
Di dalam hutan belantara, seorang pria berhanfu hitam nampak berjalan santai di gelapnya malam. Suara lolongan binatang buas tak menggentarkan langkahnya.
Sebuah pesan dari Tuannya harus sampai kepada tujuan. Meskipun ada rintangan sekalipun ia harus tetap sampai pada tujuan.
Sudah beberapa kali ia bertemu binatang buas yang tentunya bukan binatang pada umumnya. Lebih tepatnya adalah siluman binatang.
Setelah berjalan cukup jauh, pria misterius itu telah sampai di sebuah gubuk tua yang berdiri kokoh di bawah pohon beringin besar.
TOKK...
TOKK...
Terdengar gemercik gelang berbunyi dari arah dalam gubuk. Seorang pria tua bungkuk dengan punuk besar di punggungnya.
“Ada apa anak muda? Apakah engkau tersesat?” Tanya kakek tua.
Jubah putih lusuh membaluti tubuh rentanya, tongkat kayu bertekstur dipegangnya erat-erat untuk membantunya menjaga keseimbangan.
“Saya utusan Xiu'er, Tuan!!!” Ujar pria misterius tadi kepada si kakek tua dan memberikan sesuatu yang di simpan pria itu dalam cincin dimensinya.
Mendengar nama yang tak asing itu membuat si kakek tua menatap lamat pria di depannya. Senyum tipis tersungging di bibir tuanya saat melihat karung goni itu.
“Ternyata anak itu masih mengingat pria tua ini, bahkan dengan repot-repot memberi hadiah Hoho..” Ujar si kakek dan dengan ramah mempersilahkan pria misterius itu untuk masuk ke dalam gubuk tuanya.
Tetapi siapa sangka, tampilan luar yang begitu rapuh malah berbanding terbalik dengan situasi yang ada di dalam gubuk.
Ada banyak sekali perabotan yang berbahan dasar emas, terbukti dari warnanya yang mengkilap cerah saat terpantul cahaya batu Yin.
(Note: Batu Yin adalah batu sihir yang memiliki cahaya cukup terang. Mungkin jika di zaman sekarang mirip seperti lampu listrik.)
Gubuk yang sekiranya dari luar terlihat cukup sempit namun siapa sangka, saat melangkah masuk gubuk itu terlihat sangat luas tanpa sekat. Di dalamnya terdapat meja dan beberapa tanaman yang pria misterius itu tak tau.
“Silahkan duduk anak muda, pria tua ini akan membuatkanmu teh hangat. Perjalanan kemari pastilah sangat jauh.” Pamit si kakek tua dan dengan langkah bungkuknya menuju dapur.
Sedangkan pria itu nampak mengamati sekeliling yang di dominasi barang emas. Ia jadi tak heran mengapa si Xiu'er berpesan agar memberikan goni itu ke orang yang ia temui di gubuk setelah menyebutkan namanya.
“Pantas saja Yang mulia kaisar menyuruhku membawa goni berisikan emas. Guru sang kaisar begitu menggilai sesuatu yang terbuat dari emas.” Jelas pria itu.
Jika kalian berfikir pria misterius itu adalah Zen, maka tebakan kalian salah. Pria ini adalah ChenWu, wujud bayangan gelap sang kaisar. Pria yang sangatlah patuh dan setiap perkataan yang keluar dari mulut Tuannya, haruslah ia laksanakan.
Sedangkan Xiu'er adalah panggilan kesayangan yang diberikan kakek tua itu kepada kaisar Feng. Beliau pernah berguru dengannya mengenai sihir-sihir yang tak banyak di ketahui orang biasa.
Aula suci yang telah diberi mantra sihir pelindung untuk menjadi tempat pengungsian rakyat dinasti Tang juga berkat ajaran si kakek tua.
Dari arah dapur muncullah kakek tua tadi dengan tangan kirinya memegang sebuah nampan kecil yang terbuat dari emas.
“Minumlah!!” Titah si kakek dan dengan patuh ChenWu meminumnya. Sebenarnya ia tak memiliki indera perasa dan tak bisa merasakan sakit karena statusnya merupakan bayangan gelap.
Terkejut?
Itulah yang dirasakan pertama kali oleh ChenWu saat meminum teh itu. Ada rasa aneh yang sedang berusaha ia jabarkan.
“A-apa...”
“Hoho... Kau merasakannya? Bagaimana? Apakah memiliki indera perasa menyenangkan bagimu?” Tanya si kakek tua yang tak lain bernama kakek Mo.
ChenWu tak bisa berkata-kata saat mendengar perkataan kakek Mo. Apakah benar jika dirinya saat ini bisa merasakan teh ini? Apakah ini juga yang dirasakan oleh semua orang di dunia ini dengan yang namanya "rasa"
Selama ChenWu dibangkitkan dari wujud bayangan gelap sang kaisar, ia tak bisa merasakan apa-apa bahkan berekspresi pun ia tak pernah.
Tetapi sekarang, berkat kakek Mo ia bisa merasakan semua ini.
“Anggaplah itu sebagai hadiah atas kerja kerasmu datang kemari membawakan hadiah dari murid kebanggaan ku itu.” Ujar kakek Mo bahagia.
Tentunya bahagia, emas yang dibawakan oleh ChenWu tadi bisa ia buat berbagai koleksi barang. Bahkan ia bisa menempa ulang emas itu menjadi barang yang ia inginkan.
Sedangkan ChenWu tak bisa menutupi rasa bahagia dan juga harunya. Ia harus berterima kasih juga kepada sang kaisar karena telah memberinya tugas ini.
‘ Yang mulia kaisar dan guru besar sangatlah bermurah hati. ’ Batin ChenWu.
Setelah keduanya terdiam beberapa saat, kakek Mo mulai menanyakan perihal kedatangan ChenWu atas utusan kaisar Feng.
ChenWu dengan mode serius menjelaskan sesuai apa yang dikatakan sang kaisar padanya.
“Di istana kekaisaran saat ini tengah beredar rumor kemunculan hantu, Tuan. Sesuai perintah Yang mulia Kaisar, beliau meminta bantuan kepada Tuan untuk membantu memusnahkan roh jahat itu.” Jelas ChenWu.
Kakek Mo mendengarkan dengan saksama tiap perkataan ChenWu. Selama ia tinggal di hutan ini, baru pertama kalinya murid nakal itu meminta bantuan darinya.
Kakek Mo merasa ilmu sihir yang telah di ajarkan kepada muridnya itu telah ia ajarkan hampir semuanya. Harusnya untuk masalah kecil seperti ini bisa di tuntaskan langsung oleh Xiu'er.
Ia tahu betul kemampuan sang murid yang bahkan hampir melampaui dirinya. Apakah memang ia merasa tak sanggup ataukah ada niat terselubung di belakangnya?
“Xiu'er mendengar rumor itu dari mana?” Tanya kakek Mo penasaran.
“Entahlah Tuan, saya hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh Yang mulia kaisar. Sekiranya Tuan bisa mengabulkan permintaan beliau dan datang dengan saya ke istana kekaisaran.” Pinta ChenWu kepada kakek Mo.
“Baiklah!” Jawab kakek Mo langsung.
Mendengar jawaban kakek Mo membuat ChenWu segera berterima kasih berkat kemurahan hatinya untuk bersedia membantu.
“Terima kasih Tuan karena ingin membantu Yang mulia kaisar. Ka--”
“Hei, anak muda!! Kapan aku berkata jika ingin membantu Xiu'er heh? Aku hanya berkata baiklah, bukan berarti aku menyetujuinya.” Ucap kakek Mo ketus.
ChenWu terdiam mendengar perkataan kakek Mo tadi. Ia pikir jika pria tua di hadapannya ini betul-betul ingin membantu.
“Maksud Tuan? Saya tidak mengerti.” Tanya ChenWu. Ia pun juga bingung harus melaporkan apa kepada sang kaisar jika situasinya seperti ini.
“Kau tak perlu tau anak muda, tetapi murid nakalku itu pasti tau maksud perkataanku ini. Ulangi kalimat yang aku ucapkan tadi dan katakan kepada Xiu'er. Dia pastilah mengerti!” Meskipun agak ragu tetapi ChenWu hanya menganggukkan kepalanya dan segera pamit.
***
Sedangkan disisi lain, Flo yang saat ini tengah berada di pasar rakyat bersama para dayangnya. Dia sudah berada di dimensi itu selama satu minggu dan belum pernah sekalipun merasakan hidup di luar istana.
Tatapan matanya berbinar memperhatikan tiap jualan yang ada di tepi jalan. Sorak para pedagang begitu riak untuk menarik perhatian pelanggan.
“Tuan!! Nyonya!! Belilah hanfu kualitas 3 ini dengan harga 2 keping emas saja.”
“Tenghulu ini dijamin enak!”
“Belilah daging burung ini dengan harga 30 keping perak!”
Rasanya Flo ingin membeli apa saja yang dilihat matanya pertama kali. Bahkan perutnya sudah meronta-ronta ingin segera diisi.
Berbanding terbalik dengan dayang Wan dan juga dayang Fuo. Raut cemas terpatri jelas di wajahnya, apalagi mengingat mereka keluar tanpa ijin sang kaisar.
“Kau lihat itu!! Rasanya aku ingin memakan semuanya.” Ujar Flo tamak.
“Benar permaisuri, hamba pun ingin merasakan semuanya.” Kata dayang kecil Wen menimpali.
Kedua bola mata gadis beda umur ini nampak membulat dengan mulut agak terbuka sedikit.
“Kita memiliki berapa koin emas?” Tanya Flo antusias.
Dayang Wan juga dayang Fuo saling menatap satu sama lain dan mengeluarkan koin yang berada di dalam kantungan kecil di tangan dayang Wan.
Ting..
Bunyi dentingan keping itu tak begitu nyaring dan agak samar di tengah keramaian. Flo pun bahkan terdiam melihat hanya ada 2 keping perak di tangan dayang Wan.
“I-ini--?” Bhakan Flo pun tak sanggup untuk melanjutkan perkataannya. Dengusan tawa renyah terdengar dari bibir mungilnya.
Apakah ini lelucon? Dirinya adalah seorang permaisuri dan hanya memiliki 2 keping perak saja? Ingat, dia HANYA MEMILIKI 2 KEPING PERAK? SAJA?
“Iya permaisuri, hanya ini yang kita miliki saat ini.” Kata dayang Wen memperjelas.
“---”
Rasanya Flo ingin mengambil batu di jalan dan melemparkan tepat di kepala si kaisar bedebah itu. Siapa lagi jika bukan dia pelakunya? Seorang permaisuri hanya mempunyai 2 keping perak? Lelucon macam apa ini?
...SEE YOU NEXT...