
Terjadi keheningan beberapa saat di antara Siu dan juga Flo. Siu dengan setia menunggu Flo yang tengah berpikir keras dengan permintaannya tadi.
Jika saja Nonanya ini adalah asli dari dimensi ini, harusnya bersyukur kepada dirinya yang dengan sukarela mengajukan kontrak.
“Jadi bagaimana Nona? Apakah ada lagi yang Nona pertimbangkan?” Tanya Siu.
“Apakah penting bagimu menjalin kontrak denganku?” Tanya Flo setelahnya.
Selain Nonanya memiliki aura yang berbeda, ia juga tak tahan harus berada di bentuk serigala seperti ini selamanya.
“Huhh.. Bagaimana ku jelaskan kepada Nona agar mengerti?”
“Intinya seperti ini, Nona... Jika Nona menjalin kontrak dengan ku maka aku akan dengan senang hati membantu Nona menjadi yang terkuat. Belajar sihir misalnya?? Dan sebagai imbalan dari kontrak ini, aku bisa mengambil wujud manusia dan terbebas dari garis takdir.” Jelas Siu.
“J-jadi semua binatang yang menjalin kontrak dengan manusia bisa berubah wujud menjadi manusia? Seperti itu?”
Sebenarnya tidak salah juga arti yang ditangkap oleh Nonanya.
“Tak semua binatang bisa dikontrak Nona. Hanya binatang tertentu saja dan untuk berubah wujud juga tak semuanya bisa. Binatang kontrak biasa tetap dengan wujudnya tetapi jika binatang itu tingkat Emas bisa berubah wujud.”
***
Setelah melalui percakapan panjang dengan Siu tak membuat Flo langsung mengiyakan kontrak itu. Bahkan Siu pun dibuat gemas dengan Nonanya.
‘Aku sudah menjelaskan selama beberapa jam tetapi Nona belum mau menjalin kontrak denganku, huhu...’ Batin Siu lelah.
“Apa lagi yang Nona pertimbangkan?”
“Siu!! Bisakah... Bisakah aku membalaskan dendamku setelah menjadi kuat?” Tanya Flo sedikit keluar pembahasan.
Siu menduga-duga jika Nonanya ini memiliki dendam kesumat terhadap seseorang.
“Tentu saja, Nona. Menjalin kontrak denganku akan membawa banyak keberuntungan untuk Nona.” Jelas Siu bak seorang sales.
“---”
“Baiklah!! Aku bersiap menjalin kontrak denganmu.”
Mendengar hal itu membuat Siu bahagia bukan main. Segera ia mengambil posisi dan menyatukan kening keduanya sembari merapalkan sebuah mantra.
“Tutuplah mata Nona, dan jika Nona merasa ada panggilan maka sebutlah namaku Fenrir. ”
Tak lama kemudian, sebuah cahaya merah dengan goresan-goresan pola yang begitu rumit mengelilingi mereka.
Saat menutup matanya yang dilihat Flo adalah kegelapan. Tetapi sebuah suara menggema dalam pikirannya meskipun terasa samar.
“Maukah ---- ??”
Suara itu menggema dan tak jelas. Kepalanya terasa sakit serasa ingin pecah. Lagi dan lagi suara itu menggema dan kali ini jelas.
“Maukah berkontrak denganku? Bisa menyebutkan namaku?”
“Fenrir!!!”
Dan setelahnya rasa sakit di kepalanya perlahan mulai reda dan seekor serigala kecil yang diyakini adalah Siu telah mengambil posisi dalam pikiran terdalam Flo.
“Bukalah mata Nona!!” Ujar Siu.
Dan betapa mengejutkan saat membuka mata pertama kali, siluet mata berwarna kuning keemasan yang dilihatnya.
Sosok pria tampan dengan kulit berwarna putih tulang, tak lupa senyuman pria itu menghasilkan lubang kecil di pipinya.
“E-eh?”
“Kau berhasil Nona!!”
“EHH?? K-kau siapa?”
“Fenrir.”
“APA!!”
***
...SIU \= FENRIR...
Pasalnya saat berteriak tadi, Flo juga menampar Fenrir dan segera mengambil jarak.
“Mengapa Nona menamparku? Ini terasa sakit!” Adu Fenrir yang benar-benar merasa kesakitan.
“M-maafkan aku! Pasalnya kau berubah wujud tanpa aba-aba, salahkan saja dirimu.”
(Mengapa wanita sudah salah tetapi tak mau mengakui kesalahan? Selalu saja ada alasan untuk menyalahkan pria -_-|| )
“Tetapi aku salut dengan Nona bisa melewati kematian tadi.” Ucap Fenrir yang mana mengundang tanda tanya besar?
Kematian??
“Apakah aku belum menjelaskan kepada Nona tadi? Nona tak memiliki pondasi sihir sehingga tubuh Nona tak sanggup menerima diriku yang memiliki sihir besar. Beruntung dewa dan dewi memberikan tubuh yang kuat terhadap nona.”
PLAKKK...
AHHH...
“Mengapa Nona menamparku lagi?” Ringis Fenrir. Belum hilang rasa perih di tamparan pertama, sekarang ia mendapat tamparan baru.
“Kau benar-benar gila!! Hampir saja aku mati untuk kedua kalinya sialan!! Pantas saja saat menjalin kontrak tadi kepalaku terasa mau pecah dikarenakan kau Huh??”
Emosi Flo melupa-lupa bahkan ingin melayangkan tamparan sekali lagi sampai rasa kesalnya hilang.
“Bukankah aku sudah mengatakannya tadi?” Tanya Fenrir polos.
“Cih!! Mengatakan apa hah? Kau tak menjelaskan apapun mengenai dampak yang aku alami saat menjalin kontrak nanti. Jika aku tau akan resiko tadi, tak akan mau aku menjalin kontrak denganmu.” Murka Flo.
“Justru karena alasan itu aku tak mengatakannya pada Nona. Anggap saja rasa sakit yang tadi Nona rasakan akan ku bayar dengan kesetiaan hingga akhir hayat nanti.” Penjelasan Siu membuat Flo yang emosi kini perlahan luluh.
Tapi tetap saja, perbuatan Fenrir tak dapat dibenarkan. Hampir saja nyawa Flo diambang kematian karenanya.
“Huhh... Sudahlah, mau marah pun semuanya telah terjadi.”
“Itu benar Nona!! Lagi pula raut wajah seperti itu tak cocok dengan Nona. Dan ya!! Aku sangat berterima kasih kepada Nona yang mau menjalin kontrak denganku.” Ucap Fenrir serius.
***
Sedangkan di kamar para dayang, nampak dayang Wen yang menangis tersedu-sedu dengan dayang Wan dipeluknya.
Saat terbangun ingin minum, dayang Wen tak melihat Siu di atas keranjang yang telah disediakannya. Ia mengira jika Siu tertidur di bawah tempat tidur namun saat di cek sekeliling kamar tak ada.
“Hikss... Kakak... Siu ada dimana? Permaisuri pasti akan memarahiku karena tak menjaga Siu dengan baik.” Adu dayang Wen yang masih setia memeluk kakaknya.
Sedangkan dayang Fuo ia tengah berkeliling mencari Siu di luar kamar, berharap Siu hanya berkeliaran di sekitaran situ.
Pencariannya itu harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi agar tak menimbulkan kecurigaan dari pengawal.
“Siu... Ck ck ck...” Panggil dayang Fuo dengan suara kecil.
Rasa kantuknya tadi menghilang saat mengetahui Siu menghilang dari kamar.
Tiba-tiba dari arah belakang, Zen mengejutkan dayang Fuo yang masih sibuk mencari Siu.
“Apa yang kau lakukan malam-malam begini?”
“T-tuan Zen!!”
“Kau belum menjawab pertanyaanku!”
“Saya sedang mencari kalung dayang Wen, Tuan. Kalung itu merupakan peninggalan orang tuanya. Dan saat ini ia tengah menangis karena kalungnya hilang.” Jelas dayang Fuo lancar.
Jujur saja, dayang Fuo tak bisa tenang mengelabui tangan kanan sang Kaisar. Entah kebohongannya akan terbongkar atau tidak.
......See You Next... ...