
Suara kicauan burung terdengar di pagi hari itu. Langit masih agak sedikit gelap namun sudah terpancar sedikit warna keemasan.
Entah Flo kerasukan hantu mana sehingga ia sudah bangun pagi-pagi buta. Sebenarnya tak ada alasan lain. Saat subuh tadi ia tiba-tiba terbangun dari mimpi yang aneh menurutnya.
Seorang pria yang wajahnya nampak samar mengejar dirinya dalam mimpi. Yang Flo ingat hanyalah suara berat namun menenangkan.
“Ayo.. Ikut kembali bersamaku!!”
“Haishh... Mimpi apa diriku semalam? Meski hanya mimpi namun suaranya masih terekam dengan jelas.” Gumamnya sambil menatap langit pagi.
“Oh iyaa... Aku lupa menanam rempah yang telah ku ambil kemarin. Haishh...” Pekiknya tertahan karena baru mengingat hal penting itu.
Kemarin selepas mandi ia malah asik bermain dengan Siu bersama ketiga dayangnya. Dengan segera ia berlari mendekati karung goni yang kemarin di bawanya.
Saat membuka karung itu, ternyata ada beberapa rempah yang mati kering. Beruntung masih ada beberapa yang bisa diselamatkannya.
Flo pun mulai memisahkan mana yang masih layak di tanam dan yang tidak. Mungkin rempah yang sudah tidak bisa di tanam akan ia olah nantinya.
“Syukurlah beberapa masih aman. Sebaiknya aku merendam tanaman ini di air lalu setelahnya menyiapkan lahan untuk ditanami rempah.”
Beruntung lahan kediaman Flo cukup luas dan bisa dipakai untuk menanam rempah. Tetapi akan lebih baik lagi jika ia memikirkan tentang pupuk tanaman agar bisa tumbuh lebih cepat lagi.
“Di dimensi ini apa yang dijadikan sebagai pupuk? Tak ada pupuk juga tak masalah, hanya saja pertumbuhannya akan sangat lamban.” Gumam Flo.
Mulailah ia menggarap tanah di samping kediaman yang mana lokasinya dekat dengan sumur kecil untuk mempermudah penyiraman.
Dengan berbekal tongkat runcing, Flo mulai menggarap. Tak terasa hampir satu jam lamanya ia bergelut dengan tanah garapan.
Dari dalam kediaman terdengar teriakan dayang Fuo juga dayang Wan memanggil-manggil namanya. Sepertinya para dayangnya itu panik tak melihat keberadaan dirinya di pagi-pagi buta.
“PERMAISURI!! Anda dimana?”
“Permaisuri!”
“Heiii... Aku ada di samping.” Balas Flo dengan berteriak.
Segera keduanya berlari mencari sumber suara. Dilihatnya permaisuri Ling agak kotor dengan tanah memenuhi telapak tangannya.
“Ya Dewa... Apa yang permaisuri lakukan? Pakaian permaisuri sangatlah kotor.” Kaget dayang Fuo dan segera berlari mendekat.
Terlihat area tanah telah tergarap dengan apiknya. Sepertinya permaisuri mereka ingin berkebun.
“Dayang Wan, bisa kau ambilkan karung goni yang ku rendam itu?” Ucap Flo sembari menunjuk ke arah karung goni tepat di sebelah kiri dayang Wan.
“Apakah permaisuri ingin berkebun?” Tanya dayang Fuo penasaran.
“---” Tak menjawab namun hanya memberi isyarat anggukan kepala.
Dayang Wan pun datang dengan karung goni di pegangnya erat-erat. Jadi inilah tujuan permaisuri kemarin mengambil tanaman di hutan beserta akar ternyata untuk ditanami kembali.
Entah apa kegunaan tanaman yang di ambil kemarin tetapi mungkin hanya permaisuri Ling seorang yang tau. Tugasnya hanya membantu saja.
Jadilah mereka bertiga melakukan aktivitas pagi dengan cara berkebun. Sesekali terdengar obrolan singkat dari ketiganya mengenai dinasti Tang.
Sedangkan di balik pohon besar, ada seorang pria yang memperhatikan kegiatan mereka bertiga. Sudah di pastikan jika pria itu adalah pria yang sama kemarin malam yang mengintip pembicaraan Flo dengan dayang Wan mengenai sihir.
Menurutnya permaisuri Ling bukanlah ancaman untuk selalu diawasi seperti sekarang ini. Namun, perintah dari Kaisar Feng adalah mutlak dan tak bisa di ganggu gugat.
Tiba-Tiba ada yang menepuk bahu kanan ChenWu hingga membuatnya sedikit terkejut. Sial!! Ia tak bisa merasakan keberadaan Kakek Mo tadi.
“Mengintip para gadis muda berkebun? Sangat tidak bisa dikatakan pria sejati jika tak ikut membantu.” Tutur Kakek Mo.
Ia pagi tadi berniat mencari minuman hangat di dapur istana namun entah mengapa ia malah melangkah menuju belakang istana. Dan dari arah cukup jauh Kakek Mo melihat ada yang tengah mengintip dari pohon besar.
“M-maaf Tuan, saya hanya mengawasi sesuatu saja.” Setelah mengatakan itu ChenWu pun pamit pergi karena dirasa tak ada hal yang mencurigakan.
Kakek Mo pun penasaran dengan aktivitas ketiga gadis muda itu dan perlahan mendekat. Sepertinya ia pernah bertemu dengan salah satu diantara mereka.
“Permisi.. Nona-nona.” Sapa Kakek Mo.
Flo yang melihat pertama kali tak dapat menyembunyikan raut wajah terkejut. Bukankah ini kakek kemarin yang ditemuinya? Bagaimana bisa dia sampai disini? Begitulah pikir Flo.
“Sepertinya kita pernah bertemu gadis muda.” Lanjut Kakek Mo menatap lekat Flo.
“---” Flo tak menjawab apa-apa dan hanya tersenyum canggung. Apakah beliau masih ingin bertanya mengenai kemarin? Haishh... Bagaimana ini??
***
Di kediaman keluarga permaisuri Ling sedang di adakan rapat keluarga dimana ada Tuan Huang beserta istri juga beberapa pekerja rumah.
Putra sulung keluarga Huang yang tak lain kakak permaisuri Ling akan segera kembali dari pendidikan singkatnya. Berbulan-bulan setelah pernikahan sang adik akhirnya ia memutuskan untuk kembali.
“Syukurlah anak itu masih mengingat jelas dimana rumahnya. Sudah berbulan-bulan dan aku merindukannya.” Ucap Nyonya Xue Huang, ibu dari permaisuri Ling.
Ibu mana yang tak merasa kesepian jika anak-anaknya pergi jauh dalam waktu lama? Setidaknya rindu dengan sang bungsu bisa terobati sedikit akan kehadiran putra sulung mereka.
“Haha... Aku pun demikian, sudah cukup lama kita tak bertemu dengan putra kita istriku. Entah bagaimana penampilannya sekarang ini.” Balas Tuan Huang.
“Ku harap ia tak pulang sendirian dan membawakan calon menantu untuk kita.”
Pesta penyambutan pun akan disiapkan dan digelar secara meriah. Penerus marga Huang akan segera kembali dalam waktu dekat.
“Suamiku, apakah bisa kita mengundang Ling'er untuk ikut serta dalam pesta penyambutan kakaknya? Bukankah suatu hadiah istimewa untuknya jika bisa melihat adiknya ikut serta menyambut?” Usul Nyonya Xue yang diangguki Tuan Huang.
Saran dari istrinya ada benarnya dan rasanya sudah cukup lama mereka berempat tidak berkumpul bersama-sama. Terakhir kali saat pernikahan permaisuri Ling mereka berkumpul.
“Baiklah!! Aku akan mengirim surat undangan untuk mereka disana.” Putus Tuan Huang membuat rona bahagia terpancar di wajah Nyonya Xue.
Sepertinya ini adalah pesta penyambutan sekaligus acara keluarga yang di idam-idamkan Nyonya Xue setelah sekian lama.
Ia pun semakin bersemangat untuk menyiapkan segala persiapan yang akan di adakan beberapa minggu kedepan.
Setelah Nyonya Xue pergi diikuti dayangnya, nampak Tuan Huang duduk termenung seakan tengah memikirkan sesuatu hal.
“Ada apa Tuan?” Tanya pria setengah baya selaku pengatur keuangan.
“Tak apa, hanya saja mengapa firasatku tak enak. Semoga saja tak ada hal buruk terjadi!” Gumam Tuan Huang.
...SEE YOU NEXT...