THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 22



Tak ada yang lebih menyenangkan dari memperoleh apa yang sangat kau inginkan. Sudah berjam-jam Flo berkeliling area hutan untuk mencari rempah lain.


Dayang Wan pun hanya mampu mengikuti dari arah belakang tanpa banyak bertanya. Tetapi satu hal yang tak mereka sadari jika sudah masuk hutan terlalu dalam.


“Aku tak menyangka jika akan menemukan banyak sekali rempah-rempah di sini.” Pekik Flo bahagia.


“Rempah? Memang apa kegunaan dari tanaman liar ini Nona? Bagaimana jika tanaman yang kita ambil tadi beracun?” Tanya dayang Wan.


Wajar saja dayang Wan begitu khawatir. Flo selaku permaisuri Ling tak memiliki pemahaman apapun soal tanaman atau semacamnya, begitu fikirnya.


“Tenanglah dayang Wan. Huhffhh.. Aku sungguh letih, lebih baik kita beristirahat sejenak.” Ajak Flo yang diangguki dayang Wan.


Mereka berdua pun duduk dibawah pohon rindang. Terpaan angin segar begitu terasa nyaman menyentuh kulit. Beruntung sebelum berangkat ke hutan, mereka sudah membeli beberapa makanan juga beberapa bambu air sebagai bekal di hutan.


Dilihatnya isi karung goni dan juga keranjang tangan telah dipenuhi berbagai macam tanaman. Mulai dari rempah-rempah seperti serai, merica, tebu, dan banyak lagi. Bahkan beberapa buah-buahan liar yang belum pernah di temui Flo juga dayang Wan, namun dengan percaya dirinya mengambil buah itu.


Binatang liar yang memakan buah itu pun nampak biasa saja dan tak keracunan.


Padahal yang dimaksudnya binatang liar adalah semut


(╥﹏╥)


Flo tak menyangka bumbu berharga seperti ini masih tak dikenali oleh dimensi ini. Sungguh beruntung Flo...


“Ku rasa ini sudah cukup, sebaiknya kita bergegas pulang.” Usul Flo.


“Dan sepertinya kita terlalu masuk ke dalam hutan.” Lanjutnya yang mana membuat dayang Wan baru menyadarinya.


Sebenarnya ini adalah alasan Flo mengajak dayang Wan. Ingatannya yang begitu kuat sehingga dengan mudah untuk mencari jalan yang telah dilalui tadi.


“Benar Nona, tapi hamba masih mengingat dengan jelas jalur yang kita lewati tadi. Jadi, Nona tenang saja.” Jelas dayang Wan tersenyum.


Rasanya begitu membahagiakan bisa berguna untuk orang terdekat kita. Terlebih lagi kepada permaisuri yang begitu memikirkan kehidupan para dayangnya.


Merasa cukup lapar, mereka pun mulai memakan makanan yang dibeli tadi. Ada burung bakar yang dimana terasa asin saja. Rasanya seperti memakan garam secara cuma-cuma.


“Rasa burung ini sangat asin, kau tau.”


“Menurut hamba tidak buruk Nona. Rasanya masih bisa hamba cerna.” Balas dayang Wan.


Oii oii oii... Apakah tekanan darah nya baik-baik saja setelah mengkonsumsi burung bakar ekstra garam?


(╥﹏╥)


Tidak... Ini sangatlah tidak baik untuk kesehatan.


“Maafkan aku dayang Wan, tapi itu sangat tidak baik untuk tubuh. Rasa asin berlebih seperti ini akan membuat mu pusing juga terkena penyakit jantung.”


Dayang Wan yang mendengarnya tak dapat menahan haru. Permaisuri Ling begitu perhatian kepada dirinya yang hanya seorang dayang rendahan.


Di saat mereka tengah asik menikmati makan siang, tiba-tiba terdengar suara gesekan dedaunan kering di dekat mereka.


Flo pun dengan segera mengambil pisau dan berdiri tepat di depan dayang Wan. Suara pijakan dedaunan kering semakin dekat ke arah mereka berdua.


“P-permaisuri... Ayo kita segera pergi dari sini.” Bisik dayang Wan ketakutan. Harusnya ia menolak dengan tegas tujuan permaisuri Ling menuju hutan.


Sama halnya dengan dayang Wan, Flo juga merasa ketakutan. Terbukti tangannya cukup gemetar memegang pisau kecil itu.


‘Aku tak memiliki kemampuan bertarung dan pertama kalinya dalam hidupku mengacungkan benda tajam seperti ini.’ Batin Flo.


GRRHHH...


Suara geraman kecil terdengar di balik semak-semak. Meskipun agak takut, namun dengan rasa penasaran tinggi Flo mendekat diikuti dayang Wan yang memegang erat hanfu milik Flo.


Dayang Wan pun baru menyadari perbuatannya tadi dengan segera melepasnya dan berlari kecil mendekat ke punggung Flo.


Perlahan tapi pasti mereka mendekat ke arah semak-semak dan melihat jika ada seekor anak serigala yang nampak lemas tak berdaya.


“N-nona!! Itu adalah serigala..” Pekik dayang Wan.


Rasanya gendang telinga Flo bergetar mendengar pekikan dayang Wan. Mengingat posisinya berada tepat di belakang Flo.


“Yayaya... Aku juga tau kalau itu serigala.” Ketus Flo dan dengan perlahan mengangkat anak serigala itu ke dalam pelukannya.


Anak serigala berbulu kemerahan sangatlah jarang. Bahkan di dunia nyata, serigala dengan warna bulu seperti itu sangatlah langka?


Dilihatnya anak serigala itu kurus kering dengan luka bekas gigitan di paha kiri belakang. Sudah dipastikan jika anak serigala malang itu sempat menjadi buruan binatang lain.


“Kasihan sekali anak serigala ini. Dayang Wan apakah kau bisa mencari obat atau semacamnya di hutan ini?” Tanya Flo.


“Hamba tau Nona, biar saya saja yang mencarinya.” Ucap dayang Wan.


“Baiklah, jangan terlalu jauh perginya!” Titah Flo yang dengan cepat dilaksanakan dayang Wan.


Dayang Wan mulai berlari mencari dedaunan yang bisa dijadikan obat luka. Membayangkan luka di paha kiri belakang serigala itu membuatnya ngilu sendiri.


Sedangkan di sisi lain, Flo nampak telaten memberikan minuman kepada anak serigala dan memberikan suiran burung bakar.


Anak serigala itu nampak lahap memakan tiap suiran burung di atas daun lebar juga sedikit air yang ada di mangkuk daun.


“Entah hewan buas apa yang menyerangmu hingga terluka parah seperti ini. Semoga saja dayang Wan bisa menemukan obat untukmu serigala kecil.” Gumam Flo sembari mengelus pelan ubun-ubun kepala si serigala.


Hampir 10 menit lamanya akhirnya dayang Wan kembali dengan beberapa dedaunan herbal. Dengan segera dayang Wan menumbuknya dan mencampurkan sedikit air.


“Nona, kita tidak memiliki kain untuk menutup lukanya.” Ucap dayang Wan bingung.


Tanpa banyak berfikir, Flo merobek bagian dalam hanfunya yang mirip dengan kain kasa.


SREKKK...


“N-nona...”


“Cepatlah dayang Wan, kasihan serigala malang ini.”


Dayang Wan pun mulai menyiramkan perasan dedaunan yang telah ditumbuknya tadi dan menutup lukanya.


Tak kurang dari 10 menit luka serigala kecil itu telah tertutupi. Meskipun terdengar lolongan kecil darinya tetapi serigala itu seakan mengerti jika dia tengah di obati sehingga tak banyak bergerak.


“Serigala pintar, kau rupanya mengerti jika kami ingin menolongmu.” Lirih Flo dan kembali mengelus pucuk kepala serigala itu.


“Nona, apa yang akan nona lakukan dengan serigala ini? Bukankah cukup kasihan jika membiarkannya saja dalam keadaan seperti ini?” Dayang Wan tak dapat menutupi rasa cemasnya memikirkan keadaan si serigala.


Flo pun juga demikian. Tetapi membawanya pulang bukankah akan menjadi suatu perkara? Haishh... Dia menjadi bingung dan tak tau berbuat apa.


“Aku takutnya kalau kita membawa pulang anak serigala ini, sewaktu-waktu dia melolong bagaimana?” Tanya Flo.


“Mohon maaf nona, saran hamba sampai anak serigala ini sudah membaik baru kita lepaskan. Kasihan jika dibiarkan begitu saja di hutan sendirian dengan luka parah di paha nya.” Penjelasan dayang Wan membuat Flo terdiam cukup lama.


Dilihatnya mata bulat berwarna keemasan itu nampak berair seakan tak ingin ditinggalkan sendirian. Anak serigala itu nampak menggesek-gesekkan kepalanya di perut Flo mencari kenyamanan.


Siapa yang akan tahan melihat tingkah menggemaskan anak serigala ini? Tapi membawanya pulang?


...SEE YOU NEXT...