THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 37



Disinilah mereka berada, duduk di kursi tua dengan dua macam hidangan di hadapan mereka. Tak lupa tatapan lapar seakan siap untuk menyerbu. Bukan hanya mereka berlima saja, tetapi Siu juga ikut duduk dengan patuh sembari ekor yang dikibas-kibaskan.


Bersyukur Flo tadi membakar 5 tusuk ikan sehingga cukup untuk mereka semua. Sedangkan Sui, biarlah bagiannya untuk serigala kecil itu.


Dengan segera dayang Wen juga dayang Fuo menyajikan masing-masing satu tusuk ikan bakar dan semangkuk sup bebek bening di samping nampan.


“Makanlah yang banyak dan jangan sampai kau tersedak tulang ikan.” Jelas Flo memperingati Siu. Entah serigala itu mengerti atau tidak, tetapi lolongan singkatnya seakan mengerti.


Melihat perlakuan Flo membuat dayang Wan juga dayang Fuo memberikan nampan mereka yang berisikan ikan bakar.


“Hei!! Apa yang kalian lakukan?? Tak perlu memikirkanku. Semua orang mendapatkan masing-masing satu tusuk ikan dan aku pun demikian.” Tegas Flo. Sepertinya kedua dayangnya ini begitu sungkan jika hanya dirinya saja yang tak mendapat ikan. Lagi pula ia dengan suka rela memberikan ikan bakarnya kepada Siu.


“T-tapi...” Ucapan dayang Wan terhenti karena mendapat tatapan tajam Flo yang seakan tak ingin di bantah.


Dengan sedikit tak enak hati, mereka pun mengangguk dan menyimpan nampan itu di hadapan masing-masing.


“Oh iyaa... Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena tidak bisa menyediakan tempat duduk yang layak untuk Kakek Mo.” Ujar Flo menatap pria tua yang duduk tepat di samping kirinya.


Mau bagaimana lagi, di kediamannya kursi serta alat makan begitu terbatas dan terbilang barang lama. Mereka para orang dewasa duduk di kursi sedangkan dayang kecil Wen juga Siu duduk di ranjang tempat Flo tidur.


Kakek Mo yang mendengarnya merasa cukup prihatin juga tak enak hati. Gadis muda yang merupakan istri dari muridnya itu begitu rendah hati juga sangat baik. Terbukti dari caranya yang menyambut dirinya meski dengan keterbatasan alat.


“Tak apa. Lagi pula, aku sangat merasa bersyukur kau menerima kedatangan pria tua ini.” Balasnya.


“---”


Melihat semua orang telah mendapatkan bagian, Flo pun dengan segera menyuruh mereka untuk menikmati santapannya.


“Baiklah!! Selamat makan dan maaf jika rasanya kurang pas di lidah kalian.” Ucap Flo merendah.


Dengan segera mereka mencoba sup bebek bening sebagai menu pembuka dan dilanjut ikan bakar. Aroma rempah juga semburan uap hangat menyapu wajah mereka saat mendekatkan mangkuk dengan wajahnya.


Sendok kayu berhasil menampung sedikit kuah sup dan segera di seruputnya.


SLURPP...


Hangat, manis, gurih, dan asam berpadu dalam mulut. Tenggorokan juga perutnya terasa hangat di waktu yang bersamaan. Makanan yang sangat cocok di waktu mendung seperti ini.


WOAHH!!!


Begitulah seruan pertama yang terlantar dari bibir mereka semua. Tangannya tak henti menyendok kuah sup untuk segera masuk ke dalam mulut mereka semua.


Bahkan Sui yang berada di belakang Flo pun nampak begitu menikmati hidangan yang telah dibuat olehnya.


“---”


“Aku sangat berterima kasih kepada dewi karena masih memberikan kehidupan padaku hingga bisa merasakan makanan seenak ini.” Ucap Kakek Mo terdengar berlebihan.


Dayang Wan juga dayang Fuo pun ikut mengangguk membenarkan. Sup bebek ini terasa begitu nikmat, ibarat kau menemukan kepingan koin emas di dalam lumpur.


Terlebih lagi, rasa ikan bakar ini sangat jauh berbeda dari semua menu ikan bakar yang pernah mereka coba. Ikan bakar ini begitu nikmat dengan rasa yang baru di lidah mereka semua.


Jika seluruh kekaisaran mengetahui makanan ini, sudah pasti akan muncul rumor baru. Tentunya rumor baik juga ketidakpercayaan mereka debgan bakat terpendam sang permaisuri.


“Kakek Mo terlalu berlebihan. Masakanku ini tak ada apanya dibandingkan buatan juru masak kekaisaran.” Balas Flo. Padahal secara tidak langsung Flo menyindir juru masak istana.


Hampir tiga jam lamanya Kakek Mo berada di kediaman Flo. Bahkan langit pun semakin menggelap pertanda akan ada badai hujan.


Begitu banyak perbincangan yang mereka lakukan bahkan Kakek Mo tak sungkan menceritakan perjuangannya hingga bisa sepeti sekarang ini.


Dengan sebuah kendi liat di tangan kiri Kakek Mo, ia pun segera berpamitan kepada Flo diikuti ketiga dayangnya.


“Sungguh.... Kakek tua ini sangat berterima kasih karena kau menerima kehadiran tanpa undangan sebelumnya. Dan ya!! Terima kasih juga atas sup ini.” Kata Kakek Mo dengan sedikit mengangkat kendi liat itu.


“Haha... Tentu saja... Maaf dikarenakan pelayanan kami kurang memadai. Kakek tau sendiri bukan kondisi kediaman ku ini.” Lirih Flo sedikit mengadu.


Tak ada maksud apa-apa dari perkataan Flo tadi. Rasanya ia begitu kecewa pada dirinya sendiri karena tak bisa memberikan yang terbaik kepada pria tua di hadapannya. Lagi dan lagi ia teringat debgan sang Nenek.


Tetapi, Kakek Mo seakan salah menanggapi perkataan Flo.


‘Benar-benar Xiu'er tak punya hati. Begitu tega membiarkan ibu kekaisaran sekaligus istrinya berada di tempat seperti ini.’ Batin Kakek Mo.


“Jika aku berkunjung lagi ke sini, aku akan memberikanmu hadiah sebagai tanda terima kasih. Dan satu lagi... Jangan sungkan meminta bantuanku jika kau tengah kesusahan. Anggap saja aku sebagai Kakek mu.” Jelas Kakek Mo dengan sedikit tersenyum simpul dan segera pergi dari kediaman Flo.


Mendengar perkataan Kakek Mo, tentunya membuat hati Flo sedikit menghangat. Rasanya ia sedikit tak enak hati jika harus memanfaatkan pria tua itu untuk tujuan pribadinya.


“Oh iyaa permaisuri!! Bisakah menjelaskan kepada kami, kemana permaisuri pergi selama ini?” Tanya dayang Fuo setelah kepergian Kakek Mo.


“---”


Sudah Flo duga, pasti dayangnya akan menanyakan perihal dirinya. Berkata jujur tetapi apakah mereka akan percaya? Mengarang cerita tetapi dirinya tak pernah berhasil mengelabui kedua wanita ini.


“Baiklah!! Aku---”


“ASTAGA!!!”


Mendengar teriakan permaisuri Ling, dayang Fuo juga dayang Wan terjingkat kaget. Bahkan dayang kecil Wen yang berada di dalam kediaman pun segera berlari keluar untuk melihat situasi.


“K-kakak!! Mengapa permaisuri berteriak? Apakah semuanya baik-baik saja?” Tanya dayang Wen sedikit panik sembari menatap sang kakak juga permaisuri.


“P-permaisuri... Ada apa?” Tanya dayang Wan.


“Bisnisku? Bagaimana bisnis kita dengan toko hanfu itu? Harusnya aku memberikan desain padanya.” Paniknya.


Dayang Wan juga dayang Fuo sedikit menghela nafas lega. Untuk permasalahan itu juga sebenarnya akan dikatakan oleh mereka berdua. Namun mengingat permaisuri mereka baru saja kembali, tentunya sangat tidak sopan.


“P-permaisuri!! Maaf sebelumnya, tetapi jika kita memberikan alasan yang masuk akal, saya rasa beliau tak akan marah. Terlebih lagi beliau bukanlah tipe orang pemarah menurut pengamatan saya.” Jelas dayang Wan.


“---”


Sedikit terdiam dan membenarkan perkataan dayang Wan. Di dimensi terdahulu, Flo sering sekali melihat pria gemulai dan ketika mereka sedang kesal atau marah bak seorang wanita dan melanggar kodrat.


Setidaknya ia harus menyiapkan alasan yang masuk akal juga membuat beberapa desain hanfu lebih sebagai permintaan maaf karena sedikit tak profesional.


“Semoga saja!! Haishh... Mengapa ada begitu banyak rintangan yang menghampiri ku?? Benar-benar sial...” Pekik Flo tertahan.


...SEE YOU NEXT...


Note: maaf bgt baru up soalnya kemarin ada masalah sama berkas bang sky dan sempet down juga karena ngiranya udah gagal tpi syukur sih udh beres semuanya sisa nunggu doang (╥﹏╥)