THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 26



Disinilah mereka berada, Kakek Mo serta Flo yang saat ini tengah duduk terdiam menunggu salah satu memulai perbincangan. Tadi saat di samping kediaman Flo, Kakek Mo seakan masih ingin menanyakan perihal hantu kemarin.


“Apakah benar Nona yang melihat hantu itu?” Tanya kakek Mo.


Sebenarnya Kakek Mo sudah mendengar cerita dari Kaisar Feng. Namun entah mengapa ia ingin mendengar langsung dari Flo.


“---”


Mengapa Flo jadi gemetaran saat ditanya oleh Kakek Mo? Padahal di lihat dari tampang beliau dengan Kaisar Feng selaku suaminya tentunya lebih menakutkan si kaisar biadab itu. Apa karena ia teringat dengan sang Nenek?


Kata orang kalau kita sering mengatai orang lain maka akan berjodoh xixixi.... ^o^


‘Aishh... Mengapa jadi begini huh..’ Batin Flo pasrah.


“I-iya, Tuan.”


Situasi itu terasa mencekam bagi Flo. Terlebih lagi dayang Wan juga dayang Fuo diusir secara halus oleh Kakek Mo dengan dalih ingin membicarakan hal penting.


“Begitukah?” Tanya Kakek Mo memastikan.


Nampaknya gadis di hadapan Kakek Mo merasa tertekan dan terintimidasi dari pertanyaan semata. Bukan dari aura yang dikeluarkannya?


POV Kakek Mo On..


Satu hal yang membuat diriku bingung. Bagaimana bisa gadis yang di hadapannya kini bisa tak merasa terintimidasi dengan aura yang ku keluarkan?


Saat pertama kali bertemu debgan wanita ini, aku merasakan aura positif yang sangat-sangat damai. Ibaratkan seorang bayi yang terlahir ke dunia tanpa dosa.


“Mengapa kau berbohong, Nona?” Tanya ku.


Xiu'er berkata jika itu hanyalah akal-akalan Nona ini agar terhindar dari hukuman? Tapi apakah perlu membuat rumor yang cukup menghebohkan satu dinasti?


Bisa kulihat jika gadis ini terkejut dengan pertanyaanku tadi. Dari gelagatnya saja sudah aneh dan apa itu?? Tatapan matanya nampak berair.


Apakah dia akan menangis? Oh tidak.. Tidak.. Orang lain akan salah paham dengan dirinya. Lagi pula ia tak ada hasrat dengan seorang wanita.


Tak ada hasrat? Apakah Kakek Mo---? Bang sky no comment (╯3╰)


“N-nona, tolong maafkan pria tua ini. Jika kau merasa tertekan dengan pertanyaan ku tadi, tak apa jika tak mau jawab asal jangan menangis.” Pintaku agak panik.


Aku baru pertama kali berhadapan dengan seorang gadis yang sialnya matanya berembun karena pertanyaanku? Sungguh merepotkan!!


POV Kakek Mo Off


Memang ada keuntungan memiliki wajah polos, ditambah mata bulat yang mana menambah kadar kegemasan kita. Seperti yang dilakukan Flo saat ini dengan memanfaatkan wajah polosnya.


“Mengapa kau berbohong, Nona?” Tanya Kakek Mo.


‘Sungguh demi apapun, aku sangat tidak menyukai situasi seperti ini.’ Batin Flo.


“---”


“N-nona, tolong maafkan pria tua ini. Jika kau merasa tertekan dengan pertanyaan ku tadi, tak apa jika tak mau jawab asal jangan menangis.” Pinta Kakek Mo agak panik.


Sepertinya Flo berhasil mengelabui pria tua dihadapannya. Tetapi, tunggu dulu!!! Sepertinya ia merasa asing dengan pertanyaannya tadi.


“Mengapa kau berbohong, Nona?”


Jangan bilang....


“B-bagaimana Tuan bisa tau?” Tanya Flo gugup sambil menatap lekat mata Kakek Mo.


“Tentu aku tau, sang Kaisar sendiri yang mengatakan hal ini kepadaku Nona. Dan rumor mengenai hantu itu telah di umumkan kemarin, kau tau?”


OH TIDAK!!!


Jika seperti itu, sudah di pastikan ketenangannya beberapa hari ini akan sirna dan lebih parahnya akan mendapat amukan si kaisar biadab itu?


Melihat gadis di hadapannya termenung, Kakek Mo berusaha menyadarkannya sembari mengayun-ayunkan tangannya di hadapan wajah Flo.


“Heii!! Apakh kau baik-baik saja, Nona?”


“Aku akan dihabisi olehnya. T-tidak!!” Gumam Flo.


Kakek Mo sadar akan ketakutan gadis dihadapannya. Lolos dari amukan Xiu'er adalah sesuatu yang tidak mungkin, apalagi sampai menggemparkan satu dinasti dengan berita kebohongan?


Dayang Wen yang masih tertidur di atas kasur kayu akhirnya terbangun karena merasa agak terganggu mendengar perbincangan dari keduanya.


“Hoam... Selamat pagi permaisuri!! Eh... Siapa Tuan ini, permaisuri?” Tanya dayang Wen dengan suara khas bangun tidur.


Mendengar panggilan permaisuri yang di tuturkan si dayang kecil berhasil membuat Kakek Mo terdiam membatu.


“PERMAISURI??” Teriaknya.


Dayang Wen juga Flo spontan menutup telinga mendengar teriakan si Kakek Mo.


“Tuan, sangat tidak sopan berteriak seperti itu di hadapan permaisuri.” Tegur dayang Wen.


Kakek Mo tak diberi tahukan oleh Kaisar Feng jika wanita yang dimaksudnya adalah seorang permaisuri, yang tak lain adalah istrinya sendiri. Sepertinya banyak hal yang tak ia ketahui selama mengasingkan diri.


‘Memang benar-benar murid kurang hajar!! Dia menikah dan tak mengundang guru nya ini?’ Batin Kakek Mo emosi.


Ia masih saja terdiam dan memperhatikan dengan saksama raut wajah Flo. Wajahnya masihlah nampak belia dan menikah dengan kaisar yang hampir kepala tiga itu? Bukankah terlihat bagaikan seorang keponakan juga paman?


“Jadi benar kau ini permaisuri?” Tanya Kakek Mo meminta jawaban.


Meskipun agak ragu namun Flo tetap mengangguk. Mungkin saja pria tua itu merasa tak percaya. Lagi pula, mana ada seorang permaisuri yang tinggal di tempat seperti ini? Permaisuri buangan? Mungkin itu yang tepat.


“Lalu mengapa kau ada disini Nona? Bukankah tempat seorang permaisuri berada di dalam istana kekaisaran?” Lanjut Kakek Mo.


‘Sudah kuduga... Huhffhh...’


“Permaisuri memang ditempatkan disini oleh Yang mulia Kaisar, Tuan. Mungkin sudah berbulan-bulan lamanya, Iya kan permaisuri?” Gadis sepolos dayang Wen memang tak tau situasi.


Flo pun mengerti maksud dan tujuan dayang Wen berkata demikian. Berharap pria tua ini bisa menolong dirinya dengan menjelekkan sang Kaisar secara tidak langsung.


“Dasar kau Xiu'er, benar-benar menjengkelkan.” Geramnya.


Jika kalian berfikir Kakek Mo begitu perhatian dengan Flo, maka jawabannya bisa jadi iya dan bisa jadi tidak. Ada sesuatu hal yang membuat Kakek Mo penasaran dengan sosok Flo.


Sejak saat pertama kali bertemu ia merasakan aura positif yang cukup membuatnya tertarik. Tetapi kalian jangan berpikir jika pria tua seperti Kakek Mo memiliki rasa dengan Flo.


Sebenarnya sih tidak masalah, hanya saja Kakek Mo kan sudah tua. Apakah pantas bersanding dengan seorang gadis berusia 17 tahun? -_-||


“M-maaf... Siapa yang Tuan panggil Xiu'er? ” Tanya Flo penasaran.


Ah iya... Dirinya lupa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Pikir Kakek Mo


“Tadi aku begitu semangat ingin berbincang dengan Nona hingga lupa memperkenalkan diri. Saya Mourang, bisa kau panggil Kakek Mo. Pria tua ini adalah guru dari Kaisar Feng, suamimu. Kebetulan dia meminta bantuan kepadaku mengenai rumor hantu yang ternyata hanya rekayasa haha.. ” Ujar Kakek Mo panjang lebar.


Lagi dan lagi rasa tak enak hati menghampiri Flo. Pastilah Kakek Mo melakukan perjalanan yang cukup panjang hanya untuk masalah yang dibuatnya.


“M-maafkan saya Tuan! S-sa---”


“Kakek Mo!! Rasanya agak kurang sopan jika Nona memanggil saya Tuan!” Jelas Kakek Mo menghentikan perkataan Flo tadi.


Apa bedanya kau dengan Flo, Kakek Mo? Harusnya memanggil Flo dengan sebutan permaisuri dan bukannya Nona ︶︿︶


“Baiklah Kakek, hanya saja saya mera---” Lagi dan lagi ucapan Flo terpotong karena mendengar pekikan Kakek Mo.


“YA DEWA....”


...SEE YOU NEXT...