
Setelah dewa keberuntungan memberikan berkat kepada Flo, dewi kehidupan pun ikut bersuara seakan dengan suka rela memberkati Flo.
“Sekarang giliran daku....”
“Daku memberkati dikau dengan kesehatan dan juga tangan kesuburan sepanjang engkau dijalan kebajikan. Tak ada yang tak berhasil jika dikau yang mengerjakannya.” Jelas sang dewi.
Lagi dan lagi, Leo terkejut mendengar berkat yang diberikan oleh sang dewi kepada wanita yang berdiri tepat dihadapannya.
Mendapat berkat dari dewa keberuntungan yang dapat mengetahui masalah sebelum terjadi sudah cukup luar biasa. Dan sekarang, sang dewi memberikan berkat tangan kesuburan?
Oh ayolah!! Itu sama halnya jika apapun yang dikerjakan oleh tangan Flo selalunya akan berhasil juga berkembang.
‘Ada apa dengan para dewa dan dewi? hanya untuk manusia ini, mereka memberikan berkat yang sungguh hebat.’ Batin Leo memandang tak suka ke arah Flo.
“Ohiyaa, apakah dikau tak ingin memberkati dirinya?” Tanya Dewi keberuntungan kepada rekannya, dewa kegelapan.
“M-maaf Dewi, apakah berkat yang kalian berikan kepada manusia ini tidak begitu berlebihan? Maaf jika lancang!!” Ucap Leo.
Jangan sampai Dewa kegelapan juga ikut serta memberikan berkat kepada Flo. Benar-benar harus di cegah sebelum hal-hal yang aneh akan terjadi.
Jelas sekali kekhawatiran tercetak jelas di raut wajah Leo jika Flo akan menyalah gunakan berkat yang diberikan oleh para Dewa dan Dewi. Karena pada dasarnya manusia itu tamak juga rakus. Bukan sesuatu hal yang mustahil jika tak memanfaatkan berkat dewa dan dewi hanya demi kepuasan tersendiri.
“Apakah dikau merasa keberatan, Leo?” Tanya sang Dewi.
Tentu saja!! Ingin sekali rasanya Leo mengatakan hal itu namun takut menyinggung perasaan mereka semua.
“Tidak, Dewi...”
Namun secara tiba-tiba, Dewa kegelapan bangkit dari tahtanya dan menatap lekat ke arah Flo. Tatapan matanya begitu tajam hingga tak ada ekspresi dari raut wajahnya.
Apakah Dewa kegelapan ingin menentang aksi dari para rekannya? Begitulah yang di pikirkan oleh Leo. Setidaknya Dewa kegelapan sadar akan kesalahan yang telah dilakukan oleh Dewi kehidupan dan Dewa keberuntungan.
“Daku memberkatimu bisa kebal terhadap sihir jahat.” Jelasnya dan menghilang seketika.
“---”
“Baiklah!! Semuanya telah memberkati dikau, Nona. Anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan darinya dan satu lagi... Jadikanlah dia sebagai rekan maka kehidupan dikau akan berubah.” Ucap Dewi kehidupan dan juga ikut menghilang.
Tersisa Dewa keberuntungan, Leo, dan juga Flo. Namun sepertinya Dewa keberuntungan juga akan pergi.
“Nona... Tetaplah tersenyum karena daku menyukainya!!” Setelah mengatakan itu, ia pun juga menghilang.
“Cihh!! Benar-benar beruntung kau.” Decih Leo dengan dengusan kesal.
Meskipun tak mengerti dengan perkataan dari para Dewa dan Dewi, namun Flo harus segera pergi dari tempat ini. Entah sudah berapa lama ia berada disini.
“Terserahmu saja. Sekarang bawa aku kembali ke istana, Kaisar itu pasti sudah menungguku dengan cambukan. Dan tak perlu memamerkan taring runcingmu.” Ucap Flo memperingati.
Bagaimana tidak, Leo setelah kepergian para petinggi langit malah mengancamnya dengan taring tajam itu. Mengapa tidak protes sedari tadi jika memang tidak setuju.
Meskipun agak kesal, namun Leo tetap membawanya kembali ke tempat semula di Padang bunga. Tentunya sebuah portal kembali muncul di hadapan mereka berdua.
“Tak perlu mendorongku!! Aku bisa sendiri...” Tegas Flo. Mungkin saat pertama ia hanya di dorong menggunakan ekor, namun setelah kejadian tadi pastinya kedua kaki besar nya lah yang akan beraksi.
***
Disinilah mereka berada di Padang bunga yang luas tempat pertama kali Flo tersadar.
“Jangan kau berani macam-macam dengan Tuan Fenrir, manusia hina!! Aku akan selalu mengawasi tindakanmu selama itu berhubungan dengan Tuan Fenrir.” Jelas Leo dengan nada mengancam.
“Siapa sebenarnya Tuan Fenrir yang kau maksud hah? Sudah ku bilang dari tadi, mengenal namanya saja aku tidak apalagi berniat macam-macam.” Kesal Flo tak tertahan.
“---”
Masih dengan kekesalan yang memuncak, tiba-tiba Flo merasa pandangan matanya gelap. Dengan segera ia menutup mata dan sedikit menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan kesadarannya.
Namun tak disangka, saat membuka mata pertama kali ia malah kembali ke tempat semula saat menuju aula istana. Dilihatnya sekeliling tetapi ia tak menemukan keberadaan binatang berbulu tadi.
“Eh? Mengapa aku sudah berada di sini? Oh ya ampun... Persidangannya...” Pekik Flo setelah mengingat hal penting itu.
Dengan segera Flo berlari menuju aula istana sambil memikirkan alasan apa yang akan diberikan kepada Kaisar biadab itu saat memasuki aula.
Membela diri? Oh ayolah!! Mau alasan semasuk akal apapun diberikan olehnya, namun selalu ada 1000 cara untuk sang Kaisar membantah.
Para pengawal yang melihat sosok permaisuri Ling yang dinyatakan hilang berminggu-minggu lamanya tengah berlarian di lorong istana begitu terkejut.
“B-bukankah itu permaisuri? Aku harus segera melapor kepada Tuan Zen!” Gumam si pengawal dan segera belari menemui Zen.
Tidak sampai lima menit Flo berlari, ia sudah sampai di depan pintu aula istana. Tak ada pengawal yang berjaga di depan. Cukup aneh?
“Eh? Apakah tak ada penjaga di sini? Haishh... Itu tak penting Flo. Yang lebih penting saat ini adalah mencari alasan yang bagus untuk menyelamatkan dirimu dari petaka ini.”
Sejenak ia mengatur nafas untuk meredakan deguban jantung yang begitu kencang. Segera Flo membuka pintu itu namun betapa terkejutnya ia saat tak mendapati satu orang pun di dalam aula. Apakah persidangannya ditunda dikarenakan dirinya tak datang tepat waktu?
Dirinya hanya terlambat tak sampai setengah jam lamanya, apakah harus sampai di tunda seperti ini? Sudah di pastikan dirinya tak akan selamat dari amukan sang Kaisar.
“Huhhff... Mengapa diriku begitu sial?” Gumam Flo dengan sedikit mengacak rambutnya lantaran kesal.
“Oh iyaa aku hampir melupakan satu hal. Siapa Tuan Fenrir yang dimaksud binatang berbulu itu? Mengapa dia seakan begitu membenci diriku dikarenakan Tuan Fenrir yang aku sendiri pun tak tau dia siapa.” Lanjut Flo bingung.
Namun tak berapa lama, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakangnya.
“Permaisuri?”
Spontan Flo berbalik dan melihat Zen si tangan kanan suaminya tengah menatap terkejut ke arahnya. Sungguh!! Segala pikiran buruk tengah bersarang di otak kecil Flo hanya dengan melihat raut wajah Zen.
‘Ya Dewa!! Jika benar kau telah memberkati diriku ini, ku mohon selamatkan aku dari amukannya...’ Batin Flo pasrah.
“T-tuan Zen... Apakah persidangannya ditunda? Permaisuri ini hanya terlambat tak sampai setengah jam apakah harus sampai seperti ini?” Tanya Flo memelas.
“---”
Apakah permaisuri Ling sadar akan ucapannya barusan? Tak sampai setengah jam kata beliau? Bahkan beliau dinyatakan menghilang hampir 4 minggu lamanya namun beliau terlihat begitu santai.
“Permaisuri kemana saja selama ini? Apakah permaisuri tau, seluruh penghuni kekaisaran mencari permaisuri.” Jelas Zen.
“Benarkah?” Kagetnya.
“Apakah permaisuri ini seperti penjahat yang perlu di cari hanya karena terlambat menghadiri persidangan?” Lanjut Flo.
Sungguh! Zen tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita dihadapannya ini. Apakah beliau tidak sadar dengan perkataannya barusan?
“Bukan hanya perkara terlambat menghadiri persidangan, permaisuri. Tetapi anda juga menghilang selama berminggu-minggu. Sudah pasti seluruh penghuni istana atas perintah Yang mulia Kaisar untuk mencari permaisuri.” Jelas Zen yang mana berhasil membuat kedua mata Flo terbuka lebar.
“APA???”
...SEE YOU NEXT...