THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 13



Dengan raut wajah yang masih tak enak di pandang, Flo berusaha keras menahan geraman marah dengan semua ini.


Statusnya yang masih sangat di waspadai oleh kaisar membuat Flo tak bisa menuntut keadilan. Mau tidak mau selama ia masih berada di bawah kekuasaan kaisar itu, ia harus bisa mencari penghasilan sendiri.


Tak lupa juga dengan misi utamanya untuk mencari bumbu rempah dan setelahnya ia akan menjadi orang yang paling berharga karena menemukan bumbu untuk kelangsungan makanan penyedap kedepannya.


“Bagaimana caranya aku mendapatkan koin?” Gumam Flo.


“Haishh!! Di jamanku, aku tak memiliki keahlian apapun kecuali....”


“...desain baju?”


Flo jadi teringat dengan sedikit keahliannya dalam merancang pakaian. Tapi, apakah di ruang dimensi ini selera dan responnya akan sama saat di jamannya?


“Rakyat di dimensi ini mengenakan hanfu sebagai pakaian sehari-hari. Apakah jika aku padu-padankan dengan desain di masa depan, mereka akan menyukainya?” Tanya Flo pada dirinya sendiri.


Tetapi Flo berharap besar dengan keahliannya itu. Mungkin bekerja sama dengan para tukang jahit dan toko kain bisa memberikan keuntungan besar padanya.


“Apakah kalian tau toko pakaian di sekitaran sini?”


Dayang Wan segera menjawab pertanyaan permaisuri Ling. “Tentu permaisuri!! Toko itu sangatlah terkenal di kekaisaran ini, bahkan para putri bangsawan pun sering berkunjung kesana. Kalau boleh tau, apa yang anda ingin lakukan?”


Mengingat sisa uang mereka tersisa 2 keping perak saja membuat dayang Wan berjaga-jaga. Harusnya mereka bisa bekerja dengan giat lagi di istana untuk mendapatkan kepingan lebih.


Tetapi uang mereka semua hampir habis untuk membeli obat akibat bekas cambukan sang kaisar. Tentunya ia harus pergi ke pasar kota mencari obat yang dibutuhkan.


“Tak apa, hanya saja aku ingin berbisnis dengannya.” Jawaban Flo membuat kening ketiga pelayannya mengerut.


“Permaisuri... Apakah permaisuri benar-benar akan melakukan bisnis? Bisnis apa yang akan anda lakukan dengan toko pakaian? Permaisuri harus tau betul target pasarnya untuk siapa!”


Dayang kecil Wen nampak menelengkan kepalanya ke kiri dan agak mendongak sedikit. Apakah benar jika permaisuri mereka akan berbisnis? Meskipun ia masih muda, tetapi beberapa pengetahuan seperti ini ia tahu betul.


“Hey dayang kecil, otakmu dalam berbisnis tidak bisa kuragukan rupanya.” Puji Flo.


Dayang Wan pun mulai membimbing permaisuri mereka menuju salah satu toko pakaian yang cukup ramai pengunjung dari kalangan menengah ke atas.


Penjaga toko yang berdiri di pintu depan nampak memberikan senyuman ramah tiap pengunjung yang datang dan baru selesai berbelanja di toko mereka.


“Terima kasih Nona, berkunjunglah kembali lain waktu!!” Ucapnya pada seorang bangsawan muda.


Tak heran jika tempat itu banyak di datangi para pelanggan. Selain menjual hanfu berkualitas, pelayanan yang di berikan toko itu begitu prima dan nampak ramah saat bertutur sapa dengan tiap pengunjung.


“P-permaisuri?? Apakah permaisuri benar-benar akan berkunjung ke toko pakaian itu?” Tanya dayang Fuo gelisah.


Kecemasan berlebih dirasakan oleh dayang Wan juga dayang Fuo. Mereka takut jika ada yang mengenali wajah permaisuri Ling dan akan melontarkan kalimat hinaan sebagai permaisuri tak berguna.


“Tentu saja! Hanya ini cara yang bisa aku lakukan untuk kehidupan kita kedepannya. Sudahlah, tak usah risau. Tak mungkin ada yang mengenali kita di tempat ini.” Sebisa mungkin Flo menenangkan kegelisahan para dayangnya.


Selain keluar secara sembunyi-sembunyi, hanfu yang mereka gunakan tak begitu mencolok tetapi terkhusus Flo, ia menggunakan cadar tipis untuk menutupi wajahnya. Tak lupa caping rotan menutupi rambut indahnya.


“Selamat datang Nona-nona!” Kata penjaga toko itu dengan ramah kepada Flo beserta ketiga dayangnya.


“---”


Ia pun mengangguk singkat dan masuk bersama para dayangnya. Tatapan kagum terpancar jelas di mata ketiga dayang Flo.


Seumur hidup baru kali ini mereka masuk ke tempat ini. Hanfu mewah bersulamkan perak begitu mendominasi lantai pertama. Mungkinkah di lantai dua lebih dari pada ini?


Tangannya baru saja ingin menyentuh pakaian itu, namun segera di tegur oleh dayang Wan. “Adik!! Tidak sopan bertingkah seperti itu.”


Dengan patuh dayang kecil Wen berdiri diam tetapi matanya tetap meneliti model hanfu yang bisa di tangkap oleh indera penglihatannya.


Matanya berbinar cerah dan berandai-andai kapan bisa mengenakan hanfu indah itu. Pikirannya pun melayang membandingkan hanfu yang ia miliki dengan yang terpajang di sini. Sungguh jauh berbeda, bahkan dari segi kualitas pun sangatlah kalah jauh.


Flo menjadi kasihan melihat tatapan mata penuh harap dari dayang kecilnya. Ia berjanji, jika sudah mempunyai uang nantinya tak hanya hanfu, bahkan tiap pekerjanya pun akan ia beli dengan harga pantas.


“Nona!” Panggil Flo pada salah seorang penjaga toko.


Merasa dirinya di panggil dengan segera ia melangkah mendekat ke arah Flo.


“Iya Nona, ada yang bisa saya bantu? Toko kami memiliki banyak jen---”


“Aku ingin bertemu dengan pemilik toko ini, bisa?” Tanya Flo langsung. Sedangkan pelayan tadi yang berniat menjelaskan hanfu yang tersedia di toko mereka tak dapat menyembunyikan raut wajah bingungnya.


‘ Apakah salah satu pekerja di sini telah menyinggung Nona ini? ’ Batinnya.


“B-baik, Nona. Saya bicarakan dulu dengan beliau.”


Segeranya pelayan itu pamit dan menyisakan mereka berempat di tengah keramaian pengunjung. Bahkan beberapa pengunjung nampak memperhatikan Flo dengan intens.


Cadar tipis di sertai caping membuat penampilan Flo begitu menawan. Jika dulu Flo akan merasa risih juga minder saat di perhatikan sekitar dengan tubuh tambunnya, sekarang ia sudah merasa percaya diri.


Flo jadi berniat ingin membuka toko pakaian miliknya sendiri. Tetapi tentunya memerlukan modal yang cukup banyak. Apakah meminta kepada orang tuanya? Ahh!! Tidak!! Ia ingin berdiri dengan kakinya sendiri tanpa bantuan orang yang bahkan statusnya keluarga sendiri.


Setelah menunggu beberapa lama, pelayan tadi kembali dan segera mengarahkan Flo beserta para dayangnya ke tempat pertemuan.


“Nona, mari saya antar Nona-nona semua ke lantai tiga. Beliau sudah menunggu disana.” Ujar si pelayan dan mereka pun mengikuti kemana pelayan mengarahkannya.


Ternyata mereka di arahkan ke lantai tiga dimana area itu begitu sunyi bahkan tak ada suara sedikitpun. Dayang kecil Wen memegang erat tangan dayang Wan dikarenakan agak takut dengan suasana sepi itu.


“Baiklah, silahkan Nona semua masuk ke dalam. Beliau telah menunggu.” Pinta si penjaga toko dan berlalu pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


Flo menatap ke arah dayangnya dan segera mengajak mereka ikut masuk bersamanya.


Dilihatnya seorang pria berumur dengan tubuh kurusnya sedang duduk bersantai sambil memeriksa beberapa gulungan kertas.


Flo dengan segera duduk di kursi dalam ruangan itu tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Toh, jika ia diijinkan untuk bertemu dengan si pemilik toko itu sama saja ia sudah diijinkan untuk melakukan apa saja selama masih wajar bukan?


“Ada yang bisa saya bantu nona manis?” Tanya pria itu agak mendayu. Bisa Flo tebak jika pria yang dihadapannya kini adalah pria gemulai.


Pria seperti ini menurut Flo bisalah diajak bekerja sama dan tentunya tak banyak neko-neko.


“Aku ingin mengajakmu berbisnis, Tuan!” Ucap Flo santai.


Tatapan pria gemulai itu yang tadinya teduh sekarang menjadi tatapan tajam. Sepertinya ia merasa tersinggung dengan panggilan yang dilayangkan oleh Flo.


“Cih!! Sangat tidak sopan memanggilku seperti itu. Apakah kalian pikir aku ini pria huhh?” Tanya pria gemulai itu dengan intonasi yang mendayu tapi terkesan membentak.


“---”


Sepertinya pria dihadapan mereka saat ini tidak sadar diri dengan aset yang ada diantara kedua pahanya. Jika di jamannya Flo, pastilah pria itu akan menjadi bahan olok-olokan di masyarakat.


...SEE YOU NEXT...