
Disinilah mereka berada di kediaman Flo yang letaknya berada agak dibelakang istana. Seandainya saja kalian tau seberapa besar perjuangan Flo beserta dayang Wan membawa anak serigala itu dengan sembunyi-sembunyi.
Meskipun memiliki jalur rahasia untuk keluar masuk istana kekaisaran, namun begitu banyak pengawal yang berpatroli sehingga pergerakan mereka sedikit mendapat perhatian pengawal.
Flo yang keluar dengan menggunakan cadar tipis tak diketahui oleh pengawal. Pasalnya Flo pergi dengan dayang Wan yang sudah dikenal oleh pengawal. Sehingga mereka beranggapan jika Flo adalah rekan kerja dayang Wan.
“Huhffhh... Beruntung pengawal tadi tak banyak bertanya permaisuri. Hamba sudah gemetar jika anak serigala ini akan diketahui keberadaannya.” Ucapnya dayang Wan sambil menarik nafas dalam-dalam.
Hampir sama dengan dayang Wan, Flo juga merasa agak khawatir jika anak serigala itu akan berontak dalam keranjang tangan yang dipegangnya. Beruntung serigala itu seakan mengerti keadaan dan diam tak banyak bergerak.
Dayang Fuo serta dayang Wen yang kala itu baru selesai dari membeli makanan lantas menatap heran kepada Flo juga dayang Wan.
Ada karung goni ukuran sedang di bawal dayang Wan yang nampak terisi penuh juga ada keranjang tangan yang dipegang permaisuri Ling.
Keranjang tangan itu nampak bergerak-gerak dan muncul ekor dari balik penutup keranjang. Dayang Wen spontan berteriak sembari menunjuk ke arah keranjang.
ARGHHH...
Mendengar teriakan sang adik membuat dayang Wan dan yang lain terkejut.
“A-ada apa Wen'er? Mengapa kau berteriak?” Panik dayang Wan takut terjadi apa-apa pada adiknya.
“K-kakak, tadi aku melihat ada ekor di balik penutup keranjang itu.” Adu dayang Wen dengan raut wajah terkejut.
Dayang Fuo pun dengan teliti melihat jika memang benar ada ekor yang muncul lalu hilang di balik keranjang.
Mengerti dengan keadaan yang terjadi saat ini, dayang Wan pun menjelaskan dengan singkat mengenai asal muasal anak serigala yang saat ini tengah terluka parah.
Sembari bercerita, Flo mengeluarkan anak serigala dalan keranjang tangan untuk menghirup udara segar. Mungkin agak terasa kurang nyaman baginya berada dalam keranjang kayu yang cukup kecil untuk ukuran tubuhnya.
“Woahh... Lihat kakak Fuo, warna bulunya sangatlah indah. Bola matanya juga berwarna emas.” Kagum dayang Wen.
Dayang Fuo pun juga terkagum-kagum melihatnya. Seumur hidup baru pertama kalinya melihat binatang berwarna demikian.
“Apakah permaisuri sudah memberinya nama?” Tanya dayang kecil Wen yang tengah asik mengelus pelan kepala si serigala.
Ah yaa!! Flo tak kepikiran memberi nama kepada anak serigala itu. Toh, saat sembuh nanti akan ia kembalikan ke hutan jadi tak perlu diberi nama.
“Kurasa tak perlu diberi nama. Anak serigala ini juga tak ada rencana untuk menetap lebih lama di istana. Hanya sebatas lukanya sembuh lalu akan ku kembalikan ke tempat semula. Cukup berisiko dibiarkan terlalu lama di sini.” Jelas Flo panjang lebar yang mana membuat dayang Wen agak murung.
Pasalnya, pertama kali mengelus bulu anak serigala itu dayang Wen sangatlah senang bahkan ingin mengajaknya bermain.
Mengerti akan kemurungan sang dayang kecil, mau tak mau Flo mengiyakan lantaran tak tega.
“Huhffhh... Baiklah.. Baiklah... Kau bisa memberinya nama.” Putus Flo membuat senyum indah terbit dari sudut bibir dayang Wen.
“B-benarkah? Apakah boleh? Terima kasih permaisuri.”
“T-tapi... Anak serigala ini jantan atau betina?” Tanya dayang Wen bingung.
Flo juga dayang Fuo pun tak tahu dan tak sempat memeriksa kela*min dari si serigala.
“Entahlah, kakinya saat ini masih terluka dan tak memungkinkan untuk memeriksa kela*minnya. Terserah kau saja gadis kecil ingin memberinya nama siapa.”
Dayang Wen nampak terdiam sebentar seakan memikirkan nama yang pas untuk serigala dihadapannya kini.
“Bao!! Namanya adalah Bao! Bagaimana? Apakah bagus?” Tanya dayang Wen sambil menatap ke arah si serigala seakan meminta pendapat.
Dayang Wen kembali murung. Sepertinya dia sadar jika si serigala kurang menyukai nama pemberiannya.
“Bagaimana jika Baoli?” Usul dayang Fuo yang mana reaksi si serigala nampak tak suka.
Sepertinya anak serigala ini sadar jika nama yang diberikan padanya sangatlah jelek? 〒_〒
Flo pun agak geram melihat kelakuan si serigala. Awalnya ia pikir serigala ini adalah serigala baik dan penurut. Tetapi perkara nama ia sampai merajuk.
“Oii.. Kau ini pemilih sekali ya dalam nama. Di panggil Bao kau tak mau, di panggil Baoli juga kau tak mau. Jika sekali lagi kau diberikan usulan nama tapi kau menolak, maka akan ku kembalikan ke tempat yang tadi. Mengerti??” Tegas Flo membuat serigala itu nampak menunduk seakan paham tengah dimarahi.
Setelahnya terjadi keheningan selama beberapa saat. Mereka tengah memikirkan nama yang pas dengan si anak serigala.
“Begini saja, kau akan ku beri nama Sui? Apakah menurut kalian bagus?” Tanya Flo meminta pendapat.
Sui?? Nampaknya para dayang merasa suka dan setuju dengan usulan nama yang diberikan permaisuri Ling. Tak hanya mereka, namun tampaknya si anak serigala juga menyukai nama panggilan itu.
Ekornya mengibas ke kanan dan ke kiri seakan menerima dengan bahagia nama yang diberikan.
“Sudah di putuskan, nama serigala ini adalah Sui. Oh iyaa, bisakah kalian memandikan Sui? Badannya agak kotor dan dipenuhi debu. Aku juga akan membersihkan diri.” Titahnya dan Dayang Fuo mulai menggendong Sui dan membawanya mandi di samping kediaman Flo.
Tak lupa dayang Wen mengikut sembari mengelus pelan ekor Sui. Sepertinya mereka kedepannya akan memiliki teman bermain.
***
Di gelapnya malam, Kaisar Feng nampak fokus mengerjakan beberapa gulungan kertas penting. Tak hanya beliau, tetapi Zen dengan setia menemani.
Masalah hantu telah selesai, sudah saatnya memberi pelajaran kepada wanita itu. Begitulah pikir Kaisar Feng.
“Bagaimana dengan pria itu?”
“Sesuai dengan perintah Yang mulia Kaisar.” Balas Zen tegas.
Di saat pikirannya tengah kacau, menyiksa atau membunu*h adalah hal yang bisa dilakukan.
Benar-benar iblis ╯﹏╰
Kaisar Feng pun segera berdiri dari kursinya dan ingin bergegas menuju ke tempat pria itu di sekapnya. Sudah di pastikan jika akan ada hal buruk yang akan terjadi.
“Kau ingin kemana Xiu'er? ” Tanya Kakek Mo yang tiba-tiba muncul di saat Zen membukakan pintu untuk Kaisar Feng.
Sepertinya Kakek Mo ingin membahas tentang permintaan bantuan ChenWu tempo hari atas perintah Kaisar Feng.
“Aku ada urusan guru, bisakah aku pergi?”
Kakek Mo masih berdiri dan tak bergerak sedikitpun memberi jalan kepada kedua pria muda itu. Jika saja pria tua ini bukan gurunya, akan ia hempaskan hingga membentur pilar tembok.
Bukankah murid yang sangat jahat? Apakah kalian seperti itu? Xixixi bang sky juga pernah (╥╯﹏╰╥)ง
“Pria tua ini ingin berbincang sejenak dengan mu. Sudah sangat lama kita tak bertemu, bukan begitu Xiu'er? ” Ucap Kakek Mo yang secara tidak langsung meminta Kaisar Feng untuk tak kemana-mana.
Meskipun agak malas bertemu dengan Kakek Mo, namun ia masih menghargai beliau sebagai gurunya. Jika saja sikap jahilnya tak ada mungkin ia akan dengan senang hati berbincang ria dengannya
Jadilah mereka bertiga menetap di ruang kerja sang Kaisar, dimana Zen setia berdiri di belakang Kaisar Feng.
......SEE YOU NEXT......