THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 18



Cahaya langit senja perlahan mulai meredup digantikan gelapnya malam. Seorang gadis dengan surai panjangnya nampak begitu serius dengan kuas yang ada di tangan kanannya.


Tiap goresan tinta menyapu di atas kertas berwarna putih tulang. Dengan sesekali menyeruput teh hijau sambil memejamkan mata seakan tengah mencari inspirasi.


“Permaisuri!! Hari sudah petang dan sebaiknya mandi terlebih dahulu.” Ucap dayang Wan tepat di sisi kiri permaisuri Ling.


Dayang Wan begitu takjub melihat hasil desain lukisan sang permaisuri. Bahkan jika dibanding dari lukisan kemarin, mungkin ini jauh lebih indah lagi.


“Permaisuri memang benar-benar berbakat. Hamba pun tak menyangka jika permaisuri memiliki kemampuan yang sangat indah ini.” Pujinya tulus.


“Haha... Terima kasih atas pujiannya. Mau bagaimana lagi, hanya ini yang bisa ku lakukan untuk memenuhi kehidupan kedepannya. Setidaknya makanan kita semua terjamin.” Balas permaisuri Ling dan meletakkan kuas itu ke atas papan kayu.


Tubuhnya terasa lengket juga mengeluarkan bau agak kecut sedikit. Padahal dia hanya di rumah kecilnya dan tak melakukan aktivitas berat.


“Baiklah... Aku akan mandi terlebih dahulu.”


“Mari hamba bantu, permaisuri!”


“Tidak!!” Tolak Flo dengan tegas.


Sudah cukup waktu dia sakit hingga dengan terpaksa mengizinkan para dayang permaisuri Ling memandikan dirinya. Meskipun sesama wanita tetapi tentunya Flo memiliki privasi sendiri.


Apalagi beberapa bagian tubuh yang cukup sensitif jika dilihat oleh wanita lain. Semburat merah samar tercetak jelas di pipi putih Flo.


“Hamba mengerti... Pakaiannya juga sudah hamba siapkan dan makan malamnya pun akan segera dibawa oleh dayang Fuo.” Ujar dayang Wan mengerti.


Padahal menurut dayang Wan ini sudah menjadi kewajiban seorang dayang untuk memandikan majikannya. Bahkan dulu pun demikian sebelum permaisuri Ling bangkit dari kematiannya.


“Oh iyaa, kemana dayang kecil itu?” Tanya Flo sambil menelisik ke arah belakang dayang Wan. Sedari tadi ia tak melihat kemunculan dayang kecilnya.


Mengingat dayang kecil itu membuat Flo merasa nyaman. Wajah polos gadis itu serasa ingin mencubit pipinya yang mulai berisi dibandingkan dulu.


“Adik hamba tengah pergi bersama dayang Fuo membeli makanan, permaisuri. Mungkin sebentar lagi akan kembali.”


“Begitukah?..” Setelahnya Flo pun berdiri dan mulai melangkah menuju pemandian kecil dalam rumahnya itu. Tetapi sebelum itu...


“Dayang Wan!!” Panggil Flo sembari berbalik menghadap lawan bicara.


“---”


“Mulai sekarang ini kau yang akan aku tunjuk sebagai pengatur keuangan.”


“---” Dayang Wan terdiam dengan wajah terkejut.


Apakah pantas jika dayang rendah seperti dirinya menjadi pengatur keuangan permaisuri? Bukankah sesuatu hal yang sangat tercela?


“Jadi kau yang akan mengatur keuangan bisnisku dengan pemilik toko tempo hari, dan tentunya segala keuangan yang ada di sini kaulah yang akan mengurusnya.” Jelas Flo dan berlalu pergi tanpa mendengarkan jawaban dari dayang Wan.


Masih dengan raut wajah terkejutnya, dayang Wan memperhatikan sang permaisuri hingga sosoknya tak terlihat.


Aku tau yang kau rasakan dayang Wan (╥﹏╥)


***


Gelapnya malam telah memenuhi seluruh dinasti Tang, bahkan suara serangga kecil terdengar menggema di keheningan malam.


Di rumah milik permaisuri Ling ditemani ketiga dayang setianya begitu nikmat dengan santapan makan malam yang di beli dayang Fuo kali ini. Sudah dua hari setelah kerja sama itu terjalin, makanan mereka sudah sangat layak disebut sebagai makanan.


‘Meskipun pria itu sangatlah aneh, setidaknya dia sangat bermurah hati sampai memberiku sekantong penuh keping emas. Hoho... Sangat cukup untuk beberapa bulan kedepan.’ Batin Flo senang.


Ia jadi tak perlu merasa risau lagi soal makanan yang tak enak karena sudah memiliki uang dan pekerjaan. Sepertinya ia akan kembali ke misi pertama yaitu mencari bumbu masakan.


Ibarat kata pepatah, sekali dayung dua dan tiga pulau terlampaui... Dirinya akan dikenal sebagai pembuat desain hanfu terkemuka sekaligus penemu bumbu masakan. Bukankah sesuatu yang sangat menguntungkan?


Yayaya semoga saja jalanmu dimudahkan Dewa, Flo(。-_-。)


“Kakak... Makanan ini sangatlah enak bahkan aku pun baru merasakan makanan seperti ini beberapa belakangan.” Ucap dayang kecil Wen terlampau polos.


Secara tidak langsung ia mengakui jika makanan yg mereka makan selama ini tidak enak jika dibanding makanan yang di makan sekarang.


Tak perlu dikatakan pun Flo juga sudah tau. Siapa yang akan memakan makanan yang bentukannya mirip dedak lembek? Burung liar pun akan berfikir dua kali saat ingin mencobanya.


“Makanlah yang banyak kalian semua. Saat bersamaku kalian harus makan yang sehat juga menjadi berisi agar tak mirip tulang hidup.” Jelas Flo apa adanya.


Jika dibandingkan dulu dengan sekarang, tubuh mereka sudah agak lumayan berisi dan tak mirip tengkorak hidup. Entah berapa kali mereka makan dalam sehari sampai sekurus itu.


Anak sekecil dayang Wen harus butuh nutrisi lebih untuk tumbuh kembangnya. Apalagi di masa pertumbuhannya sekarang ini.


“Iya permaisuri, hamba pun amatlah merasa bersyukur kepada dewa juga kepada permaisuri karena selalu memikirkan kami para dayang rendahan. Adik hamba pun juga sudah tak sekurus dulu.” Ucap dayang Wan dengan mata memerah menahan tangis.


Ucapan rasa terima kasih 1000 kali pun tak akan mampu membalas kebaikan serta kemurahan hati permaisuri Ling yang begitu baik kepada mereka.


“Bisakah berhenti mengatakan kalimat dayang rendahan? Kalian sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri bahkan begitupun dengan dayang Wen yang ku anggap sebagai adikku. Dan harusnya akulah yang sangat berterima kasih kepada kalian yang sudah bertahan bahkan merelakan diri kalian di siksa hanya demi menyelamatkan diriku.” Jelas Flo panjang lebar.


Selain dari perilaku para dayang yang harus meminta maaf sembari bersujud ke lantai sungguh membuatnya merasa geram. Apakah status begitu penting? mereka semua adalah manusia tetapi apa harus berperilaku seperti itu?


Meminta maaf dengan cara demikian atas kesalahan kecil sungguh sesuatu yang tak bisa disebut sebagai hati manusia.


“Sudahlah tak usah dilanjutkan perbincangan ini. Dan juga aku telah menyelesaikan lukisan desain itu. Dayang Wan sebagai pengatur keuangan yang akan bertugas mengantarkan desain ini jika aku sedang berhalangan.” Lanjutnya sambil memakan tenghulu buah di tangan kanannya.


Mendengar penuturan permaisuri Ling membuat dayang Fuo juga dayang kecil Wen menatap ke arah dayang Wan.


“Wuohh... Apakah benar jika dayang Wan menjadi pengatur keuangan?” Pekik dayang Fuo. Sesama dayang mereka tak mendapatkan pemahaman apapun bagaimana menjadi pengatur keuangan. Tugas mereka hanya melayani majikan semata.


“I-iya benar dayang Fuo. Hanya saja aku tak mengetahui apapun mengenai keuangan. Yang aku tau hanya membelanjakan serta menerima kembalian, itu saja!!” Jelas dayang Wan menunduk.


...SEE YOU NEXT ...