
Mata Miu nampak berkaca-kaca melihat desain yang menurutnya sangatlah indah. Perasaannya begitu tersentuh melihatnya.
“Ya Dewa..... Mengapa lukisan ini begitu indah.” Ucap Miu dengan terisak kecil.
“Mahakarya yang bisa mengguncangkan satu kekaisaran!” Gumam Miu sekali lagi.
Flo bahkan heran melihat respon pria gemulai ini. Menurutnya tak ada yang spesial dari desainnya ini bahkan terkesan sangat sederhana jika di jamannya.
Tetapi jika di dimensi tempatnya berada, desain seperti ini belum ada bahkan Miu berani bertaruh kepada siapapun jika hanfu dengan desain ini jika benar-benar dipasarkan, tak genap sehari akan habis.
Hanfunya terlihat polos, sederhana, manis, dan menggoda di waktu bersamaan. Area dada yang terlihat semakin menambah kesan sensual bagi siapa saja yang mengenakannya.
“Bagaimana?” Tanya Flo yang menuntut jawaban.
Tak bertanya pun Flo juga tau siapa yang memenangkan pertaruhan ini. Di jamannya ia sudah sering melihat berbagai model hanfu mulai dari yang tradisional hingga modern.
“Apa perlu ditanyakan lagi? Aku mengaku jika lukisan desainmu sangatlah indah.” Puji Miu.
“Kau kuterima kerja di toko pakaianku dan bahkan tak hanya 10 keping emas, aku akan memberikanmu satu kantong keping emas. Anggap saja sebagai sambutan hanya dariku kepadamu.” Ujar Miu berbunga-bunga.
Keuntungan yang ia bayang-bayangkan akan segera tiba dengan hadirnya Flo dengan desain hanfu indahnya.
Mendengar pria gemulai itu akan memberinya satu kantog keping emas, seketika membuat mata Flo berbinar-binar.
“Benarkah? Hoho... Aku sangat senang mendengarnya.” Ucap Flo dengan pekikan tertahan.
Ia bisa melihat dengan jelas tatapan tak percaya dari para dayang setianya. Ini langkah awal Flo meraih kesuksesan di masa depan.
“Baiklah Nona, kita akan membahas sistem kerja di toko ku ini. Senang rasanya memiliki pekerja berharga seperti dirimu..” Puji Miu dan terjadilah perbincangan panjang mengenai kontrak kerja dan semacamnya.
***
Di salah satu bilik makanan tepatnya berada di lantai 2, nampak kumpulan gadis muda tengah menikmati makanannya. Bahkan terdengar sesekali pekikan takjub.
Berkat koin emas yang diperoleh dari taruhan bertuah itu, Flo menyewa bilik makan dengan 1 keping emas lantaran berjaga-jaga jika ia akan diketahui oleh rakyatnya.
Meskipun kemungkinannya hanya 0.001% 〒_〒
“Wan'er makanlah dengan perlahan! Sangat tidak sopan seperti itu dihadapan Permaisuri.” Tegur dayang Wan dengan suara kecil lantaran takut ada yang mengetahui identitas asli sang permaisuri.
“...” Mendengar ucapan sang kakak membuat dayang Wen yang tadinya makan dengan cepat kini menghentikan makannya sambil tertunduk paku.
Setelah kembali dari toko pakaian Miu dengan sekantong keping emas, mereka berempat sesuai tujuan awal ingin berkeliling pasar kota.
Tentunya Flo ingin menyenangkan dayang setianya yang selalu ada menemaninya. Bahkan rela mengorbankan nyawa hanya untuk dirinya.
Bukankah para dayang permaisuri Ling di dimensi ini begitu manis dan juga baik hati? ≥﹏≤
“Haha... Sudahlah dayang Wan, jika diluar istana panggil saja aku Nona. Dan kalian makanlah! Tak baik bertengkar di hadapan makanan.” Titah Flo yang diangguki para dayang dengan raut wajah malu-malu.
Apakah ada bangsawan ataukah keluarga kekaisaran yang memperlakukan mereka dengan baik seperti yang dilakukan Permaisuri Ling?
Permaisuri mereka sangatlah bermurah hati juga cantik. Siapapun pria yang berhasil mendapatkan hati beliau pastilah sangat beruntung.
Tetapi mengingat posisinya yang telah menikah dengan sang Kaisar membuat mereka berdua menghela nafas. Pria kasar, kejam, dan tak punya hati yang selalu menyiksa fisik dan batin permaisuri.
‘Permaisuri yang malang!!’
“Makanlah yang banyak gadis kecil. Tubuhmu perlu nutrisi lebih agar tak nampak kering seperti ini.” Ucap Flo dengan senyum tipisnya.
Makanan yang tersaji di meja mereka tak jauh berbeda dengan makanan yang Flo makan dan lihat di dapur istana kekaisaran.
Untunglah masih ada tenghulu yang menjadi opsi terbaik dan paling aman di lambung kecilnya.
Mengingat keping emas yang di dapatnya tadi membuat Flo tersenyum kecil. Mungkin ia harus berhemat untuk kedepannya.
Meskipun sudah menjalin bisnis dengan Miu si pemilik toko terkemuka dinasti Tang, tetapi yang namanya manusia pastilah egois jika menyangkut soal uang bukan? Terlebih ada 3 dayang yang akan selalu ikut bersamanya kelak.
‘Ahh!! Bagaimana dengan usaha bisnis modern yang aku bawa ke dimensi ini? Bukankah akan menguntungkan?’
‘Aishh, keahlianku hanya ada di bidang mendesain dan juga memasak. Untuk saat ini aku hanya bisa mengandalkan keahlian mendesainku memperoleh koin.’ Batin Flo lesu.
***
Di gelapnya malam suasana dingin begitu menusuk kulit. Suara serangga kecil begitu nyaring terdengar.
Flo yang tak lain permaisuri Ling nampak duduk berpangku lutut sembari menatap langit malam dihiasi bintang. Sesekali terdengar jelas helaan nafas berat dari bibir indahnya.
“Huhffhh...”
Belum ada sebulan ia berada di dunia ini tetapi sudah banyak hal yang terjadi. Terlebih lagi urusannya dengan sang kaisar selaku suaminya mengenai kemunculan hantu.
“Menjadi kuat ya?... Haishh!! Ada banyak hal di dimensi ini yang tak aku ketahui.” Ujar Flo.
“Jika sihir memang ada, apakah para dayang permaisuri Ling juga...??”
“Permaisuri!!!” Panggil dayang Wan mengejutkan Flo dari kesendiriannya.
Sedari tadi dayang Wan mencari permaisuri Ling untuk makan malam. Meskipun mereka baru saja kembali dari pasar kota, tetapi makan camilan di malam hari tak apa bukan?
Makanan yang dibeli permaisuri tadi pun terbilang cukup banyak, ada daging kering dan berbagai camilan manis untuk berjaga-jaga.
“Ada apa permaisuri? Apakah ada yang mengganggu pikiran permaisuri?” Tanya dayang Wan sembari duduk memangku lantaran posisi Flo yang saat itu tengah duduk di tanah.
“---”
Flo menoleh sedikit dan memperhatikan sosok dayang Wan sekilas kemudian kembali mendongak menatap langit malam dihiasi bintang.
“Apakah kau memiliki sihir?” Tanya Flo tanpa basa-basi.
Mendengar pertanyaan sang permaisuri membuat dayang Wan menatap lekat dari arah samping. Hembusan angin tipis menerbangkan helaian rambut kedua gadis itu.
Dengan senyum tipis dayang Wan pun menjawab.
“Kami hanya manusia biasa permaisuri. Tak ada dalam sejarah manapun seorang manusia memiliki ilmu sihir.” Jelas dayang Wan.
“---” Kedutan nampak jelas di dahi Flo.
“Baiklah hamba jelaskan, ilmu sihir itu hanyalah mitos belaka. Hamba sering mendengar dongeng dari nenek semasa kecil jika dahulu kala, semua manusia di muka bumi memiliki bermacam kemampuan diluar nalar manusia dimana hanya ada sihir dan sihir. Semua orang berlomba-lomba untuk menjadi yang terkuat bahkan tak segan untuk saling membunuh.” Jelas dayang Wan dengan raut wajah serius.
Flo pun tak dapat menutup rasa penasarannya mendengar penuturan dayang Wan.
“Lalu, apa yang terjadi?” Tanya Flo.
Flashback
“GROGON SYRUS!!!”
DUARRR... DUARR...
Pertempuran hebat atau lebih tepatnya pembunuhan untuk menjadi yang terkuat dengan mengeluarkan segala ilmu sihir yang mereka miliki.
Sifat manusia yang rakus juga serakah menjadikan mereka gelap mata dengan kelebihan yang telah diberikan sang dewi kepada mereka semua.
“Cihh!! Kau kira dengan binatang kontrak rendahan mu itu bisa mengusik diriku heh? Jangan mimpi!! ORBEYL COLOMPUS!!” Setelah membacakan mantra itu, tiba-tiba muncul makhluk Orc yang mirip dengan babi ukuran raksasa.
Pertempuran terjadi hampir diseluruh dunia dimensi itu. Tak ada yang bisa menghentikan dan hanya saling membunuh untuk menjadi yang terkuat.
Sudah tak terhitung ratusan bahkan ribuan nyawa melayang hanya karena keserakahan manusia. Dan hingga peperangan berakhir hanya menyisakan beberapa saja atau bahkan tak tersisa sama sekali?
Flashback off
Setelah dayang Wan menceritakan sekilas mengenai dongeng yang sering disampaikan neneknya. Flo menjadi sangat antusias.
“Lalu, apa yang terjadi setelahnya?”
“Entahlah Permaisuri, tetapi hamba masih mengingat betul sebelum mendiang nenek meninggal beliau sempat mengatakan jika ada sebuah ramalan yang akan mengubah tatanan dunia.” Jelas dayang Wan.
Mengubah tatanan dunia? Ucapan yang terkesan ambigu.
“Apa maksudnya?”
“Hamba juga kurang mengerti. Tetapi hamba yakin itu adalah sesuatu yang sangat besar dampaknya.”
“Oh iyaa, mengapa anda bertanya demikian?” Tanya dayang Wan sambil menyipitkan mata.
Jika memang benar yang dikatakan dayang Wan jika sihir hanyalah mitos belaka, lalu apa yang terjadi beberapa waktu lalu disaat dirinya bisa berteleportasi? Apa namanya jika bukan sihir?
“Haha.. Tak ada apa-apa, hanya penasaran saja. Sudahlah, lebih baik sekarang kita tidur saja.” Ajak Flo.
“E-eh, hamba hampir lupa. Tadi hamba mencari permaisuri untuk makan camilan yang telah dibeli tadi.”
Mendengar kata camilan membuat Flo merasa kelaparan, terbukti perutnya yang tiba-tiba menyuarakan bunyi yang cukup familiar.
Sepertinya nafsu makan di dunia sebelum ia berpindah dimensi dengan sekarang ini tak ada jauh bedanya. Bersyukur dengan tubuhnya yang saat ini tak gampang gemuk.
“Baiklah.. Baiklah.. Sepertinya perutku ini juga ikut menyuarakan protes. Makan camilan di malam hari tak ada masalah bukan? Ayoo...” Seru Flo dan dengan perlahan berdiri masuk ke dalam kediamannya diikuti dayang Wan dari arah belakang.
Tanpa mereka sadari, dari arah belakang pohon besar ada yang mencuri dengar pembahasan wanita muda itu. Seorang pria dengan rambut perak senada dengan warna bola matanya.
“Heh...”
...SEE YOU NEXT...