
Padang bunga yang luas masih menjadi pemandangan yang dilihat Flo. Flo masih diliputi rasa takut juga kebingungan mengenai pernyataan dari binatang itu.
Tuan Fenrir? Oh ayolah!!! Ia belum ada 2 bulan di dimensi ini dan sekarang ditanyai mengenai Fenrir?
“Hei!! Aku sungguh tak tau menahu mengenai Tuan Fenrir yang kau sebut tadi. Mengenalnya saja aku tidak.” Jelas Flo acuh.
GRRHHH...
“Jangan bersilat lidah kau manusia hina. Tak mungkin manusia rendah seperti kalian tidak mengenal Tuan Fenrir.” Geram binatang itu.
Flo yakin jika binatang yang ada di hadapannya kini tengah lapar, sedari tadi menggeram bak anjing kelaparan.
“Mau percaya atau tidak itu terserahmu. Sekarang bagaimana caraku kembali ke istana kekaisaran? Kaisar itu akan mengamuk jika aku tak segera datang menghadiri panggilannya.” Jelas Flo lesu. Rasanya sangat percuma jika berdebat dengan makhluk raksasa ini.
Mendengar penuturan Flo membuat binatang itu nampak terdiam. Baru pertama kali ia bertemu dengan manusia yang tak mengenal dirinya juga Tuan Fenrir.
Lantas ia segera membelakangi Flo dan berjalan maju beberapa langkah. Kibasan ekor lebatnya menghasilkan hembusan angin sedang yang mampu menerbangkan rambut Flo.
Terpesona! Tentu saja. Di dimensi terdahulu belum pernah Flo melihat binatang secantik dan seindah yang ada di hadapannya. Saat pertama kali menampakkan wujudnya, ia tak memperhatikan betul bentuk serta keindahannya.
‘Jika saja wajah juga suaranya seindah bentuknya, bukankah akan sangat menguntungkan bagi siapa saja yang memilikinya? Ahh... Aku ingin memeliharanya ≥﹏≤’ Batin Flo sambil menghayal.
Bisa mengelus juga beralas bantalkan badan dengan bulu lebatnya bukankah suatu hal yang damai? Orang manapun akan langsung tertidur lelap saat menduselkan kepala di bulunya.
“Aku masih tetap mengawasimu, manusia hina!! Bagaimanapun caranya akan ku rebut kembali Tuan Fenrir darimu. Camkan itu!!” Jelas binatang itu dan perlahan melangkah pergi.
‘Manusia hina katanya? Sangat arogan sekali!!’ Batin Flo kesal.
Melihat kepergiannya membuat Flo berteriak memanggil. Dirinya masih berada di sini dan bagaimana bisa kembali? Benar-benar merepotkan.
Dengan segera Flo bangkit dan mengejar kepergian binatang raksasa itu.
“Heii!! Sebelum kau pergi setidaknya beritahukan cara untuk kembali! Haishh... Kembali pun pasti langsung di habisi olehnya Huhu!!”
Binatang itu nampak melirik sekilas dan memalingkan kembali wajahnya dengan penuh wibawa. Berurusan dengan manusia adalah sesuatu hal yang sangat dibencinya.
“Mengapa hanya diam? Ayo cepat beri tahu aku!!”
“Tidak bisa!”
Tidak bisa?
“Apa maksudmu tidak bisa?”
“---”
***
Di istana kekaisaran terjadi kericuhan yang cukup merepotkan seisi istana kekaisaran. Bagaimana tidak, sudah hampir 3 hari permaisuri Ling menghilang tak ada kabar.
Para dayang setianya pun nampak risau juga tak ada hentinya mengucurkan air mata. Beberapa hari yang lalu, Zen selaku tangan kanan Kaisar datang ke kediaman permaisuri Ling.
Kedatangan Zen itu tentunya memunculkan tanda tanya di benak kedua dayang permaisuri Ling. Ada apakah gerangan? Pikir mereka.
“T-tuan, ada yang bisa saya bantu?” Tanya dayang Fuo menunduk hormat diikuti dayang Wan.
Sedangkan dayang Wen disuruh menjaga Siu di dalam agar tak diketahui oleh Zen. Akan sangat berbahaya jika seekor serigala berada di lingkungan istana dan diketahui orang lain.
“Ada dimana permaisuri? Mengapa beliau tak datang menghadiri panggilan kaisar?”
“A-APA??” Ucap mereka bersamaan.
Sudah hampir berjam-jam sejak kepergian permaisuri Ling menuju aula istana kekaisaran dan Zen melapor jika permaisuri tak datang menghadiri panggilan Yang mulia Kaisar?
Sejak tadi mereka tengah risau dan berpikiran buruk beliau tengah di hukum hingga berjam-jam lamanya tak kembali ke kediaman.
Melihat keterkejutan kedua dayang setia Permaisuri Ling, Zen bisa tau jika ada yang tidak beres.
“---”
Penculikan? Apakah memang benar sesuai perkataan pejabat tadi? Kedua dayang permaisuri Ling pun tak tau menahu akan hal ini.
“Baiklah!” Setelah mengatakan kata itu, Zen segera pergi meninggalkan kedua dayang yang tengah terguncang mengenai kabar kehilangan permaisuri.
Tiga hari telah berlalu dan masih belum ada kabar mengenai keberadaan permaisuri Ling. Ketiga dayang nampak duduk terdiam dengan pandangan kosong.
“Kakak, ada dimana permaisuri saat ini? Sudah tiga hari permaisuri menghilang hikss...” Tanya dayang kecil Wen.
Tiap malam ia menangisi permaisuri Ling dan berdoa kepada dewa agar segera dipertemukan dengan beliau.
Pencarian pun dilakukan pihak dalam istana kekaisaran. Tentunya pencarian dengan permaisuri Ling sebagai buronan kekaisaran.
“Dayang Wan, apakah perlu kita beritahukan kepada Tuan Huang?” Tanya dayang Fuo dan setelahnya terjadi keheningan.
***
Flo yang masih berada di tempat yang tak tau letaknya dimana masih setia mengikuti binatang itu sembari menunggu jawaban atas pertanyaannya tadi.
“---”
“Hei!! Aku sedari tadi bertanya kepadamu namun tak mendapat jawaban sama sekali. Aku harus segera kembali ke aula istana, kau tau? Ini pun aku sudah sangat terlambat...” Jelas Flo dengan kalimat yang sama berulang-ulang.
Sedangkan diistana Flo telah menghilang srlama berhari-hari tetapi seakan masih menganggap jika ia telat beberapa menit saja? Perbedaan waktu kah?
Merasa jengah dengan suara manusia di sisinya, binatang itu segera berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Flo.
“Apakah kau bisa diam heh? Suaramu begitu mengganggu indera pendengaranku. Cihh!! Benar-benar menjengkelkan.”
“Kau cukup diam dan mengikutiku saja, apakah susah? Kau sedari tadi mengoceh dan mempertanyakan pertanyaan yang membuatku jengkel. Jika kau berbicara sepatah kata lagi, akan ku makan kau hingga ke tulang-tulangmu.” Lanjutnya dengan mada mengancam.
Mendengar ancaman yang tak main-main yang di tuturkan binatang yang merupakan anjing atau mungkin serigala itu, Flo pun segera menutup rapat mulutnya dan sedikit mengambil jarak darinya.
Bang sky no comment -_-||
Lagi pula ia tak mengatakan untuk mengikutinya sebelumnya, jadilah ia mengekori dari belakang sembari menunggu pertanyaannya akan dijawab.
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di tempat yang hanya ada satu bunga yang Flo sendiri tak tau apa namanya. Bunga itu terlihat mencolok dengan warna biru laut diantara bunga lainnya.
Sedikit menatap ke arah makhluk di sampingnya, Flo ingin bersuara namun masuh terekam jelas peringatan tegas darinya.
Nyawa lebih berharga dari pada rasa ingin tahu ( ̄へ ̄)
Terlihat jika binatang itu maju perlahan dan menutup mata, terdengar lirihan kalimat dari moncongnya. Tak lama kemudian, ada sebuah portal muncul di bunga biru laut tadi.
WAHHH...
Melihat pemandangan tadi membuat Flo kegirangan juga takjub di waktu bersamaan. Apakah ini juga termasuk sihir? Rasanya seperti mimpi saja.
“Masuklah!!” Titahnya.
“E-eh??”
Flo memandang penuh tanya kepada binatang mirip serigala itu. Apa tadi katanya? Dirinya disuruh masuk kedalam portal itu?
“---”
Tanpa berkata banyak, dengan segera ia mendorong Flo menggunakan ekornya hingga terjerembab masuk ke dalam portal.
“AARRGGHH....” Teriak Flo sebelum tubuhnya masuk sepenuhnya.
“Cih!! Benar-benar merepotkan.” Gumamnya dan juga ikut masuk kedalam portal Itu. Setelahnya, portal itu pun menghilang seiring hembusan angin.
...SEE YOU NEXT...