THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 16



Berita mengenai kemunculan hantu di istana kekaisaran begitu cepat menyebar hingga sampai ke rakyat biasa. Mendapat banyak keluhan mengenai rumor itu membuat Zen selaku tangan kanan kaisar cukup kerepotan.


“Bagaimana bisa rumor ini beredar dengan sangat cepat? Merepotkan saja.” Gumam Zen dengan langkah cepat menuju gerbang istana kekaisaran.


Dari arah kejauhan sudah terdengar teriakan dari sekumpulan massa yang memanggil Kaisar Feng.


“Tolonglah kami Yang mulia Kaisar!!”


“Berilah perlindungan..”


Semuanya nampak risau mengetahui rumor ini. Bahkan sebagian sudah mengungsi ke daerah lain agar terhindar dari marabahaya serta target hantu itu.


Di kejauhan nampak para pengawal tengah kesusahan menahan pintu gerbang akibat dorongan dari para rakyat yang ingin menerobos masuk.


“Buka gerbangnya!!” Titah Zen dan segera di angguki para pengawal.


Saat penghalang gerbang dibuka, pengawal segera berlari ke arah samping agar tak terhimpit gerombolan rakyat.


“Harap tenang semuanya!! Apakah kalian tidak memiliki tata kramah saat memasuki wilayah istana kekaisaran?” Teriak Zen sarkas membuat mereka semua terdiam di tempat.


Aura mencekam terasa menembus kulit mereka mendengar teriakan dari tangan kanan sang Kaisar.


Tetapi, Bukankah hal yang wajar jika rakyat meminta naungan serta kejelasan mengenai rumor yang beredar di dinasti Tang?


“Maafkan kami Tuan, tetapi rumor akan kemunculan hantu di istana kekaisaran begitu merisaukan. Kami semua takut akan menjadi mangsa dari hantu itu Tuan.” Jelas salah seorang rakyat dengan tampang memelasnya diikuti dengan sorakan pendukung.


“Siapa yang menyebarkan hal ini hah?” Tanya Zen meminta penjelasan.


Seorang pedagang pun menjawab pertanyaan Zen.


“Pengawal istana kekaisaran yang mengatakan hal ini sebelum pergi bersama dengan anak istrinya.”


‘Dasar pengawal pengecut!!’


“Tenanglah kalian semua! Apakah kalian tak mempercayai Yang mulia Kaisar? Apakah kalian beranggapan jika Yang mulia Kaisar tak memikirkan hal ini?” Balas Zen menantang.


“Jadi memang benar ini bukanlah rumor semata? Ya Dewa tolong bantu kami.” Ujar salah seorang ditengah kerumunan yang mana membuat semua orang tambah risau.


***


Di salah satu ruangan belakang istana kekaisaran nampak ketiga dayang beserta sang permaisuri tengah duduk bersantai sambil meminum teh hijau.


Kepulan uap panas begitu menyeruak hingga membuat mulut mereka terasa hangat tiap kali menyeruput teh hijau.


“Huhhh... Aku sangat suka kehidupan tenang dan damai seperti ini!” Gumam permaisuri Ling yang tak lain adalah Flo.


Flo berharap jika kedepannya akan terus seperti ini, jauh dari konflik juga bahaya lainnya.


Bahaya yang dimaksud adalah suaminya sendiri >_<


Setelah menjalin kerja sama dengan toko pakaian Miu serta mendapatkan satu kantong penuh koin emas, Flo sudah tak mengizinkan para dayangnya untuk bekerja di istana kekaisaran.


Toh, mereka bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan perut kecil dirinya beserta ketiga dayang. Berharap mendapat upah setimpal dari istana kekaisaran adalah sesuatu hal yang sangat mustahil.


“Permaisuri!! Saat ini tengah beredar luas rumor mengenai kemunculan hantu.” Ujar dayang Fuo sambil menatap lekat ke arah sang permaisuri yang nampak begitu anggun saat meminum teh.


Dayang Fuo merasa terpaku menatap wajah cantik dari sang permaisuri. Kulit putih nan halus begitu selaras dengan paras cantiknya.


Mendengar ucapan dayang Fuo membuat badan dayang kecil Wen gemetar ketakutan. Meskipun belum pernah melihat hantu, tetapi ia tau betul jika itu adalah sesuatu yang sangat menakutkan.


“H-hantu!! Apakah itu benar kakak Fuo?”


“---”


Semuanya terdiam sambil menatap penuh tanya kepada si pelaku. Apakah bisa tenang di saat rumor kemunculan hantu yang kala itu memakan korban jiwa begitu heboh?


Hampir saja mereka lupa jika permaisuri mereka sedang mengalami cidera ingatan. Saat terbangun dari kematiannya, beliau bersikap aneh bahkan tak mengenal dirinya sendiri apalagi jika menyangkut soal kemunculan hantu beberapa tahun silam.


“Permaisuri masih cidera ingatan dayang Wan, pantas saja permaisuri begitu tenang.” Bisik dayang Fuo tepat di samping dayang Wan.


Mendengar bisikan dayang Fuo membuat dayang Wan menganggukkan kepalanya sambil menghela nafas pendek menatap permaisuri Ling.


Flo mendengar dengan jelas bisikan kedua dayangnya. Ia pun juga lupa belum menceritakan kepada mereka jika dialah yang pertama kali menyebar rumor mengenai kemunculan hantu.


Kemarin sekembalinya ia dari ruangan sang Kaisar untuk menjelaskan kronologi akan hantu gadungan, ia lupa mengatakan kepada sang dayang dan malah berangkat ke pasar kota.


“Aishh... Memang apa yang perlu ditakutkan? Rumor hanyalah sekedar rumor!” Ucapan Flo terkesan ambigu membuat ketiga dayang saling bersitatap dan kembali memfokuskan ke sang empu.


“Hmm??” Ucap mereka kompak.


Huhfhh...


Setelah menyeruput sedikit teh hijaunya, mulai lah Flo menceritakan kronologi yang sebenarnya. Saat ia dari dapur istana, tersesat ke arah area yang mana membuat ia jantungan, masa ketika ia di taman liar hingga sampai dirinya dipanggil ke ruang kerja sang Kaisar.


Para dayang mendengar dengan saksama, terkecuali dayang kecil Wen yang tak begitu memperhatikan dan tangan kecilnya begitu aktif mencoba kudapan manis di hadapannya.


“Kiyaaa.... Permaisuri!!! Apakah permaisuri tau apa yang telah diperbuat hikss?” Pekik dayang Fuo tertahan.


Dayang Wan pun sama terkejutnya mendengar penuturan yang sangat santai dari bibir sang ibu negara itu.


Kesalahan karena memasuki area taman terlarang yang sudah di beri peringatan keras oleh Kaisar. Cidera ingatan sang permaisuri bisa membawa petaka besar untuk dirinya sendiri di kemudian hari.


Dan juga, mengenai hantu itu hanyalah akal-akalan sang permaisuri untuk menjahili pengawal istana? Kejahilan yang malah membawa dampak besar bagi seluruh dinasti Tang.


“Hiks hiks... Bagaimana bisa permaisu--” Dayang Fuo sudah kehabisan kata-kata dan menangis terisak-isak di bahu kanan dayang Wan.


Sudah dipastikan masalah besar akan menghampiri mu Flo Huang ←_←


Flo tau betul perasaan risau dari para dayangnya. Ia pun kala itu tak berfikir jauh kedepannya akan seperti apa. Niat awal hanya ingin menjahili pengawal yang tak punya tata kramah tetapi berujung petaka.


“Tak apalah, biarkan semuanya berjalan sesuai kehendak Dewa.” Ujar Flo melanjutkan aktivitas minum tehnya.


Entah sampai kapan ia berada di dinasti ini. Ia rasanya ingin lepas dari jerat sang Kaisar biadab dan tak punya hati itu.


Untuk saat-saat ini ia masih aman karena kemunculan rumor yang telah dibuatnya. Tetapi setelah masalah ini teratasi pastilah dirinya akan kembali menjadi sasaran empuk iblis itu.


Entah ia harus berterima kasih ataukah mengutuk perbuatannya ini. Setidaknya ini bisa menghambat waktu penyiksaannya nanti. Cukup menikmati waktu santai untuk beberapa saat.


Berlama-lama berada di tempat ini? Hoho... Sungguh tidak ada dalam daftar hidup Flo Huang. Secepat mungkin ia akan menyelesaikan semuanya bahkan kalau perlu membalas perbuatan mereka berkali-kali lipat sampai dirinya merasa puas.


“Dari pada kita membahas ini, lebih baik kalian membantuku untuk membeli bahan melukis.” Lanjutnya.


“Melukis?”


“Siluman pria itu!” Ucap Flo yang mengatai Miu sebagai siluman pria. Sudah jelas fisik pria tetapi malah berpostur gemulai.


Sedangkan di seberang sana ada pria gemulai yang tengah bersin-bersin. Hidungnya bahkan sudah memerah karena diusapnya terus.


“Hoho... Ceritakan saja kemakmuran toko ku ini haha!! Tapi bersin ku ini tak kunjung berhenti dari tadi. Huh.. Sungguh merepotkan.” Gumam Miu sambil melanjutkan pekerjaannya memilih kain.


......SEE YOU NEXT......