THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 28



Saat berjalan menuju aula istana kekaisaran, tubuh Flo tiba-tiba saja diam tak bisa digerakkan sama sekali. Hanya bola matanya saja yang seakan melirik kesana kemari memperhatikan sekitar.


Tubuhnya serasa kaku juga mati rasa. Degupan jantungnya kian berpacu dengan ritme yang cukup kencang. Panik? Sudah pasti Flo panik.


‘E-eh? Ada apa denganku ini? M-mengapa aku tak bisa bergerak. Suaraku pun tak ada sama sekali...’ Batin Flo panik.


Secara tiba-tiba pandangan mata Flo kabur dan menggelap hingga tak sadarkan diri dalam posisi berdiri tegak.


***


Saat membuka mata pertama kali, ia terkejut bukan main saat mendapati dirinya berada di sebuah padang bunga yang cukup luas. Beraneka macam bunga tumbuh mekar dan beberapa kelopak bunga beterbangan di tiup angin.


Sejenak Flo menikmati suasana itu dan memejamkan mata selama beberapa detik. Ternyata memang benar, Flo tak mengalami alergi sama sekali terhadap serbuk bunga. Terlebih lagi saat kejadian tempo lalu di taman area istana kekaisaran.


“Disini sangatlah damai... Rasanya enggan untuk pergi.” Gumam Flo sembari merenggangkan badannya sedikit.


Siapapun akan merasa tenang berada di Padang bunga luas dengan hembusan angin kecil menerpa kulit. Langit biru berawan memenuhi langit. Apalagi di tempat itu hanya ada dirinya sendiri, bukankah---


Eh? Tunggu dulu!!!


“Sendiri? E-eh!! Mengapa hanya ada aku sendiri disini? Dimana ini? Dayang Wan tolong aku!!” Panik Flo dan segera berdiri memanggil dayang Wan.


Haishh!!! Mengapa baru sadar sekarang? 〒_〒


Dari arah belakang terdengar suara lolongan binatang yang cukup menyeramkan. Tetapi anehnya, tak ada wujud sama sekali.


Percayalah!! Flo saat ini takutnya bukan main. Bahkan lebih takut dibandingkan insiden kendi liat pecah tempo hari.


“E-eh... Suara apa itu?”


Flo hanya mampu menunduk menyembunyikan kepalanya di antara kedua lutut sambil menutup rapat kedua telinganya. Segala pikiran negatif berkecamuk di dalam kepalanya.


Memikirkan ia akan mendapat hukuman yang lebih sadis jika terlambat datang sudah bukan menjadi prioritas Flo. Yang terpenting saat ini adalah BAGAIMANA IA BISA KELUAR DARI TEMPAT INI!


Sendirian di tempat yang tak kau ketahui ditemani suara lolongan yang begitu menyeramkan bukankah sesuatu masalah?


AAUUMMMM....


GGRRHHH....


“S-suaranya mengapa begitu dekat dengan telingaku huhu...”


ARRGGHHH...


“Jangan makan aku!!” Teriak Flo spontan mendengar geraman dari binatang tak kasar mata itu.


Tiba-tiba sosok itu memperlihatkan wujud aslinya di hadapan Flo. Seekor binatang raksasa berwarna putih dan biru dengan ekor bercabang 3.


Postur binatang itu mungkin 4 kali lipat dibanding sapi. Bisa dibayangkan sebesar apa binatang itu. Moncong yang memperlihatkan taring yang begitu runcing dan tajam.


“HUWAA MONSTER APA INI!!!” Pekik Flo spontan memundurkan tubuhnya hingga punggungnya bersentuhan dengan pohon beringin besar.


GGRRRHHH...


Sepertinya binatang itu merasa tersinggung dengan sebutan monster yang di sematkan Flo padanya. Terbukti geraman mengancam terdengar begitu menakutkan.


“Apakah menurutmu aku ini adalah monster heh?” Suara itu terdengar berat dan cukup kencang.


“HAH?”


“Dasar manusia rendahan!!”


“Kau yang berbicara tadi?” Tanya Flo. Rasa ketakutannya tadi berganti menjadi rasa keraguan yang besar.


Binatang raksasa itu nampak menggeram singkat dan dengan perlahan mendekat ke arah Flo. Spontan Flo bergeser ke arah samping karena punggungnya sudah menyentuh batang pohon.


HUSSHH...


Hembusan nafas binatang itu menerpa wajah Flo bahkan sebagian anak rambutnya beterbangan seiring hembusan nafas makhluk di hadapannya.


Binatang yang merupakan anjing atau serigala itu nampak memperhatikan Flo dengan mata tajamnya. Bahkan sesekali ia mengendus-ngendus aroma tubuh Flo.


“Cih!! Entah bagaimana bisa Tuan Fenrir begitu ingin bertemu dengan manusia rendahan seperti dirimu hingga rela menolak perintah Dewa.” Ujarnya dengan suara yang cukup menyeramkan.


Ibarat suara raksasa di film yang sering di tontonnya saat dulu. Bahkan suara binatang ini lebih menakutkan dibanding suara yang pernah di dengarkan selama hidup di dimensi terdahulu.


Tapi, tunggu!! Tuan Fenrir? Siapa dia? Dan ingin bertemu denganku? Begitulah pikir Flo.


“T-tunggu dulu!! Siapa yang kau maksud Tuan Fenrir? Aku tak mengenalnya sama sekali. Dan lagi pula, mengapa aku bisa ada di tempat entah berantah ini hah?” Meskipun agak takut dengan sosok binatang raksasa di hadapannya namun ia masih cukup kesal mengapa bisa berada di tempat ini.


Lagi dan lagi ia memikirkan amukan Kaisar biadab itu jika terlambat menghadiri undangannya ke aula istana.


Masih sempat-sempatnya memikirkan amukan Kaisar Feng dibandingkan dengan makhluk raksasa di hadapannya saat ini... Selamat berjuang Flo -_-||


GRRHHHH...


Nampaknya binatang itu semakin marah mendengar pertanyaan Flo tadi. Terbukti geramannya lebih menakutkan bahkan terdengar cukup lama dibanding tadi.


***


Sedangkan di aula istana kekaisaran, raut wajah Kaisar Feng nampak datar dengan aura yang cukup gelap. Bahkan para pejabat juga Zen nampak kewalahan menerima tekanan aura sekelam ini.


Mereka sudah tau penyebab ini semua, siapa lagi jika bukan Permaisuri Ling yang membuat seorang Kaisar penguasa dinasti Tang harus menunggu.


Pejabat Hong beserta rekannya yang lain cukup tersenyum licik akan kesalahan permaisuri Ling kali ini. Tanpa bersusah payah ternyata tikus kecil itu yang mencari masalah sendiri.


Melihat situasi yang cukup menguntungkan bagi pejabat Hong, ia pun mulai melontarkan beberapa kalimat untuk memprovokasi Permaisuri Ping.


Meskipun hanya dunia fantasi, tetapi di dunia nyata juga banyak kan yang seperti pejabat Hong?  ̄︶ ̄


“Mohon maaf Yang mulia Kaisar, tetapi bukankah ini adalah bentuk penghinaan dengan membuat para pejabat bahkan Yang mulia Kaisar harus menunggu seperti ini?” Ucap pejabat Hong.


Mendengar ucapan pejabat Hong membuat beberapa pejabat kekaisaran lain nampak berbisik-bisik membicarakan perlakuan permaisuri Ling hari ini.


Para pendukung permaisuri pun hanya bisa terdiam dan sedikit membenarkan perkataan pejabat Hong. Setidaknya beliau bisa memberikan alasan jika akan terlambat mengikuti persidangan dan tidak membuat sang Kaisar harus menunggu lama.


“Betul sekali yang dikatakan pejabat Hong.”


“Permaisuri Ling memang permaisuri tak berguna juga lancang!”


Mendengar tiap ujaran kebencian para pejabat lain, membuat salah seorang pendukung permaisuri Ling angkat bicara.


“Bukankah tidak sopan jika membicarakan seorang ibu Negara seperti itu? Yang mulia Kaisar, hamba yakin jika beliau terlambat datang karena ada sesuatu hal. Mungkin saja ada yang meng-ham-bat-nya!! ” Jelasnya dengan penekanan di ujung kalimat sembari menatap tajam ke arah pejabat Hong.


Dugaannya jika permaisuri Ling dicegat oleh orang suruhan pejabat Hong hingga terlambat datang ke aula istana. Tentunya ini akan menjadi keuntungan besar bagi pejabat Hong untuk menjatuhkan Permaisuri Ling dari posisinya.


...SEE YOU NEXT...