di istana kekaisaran mengerti!!” Titah tegas Flo dan diangguki dayang Fuo beserta dayang Wen.
***
Ternyata perjalanan menuju hutan terdekat di wilayah itu kira-kira memakan waktu setengah jam dengan menaiki gerobak kuda. Tentunya Flo bepergian dengan menggunakan cadar tipis diwajahnya.
“Apakah masih jauh dayang Wan?” Tanya Flo tak sabaran.
“Mungkin sebentar lagi, harap bersabar sedikit Nona.” Sesuai perjanjian, saat berada diluar istana harus memanggil Flo dengan sebutan Nona.
Tak lama setelah mengatakan itu, mereka pun telah sampai di tepi hutan. Dayang Wan pun mengeluarkan 2 keping perak dan diberikan kepada kusir.
“Nona, apakah Nona benar-benar ingin masuk? Apa sebaiknya kita kembali saja?” Risau dayang Wan.
Kembali? Oh tidak... Tidak... Keuntungan sudah menanti di depan mata apa harus disia-siakan?
“Kalau kau takut, kau bisa menunggu disini saja dan biarkan aku masuk sendiri.” Usul Flo yang tentunya di tolak mentah-mentah oleh dayang Wan.
Tak akan ia biarkan permaisuri Ling masuk mengelana di hutan sendirian. Bagaimana jika beliau tersesat? Setidaknya ada dirinya yang akan berguna jika kemungkinan buruk terjadi.
“Hamba ikut permaisuri.” Ucap dayang Wan tegas dan mereka pun perlahan masuk ke dalam hutan.
Suasana asri juga senyap yang menyapu di indera pendengaran mereka pertama kali. Kicauan burung begitu terdengar jelas seakan menyambut kedatangan mereka berdua.
Mata Flo begitu tajam memperhatikan tiap tanaman yang ia temui apakah sesuai dengan yang dicarinya.
Srekk... Srekk...
“Itu.. Daunnya mirip dengan serai, apakah itu tanaman rempah?” Guman Flo sambil perlahan mendekat ke arah tanaman itu.
Permukaan daun itu agak tajam saat diusap berlawanan arah dan terdapat aroma khas saat daunnya di remas. Sudah dipastikan jika tanaman itu adalah serai.
Dengan segera Flo mengambil tanaman itu dengan akar yang masih melekat dalam jumlah yang cukup banyak kemudian dimasukkan ke dalam karung goni. Raut wajah puas terpancar jelas di sudut mata dayang Wan.
Dayang Wan yang melihatnya pun tak dapat menutupi kebingungannya. Sedari tadi ia bertanya-tanya mau diapakan karung goni, pisau beserta keranjang tangan yang dibawa mereka tadi.
“Permaisuri, mau diapakan tanaman liar itu?” Tanya dayang Wan.
“Nanti saja ku jelaskan, lebih baik kau membantuku untuk mengambil tanaman ini.” Pinta Flo dan segera dilaksanakan oleh dayang Wan meskipun masih terbesit pertanyaan dalam hatinya.
...SEE YOU NEXT...