
PART SPESIAL
Beberapa bulan selanjutnya..
Jakarta, 23.55 WIB.
Alan berdiri di sisi ranjang menghadap ke arah istrinya yang sedang tertidur pulas dengan posisi miringnya. Rasanya begitu rindu sekali pada Bella karna sudah hampir dua minggu dirinya tidak bertemu Bella karna urusan pekerjaan.
Sudah 2 bulan belakangan ini Bella tinggal di rumah orang tuanya Alan karna mengingat pekerjaan Alan yang jarang pulang ke rumah membuatnya khawatir kalau meninggalkan Bella tinggal di rumah mereka sendirian saat sedang hamil tua seperti ini.
Tangan kanan Alan memegang sebuah kue ulang tahun berukuran sedang yang bertuliskan 'Happy Birthday my Wife' dengan lilin yang menyala. Tepat pukul 23.59 wib nanti dirinya akan membangunkan istrinya itu dan memberinya kejutan karna besok adalah hari ulang tahun istrinya.
Bella tidak tahu kalau sebenarnya Alan sudah pulang sejak sore tadi. Karna Alan memberitahu Bella dirinya akan pulang besok. Sengaja Alan mengerjai istrinya itu untuk menyiapkan kejutan ini.
Alan melirik kearah jam di pergelangan tangannya, dilihatnya kini jam sudah menunjukkan pukul 23.59 Wib. Langsung saja ia membangunkan istrinya itu, walau sebenarnya tidak tega karna dilihatnya dia begitu pulas.
"Sayang.. bangun.." ucap Alan membangunkan istrinya sambil menepuk pelan lengannya.
"Sayang.." ucap Alan lagi.
Bella menggeliat saat merasa ada seseorang yang berusaha membangunkan tidurnya.
"Sayang.. bangun dong.."
Masih dengan setengah kesadarannya Bella mengubah posisinya menjadi duduk, padahal kedua matanya masih terpejam. Melihat itu Alan menahan tawanya.
Alan kembali melihat ke arah jam, dilihatnya kini sudah pukul 00.00 wib.
"Sayang.. buka matanya." perintah Alan.
Bella perlahan-lahan membuka kedua matanya sambil berbicara, "I..ya ada apa s---"
"Selamat ulang tahun istri ku.." ucap Alan dengan senyuman mengembang.
Mendengar itu Bella langsung terkejut, kedua matanya terbuka lebar. Kini seketika kesadarannya sudah terkumpul semua.
Kemudian Alan mengecup keningnya dengan lembut.
'Cup'
Bella melihat di hadapannya ada Alan yang sedang memegang sebuah kue berukuran sedang dengan senyuman mengembang. Ia masih tidak percaya ini.
"Kamu kok disini?!" tanya Bella masih tidak percaya
"Surprise."
Bella masih speechless ditempatnya. Tangan kanannya lalu mencubit pelan pipinya sendiri untuk memastikan bahwa dirinya sudah bangun dan ini bukan mimpi.
"Ayo di tiup lilinnya." perintah Alan.
Bella pun meniup lilin berangka 19 itu. Kemudian langsung memeluk Alan dengan erat.
"I miss you.." ucap Bella
Tangan kanan Alan masih memegang kue, sedangkan tangan kirinya mendekap tubuh Bella. "I miss you too, my wife." balasnya kemudian mengecup lembut kening Bella lagi.
Bella melepas pelukannya. Ia masih dengan posisi duduknya di sisi ranjang. Alan meletakkan kuenya di atas nakas, Sesudah itu ia berjongkok tepat di hadapan istrinya untuk mensejajarkan posisinya dengan perut Bella.
Alan menaikkan sedikit pakaian yang dikenakan Bella lalu mengecup cukup lama di bagian perutnya.
'Cup...'
Hati Bella berdesir ketika Alan mengecup perutnya yang sudah membesar itu.
"Hi my love, kangen nggak? Daddy udah pulang nih." ucap Alan seakan sedang berbicara pada calon bayi yang ada di perut Bella.
"Kangen bangettttt...Mommy juga kangen banget sama daddy." balas Bella menirukan suara anak kecil.
Mendengar itu Alan terkekeh pelan dan langsung mendongakkan kepalanya menatap istrinya. Bella tersenyum menatap Alan.
Alan membenarkan kembali pakaian Bella. Kemudian bangkit dari posisinya. Kini ia berdiri menghadap istrinya dan menatapnya.
Bella mendongakkan kepalanya sedikit karna Alan berdiri dihadapannya. "Apa?" tanya Bella.
Alan segera mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna silver dari saku celananya. Dibukanya kotak beludru tersebut di hadapan Bella.
"Hadiah untukmu.." ucap Alan sambil mengeluarkan isinya.
Bella lagi-lagi dibuat speechless saat Alan mengeluarkan sebuah kalung yang begitu indah dari kotak kecil tersebut.
Tangan Alan kemudian menarik tangan Bella untuk mengajaknya berdiri. Bella pun menurut kini ia berdiri dihadapan Alan.
Alan mengubah posisinya menjadi di belakang Bella. Tangannya mulai memakaikan kalung tersebut di leher Bella.
"Perfect." gumam Alan setelah selesai memakaikan kalungnya.
Bella memegang liontin kalung berbentuk inisial AB itu. Alan kembali berdiri dihadapan Bella dan menatapnya, tangannya menyelipkan poni rambut Bella kebelakang telinga.
"Suka?" tanya Alan
Bella mengganguk.
"AB adalah awalan nama kita berdua. Kalung itu sengaja aku pesan untuk hadiah ulang tahunmu, sayang."
"Terima kasih, Suami ku." ucap Bella kemudian memeluk tubuh Alan dengan erat lagi.
Alan membalas pelukannya.
"Kamu segalanya untuk ku dan Kamu milikku, Bella Elyana." ucap Alan kemudian mengecup puncak kepala Bella dengan lembut.
Kemudian tiba-tiba saja perut Bella terasa begitu mulas. Ia pun meringis pelan. "Awshhh.. aduh.."
Mendengar itu Alan langsung panik. Ia melihat Bella meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Sayang, ada apa???" tanya Alan
Alan terkejut. "Sekarang???!"
Bella mengangguk. "Iya cepetannnnn."
"Cepetan ngapain, Bel? gamungkin aku bantuin kamu lahiran di sini. A-aku bukan dokter."
"Astaghfirullah Alan!! Maksud aku cepetan kamu bawa aku ke rumah sakit!" gereget Bella.
"Oh, God." gumam Alan kemudian langsung membopong tubuh Bella yang berisi itu untuk membawanya keluar, tepatnya ke rumah sakit.
"Ayah! Ibu! bangun! Bella mau melahirkan!" teriak Alan sambil menuruni tangga rumahnya dengan langkah cepat.
Entahlah Ayah dan Ibunya itu mendengar atau tidak dari kamar mereka. Alan langsung mendudukkan Bella di kursi penumpang depan dan memakaikannya sabuk pengaman.
Bella masih meringis kesakitan menahan rasa mulasnya itu.
Tanpa pikir panjang Alan langsung mengendarai mobilnya. Beruntung jalanan dini hari begitu sepi. Tangan kiri Alan menggenggam erat tangan istrinya itu seakan sedang memberinya kekuatan. Sedangkan tangan kanannya memegang stir mobil.
------
Setibanya di Rumah Sakit, Alan langsung memberhentikan mobilnya tepat di depan ruang UGD. Beberapa petugas RS langsung membantu Bella untuk berbaring diatas ranjang dan membawanya masuk ke dalam.
Melihat Bella meringis kesakitan, Alan jadi begitu khawatir padanya.
"Sabar ya sayang.." ucap Alan kemudian mengecup singkat kening Bella.
Alan mengelus-elus puncak kepala Bella dengan lembut. Keringat pun mulai bercucuran di dahi Bella.
Seorang dokter perempuan kemudian datang memasuki ruangan untuk memeriksa Bella.
"Dok cepetan, Istri saya mau lahiran." ujar Alan tidak sabaran.
"Iya sebentar ya mas, ini di cek dulu sudah di mana posisi bayinya." balas sang dokter.
Dokter pun mulai mengecek keadaan posisi bayinya. Selesai mengecek, Ia langsung menginstruksi dua orang perawat untuk memindahkan pasien ke ruang bersalin.
"Sudah pembukaan ke 7, Pasien akan segera melahirkan. Kita pindahkan pasien ke ruang bersalin terlebih dahulu." ujar sang dokter.
Bella yang masih berbaring itu pun langsung di pindahkan ke ruang bersalin. Alan terus mengikuti kemana Bella pergi. Tangannya masih menggenggam kuat tangan Bella.
Bella menatap Alan dengan tatapan lesunya.
"Kuat ya sayang.." ucap Alan.
Setibanya di ruang bersalin, Perawat sibuk mempersiapkan peralatannya, sedangkan dokter kembali mengecek kondisi.
"Tarik nafas ya.. lalu hembuskan perlahan." ujar sang dokter memberitahu Bella.
Bella hanya mengangguk mengiyakan dan mulai mengikuti instruksi dokter.
"Di bawa Rilex aja gausah tegang."
Bella menggigit bawah bibirnya dengan keringat membasahi dahi. Gimana bisa ia tidak tegang? Karna ini adalah pertama kalinya ia akan melahirkan.
"Aku di sini sayang, kamu pasti bisa, kamu kuat." ujar Alan memberi semangat.
Kemudian Bella di instruksikan dokter untuk mengejan karna kepala bayi sudah hampir terlihat. Bella pun mengejan sekuat tenaganya. Tangan Alan ia genggam begitu kuat sebagai pegangan.
Kini sudah kurang lebih 2 jam di lewati. Suara tangisan bayi yang baru terlahir ke dunia itu terdengar. Mendengar itu Alan langsung mengucapkan rasa syukurnya, sedangkan Bella menghela nafasnya lega. Bella begitu lemas saat ini karna seluruh tenaganya sudah terkuras.
"Selamat ya, bayinya laki-laki." ujar sang dokter sambil menidurkan bayinya diatas dada Bella.
Bella mengembangkan senyumnya. Kini bayinya sudah berbaring di atas dadanya.
"Hello, My little boy." sapa Bella
"Dia menggemaskan sekali, Hidung serta matanya mirip dengan ku." ujar Alan.
"Tampan kan?"
Alan mengangguk. "Ya jelas sekali, Siapa dulu daddynya?" pedenya sambilnya menaik turunkan alisnya.
Mendengar itu Bella terkekeh pelan. Alan kemudian mencium lembut tangan mungil bayinya. Sesudah itu beralih mengecup punggung tangan Bella.
"Terima kasih sayang, kamu sudah melahirkannya. Hari ini adalah hari bahagianya aku, kamu, dan anak kita. Dia lahir di tanggal yang sama dengan mu." ucap Alan.
Ya, tepat sekali bayi mereka lahir di tanggal yang sama dengan tanggal lahir Bella.
"Terima kasih juga kamu udah ada di sisi aku terus sampai saat ini, Al." balas Bella.
Alan tersenyum. Dirinya benar-benar bahagia sekali saat ini. Terima kasih Tuhan untuk pendamping hidup yang Engkau titipkan.
Kita akan banyak mendapatkan kebahagiaan jika kita bisa mensyukuri segala yang kita dapatkan.
.
.
.
.
SELESAI
vote, komentar, dan sarannya jangan lupa yaa😊
Author mau tanya dong, kalo author buat cerita baru lagi GENREnya mending apa ya? Teenfiction atau Romance? kalian lebih suka cerita yang gimana? ada saran? komentar yaa.. author baca satu-satu kok:)
Makasihhhhh semuanya pembaca setia cerita ini💕 Ditunggu versi novelnya yaaaa😉 jgn lupa follow IG @wulhand.story untuk infonya.
Seee you.. sampai nanti di cerita baru👋
Salam, Alan dan Bella