THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 36



Nampaknya cuaca yang mendung dengan tiupan angin sedikit kencang malah menyebarkan aroma masakan Flo. Bahkan hal itu berhasil menarik perhatian seorang pria tua, Kakek Mo.


“Aroma apa ini?” Gumamnya.


Dirinya saat ini baru saja selesai berkultivasi untuk mengekstrak emas yang dibawa ChenWu tempo hari, namun saat keluar dari kediamannya, dirinya malah tertarik dengan aroma yang begitu menggugah selera.


Segera ia mencari dari mana sumber aroma ini. Tongkat kayunya begitu setia menopang tubuh pria tua renta itu.


Ternyata tak hanya Kakek Mo saja. Beberapa pengawal dan pelayan istana juga sedikit mencari asal aroma yang sangat enak ini. Meskipun aromanya sedikit samar lantaran jarak dari kediaman Flo dengan istana sedikit jauh, namun tak dapat di pungkiri jika aroma masakan Flo sangatlah memikat.


“Hei!! Kalian bukannya bekerja malah berkumpul di sini. Apakah perlu ku adakan pengajuan penghentian pengawal kepada Kaisar kalian heh?” Ucap Kakek Mo kesal.


Bukan maksud lain, hanya saja Kakek Mo sangat tidak suka dengan seseorang yang tidak disiplin dan minim akan sopan santun.


(Minim sopan santun? Bang sky jadi ingin tertawa mengingat tingkah Kakek Mo saat menendang pintu masuk persidangan bahkan berbuat onar  ̄▽ ̄* Apakah masih pantas membahas soal sopan santun? )


Segera mereka semua menunduk takut dan mulai membubarkan diri. Melihat kepergian mereka semua, segera Kakek Mo mulai berfokus mencari aroma tadi.


“Dari arah manakah aroma ini?” Gumam Kakek Mo.


Tiap langkah kakinya malah membawa beliau menuju area belakang istana kekaisaran. Kalau di pikir-pikir, ini adalah jalan menuju ke kediaman istri dari muridnya.


Dengan langkah rentanya, Kakek Mo berjalan ke kediaman permaisuri Ling sambil sesekali mengendus-ngendus aroma yang kian menajam.


“Tidak salah lagi, aromanya berasal dari sana.”


***


Ketiga wanita muda itu nampak begitu serius menjaga masakan mereka agar tak hangus. Bahkan hanya menghitung menit saja ikan bakar itu akan segera matang.


“Kalau boleh tau, permaisuri tau resep ini dari mana? Jujur saja selama saya menjadi dayang permaisuri, belum pernah saya melihat permaisuri memasak atau bahkan mengetahui jenis bumbu saja pun tidak.” Ucap dayang Fuo tiba-tiba.


Mendengar pertanyaan dayang Fuo membuat Flo jadi bingung sendiri bagaimana menjelaskannya. “Tentu saja itu dari dimensiku, di dimensi kalian mana tau rempah semacam ini!”


Sangat tidak mungkin Flo memberikan jawaban seperti itu. Yang ada mereka bingung akan penjelasannya.


“Itu adalah resep keluargaku.” Alibi Flo.


“---”


Pernyataan Flo barusan membuat dayang Fuo juga dayang Wan mengernyitkan dahi secara bersamaan. Mereka nampak saling bertatapan satu sama lain dan seakan heran dengan penuturan Flo tadi.


“Ada apa?” Tanya Flo seakan mengerti dengan raut wajah mereka.


“M-maaf permaisuri, kami telah menjadi dayang permaisuri saat permaisuri menginjak usia 6 tahun. Dan saat permaisuri beranjak dewasa hingga menikah dengan Yang mulia Kaisar, tak pernah sekalipun juru masak Tuan Huang atau bahkan Nyonya Xue menghidangkan makanan dengan resep seperti ini.” Jelas dayang Wan.


“Betul sekali permaisuri, bahkan bisa dibilang permaisuri hanya lebih banyak menghabiskan waktu di ruang baca dan belajar tentang tata kerama.” Ujar dayang Fuo menambah kalimat dayang Wan.


MATI AKU!!!


Flo benar-benar tak tau jika kedua dayangnya ini telah lama mendampingi permaisuri Ling. Haishh... Mengapa saat Dewa dan Dewi itu membawanya ke dimensi ini tak disertai dengan ingatan permaisuri Ling? Lihatlah sekarang, entah apa yang harus ia katakan mengenai hal ini.


“E-ehh?? A-aku tak ingat sama sekali.” Lirih Flo dengan sedikit bermain dengan ranting bak anak kecil.


“Hehe.. Kami hampir saja lupa jika permaisuri masih mengalami cidera ingatan. Hanya saja kami cukup bingung dari mana permaisuri belajar resep seperti ini.” Ujar dayang Fuo dengan sedikit tertawa.


Tetapi tetap saja mereka sedikit keheranan. Apakah mungkin seorang yang cidera ingatan bisa dengan spontan menemukan resep masakan semacam ini? Sangat mengherankan!!


HUHFFFHHH....


Syukurlah kali ini dirinya selamat. Sepertinya hari ini dirinya selalu saja selamat dari berbagai hal, mulai dari murka sang Kaisar hingga pertanyaan-pertanyaan yang hampir membuka jati dirinya.


Dilihatnya ikan bakar itu sudah matang bahkan aromanya menguar kemana-mana. Sedangkan sup bebek beningnya masih memerlukan waktu beberapa menit lagi.


“Sepertinya ikan bakar itu sudah bisa diangkat. Tolong pindahkan ke atas daun itu, dayang Fuo. Harap berhati-hati karena itu sangat panas.” Titah Flo dengan tangan yang sibuk mengumpulkan bara api ke bawah kendi liat.


Dengan segera dayang Fuo serta dayang Wan mulai memindahkan 5 tusuk ikan bakar itu ke atas daun dengan perlahan.


Tetapi, tiba-tiba terdengar seruan dari arah belakang Flo yang membuat mereka sedikit tersentak kaget.


“Hoho... Rupanya aroma ini berasal dari masakanmu.” Ucap pria tua yang tak lain adalah Kakek Mo.


Melihat kedatangan guru sang Kaisar membuat Flo segera bangkit dan memasang senyum ramah. Huhh... Melihat Kakek Mo mengingatkannya pada sang Nenek yang telah pergi.


“Kakek Mo... Apakah ada yang bisa ku bantu?” Tanya Flo.


Dengan sedikit terbatuk kecil untuk menetralisir kegugupannya. Tentunya kalian tau apa yang akan dilakukan pria tua itu.


“Hoho... Apa kabar Nak? Sepertinya Kakek tua ini terlalu lama berkultivasi hingga tak pernah bertemu denganmu.” Jelasnya dengan raut wajah sedih.


(Seperti masyarakat +62 yang terlebih dahulu berbasa-basi ketika menginginkan sesuatu ●_●)


Seperti yang dikatakan oleh Kakek Mo tempo hari jika wanita yang dihadapannya ini memiliki aura positif hingga membuat dirinya merasakan aliran mana yang berbeda dalam tubuhnya. Sekarang pun juga demikian, bahkan auranya terasa sedikit lebih berbeda dari sebelumnya.


Nampaknya Kakek Mo tak mengetahui kabar menghilangnya permaisuri Ling dikarenakan fokus berkultivasi tanpa keluar dari ruangannya.


Kultivasi? Mendengarnya, Flo sedikit tertarik dengan kalimat itu. Ingatlah!! Semasa di dimensinya, ia sering menonton drama kolosal bersama Lylia. Kultivasi sudah tentu berhubungan dengan sihir.


Terlebih lagi saat mengetahui Zen bisa berteleportasi dan cerita dayang Wan membuatnya berambisi untuk menguasai ilmu sihir.


“Haha Kakek Mo bisa saja... Apakah ingin mencoba makanan buatanku?” Ucap Flo menawari.


Sama halnya dengan Kakek Mo, Flo juga berusaha untuk bersikap baik untuk mencari muka. Apalagi beliau ini adalah guru dari sang Kaisar.


‘Zen saja bisa berteleportasi apalagi Kaisar biadab itu!! Dan saat ini adalah gurunya, bukankah suatu keberuntungan bagiku?’ Batin Flo menyeringai.


Itulah pertanyaan yang di tunggu-tunggu Kakek Mo. Siapa yang akan menolak? Aromanya saja sudah begitu menggugah selera apalagi rasa makanannya bukan?


“Hmm... Tak perlu bersusah payah, Nak. Tetapi jika kau memaksa maka pria tua ini dengan lebar tangan menerimanya.” Jelasnya dengan tersenyum simpul.


(Kakek tua yang begitu manipulatif -_-|| )


......SEE YOU NEXT......