
Suasana kala itu sedikit mendung dengan angin yang agak kencang. Sepertinya akan hujan lebat namun dayang Wan belum juga kembali dari pasar kota.
Di dalam kediaman Flo, nampak dayang Wen sedang sibuk mengeringkan rambut permaisuri Ling dengan sebuah kain lembut.
Sedangkan dayang Fuo tengah memanen beberapa macam rempah yang telah di tanam permaisuri Ling tempo hari. Tanaman yang menurut mereka hanya tanaman liar di hutan.
Di sela kegiatan mengeringkan rambut permaisuri Ling, dayang Wen mulai bertanya kemanakah beliau selama ini.
“Permaisuri!!! Kemana saja permaisuri selama ini? Apakah permaisuri tau, kakak Wan juga kakak Fuo begitu mencemaskan permaisuri. Bahkan mereka juga sangat jarang tertidur di malam hari.” Adunya dengan menatap pantulan wajah permaisuri Ling di sebuah cermin tua.
Flo jadi merasa sedikit bersalah dengan para dayang setianya. Sedikit bersalah? Tentu saja!! Ini semua salah si binatang berbulu itu yang membawanya tanpa ijin bahkan dalam waktu yang terbilang cukup lama.
Tiba-tiba rasa kekesalan begitu memuncak dalam hati Flo. Rasanya ia ingin menarik kencang bulu lebat itu hingga tercabut dari tempatnya.
‘Awas saja kau sialan!! Tunggu sampai aku kuat dan menguasai sihir, maka akan ku balas perlakuanmu saat itu. Cihh!! Sudah mendorongku masuk ke dalan portal yang aku sendiri tak tau ada apa di dalamnya, menggeram bahkan mengancam dengan cakarnya. Yang paling tak aku maafkan adalah membawa diriku tanpa ijin. Bagaimana jika waktu itu ketiga dayangku ini menjadi sasaran kegilaan Kaisar biadab itu? Heh...’ Kesalnya.
“Oh iyaa, apakah kau merawat Siu dengan baik?” Tanya Flo mengalihkan pembicaraan.
Beruntung dayang Wen masih kecil hingga bisa dikelabui, tetapi kedua dayangnya itu apakah bisa dikelabui juga?
“Tentu saja permaisuri!! Hanya saja beberapa hari pertama saat permaisuri menghilang, Siu terlihat begitu murung dan tak banyak bergerak seperti biasanya. Tetapi setelah itu Siu terlihat seperti semula.” Jelas dayang Wen panjang lebar dengan tangan yang masih setia mengeringkan rambut permaisuri Ling.
Entah mengapa Flo sedikit curiga dengan Siu. Leo sedikit memiliki kemiripan dengan Siu meskipun berbeda dari segi ukuran juga warna. Terlebih lagi Siu memiliki warna bulu dan juga mata yang sangat langka dengan serigala pada umumnya.
Tetapi apakah karena ini dimensi lain hingga serigala dengan warna bulu juga netra seperti itu bisa saja ada?
‘Binatang berbulu itu selalu menyebutkan nama Tuan Fenrir. Sudah pasti itu bukan Siu!! Bisa saja maksud Leo adalah manusia yang mungkin sering ditemuinya tanpa sadar. Haishh... Aku jadi bingung memikirkan ini semua.’ Batin Flo.
Tak berapa lama dayang Fuo juga dayang Wan masuk ke dalam secara bersamaan. kedua tangan mereka terlihat penuh dengan belanjaan juga tanaman rempah.
Segera Flo bangkit dan menyanggul rambutnya menggunakan sumpit bambu. Dayang Fuo juga dayang Wan yang melihatnya sedikit memekik.
“P-permaisuri... Apa yang permaisuri lakukan?”
“---”
“Seorang permaisuri tak boleh menyanggul rambut secara keseluruhan seperti itu, bahkan dengan memperlihatkan leher sangatlah tidak sopan.” Tegur dayang Wan.
Flo menjadi sedikit bingung dengan aturan semacam itu. Tidak mungkin jika dalam keadaan panas dan berkeringat sekalipun mereka akan tetap mengurai lepas rambutnya?
Pantas saja kebanyakan wanita di dimensi itu hanya menyanggul setengah dari rambutnya. Seorang wanita yang menyanggul rambut secara keseluruhan bisa dikatakan sebagai wanita penggoda dikarenakan mempertontonkan lehernya.
“Tapi... Bukankah aku terlihat lebih cantik jika seperti ini?” Tanya Flo dengan polos.
“S-sangat cantik!!” Ucap mereka dengan spontan.
“Kalau begitu apa yang dipermasalahkan? Lagi pula apakah orang-orang disini menganggap diriku sebagai seorang permaisuri? Ya.. Mungkin saja mereka setiap memanggil ku dengan sebutan permaisuri, tetapi kenyataannya tidak bukan??” Ucapan Flo barusan membuat mereka diam tak berkutik.
Sekarang mereka harus bisa lebih mengerti dan memberikan kebebasan kepada permaisuri mereka. Tak akan ada yang peduli dengan beliau dan mungkin dengan membiarkan kehendaknya akan membuat permaisuri Ling sedikit merasa senang. Tentunya selama tak melewati batas wajar, terlebih beliau statusnya masih seorang permaisuri.
***
Setelah melewati sedikit perdebatan itu, Flo mulai beraksi dengan keahliannya semasa di dimensinya. Dia tak hanya ahli soal makan tetapi di dapur pun demikian.
Meskipun keahlian memasaknya sedikit terhalang oleh ketersediaan bahan, namun setidaknya ia bisa memasak beberapa dengan bahan yang ia punya.
Tak hanya Flo, bahkan ketiga dayangnya pun ikut serta membantu. Dayang Fuo yang sibuk menumbuk segala rempah yang telah disiapkan Flo, dan dayang Wan yang tengah menyiapkan api pembakaran di luar.
“Permaisuri... Rempah yang tadi telah halus. Selanjutnya apa yang harus saya lakukan?” Tanya dayang Fuo.
“Ah benarkah? Baiklah sisanya serahkan padaku. Sebelumnya, terima kasih.”
Setelah mengatakan itu, Flo dengan segera membawa ikan dan bebek yang telah di bersihkannya.
Dengan telaten Flo mengolesi bumbu pada ikan dengan dayang Fuo yang mengamati. Tak berapa lama dayang Wan datang menghampiri mereka dan berkata jika apinya telah sedia.
Segera mereka bertiga keluar menuju samping kediaman dengan membawa satu kendi berisikan ikan dan satunya lagi berisi 2 ekor bebek.
“Ah iyaa aku lupa... Dayang Fuo, Bisakah kau mengambilkan 5 sumpit di dalam?” Titah Flo dan segera dilaksanakan dayang Fuo.
“Permaisuri... Apakah permaisuri ingin membuat ikan bakar? Lalu bebek ini akan permaisuri masak apa? Apakah dibakar juga?” Tanya dayang Wan penasaran.
“Kalau aku beritahu sekarang tidak akan menarik, jadi tunggu dan lihat saja.”
Tak berapa lama dayang Fuo kembali dengan membawa 5 buah sumpit. Dengan segera Flo menusukkan sumpit itu dari dalam mulut ikan hingga tembus ke pangkal ekor.
Setelahnya, ia mulai membakar ikan tersebut dengan sepasang kayu sebagai penyangga ujung sumpit.
“Baiklah... Kalian berdua tolong jaga ikan ini, mengerti!! Jangan sampai hangus dan setiap kali ingin membaliknya maka oleskan terlebih dahulu bumbu ini secara merata.”
“Kami mengerti...”
Ikan bakar telah dalam proses, selanjutnya adalah membuat sup bebek bening. Selama pindah ke dimensi ini, ia sama sekali belum pernah memakan yang berkuah hangat.
Meski terbatas oleh bumbu namun setidaknya ada beberapa rempah yang bisa ia gunakan untuk menghangatkan tubuh.
Tak sampai 10 menit lamanya, ia telah mengiris 2 ekor bebek itu menjadi potongan sedang dan memasukkannya kedalam kendi liat. Beberapa bumbu yang sebagian diiris dan di tumbuk halus juga masuk ke dalamnya.
“Untuk perasa hanya ada garam juga gula. Untuk rasa asam segarnya menggunakan buah dari dimensi ini. Setidaknya itu sudah cukup.” Gumam Flo dan mengangkat kendi liat itu lalu menempatkannya tepat di samping ikan bakar.
“Bagus!! Tetap seperti itu...” Ujar Flo melihat hasil kerja kedua dayangnya yang dengan sangat teliti memperhatikan ikan bakar itu.
“Dayang Wan, tolong bantu aku menggeser bara api ini ke bawah kendi liat. Aku rasa ikan itu hanya perlu arang panas saja agar matang sampai ke daging.”
Dengan mengandalkan ranting kokoh, Flo beserta dayang Wan mulai menggeser bara api dan mengumpulkannya tepat di bawah kendi.
Dayang Wan juga dayang Fuo sedikit terfokus dengan kendi liat itu. Dilihatnya sekilas ada beberapa potongan daging juga kuah yang lumayan banyak. Sedikit kebingungan dengan apa yang akan di buat oleh Permaisuri mereka.
“Sudahlah!! Kalian akan tau sendiri.”
Beberapa menit kemudian, aroma ikan bakar itu menguar kemana-mana bahkan membuat dayang kecil Wen serta Siu bisa menciumnya dari dalam kediaman.
“Wahh... Aromanya sangat menggugah selera bukan? Apakah Siu juga menciumnya?” Tanya dayang Wen.
Terlihat Siu yang mengibas-ngibaskan ekornya seakan begitu semangat dengan aroma ini. Lidahnya yang menjulur dengan air liur yang menetes-netes menandakan jika sangat tertarik.
“Entah apa yang dimasak oleh permaisuri tetapi kita tidak boleh keluar dari sini, Siu. Ingat apa yang dikatakan permaisuri tadi.” Tegas dayang Wen yang membuat Siu sedikit melolong sedih.
(Bang sky jadi laper hehe.. ̄︶ ̄ )
...SEE YOU NEXT...