THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 19



Dayang Fuo mengetahui betul perasaan gundah dayang Wan. Menjadi pengatur keuangan serta perantara bisnis permaisuri beserta pemilik toko pakaian ternama cukup berat bebannya.


Flo sendiri mengerti kegelisahan salah satu dayangnya itu tetapi merasa acuh saja. Namun jika bukan dari sekarang di ajarkan tentunya dia sendiri yang akan repot. Toh, tak hanya dayang Wan saja tetapi semua dayangnya akan ia beri tanggung jawab berbeda-beda.


“Dayang Wan, aku mengerti apa yang kau rasakan. Hanya saja suatu kehormatan mendapat tugas seperti ini apalagi diberikan langsung oleh permaisuri. Aku yakin jika kau pasti mampu.” Dayang Fuo memberikan semangat untuk rekan seperjuangannya.


“Iya kakak... Jika kakak merasa kesulitan, kakak bisa bertanya kepadaku.” Tambah dayang Wen.


Mereka bertiga yang mendengarnya pun tak dapat menahan tawa. Gadis sekecil dayang Wen tau apa soal bisnis? Setidaknya mereka terhibur sedikit dari situasi canggung ini.


“Baiklah permaisuri, hamba akan berusaha dengan sekuat tenaga dan tak akan mengecewakan permaisuri.” Tekad dayang Wan.


Flo yang mendengarnya pun tak dapat menyembunyikan senyum puasnya.


“Tak hanya dayang Wan saja, tetapi kalian semua pasti akan mendapat giliran.” Balas Flo yang mana menghadirkan tatapan kebingungan dari para dayang.


”---”


“Aishh... Cepat habiskan makanan kalian dan setelahnya tidur. Jangan ada yang mencuci pakaian ataupun menyapu dimalam hari. Kalau mau dikerjakan tunggu fajar tiba.” Perintah mutlak Flo membuat ketiga dayang mengangguk patuh.


Memang kebiasaan mereka tiap malam akan berbagi tugas untuk membersihkan kediaman permaisuri Ling. Setidaknya nyaman ditempati meskipun jauh dari kata layak.


Setelah 20 menit mereka makan malam, mereka pun mulai berbenah diri dan bersedia untuk tidur. Flo pun baru sadar jika para dayangnya tidur dilantai tanah dialasi kain tipis.


Mau bagaimana lagi, di tempatnya itu hanya terdapat satu kasur kayu yang terkadang membuat tidurnya merasa tak nyaman.


‘Jika aku membeli tempat tidur baru bukankah akan mencurigakan bagi para pengawal dan bukan tak mungkin jika hal ini akan sampai ke telinga kaisar biadab itu. Dia pasti akan mencari tau asal usul uang yang ku peroleh dan akan melakukan berbagai cara untuk mengusikku. Tapi kasihan mereka berdua yang harus tidur di tanah seperti itu.’ Batin Flo gelisah.


Dilihatnya dayang Wen begitu lelap tidurnya dengan lengan kanannya sebagai bantalan. Dengkuran ringan terdengar serta hembusan nafasnya begitu terasa di dadanya.


Tak dipungkiri jika tiap malam Flo selalu saja membayangkan neneknya disana. Entah bagaimana keadaannya saat ini apalagi beliau hanya tinggal seorang diri.


‘Ya Tuhan... Aku tak tau apa rencana yang kau berikan kepadaku. Tetapi satu hal yang kupinta, semoga nenek disana baik-baik saja. Jagalah nenek disana dalam lindunganmu.’ Batin Flo dan dengan perlahan menutup mata.


***


Keesokan harinya ternyata diadakan rapat di aula kekaisaran dan mengundang beberapa orang.


Rumor mengenai kemunculan hantu telah usai bahkan Kaisar Feng sendiri turun tangan langsung untuk menyampaikan kabar itu dihadapan para petinggi kekaisaran beserta beberapa perwakilan rakyat.


Bukankah ini adalah sesuatu yang sangat membahagiakan. Keluarga mereka semua terjauh dari ancaman roh jahat.


Mereka tidak tau saja kejadian yang sebenarnya. Kebencian mereka terhadap permaisuri akan semakin tinggi jika sampai mengetahui ini hanyalah akal-akalan sang ibu negara.


Saat mereka tengah bersorak-sorak memberi sujud penghormatan, tiba-tiba terdengar bunyi bising dari pintu aula hingga mengejutkan mereka yang ada di dalam aula.


Dilihatnya seorang pria tua yang berdiri sendiri di antara pintu aula. Apakah mungkin jika dia pelakunya? Tetapi apakah mungkin pria renta dengan fisik bungkuk bisa melakukan demikian? Tapi kalau bukan dia siapa lagi?


“Lancang!!! Beraninya pria tua sepertimu berlaku demikian di hadapan Yang mulia Kaisar.” Teriak pejabat Hong sarkas.


Kalau kalian lupa, pejabat Hong salah satu pejabat kontra-permaisuri bahkan menjadi salah satu pelaku utama hukuman cambuk yang diberikan kaisar kepada permaisuri beberapa waktu lalu. Percayalah!! Kehidupan intrik kekaisaran begitu kejam ︶︿︶


Dari arah yang cukup jauh, Kaisar Feng sudah hafal dengan pria tua yang tak lain adalah guru nya. Sepertinya dia lupa untuk mengabarkan kepada guru nya untuk tak perlu datang, bahkan ia belum menyetujui permintaan guru nya.


Tukk.. Tukk..


Suara ketukan tongkat nya menggema di aula istana. Sepertinya sudah sangat lama ia tinggal di hutan belantara hingga mereka tak tau jika dia adalah guru sang Kaisar penguasa dinasti Tang.


“Tak perlu meninggikan suaramu seperti itu dihadapan kakek tua ini! Indera pendengaranku masih berfungsi dengan baik.” Ucap Kakek Mo dengan raut wajah tak suka.


Kakek Mo adalah tipikal orang yang jika tidak menyukai seseorang maka akan ia tunjukkan di hadapannya langsung. Ia sadar telah berlaku tidak sopan dengan menendang pintu itu tetapi itu ada alasannya.


“Salahkan pengawal itu yang tak membukakan pintu aula sebesar itu untuk pria tua ini. Maka dari itu aku yang membuka langsung, tentunya dengan caraku sendiri..” Lanjut Kakek Mo dengan tekanan di akhir kalimatnya.


Kaisar Feng yang melihatnya hanya mampu terdiam. Ia sudah hafal betul dengan kelakuan sang guru yang mungkin cukup menyebalkan bagi orang pertama kali bertemu dengannya.


“Bagaimana bisa pria tua ini masuk kedalam lingkungan istana kekaisaran hah?” Murka pejabat Hong.


Padahal sang Kaisar selaku pemilik istana kekaisaran nampak biasa saja tetapi pejabat licik ini berkoar-koar layaknya anjing -_-||


Tiba-tiba dari arah belakang muncul beberapa pengawal yang membawa tombak. Gerakan pria tua itu begitu gesit tadi hingga membuat mereka kewalahan untuk menghantikannya.


“M-maafkan atas kelalaian kami Tuan. Pria tadi begitu gesit menghindari serangan kami.” Jelas si pengawal A.


“Bagaimana bisa menghadapi satu pria tua sepertinya kalian tidak mampu hah? Benar-benar memalukan.” Ujar pejabat Hong dan langsung bergegas mendekat ke arah Kakek Mo.


...SEE YOU NEXT...