
Di sinilah Flo berada, di dalam ruang kerja Kaisar. Tentunya kalian bertanya bagaimana bisa ia berasa di ruangan kaisar? Bukan kah tadi masih berada di area taman?
Flashback...
Saat asik duduk bersandar di bawah pohon, Flo melihat ada sesuatu yang mengkilap di balik semak-semak. Merasa tersihir dengan cahaya itu, tanpa pikir panjang Flo mendekat dan semakin menajamkan pandangannya.
Sesuatu itu memancarkan sinar jingga yang cukup kontras akibat pantulan cahaya matahri. Tatapan matanya seakan terkunci dan entah kenapa semakin lama pandangan matanya semakin meredup.
Ada sesuatu dalam dirinya yang memberontak dan seakan mendorong dirinya agar semakin mendekat ke arah sesuatu bercahaya itu.
Jarak seinci lagi tangannya menyentuh sesuatu yang mengkilap itu, namun dengan sigap tangan seorang pria berhanfu hitam menarik dirinya hingga kesadaran yang perlahan hilang tiba-tiba kembali segar.
Flo tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya tadi, dan di lihatnya benda bercahaya jingga itu tiba-tiba saja menghilang. Pria yang menariknya tadi menatap Flo dengan pandangan datar.
“Apa yang anda lakukan di sini permaisuri?” Tanyanya.
“A-a...”
“Bukankah anda sudah tau jika taman ini dilarang tegas di masuki oleh siapapun!” Tegasnya.
***
Sekembalinya ia dari ruangan permaisuri Ling atau Flo, ia sengaja lewat dapur istana untuk memeriksa situasi. Tak jauh dari aula istana, Zen memeriksa segala sisi memastikan tak ada yang mencurigakan. Mungkin saja ia bisa bertemu dengan hantu.
“Aku penasaran seperti apa wujud hantu itu?” Gumam Zen dan kembali berjalan dengan tatapan mata yang tajam.
Saat menoleh ke arah kiri, dari kejauhan ia melihat siluet manusia tengah duduk bersandar di pohon. Meskipun jarak yang cukup jauh dari tempatnya, namun profesinya sebagai pengawal pribadi (bayangan) tentunya tak di ragukan lagi dari segi ketajaman mata.
Tikus yang sedang bersembunyi di sudut ruangan pun bisa tertangkap oleh pandangan matanya.
“Siapa yang berani masuk ke dalam taman itu? Benar-benar mencari mati!”
Dengan segera Zen menghilang dari tempatnya berdiri dan dalam hitungan seperkian detik, ia telah sampai di pinggir taman. Apakah itu sihir?
Aura di taman itu begitu kuat bahkan Zen yang merupakan seorang pengawal pribadi Kaisar yang memiliki ketahanan tubuh kuat merasa terancam dengan aura kelam itu.
“Siapapun yang masuk ke dalam sini, ketahanan tubuhnya menahan aura ini sangatlah luar biasa.” Gumam Zen dan mamasang pelindung aura di tubuhnya.
Di lihatnya seorang gadis yang sudah pasti postur tubuh permaisuri membuat Zen terdiam sejenak. Permaisuri yang terkenal lemah itu bisa tahan dengan aura kelam ini?
Nampak permaisuri Ling mendekat ke satu objek yang Zen sendiri tak tau apa. Namun yang pasti ia sudah tak tahan berada di tempat ini dan dengan sigap memanggil Flo.
“Permaisuri!!”
“...”
Tak ada respon dari permaisuri Ling dan entah mengapa Zen merasa ada yang tidak beres. Merasa cukup tertekan dengan aura di tempat itu, dengan tidak sopan Zen menarik pergelangan tangan permaisuri Ling.
“Apa yang anda lakukan di sini permaisuri?” Tanya Zen.
“A-a...”
“Bukankah anda sudah tau jika taman ini dilarang di masuki oleh siapapun!” Tegas Zen.
Merasa pertahanan tubuhnya melemah, Zen dengan segera membawa pergi permaisuri Ling dari tempat itu dengan sisa kekuatan yang ia miliki.
Flo tentunya kaget dengan apa yang dirasakan tadi. Tubuhnya seakan ringan tanpa beban dan bagaikan kedipan mata ia bisa berpindah tempat.
Zen yang telah keluar dari area taman itu merasa lega dan tenaganya mulai terisi kembali. Itu adalah kali pertama Zen menginjakkan kaki ke taman itu.
Pantas saja Yang mulia kaisar Feng melarang dengan tegas untuk siapapun mendekat ke area terlarang. Zen sudah merasakannya sendiri, haruskah memberi usulan kepada Yang mulia kaisar untuk memasang pelindung?
Muncul pertanyaan besar di benak Zen, mengapa manusia lemah seperti permaisuri Ling bisa menahan tekanan aura sekelam itu?
“Apa yang anda lakukan disana tadi? Bukankah Yang mulia kaisar melarang siapapun untuk mendekat ke tempat itu?” Tanya Zen menuntut.
Flo yang sudah sadar dari keterkejutannya tadi lantas menormalkan raut wajahnya. Tentunya Flo sedikit kesal karena ia hampir saja menyentuh benda bercahaya itu namun gagal karena aksi Zen tadi.
‘ Hei pria tampan!! Aku ini gadis dari masa depan, peraturan macam itu aku mana tau. Fisik ku memang permaisuri Ling, tetapi jiwaku adalah Flo Huang. Tentunya aku tidak tau apapun mengenai dunia ini dan segala peraturan di istana milik kaisar bedebah itu! ’ Batin Flo.
“Terus apa masalahnya? Bukankah tempat itu masih berada di kawasan istana? Apakah ada larangan bagi seorang ibu negara mengunjungi sekitaran istananya?” Balas Flo telak membuat Zen diam tak berkutik.
Tapi tetap saja, perintah sang Kaisar adalah perintah mutlak yang tak bisa dilanggar oleh siapapun. Zen hampir saja lupa jika ia mendapat arahan untuk memanggil permaisuri Ling.
Jika ia tetap di sini membalas pertanyaan beliau, mungkin akan memakan waktu lama dan dia bisa juga terkena masalah.
“Maafkan saya permaisuri!! Saya hampir lupa jika permaisuri di panggil oleh Yang mulia Kaisar ke ruang kerjanya. Saya harap permaisuri bisa ikut bersama saya!” Ujar Zen terdengar seperti paksaan di pendengaran Flo.
‘ Bedebah itu memanggilku? Apakah mengenai hantu tadi? Aishh... Siapkan dirimu untuk menghadapi bajingan tak punya hati itu Flo!! ’ Batin Flo lemas.
Harusnya Flo sudah menduga jika ia tetap akan di panggil untuk menghadap ke sang kaisar sekaligus suaminya. Tetapi ia belum mempunyai perkiraan jawaban atas pertanyaan kaisar nanti.
‘ Ya Tuhan, aku saja tidak mempercayai hantu dan jawaban apa yang harus ku berikan pada pria itu? Perkataan ku mengenai hantu hanya untuk menjahili pengawal tak punya sopan santun tadi. Bantulah aku Tuhan! Aku belum mencari muka di hadapan rakyatku, dan bagaimana bisa aku mendapatkan pelindung? Sungguh malang nasibku... ’ Lanjut Flo membatin.
Melihat permaisuri Ling nampak melamun, dengan sigap Zen menggunakan kekuatan teleportasi nya untuk membawa permaisuri Ling ke ruangan kaisar.
***
“Hei!! Apakah sopan membawa gadis pergi tanpa ijin darinya heh?” Tanya Flo marah.
Pasalnya ia tengah melamun tadi dan secara tiba-tiba jantungnya berdetak dengan cepat setelah pria yang tak lain pengawal pribadi suaminya membawa dirinya dengan kekuatan teleportasi.
Sedangkan Zen merasa acuh dan diam menundukkan pandangannya setelah melihat kaisar Feng berjalan mendekat ke arah mereka.
“Ceroboh!!” Ujar kaisar Feng membuang arah pandangnya ke rak dokumen negara.
Tentunya Zen tau maksud ucapan sang Kaisar. “Maafkan saya, Yang mulia. Jika bukan keadaan terdesak saya tidak akan menggunakannya.”
“Keadaan terdesak apa sampai kau menggunakan kekuatanmu untuk wanita ini hehh?” Tanya kaisar Feng sarkas sambil menatap remeh ke arah Flo.
Flo yang di tatap seperti itu merasa tak terima, apalagi perkataannya tadi yang seakan menghina dirinya.
‘ Dasar pria bedebah!! Rasanya aku ingin menyumpal mulutnya dengan batu. Huh!! Jika saja aku menjadi kuat, sudah ku pastikan akan membalas perbuatanmu. ’ Batin Flo dengan tatapan benci.
Ia tentunya tak berani berbuat macam-macam di hadapan kaisar Feng. Apalagi ia di dimensi itu masih terhitung satu minggu dan tak tau menahu mengenai jati diri kaisar Feng.
Flo merasa di dimensi ini banyak hal yang masih perlu ia cari tau. Terutama mengenai teleportasi yang dilakukan Zen tadi?
Sedangkan Zen tak berani menjawab karena sudah hafal betul dengan kelakuan kaisar Feng. Jika pertanyaannya seakan merendahkan, itu berarti ia tak menerima jawaban atau bantahan sekalipun.
Tetapi apa mau di kata, situasi tadi memang sangatlah mendesak sehingga membuatnya menggunakan kekuatan yang sedari awal sudah di peringati oleh kaisar agar menggunakannya saat situasi terdesak.
...SEE YOU NEXT ...