THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 27



Entah situasi apa yang harus Flo gambarkan saat ini. Pria tua yang tak lain adalah guru suaminya nampak berbinar bahagia melihat kemunculan Sui.


Tadi di tengah perbincangan, beliau berteriak lumayan kencang yang mana membuat Flo juga dayang Wen tersentak kaget. Mungkin bukan hanya mereka berdua, tetapi Sui pun demikian.


Mungkin jika Sui adalah serigala dewasa, tamatlah riwayatmu Kakek Mo (╥﹏╥)


“B-bagaimana bisa binatang suci ini ada disini, Nona?” Tanya Kakek Mo terkejut.


Binatang suci?


“Maaf Kakek Mo, binatang suci? Maksudnya Siu, serigala ini?” Tanya Flo meminta jawaban.


Beberapa saat yang lalu di saat Flo ingin bersuara, Kakek Mo melihat seekor binatang yang nampak merenggangkan otot-otot tubuhnya. Jelas jika binatang itu baru saja terbangun dari tidurnya.


Melihat binatang yang memiliki warna bulu kemerahan serta mata berwarna emas, sudah tak di raghkan lagi jika dia adalah binatang suci. Jangan salah!! Ia adalah seorang guru sihir terkemuka pada masanya dan bisa membedakan mana binatang biasa dengan yang istimewa.


“Tentu saja!! Binatang suci bisa dikatakan sebagai pengawal Dewa. Sungguh beruntung dirimu Nona, bisa mengikat kontrak dengannya.” Ucap Kakek Mo setengah iri.


Baginya, memiliki binatang kontrak suci adalah sesuatu yang sangat di impikan oleh pengendali sihir. Ingatan Kakek Mo berputar saat remaja dulu dimana sang Kakek buyut memiliki binatang kontrak suci rubah ekor sembilan.


Meskipun hanya sekedar cerita turun-temurun, namun bisa dibilang Kakek Mo sedikit berambisi memiliki binatang kontrak suci.


“Maaf sebelumnya, tetapi aku belum mengikat kontrak dengan Siu. Lagi pula aku tak tau apa itu binatang kontrak dan binatang suci. Kemarin saat aku berjalan-jalan dihutan, aku menemukan dirinya dalam keadaan terluka. Karena usulan dari salah seorang dayangku, makanya aku membawanya pulang.” Jelas Flo panjang lebar sembari menatap lekat Siu yang juga menatap lembut dirinya.


Apakah di dimensi ini ada yang dikatakan binatang suci? Dan juga binatang kontrak? Mengapa banyak hal magis yang terjadi di dimensi ini.


‘Kemarin teleportasi Zen, sekarang binatang kontrak suci, lalu besok-besok apa lagi? Dimensi yang sangat pelik.’ Batin Flo lelah.


Mendengar penuturan Flo membuat Kakek Mo tersenyum pias. Bukankah suatu keberuntungan baginya jika ia mengikat kontrak dengan binatang suci ini?


Tetapi ia tidak sepicik itu. Meskipun dirinya sangat menginginkan binatang kontrak suci, tetapi ia ingin diakui karena memang hasil usahanya sendiri menaklukkan binatang itu.


“Haishh... Sangat-sangat polos. Coba kau tanyakan padanya apakah dia ingin mengikat kontrak denganmu.” Usul Kakek Mo yang mengundang tanda tanya besar di benak Flo.


Dayang Wen yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa diam dengan tangannya yang setia mengelus pucuk kepala Siu.


“B-bertanya ke Siu? T-tap---”


“Jangan meragukan kekuatan binatang suci Nona. Mereka juga bisa mengerti maksud ucapan kita.” Penjelasan Kakek Mo mengundang tanda tanya di kepala Flo.


Jika benar demikian, apakah perilakunya kemarin yang seakan patuh karena memang mengerti ucapannya? Bukankah sesuatu hal yang luar biasa?


“T-tapi... Siu.. Binatang suci? Apakah Kakek Mo tengah bergurau? Siu hanyalah serigala biasa.” Bantah Flo.


Jika sihir mungkin ia masih bisa percaya apalagi aksi Zen kemarin, namun binatang suci? Pengawal Dewa? Lelucon macam apalagi ini. Jika hanya untuk menghibur dirinya dari kemurkaan Kaisar dalam waktu dekat ini, Flo sudah pasrah.


Kakek Mo sendiri merasa jengkel lama-lama berbincang dengan Flo. Apakah wajahnya itu bak seorang penipu? Begitu pikir Kakek Mo.


Tapi entah mengap ia tak bisa marah secara perbuatan ataupun perkataan kepada Flo. Aura positifnya begitu menenangkan dirinya.


“Ya ya ya, terserah kau saja Nona. Tapi setidaknya kau mengikat kontrak dulu dengannya. Takutnya ada seseorang yang tau keberadaan binatang suci ini dan akan mengikat kontrak secara paksa.” Usul Kakek Mo yang membuat dayang Wen memekik senang.


“Permaisuri... Usulan Tuan ini patut di pertimbangkan. Lagi pula, kasihan Siu jika kita melepasnya kembali apalagi ia sangatlah kecil.” Ujar dayang Wen sambil mengelus kepala Siu.


AAUUU...


Auman kecil Siu seakan menyetujui perkataan dayang Wen. Tetapi mengapa Siu tak berbicara saja? Bukankah ia binatang suci seperti yang di jelaskan oleh Kakek Mo? Haishh... Mengapa ia malah mempercayai sesuatu yang mustahil seperti ini.


***


Gelapnya malam menghampiri dinasti Tang. Terdengar kericuhan kecil di kediaman Flo. Ada dayang Wen yang nampak terisak di pelukan dayang Wan, sang kakak.


Itu terjadi lantaran petang tadi, Zen datang dan memberi tau jika Kaisar Feng akan menunggunya di aula istana saat malam tiba.


Tak perlu memikirkan penyebab ia bisa di panggil. Sesuai dugaannya beberapa waktu lalu juga penjelasan Kakek Mo tadi pagi. Rumor hantu sialan!!!


Hmm... Jika di dunia nyata pun orang yang menyebarkan rumor seperti ini akan mendapat hukuman setimpal. Tapi.. Jika Kaisar Feng yang bersuara --- Harap bersabar Flo, kami para readers dan bang sky sendiri selalu mendoakan keselamatanmu (╥﹏╥)


“Sudahlah Wen'er, aku hanya akan bertemu dengan Kaisar. Mengapa kau menangis tersedu-sedu seperti ini hm?” Tanya Flo berusaha menenangkan dayang Wen.


Tapi dalam lubuk hatinya terdalam, ia sudah berusaha mati-matian menekan rasa takutnya saat menghadapi Kaisar nanti. Ia memang mengaku bersalah, tetapi itu juga karena insiden yang diluar perkiraan Flo.


“Tenanglah Wen!! Kau disini saja dengan Siu juga dayang Fuo. Biar kakak yang akan menemani permaisuri.” Usul dayang Wan dan di tolak dengan tegas oleh Flo.


“Tidak dayang Wan, kau tetap disini juga dan tak ada siapapun yang menemaniku! Aku ucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua karena sampai sekarang pun masih mendukung permaisuri tak berguna ini. Tetapi ini adalah kesalahanku dan aku sendiri yang akan menanggungnya.” Jelas Flo dengan tersenyum sendu.


Mendengar perkataan permaisuri Ling membuat dayang Wan juga dayang Fuo menangis seperti dayang Wen. Lihatlah!! Betapa baiknya permaisuri mereka.


Apakah masih ada seorang permaisuri yang masih memikirkan keselamatan sang bawahan? Banyak beberapa putri pejabat yang melemparkan kesalahan mereka kepada sang dayang. Sungguh kejam...


“Tidak permaisuri!! Anda bukanlah permaisuri tak berguna. Hanya orang buta mata juga hati yang tak bisa melihat ketulusan permaisuri.” Ucap dayang Fuo.


“Baiklah! Sudah tak ada waktu. Pria menyebalkan itu pasti akan semakin marah jika aku datang terlambat. Kalian tak perlu menungguku dan segeralah tidur.”


“Tidak permaisuri!! Jika tidak diijinkan menemani permiasuri setidaknya biarkan kami menunggu kepulangan permaisuri. Kami memaksa!!” Tegas dayang Wan diangguki dayang Fuo.


Mau tak mau Flo hanya mengangguk singkat sembari tersenyum. Betapa beruntungnya permaisuri Ling terdahulu memiliki dayang setia seperti mereka.


Flo pun segera pergi menuju aula dengan menggunakan hanfu yang sama seperti tempo hari. Lagi pula ia hanya memiliki sedikit hanfu dengan warna yang polos juga sederhana. Tak ada niatan memikirkan penampilan jika masih berada dalam naungan Kaisar biadab itu.


Di perjalanan, Flo lumayan memelankan langkahnya sambil menatap kosong ke arah depan. Flo takut, sungguh!! Ia takut jika malam ini adalah malam terakhirnya berada di dimensi ini.


Jujur ia belum bertemu dengan kedua orang tua permaisuri Ling yang secara tak langsung adalah orang tua barunya. Di dunia sebelumnya ia bahkan tak pernah bertemu lgi dengan kedua orang tuanya setelah berumur 6 tahun dikarenakan alasan yang menurut Flo bukan kesalahannya.


‘Ayah.. Ibu.. Bukan keinginanku ingin terlahir di dunia sebagai anak perempuan. Tetapi mengapa kalian malah mengasingkan diriku? Aku merindukan kalian Sungguh!!! Melihat teman-temanku mendapat kasih sayang lebih dari kedua orang tuanya, jujur membuatku iri. Beruntungnya ada Nenek yang bisa memberiku kasih sayang itu... Meskipun kalian bersikap demikian, aku tak dapat memungkiri jika sangat berterima kasih karena melahirkan diriku.‘ Batin Flo berusaha menahan air matanya.


Tetapi tiba-tiba...


...SEE YOU NEXT...