THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 47



Mendengar perkataan permaisuri Ling tadi, membuat dayang Wan juga dayang Fuo diam membatu.


“Tak perlu mencarinya!” Begitu kata Flo.


Tentu saja mereka semua tak percaya dengan apa yang di dengar. Apakah permaisuri Ling tak merasa cemas dengan Siu yang menghilang?


“P-permaisuri!! Apakah sebaiknya kita mencari Siu di sekeliling kediaman?” Usul dayang Wan.


Dengan sedikit menoleh ke arah kanan, Flo menatap ketiganya secara satu per satu. Ia mengerti dengan perasaan tanggung jawab mereka.


Tetapi, apakah dengan mengatakan yang sebenarnya mereka akan percaya? Terlebih Siu hanyalah seekor binatang liar yang di temui tempo hari dan tiba-tiba menjadi manusia?


“Haishh... Apakah kalian tak percaya denganku?” Tanya Flo dengan sedikit mengangkat alisnya.


Bukannya tak percaya, hanya saja takut menimbulkan sebuah masalah yang cukup ricuh nantinya.


“K-kami percaya, permaisuri!!”


“Huhhh... Dayang Wan, apakah kau membawa beberapa bumbu masakan?” Tanya Flo.


“Tentu saja, permaisuri.”


Sehari sebelum berangkat ke kediaman Tuan Huang, permaisuri Ling meminta kepada mereka untuk memanen beberapa bumbu yang di tanam di samping kediaman.


Karena tau jika makanan yang dijual di pasar ibukota saja rasanya seperti itu, sudah di pastikan jika makanan di rumah kediaman orang tua permaisuri Ling memiliki rasa yang serupa.


Mendengar hal itu membuat Flo tersenyum puas. Dari semalam nafsu makannya tak ada lantaran masakan yang di sediakan begitu asin dan hambar.


Lagi pula, manusia normal mana yang tahan setiap harinya makan makanan yang asin dan juga hambar? Sudah dipastikan penyakit darah tinggi datang menghampiri.


Yahhh!!! Tak terkecuali mereka yang tinggal di dimensi ini. Entah terbuat dari apa perasa mereka hingga merasa terbiasa dengan rasa asin. Ataukah mungkin lidah mereka sudah kebas dan mati rasa?


“Baiklah!! Segera bawakan aku bumbu itu dayang Wan dan untuk dayang Fuo, bisakah kau membelikan ku bebek yang telah di bersihkan dan beberapa umbi-umbian? Apakah sisa koin dari toko hanfu kemarin masih ada?” Pinta Flo dan segera di angguki oleh dayang Fuo.


Setelahnya dayang Fuo bergegas menuju pasar kota untuk membeli beberapa pesanan permaisuri Ling.


Sekarang hanya tersisa dayang Wen dan juga Flo. Nampaknya dayang kecil itu juga ingin ikut berpartisipasi.


“E-em... Lalu, aku harus melakukan apa?” Tanya dayang Wen dengan mata sedikit memerah dikarenakan menangis tadi.


Meskipun masih memikirkan keberadaan serigala kecil itu, tetapi ia hanya bisa percaya dengan ucapan sang permaisuri.


Flo menatap sejenak dan tersenyum. Dengan sedikit perlahan mengelus pucuk kepala dayang Wen, sembari meminta dayang Wen untuk menemaninya saja.


“Tak apa, kau bisa membantuku saat memasak nanti.” Jelas Flo.


“Permaisuri, bolehkah aku bertanya sesuatu?”


“Tentu saja!”


“Tadi permaisuri berkata soal koin pemberian Tuan pemilik toko lalu aku tiba-tiba teringat sesuatu. Apakah tuan pemilik toko hanfu tak masalah jika permaisuri jarang mengirimkan desain kepadanya? Bukankah akan sangat merugikan untuk kedua pihak?” Tanya dayang Wen tiba-tiba.


Mendengar pertanyaan tersebut membuat Flo terdiam sejenak. Saat kemarin ia sempat mendapatkan omelan dari pria gemulai itu lantaran selama beberapa minggu tak mengirimkan desain hanfu.


Jujur untuk sekarang ini Flo agak kesulitan mengatur jadwal dengan Miu. Mengingat penghasilan yang di dapat hanya dari toko hanfu itu. Tetapi begitu banyak hal yang terjadi.


“Kau sangat pintar juga, dayang kecil. Kerugian pasti ada dalam dunia bisnis, maka dari itu yang namanya konsisten sangat penting agar kau mendapat keuntungan.” Jelas Flo.


Prinsip dasar bisnis di dimensi terdahulu dengan yang di tempatnya sekarang tak jauh berbeda.


Padahal rencana awal ia ingin mencari popularitas di berbagai industri, seperti pakaian, mode, dan juga makanan.


Tetapi sepertinya semua rencananya tak akan berjalan mulus. Kepalanya jadi agak sakit memikirkan semuanya.


***


Sedangkan di sebuah ruang kerja, seorang pria paruh baya yang masih nampak bugar itu tengah memeriksa beberapa gulungan kertas yang merupakan dokumen penting. Seharusnya??


Sesekali kerutan di dahi tercetak dari raut Tuan Huang seakan merasa pelik dan juga terkejut dengan gulungan itu.


Seorang pria dengan pakaian layaknya ninja tengah berdiri tegap di hadapan Tuan Huang yang begitu serius membaca gulungan kertas itu.


“Apakah kau sudah yakin dengan informasi yang kau berikan ini?” Tanya Tuan Huang yang menutup kembali gulungan tersebut.


Aura mencekam terasa di dalam ruangan itu. Bahkan pria bak ninja tersebut merasa sedikit terintimidasi.


“Tentu saja, Tuan. Jika saya berbohong, maka saya siap mengorbankan kepala saya untuk di penggal.” Jelasnya mantap tanpa ada keraguan di dalam kalimatnya.


Sepertinya ada beberapa pihak yang ingin bermain-main dengan marga Huang. Mengambil tindakan untuk tak terlalu ikut dunia politik sepertinya keliru, bahkan mereka dengan berani memprovokasi dirinya.


“Terima imbalanmu!!” Ucap Tuan Huang dengan melemparkan sekantung koin perak dan ditangkap olehnya.


“Terima kasih, Tuan!!”


Tetapi tiba-tiba....


SBASHHH.....


Kepala yang tadinya bersatu dengan tubuh kini terpisah. Bahkan kepala dengan mata terbuka itu menggelinding hingga ke sudut ruangan.


Posisi pria ninja tak berkepala itu berdiri dan kemudian tumbang dengan darah yang mengalir rapi.


Teknik tebasan pedang yang membuat korbannya merasakan kematian yang menyakitkan namun indah.


Sedangkan Tuan Huang memasang wajah datar tanpa ekspresi sama sekali. Bahkan tak ada rasa bersalah darinya.


“Cih!! Darahnya mengotori ruanganku!!” Gumamnya.


“Seandainya kau tak mengatakan kebohongan itu, aku pastinya akan melepaskanmu. Tetapi seseorang yang berani memprovokasi dan menipu marga Huang tentunya berhak mendapat imbalan setimpal.” Lanjut Tuan Huang dan berlalu pergi dari ruang kerjanya.


“Bersihkan ruanganku!” Ucapnya kepada dua pengawal hang berdiri di pintu masuk ruang kerja pribadi Tuan Huang.


Saat masuk ke dalamnya, kedua pengawal itu nampak terkejut sedikit dan segera membawa mayat ninja itu dengan kepala yang di tenteng.


Sebenarnya bukan hal yang baru untuk mereka. Jika Tuan Huang mengatakan membersihkan ruangan, sudah di pastikan ada mayat baru yang berani mencari masalah dengan sang Tuan.


“Siapa yang tau, Tuan yang terkenal lemah lembut itu juga memiliki sisi bringas. Ck.. ck.. ck... Entah kesalahan apalagi yang dilakukan pria malang ini...” Ucap salah seorang pengawal.


......See You Next......