
Di belakang kediaman Tuan Huang, nampak Flo juga beberapa dayang setianya tengah menyiapkan berbagai persiapan.
Entah masakan apa yang akan dibuat Flo kali ini. Tetapi itu berhasil menimbulkan perhatian dari beberapa pengawal dan pelayan kediaman Tuan Huang.
“Apa yang dilakukan Permaisuri?” Seperti itulah pikir mereka.
Dikarenakan untuk pertama kalinya mereka melihat permaisuri Ling berkutat dengan peralatan masak. Sebelumnya beliau hanya berfokus pada pendidikan dan juga kecantikan untuk menempati posisi permaisuri kelak sesuai titah pernikahan.
Flo bukannya tak menyadari tatapan mereka hanya saja bersikap tak acuh. Tentunya hal yang dilakukan saat ini akan menimbulkan pertanyaan dari kedua orang tua permaisuri Ling.
Entah jawaban seperti apa yang akan diberikan kepada mereka. Pasalnya kemarin ia berkata kepada para dayang jika ia mempelajari dari resep keluarga, lalu apa yang akan dikatakan pada kedua paruh baya itu?
Tak mungkin ia berkata selama menjadi permaisuri, dirinya mempelajari hal baru untuk menjadi seorang Ibu dimasa depan.
Seorang Ibu? Membayangkan dirinya mengandung anak dari pria biadab itu membuat Flo merinding seketika. Semoga saja tak ada apapun yang berkaitan dengan Kaisar Feng di dalam dirinya.
“Permaisuri, kita akan memasak apa hari ini?” Tanya dayang Wen.
Sesuai perkataan Flo tadi, dayang kecil itu nampak antusias ingin membantu Flo memasak. Membayangkan makanan yang mereka makan tempo hari membuat air liur dayang Wen seakan menguar.
“Tak jauh berbeda dengan yang kita buat kemarin.” Jelas Flo dikarenakan masih terbatas bumbu dan pelengkap lainnya.
Mungkin dirinya akan mengeksplor lagi di hutan. Setidaknya ia nantinya bisa memasak berbagai jenis masakan lain.
Mendengar hal itu membuat dayang Wen terpekik senang. Pasalnya, rasa makanan yang ia makan beberapa minggu lalu masih tercetak jelas rasa hangat dan gurih.
“Dayang Wan, bisa kau menyiapkan bahan untuk bebek bakarnya? Dan dayang Fuo tolong kau mencuci umbi-umbian tadi dan rebus dalam tungku liat itu.” Lanjut Flo dengan memberi perintah.
Sepertinya bebek bakar dengan umbi-umbian rebus bukanlah sesuatu yang buruk. Seandainya saja ada beras atau gandum akan lebih nikmat lagi.
Segera mereka berdua menyiapkan segala persiapan yang telah di perintahkan oleh permaisuri Ling.
Dari arah kejauhan, Zen menatap lekat kegiatan yang dilakukan permaisuri Ling. Sesuai yang dikatakan Kaisar Feng, Zen mengawasi permaisuri Ling dari pagi hingga menjelang tidur, takut-takut jika beliau melakukan hal yang mengundang kecurigaan Tuan Huang beserta Nyonya Xue.
***
4 ekor bebek bakar telah di cuci bersih dan bumbu pun telah di tumbuk dengan halus oleh dayang Wan.
Setelahnya, dayang Wan menghidupkan api dan menyiapkan beberapa tusukan bambu untuk bebek.
“Permaisuri, apakah seperti ini cukup?” Panggil dayang Wan yang memperlihatkan satu ekor bebek dengan 2 tusukan bambu yang menopang bagian dalam
“Begitupun sudah bagus!!”
Flo langsung mengambil bebek tersebut dan melumurinya dengan bumbu yang telah di siapkan dayang Wan.
Aroma kuat dari bumbu tersebut tercium jelas di indera penciuman ketiga dayang. Bahkan masih mentah pun aromanya terasa enak, apalagi sudah matang.
“Wow!! Apa bebek yang kita makan kemarin cara bakarnya seperti ini, permaisuri?” Tanya dayang Wen dengan membolak-balikkan bebek yang telah tertancap 2 buah tusukan bambu.
Kemarin dayang Wen bertugas mengawasi Siu di kediaman sehingga hanya melihat hasil tanpa proses.
“Haha... Tentu saja!! Sedikit ambil jarak dari sini, dayang kecil. Dan jangan bermain api.” Ucap Flo memperingati sembari mengelus kepala dayang Wen.
Dayang Wen masihlah anak-anak yang terkadang ceroboh. Akan sangat berbahaya jika gadis kecil itu mendekati api tanpa pengawasan.
Dayang Wan dan dayang Fuo yang melihatnya sedikit tersenyum. Sosok permaisuri yang dilihatnya begitu berbeda dari sebelumnya.
Tidak!! Permaisuri Ling tak jahat, bahkan sangat baik sejak dahulu. Hanya saja, perubahannya setelah bangkit dari kematin membuat beliau menjadi pribadi yang berbeda.
Ditambah saat begitu perhatian terhadap dayang Wen, mereka merasa permaisuri Ling sudah sangat cocok menjadi seorang Ibu meskipun wajahnya terlihat masih belia.
Aura positif yang dikeluarkannya membuat ia tak terlihat seperti seorang belia. Bahkan layaknya ibu muda.
......See You Next......