
Apa yang akan kalian pikirkan pertama kali saat bertemu dengan sekumpulan anak kecil yang mengaku sebagai dewa dan dewi? Lelucon kah?
Saat masuk ke dalam portal, Flo sempat memejamkan mata sejenak lantaran silau cahaya yang begitu terang. Perlahan tapi pasti, matanya mulai terbuka sedikit meskipun masih ada sisa cahaya yang menyoroti matanya.
“Selamat datang di istana langit Nona. Perkenalkan, daku adalah dewi kehidupan!” Ucap seorang gadis kecil yang perawakannya mirip dengan dayang Wen, namun kulit serta parasnya sangatlah imut juga cantik.
Kulitnya seputih porselen dengan bibir mungil juga berwarna kemerahan seperti buah cery.
“Daku... Adalah dewa kegelapan!” Ujar pria kecil itu dengan raut wajahnya yang sangat suram sekali.
Dewa kegelapan? Sesuai dengan pekerjaannya -_-||
“Dan daku adalah dewa keberuntungan! Sekali lagi daku ucapkan selamat datang, Nona. ” Pria kecil itu nampak genit terbukti ia mengedipkan sebelah matanya saat menatap Flo.
Kesan pertama saat melihat ketiganya adalah TAKJUB. Anak sekecil mereka memiliki tanggung jawab sebagai dewa dan juga dewi.
Tunggu!! Bahasanya sangatlah formal juga terkesan kaku. Seumur hidup baru pertama kalinya Flo mendengar bahasa se santun juga se kaku itu.
Dari arah belakang terdengar geraman mengancam binatang yang menyerupai serigala. Dengan sedikit menoleh ke belakang, Flo melihat jika ini adalah binatang yang sama saat di padang bunga.
Perasaan kesal masih ada saat mengingat perlakuannya yang mendorong dirinya masuk ke dalam portal. Bagaimana jika itu portal yang akan membahayakan nyawanya?
“Dasar kau manusia hina!!” Gertak binatang itu disertai geraman.
Sedari tadi makhluk ini mengatai dirinya dengan sebutan manusia hina! Siapa yang tidak akan sakit hati jika di katai seperti itu?
“Hei kau binatang berbulu! Sudah cukup kesabaranku kau uji heh... Manusia hina? Cihh!! Sangat sopan sekali sebutanmu...” Sindir Flo.
GRRRHHH...
Mendengar celaan dari Flo yang mengatainya binatang berbulu, amarahnya memuncak seketika. Dengan sigap kaki kanan depannya diangkat lalu tak lama kemudian keluarlah cakar tajam juga panjang yang siap mengoyaki tubuh mangsanya.
Takut!! Tentu saja, itu yang dirasakan Flo. Ucapannya tadi hanya spontan lantaran tak terima dikatai manusia hina setiap binatang itu berbicara. Segera ia mundur dan berlari ke arah samping dewa kegelapan.
“Hei!! Mengapa takut? Tadi kau begitu ponggah mengataiku binatang berbulu. Kau tau hukuman apa yang pantas diberikan kepada manusia yang mengatai pengawal dewa dengan sebutan MAKHLUK BERBULU? ”
Melihat tingkah Flo membuat binatang itu semakin menggeram kencang. Apalagi melihat ketidaksopanannya kepada para dewa dan dewi.
Dan, Hei lihatlah!! Dia berani berdiri dengan jarak sedekat itu dengan dewa kegelapan? Benar-benar lancang. Dirinya saja tak pernah berada di posisi sedekat itu.
Bang sky bingung, dia ini sedang kesal ataukah iri?●_●
GGRRHHH....
“Sudahlah Leo! Mengapa dikau harus marah mendengar penuturan darinya?” Sela dewi kehidupan dan diangguki Flo.
Toh memang benar, binatang itu kan berbulu lalu salahnya dimana mengatainya dengan sebutan binatang berbulu? Sangat terbawa perasaan sekali...
“L-leo?” Tanya Flo.
“Apakah Leo tak memperkenalkan dirinya kepada dikau, Nona manis?” Tanya dewa keberuntungan.
Jadi namanya adalah Leo? Dan lagi pun, memperkenalkan diri? Cihh!! Alih-alih memperkenalkan diri, tetapi Leo si binatang berbulu itu malah menghina dan bahkan mengancam dirinya.
Asik dengan lamunannya, dewi keberuntungan kembali bersuara.
Flo pun kembali sadar dengan posisinya kali ini yang berada tepat di samping dewa kegelapan. Raut wajahnya saja nampak suram dan tak berekspresi.
Dengan segera Flo kembali ke tempat semula dengan sedikit mengambil jarak. Takut sewaktu-waktu Leo akan mengeluarkan cakar tajamnya.
Keheningan terjadi di istana langit yang mana membuat Flo sedikit canggung dan ju---
EH... TUNGGU DULU!!!
“ISTANA LANGIT?” Pekik Flo menatap sekeliling.
Tempat itu transparan tanpa ada dinding ataupun pilar tinggi seperti yang ada di drama kolosal. Bahkan awan seakan berlalu di sekitarnya. Ujung kakinya pun tak nampak dikarenakan tertutup awan.
Apakah ini mimpi? Tapi mengapa begitu nyata? Dirinya berada di istana langit dan bertemu dengan dewa dewi?
“Bisa kau kecilkan suara jelek mu itu heh? Sangat lancang di hadapan para dewa dan dewi!!” Sengit Leo dengan pandangan tak suka.
“Haha... Dikau sangatlah unik, Nona. Daku sungguh tertarik denganmu.” Ucap dewa keberuntungan.
Ucapannya terkesan ambigu juga sedikit membuat Flo merinding. Pria kecil seperti itu tertarik pada dirinya yang seorang gadis muda? Ataukah tertarik dalam maksud lain?
“T-tunggu dulu!! Sedari tadi aku bertanya kepada Leo mengenai alasan diriku berada di padang bunga namun tak mendapatkan jawaban. Ada apa ini sebenarnya?” Tanya Flo pening.
Berada di tempat ini membuat jantung Flo tak aman. Bukan karena jatuh cinta, tetapi takut jika salah ucap dan sewaktu-waktu Leo akan menerkam dirinya. Ancamannya saat di padang bunga tadi masih diingatnya dengan jelas.
Raut wajah ketiga dewa dan dewi itu mulai serius bahkan hawa udaranya nampak lebih dingin dari yang tadi. Suasananya pun cukup mencekam juga begitu mendebarkan.
“Siapa dikau sebenarnya?” Tanya dewi kehidupan dengan raut wajah datar. Meskipun dalam wujud anak kecil namum auranya begitu kuat mengintimidasi.
Pertanyaan ambigu semacam itu mengapa ditanyakan padanya? Dirinya adalah permaisuri Ling Huang, seorang manusia biasa yang sialnya menduduki posisi sebagai permaisuri buangan.
Ataukah dewi itu tau jika dirinya bukanlah permaisuri Ling Huang dan jiwanya hanya menempati tubuhnya? Mengapa dirinya jadi gelagapan padahal itu bukan kehendak dirinya sendiri. Saat terbangun dari tidur dirinya sudah berada di dimensi ini.
GRRHHH...
Geraman Leo begitu jelas di belakang tubuhnya. Dengan segera menoleh kebelakang dan spontan mundur.
“Dewi sedang bertanya kepadamu, mengapa hanya diam saja?” Geram Leo.
HUHFFFHHH...
“---”
‘Sudahlah Flo, diam saja. Ingat cakarnya sangatlah tajam. Nyawa sangatlah berharga!!’ Batin Flo menahan diri.
Segera Flo menatap kembali ke arah dewi kehidupan. Apa saja yang tidak diketahui oleh seorang dewa dan juga dewi? Mengenai perpindahan dirinya ke dimensi ini pastilah diketahui oleh mereka.
“Seharusnya diriku yang bertanya kepada sang dewi. Mengapa bisa aku terdampar di tempat ini?” Tanya Flo serius.
“---”
......SEE YOU NEXT......