
Suasana pagi hari itu begitu sejuk, suara burung berkicau begitu nyaringnya. Nampak Flo begitu enggan untuk sekedar membuka mata.
Flo merasa jika tidurnya semalam begitu nyenyak. Mungkin berkat tangan kecil milik dayang Wen yang dengan telaten memijatnya hingga tak sadar tertidur. Padahal ia sudah berusaha terjaga untuk menunggu kepulangan dua dayangnya namun tak kunjung tiba.
Kryukk....
Suara perut Flo memberontak ingin segera diisi. Ia baru ingat jika semalam ia telah melewatkan makan malam. Huhh... Pantas saja perutnya menyuarakan untuk segera di beri makan.
Dengan perasaan malas akhirnya Flo bangkit dan menatap sekeliling ruangan. Ia tak melihat keberadaan para dayangnya, tetapi ada nampan berisi makanan di atas meja.
“Kemana perginya mereka semua?” Tanya Flo pada dirinya sendiri.
“Haishh!!! Bisakah bersabar sedikit? Aku baru saja ingin memberi kalian makan.” Lanjut Flo kepada perutnya yang sedari tadi bersuara.
Dengan langkah gontai Flo mendekat ke arah meja dan membuka bungkusan makanan yang sudah pasti disediakan oleh para dayangnya.
“Huhff... Bukannya aku tidak bersyukur Tuhan, tapi kau tau betul bukan jika aku sangat suka makan. Setidaknya jika kau berniat ingin memindahkan diriku harusnya ke tempat yang memiliki banyak makanan enak. Jika hidupku sengsara seperti ini, masih ada makanan yang bisa menghiburku.” Dengus Flo sambil tetap membuka bungkusan iru.
Apakah kalian pernah melihat makanan ayam? Di jamannya Flo, makanan ini mirip seperti dedak hampas halus padi. Teksturnya yang lembek dan ada bau khas tersendiri membuat selera makannya menjadi berkurang.
Apakah orang di era ini memakan makanan seperti ini? Oh yang benar saja??
“Apakah ada yang ingin memakan makanan hewan ternak seperti ini? Hikss... Mengapa makananku juga kau sengsarakan Tuhan!! Saat aku memiliki uang, aku akan membeli bahan makanan yang layak.” Ucap Flo dengan penuh tekat.
Dan dengan terpaksa ia memakan makanan itu sebagai menu sarapan paginya. Sayur campur yang teksturnya sama lembeknya dengan nasi (dedak) membuat selera makan Flo hancur seketika.
Perutnya terasa mual saat membayangkan makanan itu masuk ke dalam lambungnya. Kemarin menu makan malamnya masih terbilang cukup layak dengan tambahan ikan kecil-kecil beserta roti.
“Hikss... Aku rindu dengan roti isi buatan nenek!”
***
Sudah seminggu Flo berada di dunia itu dan menurutnya tak ada pergerakan cukup aneh dari orang kekaisaran. Ia pikir akan seperti drama kolosal yang ia tonton.
Kondisi fisiknya saat ini pun sudah cukup membaik. Bahkan terasa lebih segar dibanding seminggu yang lalu. Flo patut bersyukur dengan dayang setianya yang dengan susah payah mencari obat.
Tak ada yang bisa diperbuatnya sekarang. Hanya berdiam diri di kamar ibarat kata seorang pengangguran. Apa gunanya ia menjadi seorang permaisuri jika tak mengerjakan urusan ibu negara?
“Cukup membosankan berada di dalam ruangan ini? Sudah waktunya aku mengenal jauh dimensi ini.” Gumamnya dan perlahan melangkah menuju aula istana utama.
Jarak dari ruangan milik permaisuri Ling ke aula istana utama lumayan jauh yang mana membuat kaki terasa letih. Tetapi untuk saat itu tidak dirasakan oleh Flo.
Pemandangan yang masih jauh dari polusi terasa begitu asri dan segar, tak sama seperti di jamannya. Angin yang berhembus pelan menerbangkan rambut milik Flo yang mana membuat siapa saja merasa damai melihatnya.
Tak jarang beberapa pengawal istana yang sedang bertugas tak dapat mengalihkan pandangannya dari sosok ibu negara kekaisaran.
“Bukankah permaisuri terlihat begitu cantik.” Kata pengawal 1
“Hm.. Kau betul sekali!! Rumor mengenai beliau cukup membuat orang-orang memandang sebelah kepada permaisuri.” Balas pengawal lain.
Flo tentunya sadar jika sedari tadi ada beberapa pengawal yang curi pandang dengannya. Bahkan ia merasa sedikit terharu.
Terharu? Tentu saja!! Sewaktu di jamannya dahulu tak ada satupun pria yang ingin dekat dengannya. Jangankan dekat, memandang dirinya saja mungkin sesuatu yang mustahil.
Ayolah!! Siapa yang berselera memandang gadis gemuk seperti dirinya?
“Ternyata seperti ini rasanya dilirik oleh seorang pria.” Gumam Flo dengan perasaan haru.
Beberapa dayang yang sedang sibuk dengan aktivitasnya cukup terkejut melihat kedatangan Flo yang tak lain permaisuri Ling. Pasalnya permaisuri Ling sangat jarang dan bahkan tidak pernah keluar dari ruangannya.
Dengan segera mereka semua memberi salam penghormatan. Meskipun permaisuri Ling terkenal lamban, bodoh, dan tak memiliki kemampuan apapun tetapi posisinya sebagai seorang permaisuri tetaplah berkuasa jika dibandingkan dengan mereka yang hanya seorang dayang.
“HORMAT KAMI PERMAISURI, SEMOGA ANDA HIDUP 1000 TAHUN LAGI...” Ujar dayang kompak.
Walau Flo hanya membalas dengan anggukan kepala, tetapi dengan sigap semua dayang berdiri dan menatap lekat ke arah Flo.
“Ada yang bisa kami bantu permaisuri?” Tanya seorang dayang.
“Terima kasih atas perhatiannya! Silahkan lanjutkan aktivitas kalian kembali. Permaisuri ini hanya sedang berjalan-jalan saja.” Balas Flo dengan tenang.
Ia ingin bersikap dingin dan nampak arogan tetapi melihat citra dirinya yang sudah begitu buruk maka ia merubah rencana.
Kepribadiannya dahulu yang sangat barbar membuat Flo harus menahannya dan berubah menjadi seorang gadis santun juga ramah. Sangat sangat tidak cocok dengan Flo terdahulu.
Para dayang pun kembali melakukan pekerjaannya dan meninggalkan Flo yang masih setia berdiri mengamati. Melihat area dapur membuatnya teringat akan makanan yang akhir-akhir ini ia makan.
Para dayang nampak sedang mengiris kasar daun-daun yang entah daun apa namanya. Dan satu hal yang menjadi fokus utama Flo, MENGAPA ADA BUBUK YANG MIRIP DENGAN DEDAK MAKANAN AYAM? Jangan bilang jika itu adalah yang ia makan selama ini? Oh Ya Tuhan!!!
“Hei kau!!” Panggil Flo kepada salah seorang dayang yang tengah mengayak bubuk.
Merasa dirinya di panggil, segera ia berdiri dan membungkuk sejenak. “I-iya permaisuri, ada yang bisa hamba bantu?”
“Apa yang sedang kau ayak itu?” Tanya Flo masih agak kaku dan gelisah di waktu bersamaan.
“Ini adalah bubuk dari biji bunga di taman permaisuri.”
“Untuk apa?” Pertanyaan Flo membuat dayang itu mengerutkan dahinya bingung. Apakah masih ada orang di dunia ini yang tidak mengetahui biji bunga yang sedang di ayaknya?
Meskipun agak ragu tetapi dengan pelan ia menjelaskan kepada permaisuri Ling.
“Ini biji bunga Cieng dan di jadikan sebagai bahan pokok. Biji bunga ini harus kita jemur selama 7 hari lamanya untuk mendapatkan kering yang sempurna dan setelahnya akan kita tumbuk hingga menjadi serpihan bubuk seperti yang permaisuri lihat. Perlu di ayak hingga 3 kali untuk mendapat bubuk yang sangat halus.” Jelas dayang panjang lebar.
Penjelasan dayang barusan membuat Flo bisa bernafas lega dan dengan spontan mengelus dadanya pelan. ‘Syukurlah tidak sesuai dengan pikiranku tadi. Tapi tetap saja aromanya mirip sekali dengan makanan ayam, ughh...‘
“Apakah tidak ada bumbu masakan yang lain?” Tanya Flo. Setidaknya jika makanannya sesederhana ini haruslah di lengkapi dengan bumbu masakan agar tidak buruk rasanya.
Penyedap rasa yang adalah raja dari segala makanan dan tentunya sebagai penguasa.
“Tentu saja ada!” Jawab sang dayang spontan mengambil satu kendi kecil yang di dalamnya terdapat serpihan bubuk kecil yang di yakini Flo sebagai garam halus.
Dengan pelan Flo mengambil sejumput bubuk tersebut dan mulai menganalisa tekstur beserta baunya. Tekstur bubuk tersebut lebih halus dibanding garam halus dan tidaklah padat.
Tekstur bubuk itu sangat mirip dengan gula halus dan baunya memiliki ciri khas sendiri yang susah dijabarkan oleh Flo sendiri. Ia pun lantas mencoba sedikit dan membuat Flo merasa terkejut.
‘BUMBU APA INI??? Mengapa rasanya begitu aneh...’ Batin Flo dengan ekspresi wajah aneh.
Masih dengan keterkejutannya, Flo rasanya ingin muntah di tempat itu sekarang juga. Rasa bubuk itu mengingatkannya pada satu makanan sewaktu di jamannya dulu.
“A-ada apa permaisuri? Apakah anda baik-baik saja?” Tanya dayang risau.
Setelah berhasil mengatur raut wajahnya, Flo pun hanya bisa memaksakan senyum di wajahnya meski terkadang tubuhnya bergetar ngeri dengan rasa bubuk yang masih tersisa dalam mulutnya.
...SEE YOU NEXT...