
Masih terjadi keheningan dalam ruang kerja Kaisar. Tak ada yang berniat memulai perbincangan, baik Kakek Mo maupun Kaisar Feng.
Sungguh, Zen sangat tidak tahan dengan situasi canggung ini. Baik Kakek Mo juga Kaisar Feng sama-sama mengeluarkan tekanan aura yang cukup membuat Zen sedikit limbung.
“Kau ini memang tak pernah berubah Xiu'er, selalu saja bersikap acuh.” Ucap Kakek Mo sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke lantai.
“Baiklah, langsung ke intinya saja. Kau sudah paham betul bukan jika guru mu ini sangat menyukai emas haha.. ” Lanjut Kakek Mo diakhiri tawa renyahnya.
Sepertinya Kaisar Feng paham kemana arah pembicaraan pria tua maniac emas yang sialnya adalah gurunya sendiri.
“Maafkan aku sebelumnya guru... Aku lupa mengabarkan kepadamu jika rumor mengenai kemunculan hantu telah selesai.” Jelas Kaisar Feng dengan santai.
Mata Kakek Mo membulat seketika mendengar penuturan penguasa dinasti Tang. Telah selesai katanya? Dirinya sudah bersusah payah mengemas dan membawa peralatannya untuk membasmi roh jahat itu.
Lagi pula Kaisar Feng belum mengirim persetujuan kepada Kakek Mo dan beliau tiba-tiba datang di hari pengumuman rumor telah usai -_-+
“Lalu mengapa kau tak bilang murid nakal hah? Apakah kau tau, pria tua ini bersusah payah untuk datang kemari menemuimu.” Kesal Kakek Mo sambil mengangkat tongkat kayunya bersiap untuk memukul kepala Kaisar Feng.
Dengan sigap Kaisar Feng berdiri dan bersembunyi di balik tubuh Zen. Sedangkan Zen sendiri masih terdiam dan tak tau harus apa.
Kaisar yang ia kenal sangatlah berkharisma dan gagah tapi mengapa yang dilihatnya sekarang bak anak kecil yang bersembunyi lantaran takut terkena amukan kayu?
“Kemari kau murid nakal!! Tunjukkan kekuatanmu!!” Teriaknya sambil mengayun-ayunkan tongkat ke arah Zen juga Kaisar Feng.
“Tenanglah guru... Lagi pula aku belum menyetujui atau bahkan mengirim balasan kepada guru. Menyiapkan berkarung karung goni keping emas hanya membuat guru menerima permintaan bantuanku? Sangatlah monster.” Ucap Kaisar Feng menjelaskan.
Kaisar Feng telah hapal dengan tabiat sang guru yang mana ia harus menyiapkan berkarung karung goni keping emas untuk memenuhi obsesi beliau. Apakah ada seorang guru yang sampai ingin memeras muridnya?
Kalau emasnya dijual bisa dapat berapa ratus juta? Ataukah miliaran? $_$
Ini pun juga diluar kendali Kaisar Feng. Ia tak ada kepikiran untuk menyelidiki secara mandiri megenai rumor kemunculan hantu dan malah mengirim ChenWu untuk meminta bantuan kepada guru nya yang gila akan emaas.
“Heii!! Aku bergegas kemari agar tak memakan banyak waktu dan juga korban lebih.” Alibi Kakek Mo yang sepenuhnya tidak benar.
Alasan utamanya adalah karena emas, bosan, lalu roh jahat. Untuk korban dari hantu itu tak mungkin ada, terlebih lagi ada altar suci yang pastinya tak akan bisa di tembus roh jahat manapun.
“Aku tadi sempat berkeliling untuk mencari aura-aura jahat dari sekitaran istana mu namun aku tak merasakan apapun.” Jelas Kakek Mo setelah tenang dari kekesalannya tadi.
‘Bagaimana guru merasakan aura jika hantu itu hanyalah akal-akalan wanita itu.’ Batin Kaisar Feng.
Dia lupa jika masih ada Zen disini. Entah apa yang dipikirkan Zen atas kelakuannya tadi yang bersembunyi dari amukan tongkat sang guru.
“Lupakan kejadian tadi!!” Bisik Kaisar Feng sebelum mengambil posisi duduk kembali.
Zen pun yang masih terkejut hanya mampu mengangguk dan kembali fokus pada perbincangan beda generasi ini.
Menurut Zen, Kakek Mo tergolong berani di usianya yang tua untuk mencari keberadaan hantu itu. Benar-benar hebat.
“Dan di jalan aku sempat tersesat hingga ada seorang gadis muda yang menyapaku. Dia sangat cantik juga manis---”
“Apakah guru sekarang ini sudah beralih dari gila emas menjadi pria tua mesu*m heh? Umur guru tersisa sedikit lagi harusnya perbanyak berbuat kebajikan bukannya kebejatan.” Ucapan Kakek Mo terhenti oleh Kaisar Feng.
Mendengar ucapan sang murid tentunya membuat emosi Kakek Mo meningkat. Apakah muridnya berfikir jika ia adalah pria hidung belang yang gila akan wanita? Jika dibandingkan wanita, emas emas nya lah yang paling berharga.
TUKKK..
Bunyi ketukan tongkat juga ringisan mengisi ruangan sunyi itu. Sudah di pastikan jika tongkat kayu milik Kakek Mo mendarat dengan mulus di kepala seseorang.
“Kau ini benar-benar ya... Kau mengatai guru mu ini mesu*m?” Kesalnya
Zen yang melihat aksi Kakek Mo tak dapat menutupi raut wajah terkejutnya. Seorang Kaisar dinasti Tang yang terkenal tirani malah mendapat perlakuan demikian? Apalagi sampai meringis kesakitan hanya karena ketukan tongkat?
Heii.. Ayolah!! Seorang kaisar yang tak tumbang meski hujaman pedang menyentuh tubuhnya? Dan saat ini meringis kesakitan hanya karena sebuah tongkat?
“Lalu apa? Guru memuji gadis itu cantik dan juga manis bukankah mengarah ke hal yang mesu*m?”
“Gadis itu mengaku jika dialah yang melihat secara langsung hantu itu. Dan saat aku meminta waktunya sejenak untuk membicarakan ini, ia malah ijin pergi seakan tergesa-gesa.” Jelas Kakek Mo.
Sepertinya Kaisar Feng tau gadis yang dimaksud guru nya. Siapa lagi jika bukan Permaisuri Ling selaku istrinya.
“Gadis itu berbohong guru... Itu hanyalah akal-akalan dia semata karena mengulur waktu hukuman yang akan ku berikan padanya.” Ucap Kaisar Feng datar.
Mengulur waktu? Hukuman? Ada apakah sebenarnya?
“Sepertinya aku terlalu lama mengasingkan diri hingga banyak hal yang telah terjadi tak aku ketahui di sini.” Lirih kakek Mo sambil menganggukkan kepalanya mengerti.
***
Sedangkan di kediaman Flo, tengah diadakan perayaan kecil-kecilan akan kedatangan Siu si anak serigala yang ditemukan di hutan tadi. Lebih tepatnya dayang Wen lah yang menyelenggarakan.
Terlihat raut wajah bahagia dayang Wen saat menyuirkan daging burung sisa bekal Flo tadi siang. Tak mungkin jika Siu diberi tenghulu kan?
“Makanlah yang banyak Siu agar kau lekas sembuh!” Ucap dayang Wen sambil menoleh sekilas ke arah Siu yang dengan lahap menyantap makanannya.
Flo beserta dua dayang yang lain hanya mampu tersenyum simpul juga terheran-heran. Sepertinya dayang Wen cukup kesepian tak memiliki teman bermain selama ini. Apalagi hanya dia dayang kecil yang ada di istana kekaisaran.
“Tak hanya Siu, tapi kau juga harus makan.” Titah dayang Wan kepada sang adik. Terlalu fokus memberikan makanan kepada Siu hingga membuat adiknya mengacuhkan makanannya sendiri.
Rasanya damai dengan situasi yang dirasakan Flo saat ini. Bisa berkumpul dengan orang yang menyayanginya dan tentunya ia seperti merasakan memiliki keluarga.
Huhffhh... Lagi dan lagi ia teringat akan nenek beserta sahabatnya, Lylia. Entah bagaimana kabar mereka sekarang ini?
“Permaisuri, apa yang tengah anda lamunkan? Apakah ada yang mengganggu pikiran anda?” Tanya dayang Fuo mengejutkan Flo.
Mengapa disaat seperti ini ia ingin menangis. Ia membutuhkan pelukan hangat. Dan tanpa banyak berkata ia segera berdiri dan meninggalkan ketiga dayang yang menatapnya dengan penuh tanya.
‘Ada apa sebenarnya dengan permaisuri?’ Batin mereka kompak.
Setelah kepergian Flo, dayang kecil Wen akhirnya bersuara.
“Kakak, ada apa dengan permaisuri? Apakah permaisuri sedang tak berselera makan?”
“Entahlah... Mungkin permaisuri membutuhkan waktu sendiri. Sudahlah!! Kau habiskan makananmu segera dan lekas tidur.” Ujar dayang Wan.
Dayang Wan juga dayang Fuo saling bertatapan seakan bertanya melalui isyarat mata mengenai permaisuri Ling. Gelengan kepala singkat yang diberikan keduanya seakan mengartikan jika tak tahu menahu akan sikap permaisuri.
...SEE YOU NEXT...