
Sepertinya suasana hati Flo saat ini tengah berbahagia lantaran puas tertawa melihat Miu yang berteriak histeris hingga mengejutkan beberapa pengunjung di toko hanfu miliknya.
Tentu saja Miu berteriak, pasalnya mendengar penuturan Flo yang mengatakan jika ia wabahnya bisa tertular pada dirinya membuatnya segera berlari ke kediaman untuk mandi dan memanggil dokter terbaik.
“Hahaha.... Apakah kalian melihat wajahnya tadi? Sangatlah lucu sekali.” Ucap Flo sembari memegang perutnya yang sakit karena terlalu lama tertawa.
Dayang Wan juga dayang Fuo hanya saling melirik dan tersenyum singkat melihat tawa lepas sang permaisuri. Sangat jarang bahkan tak pernah sekalipun mereka melihat permaisuri Ling tertawa lepas seperti sekarang ini setelah menikah dengan Kaisar Feng.
Tekanan batin dan juga mental membuat permaisuri Ling menjadi pribadi yang tertutup bahkan terkesan menahan diri.
“Nona!! Tak baik terlalu lama tertawa seperti itu. Perut Nona akan keram juga sakit, sebaiknya dihentikan segera.” Ucap dayang Wan.
Mereka saat ini tengah berada di sebuah kedai makanan dan menyewa sebuah bilik dengan harga 1 koin emas. Cukup tertutup dan tak membiarkan orang luar melihat ke arah mereka.
“Haha... Aku tidak bisa berhenti untuk tertawa haha tolong aku!!!” Balas Flo masih mempertahankan tawanya sembari tangan yang ikut menepuk-nepuk bahu dayang Wan juga dayang Fuo secara bergantian.
Perutnya sudah terasa sakit tetapi ingatan akan jeritan juga raut wajah Miu membuat Flo yang tadi tawanya sudah sedikit reda malah semakin menjadi-jadi.
(Bang sky ga tau terakhir ngakak kayak Flo kapan ya? Tapi kalau temen cewe bang sky tiap hari tiap saat ngakak meskipun gak tau yang diketawain itu apa. And one more thing, kenapa cewe kalau ketawa itu tangannya ga bisa diem? 〒_〒)
Kedua dayang permaisuri Ling hanya mampu terdiam dan mengamati permaisuri mereka yang entah kapan akan berhenti tertawa.
***
Berbagai hidangan manisan sudah tersusun dengan rapi di atas meja bundar. Hanya manisan saja, dikarenakan Flo sangat tidak suka dengan rasa makanan di dimensi itu yang sangat monoton dan terasa asin.
“Baiklah!! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepada kalian.” Suara Flo terdengar setelah menyimpan tusukan tenghulu di sudut meja.
“Ada apa Nona? Apakah ada hal yang mengganggu pikiran Nona?” Tanya dayang Fuo.
Entah dari mana Flo harus memulai percakapannya. Sebentar lagi adalah hari pesta penyambutan kakak permaisuri Ling. Dan ia sama sekali tak tau apapun mengenai silsilah keluarganya.
Melihat keterdiaman Flo membuat dayang Wan sedikit menepuk pelan tangannya untuk menyadarkan beliau.
“Ah.. Maaf!! Apakah kalian tau jika aku mendapatkan undangan untuk menghadiri pesta penyambutan kakak ku?” Tanya Flo ragu.
Mendengar pertanyaan Flo membuat dayang Wan juga dayang Fuo saling bertatapan dan mengerutkan dahi. Sepertinya mereka berdua tak tau apapun mengenai hal ini.
“Undangan dari keluarga Nona? Apakah Tuan muda sudah kembali dari masa pendidikannya? Oh dewa!!! Bukankah itu berita yang sangat bagus, Nona.” Pekik dayang Fuo.
Berbeda dengan dayang Wan yang sedikit bingung dengan pertanyaan Flo tadi.
“Maaf jika lancang, jika boleh tau Nona mendapatkan undangan ini dari mana? Pasalnya kami tak tau apapun!”
“Kemarin aku sempat bertemu dengan pria biadab itu lalu menjelaskan jika aku mendapatkan undangan di keluargaku.”
“---”
Sepertinya panggilan untuk Kaisar dengan sebutan pria biadab sudah sangat melekat bagi Flo. Bahkan kedua dayang pun hanya mampu menghela nafas lelah dengan perilaku permaisuri Ling.
“Lalu, apa yang membuat Nona risau? Oh iyaa... Nona masih mengalami cidera ingatan, bukankah akan menjadi permasalahan yang cukup serius jika sampai keluarga Nona mengetahui hal ini?”
“Tapi... Bukankah ini situasi yang sangat tepat untuk mengatakan yang sebenarnya kepada keluarga Nona. Tinggal terlalu lama dengan sang Kaisar akan semakin memperburuk keadaan Nona.” Lanjut dayang Wan lagi.
Flo setuju setuju saja dengan usulan dayang Wan. Berada di satu tempat yang sama dengan sang Kaisar ibarat tinggal di rawa penuh buaya. Bisa saja saat lengah sedikit buaya itu akan menerkam dirinya.
Tetapi, mengatakan yang sebenarnya kepada keluarga permaisuri Ling adalah tindakan yang terlalu cepat. Belum saatnya untuk melibatkan mereka.
Dayang Wan pun pernah bercerita jika dengan kekuatan militer yang sangat kuat dari kedua orangtuanya bisa meruntuhkan satu kekaisaran. Itu berarti, kedua orang tua permaisuri Ling merupakan kartu As baginya.
‘Percayalah permaisuri Ling aku tak berniat untuk membawa keluargamu ke puncak masalah. Hanya saja ini adalah salah satu hal yang bisa aku lakukan sebagai bentuk rasa terima kasihku dengan tubuh baru ini. Dengan imbalan yang cukup ini, aku haruslah memanfaatkan apa yang bisa aku manfaatkan. Setelahnya aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada mereka semua.’ Batin Flo meminta maaf kepada arwah permaisuri Ling.
Jangan sampai arwah beliau muncul dan menghantui dirinya lantaran tak meminta ijin terlebih dahulu. Apalagi ini menyangkut dengan keluarganya.
“Aku sangat menghargai usulan juga kerisauan kalian. Hanya saja, bagaimana kita bisa mengatasi cidera ingatan ku ini? Aku belum ingin mengatakan hal yang sejujurnya kepada mereka semua.” Adu Flo dengan raut wajah lelah.
Kalau di pikir-pikir, Flo rasanya ingin protes kepada dewa dan dewi yang ditemuinya kemarin. Mengapa saat memindahkan dirinya ke dimensi ini tak disertai dengan ingatan permaisuri Ling? Sekarang lihatlah!! Sudah banyak hal yang terjadi disebabkan cidera ingatan ini.
“Sampai sekarang pun aku tak merasakan apapun dengan berkat yang diberikan mereka. Cih!! Berkat katanya? Yang ada hanyalah bualan semata.” Gumam Flo kesal.
“Apakah Nona mengatakan sesuatu?” Tanya dayang Wan yang seakan mendengar gumaman dari Flo.
“Eh... Tidak ada, aku tak mengatakan apapun.”
Tak tau saja jika dari istana langit, ada banyak orang yang tengah mengamati Flo. Bahkan seekor binatang suci pun juga ikut menyimak. Sesekali terdengar geraman dari moncongnya.
“Grrhh... Bukankah manusia itu terlalu hina? Rasanya ingin ku cabik-cabik hingga ke tulang.” Ucap Leo dengan mengeluarkan cakarnya.
Dewi kehidupan dan Dewa keberuntungan hanya tertawa kecil melihat perilaku Leo. Binatang suci itu begitu emosional terhadap manusia, terlebih dengan manusia yang telah dipilih oleh salah satu kepercayaan para dewa dan dewi.
“Haha... Dikau mengapa kesal, Leo?” Tanya dewi kehidupan.
“Tentu saja hamba kesal. Manusia hina seperti dia tak ada rasa terima kasih sama sekali. Mendapatkan berkat secara langsung oleh dewa dan dewi adalah hal yang luar biasa. Tetapi lihatlah dia!! Sangatlah menjijikkan.”
Tiba-tiba dewa keberuntungan ikut bersuara setelah mendengar penuturan Leo.
“Apakah dikau masih kesal lantaran Fenrir memilih untuk bersamanya?”
Tepat sekali!! Demi apapun, Leo sangat tak terima Tuan Fenrir lebih memilih manusia hina seperti dirinya untuk menjalin kontrak. Jika dengan seorang Kaisar, mungkin Leo tak akan sekesal ini.
“---”
“Leo!! Apakah dikau tak percaya dengan keputusan yang diambil olehnya? Daku pun merasa jika pilihan yang di ambil olehnya tentunya sudah dipikirkan matang-matang. Daku dengan lainnya sudah tau apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi dewa dan dewi sekalipun terkadang keliru dengan manusia yang ingin melawan ketetapan kami.” Jelas dewi kehidupan panjang lebar.
Lagi dan lagi Leo hanya bisa terdiam meskipun gejolak amarah masih sedikit berkobar jelas dalam dirinya. Mungkin ia tak setuju dengan keputusan para dewa dan dewi dengan memberi berkat atau bahkan Tuan Fenrir lebih memilih bersamanya.
Tetapi Leo yakin jika suatu saat sesuatu yang buruk akan terjadi dan pemicunya adalah kesalahan yang dimulai dari pemberian berkat ketiga petinggi istana langit.
......SEE YOU NEXT......