
Sepertinya pria yang sialnya adalah suaminya sendiri suka membuat orang lain menunggu. Sama halnya waktu di aula kemarin, tubuhnya yang masih sakit bekas cambukan harus berdiri lama menunggu sang kaisar bersuara, dan sekarang juga sama?
Helaan nafas berat berhembus tiap menitnya. Bahkan sesekali Flo menggaruk belakang telinganya lantaran gemas menunggu kaisar mengatakan maksud dan tujuan memanggilnya kemari.
“Ada apa anda memanggilku kemari?” Tanya Flo berusaha sopan.
Hey!! Sopan apanya? Dia bahkan tidak melakukan salam penghormatan kepada sang kaisar? Bukankah sesuatu hal tercela.
Zen yang melihat sikap tidak sopan permaisuri Ling membuatnya menutup mata. Selama permaisuri Ling bangkit dari kematiannya, ia begitu lancang dan tidak sopan kepada Yang mulia Kaisar.
Sedangkan kaisar Feng tentunya merasa cukup tersinggung dengan ketidaksopanan permaisuri Ling kepadanya.
“Kau semakin hari semakin lancang terhadapku setelah bangkit dari kematianmu heh? Kaisar ini mendengar jika kau melihat hantu.” Ujar kaisar Feng langsung pada intinya.
“Jadi pengawal itu telah memberitahukan padamu rupanya.” Jawab Flo agak malas tetapi dalam lubuk hatinya ia tengah mengatur jawaban apa yang akan di berikan kepada kaisar nanti jika ia bertanya.
‘ Ya Tuhan, apapun itu tolong selamatkan aku dari pria sialan ini. ’
“Kau tau bukan resiko membohongi seorang kaisar? Dan jangan lupakan perbuatan kejimu kepada dia. Aku tak segan-segan untuk menghabisi nyawamu meskipun harus berperang dengan orang di belakangmu! ” Raut wajah kaisar Feng nampak memerah pertanda ia tengah menahan emosi yang bisa meledak kapan saja.
Kepalan tangannya begitu terlihat jelas dikarenakan posisinya membelakangi permaisuri Ling juga Zen.
Meskipun agak takut tetapi dengan sekuat tenaga Flo memasang raut wajah datar pertanda ia serius dengan perkataannya pada pengawal tadi.
“Jika anda tak percaya, maka lihat saja di area sepi dalam istanamu ini.” Ujar Ling memberi saran kepada kaisar Feng agar ia percaya.
Tak hanya kaisar Feng tetapi Zen juga mulai tertarik dengan usulan permaisuri Ling. Pasalnya ia belum melihat dan mengetahui secara langsung wujud dan posisi hantu itu berada sesuai perkataan permaisuri Ling.
Dengan menolehkan kepalanya ke arah kanan sedikit, kaisar Feng seakan-akan menyuruh permaisuri Ling untuk melanjutkan perkataannya tadi.
Permaisuri Ling yang mengerti pun lantas melanjutkan ucapan atau mungkin saran?
“Tadi aku sedang berjalan-jalan mengelilingi istanamu ini, tetapi entah kenapa aku bisa tersesat dan melihat di sekeliling area itu tak ada satupun manusia. Dan aku pun tidak tau mengapa aku bisa berdiri tepat sejajar dengan pintu bertali putih pada gagangnya dan...” Belum selesai Flo bercerita, Zen spontan melotot kaget ke arah dirinya.
“T-tadi permaisuri berkata apa? P-pintu bertali putih?” Tanya Zen memastikan pendengarannya tadi.
“...” Balas Flo dengan anggukan.
Raut wajah Zen masih terkejut dan menatap tepat ke belakang kepala kaisar Feng.
“Bisa aku lanjutkan? Di saat itu aku merasa bingung mengapa tak ada pengawal di tempat itu. Saat aku memperhatikan dengan lamat, tiba-tiba saja aku merinding dan merasakan jika ada hembusan angin di belakang tengkuk ku. Saat aku menoleh....”
“... Mata merah menyala yang pertama aku lihat. Kukunya yang hitam dan tajam menggantung tepat di samping kepalanya. Aku pun sampai ragu itu kepala manusia ataukah kepala siluman, dengan 4 kepala yang bercabang. Posisinya aku yang terkejut waktu itu langsung terjerembab ke lantai dan melihat dengan jelas, jika Ia melayang dan tak menyentuh tanah sedikitpun.” Lanjut Flo menjelaskan secara rinci dan tentunya hanyalah karangan ceritanya semata.
Sekali lagi!! Flo tak percaya yang namanya hantu!!
Kaisar Feng juga Zen mendengar dengan penuh hikmat tiap kata demi kata yang terlontar dari bibir sang ibu negara itu.
“Pengawal tadi mengatakan jika hantu itu berkepala 2,lalu bagaimana bisa anda mengatakan jika hantu itu berkepala 4?” Tanya Zen bingung.
Sial!! Beginilah jika kita berbohong, kadang melupakan apa yang dikatakan beberapa saat yang lalu. Jika saja kejadian ini memang benar, mulutnya itu akan berujar dengan sangat lancar dan cepat.
Tidak, Flo harus mencari alasan agar tak ada yang curiga dengannya. Hantu?? Cihh!! Konyol sekali.
Memang benar apa yang di katakan oleh permaisuri Ling. Harusnya Zen lebih mempercayai beliau dari pada pengawal itu. Wanita lemah lembut, tak pandai berbohong seperti permaisuri Ling mana mungkin bergurau.
Raut wajah kaisar Feng begitu datar tak berekspresi. Pikirannya melayang jauh mengingat teror hantu yang telah memakan hingga ratusan nyawa.
Jika yang dikatakan oleh permaisuri Ling benar adanya, ia harus mengungsikan para rakyatnya ke aula suci. Tempat yang telah ia salurkan beberapa sihir hasil ajaran guru besarnya jika berhubungan dengan roh jahat.
“Kau mulut besar rupanya? Zen seret dia keluar dari sini!” Titah kaisar Feng dan kembali duduk ke tempatnya semula karena telah merasa cukup dengan informasi tadi.
Flo yang mendengarnya tak dapat menyembunyikan raut wajah terkejut. Bibirnya terbuka sedikit seakan tak percaya dengan apa yang terlontar dari bibir suaminya.
Sedangkan Zen yang sangatlah patuh terhadap kaisar, dengan segera memegang tangan permaisuri Ling. Belum sampai tangannya menyentuh lengan atas siku beliau, Flo segera menepisnya.
Masa bodoh dia di kata tidak sopan dan melanggar kodrat etika seorang permaisuri. Untuk apa bersikap sopan di hadapan dua manusia menyebalkan ini.
“Tak perlu menyeretku untuk keluar dari sini. Cih! Menginjakkan kaki ke tempat ini pun rasanya aku enggan.” Ucap Flo terdengar seperti gumaman tetapi masih bisa di dengar jelas oleh Zen.
Sepertinya Zen harus terbiasa dengan sifat permaisuri Ling yang sekarang. Setelah bangkit dari kematian, ada banyak perubahan pada diri beliau.
Setelah mengatakan hal itu, Flo segera keluar dari ruang kerja kaisar Feng dan kembali melanjutkan aktivitas berkelilingnya yang sempat terhenti tadi.
“Haishh!! Aku lupa meminta tolong kepada pria tampan itu untuk membawaku ke tempat tadi. Kira-kira benda apa tadi itu? Warnanya sangatlah cantik!” Gumam Flo dan berusaha mengamati sekitar.
Masih di ruangan yang sama, Zen tengah di interogasi oleh kaisar Feng mengenai aksinya tadi menggunakan sihir teleportasi hanya untuk seorang permaisuri Ling?
Zen dengan jujur menceritakan kejadian tadi mengenai ia yang melihat permaisuri Ling masuk ke area terlarang di istana kekaisaran ini bahkan tak merasakan aura kelam seperti yang ia rasakan tadi sungguh menyiksa dirinya.
“Saya pun merasa heran dengan fenomena tadi Yang mulia. Beliau yang terkenal lemah dan tak memiliki kemampuan itu bisa tahan bahkan tidak merasakan aura kelam yang sungguh menyiksa dantian. Jika manusia biasa saja bisa mati hanya karena berdiri di pinggir, lantas bagaimana dengan permaisuri?” Jelas Zen serius.
Mengenai hal tadi masih menjadi misteri buat Zen pribadi. Apakah sebenarnya permaisuri Ling bukanlah manusia biasa?
Kaisar Feng nampak terdiam terpaku mendengar tiap penjelasan yang keluar dari mulut Zen. Hari ini begitu banyak kejutan tak terduga, mulai dari kemunculan hantu, ruangan Chu yang bisa di tembus oleh permaisuri Ling, dan sekarang mengenai perempuan itu yang bisa masuk dengan mudah ke area terlarang itu?
“Kaisar ini merasa kita sepemikiran, bukan begitu Zen? Kau tau bukan harus berbuat apa?” Tanyanya dengan tatapan mata datar.
Dengan patuh Zen mengangguk singkat dan segera pamit keluar dari ruangan kerja sang kaisar. Tinggallah kaisar Feng seorang diri dengan segala pikiran berkecamuk di kepalanya.
‘ Siapa kau sebenarnya? ’ Batin kaisar Feng.
***
Flo saat ini kembali lagi ke ruangannya yang berada tepat di belakang istana kekaisaran. Jika bukan tuntutan perutnya yang saat ini tengah meronta-ronta, tentunya ia akan melanjutkan aktivitas tamasyanya.
“Huhh... Hari yang cukup melelahkan!” Gumam Flo dan segera mendorong pintu usang itu.
“PERMAISURI!!!” Teriak ketiga dayangnya. Flo saja sampai terjingkat kaget karena aksi para dayangnya.
“Permaisuri dari mana saja? Mengapa pergi tanpa di temani oleh kami?” Tanya dayang Wan menuntut.
Pasalnya mereka bertiga telah berkeliling area itu mencari permaisuri Ling. Mencari ke dalam istana? Tentunya mereka berfikir, tak mungkin jika beliau masuk ke area istana. Bukankah permaisuri Ling tengah cidera ingatan? Jadi kemungkinan yang paling masuk akal adalah permaisuri Ling tengah berkeliling di sekitaran situ.
Tetapi, hampir sejam lamanya mereka mencari tapi tak menemukan keberadaannya. Dan sekarang permaisuri Ling muncul seakan-akan tak melakukan kesalahan dengan raut wajah letihnya?