
Penyambutan kedatangan rombongan kekaisaran begitu meriah hingga malam hari. Berbagai menu makanan disajikan Tuan Huang sebagai pemilik kediaman.
Flo yang melihatnya benar-benar tak nafsu makan. Dirinya memang lapar tetapi perutnya pasti akan menolak mentah-mentah semua hidangan yang dominan rasa asin dan hambar.
‘Oh yang benar saja!! Apakah tak ada makanan lain yang sedikit lebih dikatakan makanan? ’ Batin Flo.
(Kalau bang sky tak peduli dengan rasa hambar dan asin, urusan perut nomor 1 ●_●)
Area makan tersebut hanya di isi oleh Kaisar Feng, Flo, Tuan Huang dan juga Nyonya Xue. Sedangkan Zen, dan seluruh dayang permaisuri Ling makan di dapur kediaman.
Bisa dibilang ini adalah acara makan malam keluarga. Untuk penyambutan Kakak dari permaisuri Ling akan dilakukan lusa.
Posisi duduk Flo yang berada tepat di sisi kiri Kaisar Feng membuat dirinya benar-benar tak nyaman.
‘Aku benar-benar tersiksa seperti ini. Makanan yang tak menggugah selera dan pria biadab yang menggugah emosi. Benar-benar sudah lengkap penderitaanku.’ Lanjut Flo membatin.
“Ada apa, Ling'er?” Tanya Nyonya Xue yang sedari tadi memperhatikan raut gelisah dari wajah sang putri.
Kaisar Feng yang tadi merasa acuh kini mengalihkan pandangannya ke arah permaisuri Ling.
Merasa ada tatapan menyeramkan dari arah kanan tak lantas membuat Flo ikut menoleh karena sudah dipastikan jika itu adalah Kaisar Feng.
“Ada apa istriku? Apakah kau merasa tak nyaman?” Tanya Kaisar Feng sembari merangkul bahu Flo.
Melihat perhatian Kaisar Feng kepada putrinya membuat Tuan Huang tersenyum.
Mungkin kedua orang tua permaisuri Ling melihat perhatian pria biadab ini tetapi tak ada yang tau jika Flo menahan rasa sakit akibat cengkeraman darinya.
‘Pria ini benar-benar....’
“Aku tak apa, hanya saja aku merasa cukup terharu bisa berkumpul dengan kedua orang tua ku setelah sekian lama.” Balas Flo sambil melepaskan tangan Kaisar Feng yang masih mencengkeram bahunya.
Bisa dipastikan jika bahunya itu sedikit kemerahan diakibatkan tindak kekerasan dalam rumah tangga yang bahkan dilakukan di depan mertuanya sendiri.
Mendengar hal itu membuat Nyonya Xue tersenyum bahagia. Putrinya itu benar-benar merasakan apa yang dirasakannya. Perasaan rindu antara anak dan orang tua.
“Kaisar, apakah boleh permaisuri untuk semalam saja tidur bersama saya?” Tanya Nyonya Xue penuh harap.
Respon tenang di perlihatkan Kaisar Feng atas pertanyaan ataukah mungkin permintaan dari wanita yang menjadi mertuanya itu??
“Tentu saja, Ibu mertua. Tetapi ada baiknya kita menanyakan hal ini kepada istriku. Karena jujur saja istriku ini tak bisa jauh-jauh dari suaminya ini haha...” Ujar Kaisar Feng diakhiri tawa kecil.
Tanggapan kedua orang tua permaisuri Ling pun sama, ikut tertawa dengan yang diucapkan sang Kaisar.
“Cih!! Dasar bedebah sialan...” Gumam Flo dengan suara lirih.
“Jadi bagaimana, Ling'er? Apakah ibunda bisa semalam saja melepas rindu denganmu?” Tanya Nyonya Xue.
“Tentu saja Ibunda...” Spontan Flo.
Setidaknya untuk malam ini ia tak satu kamar dengan pria bedebah itu. Entah kekerasan macam apa lagi yang akan diberikan olehnya.
‘Kalau bisa sampai kapanpun aku tak ingin satu kamar dengannya. Wahai dewa keberuntungan, tolong berikan berkatmu. Dan berbicara soal berkat, aku tak pernah merasakan berkat apapun dari ketiga dewa dan dewi itu. Huhh... Bisa-bisanya aku percaya dan terlalu berharap pada mereka?’
***
Selepas makan malam tadi, Kaisar Feng berpamitan untuk berbincang sejenak dengan permaisuri Ling.
Dan Disinilah mereka berdua berada. Di sebuah kamar khusus yang telah disediakan oleh Tuan Huang untuk penginapan mereka.
Tak dikatakan pun, Flo juga tau jika pria dihadapannya ini sangatlah berbahaya. Zen si pengawal setia kaisar saja memiliki kekuatan semacam teleportasi, lalu bagaimana dengan sang Kaisar? Bukankah lebih dahsyat lagi?
“Sudah? Apa aku boleh pergi sekarang juga?” Tanya Flo.
“---”
Tak mendapat jawaban apapun, Flo pun segera pergi dari kamar yang cukup menyesekkan baginya.
Dirasa sudah agak cukup jauh dari jangkauan Kaisar Feng. Segera Flo berhenti sejenak dan menatap sekitar.
Tadi di seret paksa sepulangnya dari makan malam dengan sedikit berkeliling area kediaman untuk menghindari beberapa pengawal. Flo pun dibuat bingung dengan jalur yang dilaluinya.
Benar-benar mengesalkan! Tak ada ingatan apapun tentang kehidupan permaisuri Ling dan lihatlah dirinya sekarang ini tersesat di area remang-remang minim obor api.
Berbekal cahaya rembulan, dari balik pilar Flo melihat taman bunga yang tak cukup jauh di depannya.
Segera ia pergi ke taman bunga itu sembari memperhatikan sekitar, berharap bisa bertemu dengan seorang pengawal kediaman orang tua permaisuri Ling.
Sesampainya di taman bunga, sebuah ayunan dengan batang pohon kayu besar yang menjadi tempat ikatan tali. Segera Flo duduk berayun dan menatap sekitar.
“Biasanya aku takut jika ada hantu, terlebih ini di malam hari. Bukankah hantu menyukai tempat seperti ini? Pohon rindang yang sangat besar?”
Entah mengapa tak ada perasaan takut yang dirasakan Flo. Padahal tempo hari saat tersesat di istana kekaisaran, ia sempat berlari terbirit-birit lantaran mengira jika kendi liat yang pecah adalah perbuatan hantu.
Dilihat dari mana pun, itu adalah insiden yang cukup mengerikan. Bayangkan saja, kau tersesat di istanamu sendiri dan masuk ke area tak ada pengawal dimana itu sangatlah tak masuk akal.
Istana kekaisaran tentunya memiliki pengawal disetiap area hingga keamanan terjaga. Tetapi di tempat itu tak ada siapapun.
Yang membuat Flo merinding seketika adalah sebuah ruangan yang tertutup rapat dengan tali putih yang mengikatnya. Sangat-sangat mencurigakan bukan?
Mengapa harus menggunakan tali untuk mengikatnya? Apakah kekaisaran semiskin itu hingga tak mampu membeli pengunci besi.
“Mengapa aku jadi teringat saat itu? Mau dilihat bagaimana pun, itu adalah situasi yang mengerikan. Seperti memasuki dunia lain.” Guman Flo sambil berayun-ayun.
Hembusan angin malam juga ikut berbaur dengan kesendirian Flo. Suara binatang malam pun juga saling bersautan.
“Begitu banyak hal terjadi padaku yang susah untuk ku jelaskan sendiri. Mulai dari hawa aneh dari ruangan itu, cahaya yang aku temui di taman liar kemarin, dan satu lagi!! Berkah apa yang sebenarnya diberikan ketiga dewa dan dewi itu?” Lanjut Flo sembari mengelus keningnya yang terasa pusing.
Tiba-tiba ia teringat dengan ketiga dayang dan juga Siu. Entah bagaimana mereka sekarang?
“Aku rasa tak mungkin kedua orang tua permaisuri Ling berlaku tak adil kepada para bawahan. Bahkan dayang Wan juga dayang Fuo berkata jika mereka sangat diperlakukan baik oleh mereka disini. Ya!! Hanya di istana saja yang bermasalah. Cih!! Suasana hatiku menjadi sangat kesal jika membahas soal istana.” Gumamnya.
“Apakah mereka bisa menjaga Siu dengan baik? Sungguh sangat berisiko membawa Siu tetapi tak mungkin juga aku meninggalkannya disana sendiri? Menitipkannya kepada Kakek Mo? Keputusan yang sangatlah gegabah.” Lanjut Flo.
Tiba-tiba dari arah depan, terdengar suara gesekan dan pijakan dedaunan kering yang mana mengalihkan perhatian Flo sepenuhnya ke sana.
Entah mengapa perasaannya jadi berdebar tak karuan. Hembusan nafasnya menjadi tak beraturan seiring suara itu mendekat.
......See You Next... ...