
Pesta penyambutan akan kedatangan Kaisar Feng beserta permaisuri Ling cukup mengundang kemeriahan di wilayah Tuan Huang.
Berbagai hiasan di pasang sepanjang jalur kedatangan rombongan menuju ke kediaman Tuan Huang. Flo begitu antusias melihatnya dari dalam kereta kuda mewah bersama Kaisar Feng.
Mereka berada di satu kereta yang sama? Tentu saja.
Beberapa saat lalu....
Kereta yang dinaiki oleh Flo beserta para dayangnya berhenti. Sempat dayang Wan mengira jika mereka tengah dihalau para bandit.
“Harusnya masih ada beberapa jam lagi untuk kita sampai, permaisuri.” Ujar dayang Wan.
Tiba-tiba dari arah belakang, ada Zen yang berbicara di balik tirai.
“Maafkan saya, Permaisuri. Anda di panggil untuk satu kereta dengan Yang mulia Kaisar. Harap segera turun!”
Mendengar hal itu membuat ketiga dayang menatap bersamaan ke arah Flo yang sempat terdiam sesaat. Satu kereta dengan Yang mulia?
Apakah beliau merindukan permaisuri mereka? Begitulah pikir dayang Wan juga dayang Fuo, tetapi segera mereka menepis praduga itu.
Sangatlah tidak mungkin jika Yang mulia kaisar Feng benar-benar merindukan permaisuri Ling hingga menyuruh beliau untuk pindah ke kereta yang sama dengan sang Kaisar.
Sedangkan Flo sendiri seakan sudah mengerti maksud dan tujuan dari titah tersebut.
‘Benar-benar tebal muka!! Untuk terbebas dari pertanyaan mencurigakan dari keluarga permaisuri Ling, ia sudah merencanakan perpindahan ini. Pastinya dia akan mencari muka disana.’ Batin Flo dengan mengeluarkan hembusan nafas malas.
Tanpa banyak berkata, ia segera turun dari kereta kuda meskipun agak kesulitan dengan hanfu yang digunakannya.
Para dayang pun berusaha membantu permaisuri mereka untuk turun dan kembali duduk sesuai arahan Zen. Beruntung Siu yang berada di dalam keranjang rotan sedang tertidur sehingga tak menimbulkan masalah baru.
“Cih!! Seharusnya dari awal jika ingin menyuruhku pindah bersamanya, sebelum itu biarkan aku mengenakan pakaian yang nyaman. Bergerak saja sudah sangat sulit dan harus naik turun kereta?” Gerutu Flo sembari berusaha turun dengan aman.
Saat turun, Flo melihat jika posisi kereta kuda yang tadi dimasukinya berada di posisi kedua dari belakang dengan sebuah kereta pengawal istana di belakangnya.
Sedangkan saat melihat ke arah depan, ternyata ada cukup banyak kereta kuda dan salah satunya sangat mencolok tanda kereta tersebut merupakan kendaraan sang Kaisar.
Berjalan saja sudah sangat sulit dan harus menuju ke kereta kuda sang kaisar? Yang benar saja!! Dengan penuh usaha, Flo berjalan menuju kereta paling depan dengan Zen yang membimbing jalan.
Diperjalanan, Zen mendengar dengan jelas tiap ocehan dari permaisuri Ling tetapi seakan tutup telinga tak mendengarkan tiap perkataan beliau.
Sesampainya mereka di samping kereta kuda sang Kaisar, segera Flo berusaha naik dengan sedikit membuka tirai untuk masuk.
Yang dilihat pertama kali adalah sosok pria yang sangat dihindari Flo untuk alasan apapun. Tetapi sekarang, dia malah harus berada di posisi yang dekat dengannya
Belum juga Flo memposisikan diri dengan nyaman, tetapi sebuah ucapan menohok terlontar dari bibir pria itu.
“Jangan merasa senang dulu. Kaisar ini tak ingin jika pandangan orang-orang akan jelek saat melihat dirimu di kereta barang, meskipun itu adalah tempat yang benar-benar pantas untuk wanita hina sepertimu. Dan ingat!! Jangan mencari masalah disana.”
Sungguh demi apapun, rasanya Flo ingin meninju wajah tampan namun angkuh itu dengan sekuat-kuatnya. Tangan dan juga kakinya begitu gatal ingin menghajar kaisar ini.
‘Tunggu saja!! Jika aku menjadi kuat nanti maka akan ku balas kau. Cih!! Benar-benar angkuh sekali dia.’ Batin Flo.
***
Dari arah gerbang depan kediaman Tuan Huang, sudah cukup banyak orang yang berdiri seakan tengah menunggu kedatangan seseorang.
“Tuan!! Rombongan kekaisaran sudah terlihat di depan sana.” Lapor seorang pengawal kepada pemilik kediaman.
Mendengar hal itu membuat Nyonya Xue tersenyum penuh sesekali menanti kemunculan rombongan di depan gerbang.
“Haha... Harap bersabar istriku... Mereka akan segera tiba.” Ujar Tuan Huang.
Tak berapa lama kemudian, rombongan kekaisaran telah memasuki gerbang kediaman Tuan Huang. Salah satu kereta yang begitu mencolok memasuki gerbang.
Kaisar Feng adalah yang pertama kali turun sembari membukakan tirai untuk permaisuri Ling. Tak lupa tangan kirinya mengadah seakan meminta permaisuri Ling memegang tangannya.
Mereka yang melihat adegan itu tak dapat menyembunyikan rona kemerahan di wajah. Bukankah terlihat sangat romantis?
Nyonya Xue dan Tuan Huang yang melihat kedatangan putri kesayangannya semakin mendekat ke arahnya. Tetapi tak lupa tata keramah dirinya terhadap petinggi Kekaisaran.
“Selamat datang, Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri!! Semoga anda hidup 1000 tahun lagi.” Ucap Tuan Huang diikuti dengan semua orang yang berada di sana sembari bersujud.
Melihat itu, Flo semakin dibuat tak percaya dengan tata keramah di dimensi ini. Kemarin hanya dayangnya yang bersujud beberapa kali akibat kesalahan yang menurut Flo tidaklah fatal dan mengira jika itu hanya berlaku di istana kekaisaran saja.
Tetapi siapa sangka, kedua orang tua permaisuri Ling yang sudah berumur pun harus melakukan hal yang sama.
“Terima kasih atas sambutan yang meriah ini, Ayah dan Ibu mertua. Anda semakin sehat saja.” Ucap Kaisar Feng setelahnya.
“Saya sangat merasa tersanjung dengan ucapan anda, Yang mulia Kaisar.”
“Tak perlu bersikap kaku, Ayah mertua. Ini bukanlah kunjungan kekaisaran, melainkan kunjungan menantu ke rumah mertuanya. Istriku tercinta ini begitu merindukan orang tuanya.” Ujar Kaisar Feng dengan memeluk pinggang Flo.
Mendengar itu membuat semua orang semakin memuji kesopanan juga sikap Kaisar Feng. Begitu menghormati mertuanya meskipun dirinya adalah seorang Kaisar. Terlebih rasa penuh cinta dari tatapannya kepada permaisuri Ling.
Flo? Jangan ditanyakan lagi seperti apa reaksinya. Meskipun dirinya memasang senyum simpul tetapi hatinya melontarkan berbagai kalimat cacian untuk manusia di sampingnya.
Apa tadi katanya? Istriku tercinta? Mendengarnya saja membuat Flo ingin muntah. Panggilan yang disematkan padanya sangat berbanding terbalik dengan kenyataan.
Mendengar ucapan sang Kaisar, segera hal itu membuat Tuan Huang dan juga Nyonya Xue tersenyum dan memeluk erat putrinya.
“Sudah cukup lama setelah kau menikah dan Ibunda baru bisa bertemu denganmu. Apakah kau begitu sibuk dengan urusan negara putriku sampai-sampai surat dari ibunda mu ini tak kau balas hm?” Pertanyaan dari Nyonya Xue membuat Flo bingung.
“Surat?” Spontan kalimat itu yang keluar dari bibir Flo.
Selama ia berpindah dimensi tak pernah ia mendapati surat apapun. Ataukah itu sebelum dia datang ke dimensi ini?
Lagi dan lagi ia menggerutu kepada Dewi yang membawa ia ke dimensi ini tanpa pembekalan ingatan permaisuri Ling terdahulu.
“Iyaa, Ling'er!! Ibu hampir tiap minggu mengirimimu surat namun tak ada balasan.”
“Haha iya istriku... Bukankah ibu mertua selalu mengirimimu surat namun dikarenakan dedikasimu terhadap kekaisaran ini sehingga kau melupakan hal itu.” Sela Kaisar Feng.
Entah mengapa Flo merasa ucapan pria bedebah itu seakan-akan menjelekkan dirinya di hadapan semua orang.
Ucapan pria itu seakan bermaksud “Istriku ini begitu mementingkan urusan kekaisaran daripada kedua orang tuanya.”
Sungguh!! Pria ini benar-benar tebal muka dan semakin membuat Flo ingin menghancurkannya. Flo berharap waktu pembalasannya akan segera tiba.
......See You Next... ...