THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
33



33.NEKAT


Malam harinya, Bella sudah mengenakan pakaian tidurnya, ia hendak tidur tetapi entah kenapa rasanya berat sekali untuk memejamkan matanya itu. Pikirannya terus tertuju pada Alan. Apa yang sedang di lakukan suaminya itu sekarang?


Diliriknya ke arah jam dinding, Jam baru menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Belum ada 24 jam dirinya berpisah dengan Alan, tetapi rasa rindunya itu sudah muncul.


Sejak siang tadi Alan belum membalas pesannya. Dia juga belum mengabarinya sama sekali, ini yang membuatnya tidak bisa tidur. Sedari tadi Bella hanya bergeser ke kanan-kiri mencari posisi tidur yang enak, tetapi sama saja, matanya ini sulit sekali untuk diajak kerjasama, padahal dirinya sudah mengantuk.


Bella kemudian merubah posisinya menjadi duduk. Ia menghela nafasnya pelan, Lagi-lagi matanya melirik kearah jam dinding. Kenapa sudah jam segini Alan belum juga mengabarinya?


Tak lama kemudian ponselnya berdering, Buru-buru Bella meraih ponselnya di atas nakas. Bella langsung tersenyum saat melihat siapa yang menelfon, tanpa pikir panjang iapun langsung menjawab telfon.


"Bel?"


"Hmmm.." Bella hanya menjawab dengan gumaman, Jujur dirinya sedikit kesal dengan Alan saat ini.


"Video call ya?"


"Hah?"


Saat itu juga Bella langsung mendapat panggilan video dari Alan. Buru-buru ia berjalan kearah meja riasnya untuk merapihkan penampilannya yang sedikit berantakan. Sesudah itu ia baru menjawab panggilan tersebut.


"Hey, kenapa belum tidur?" tanya Alan saat melihat wajah isterinya di layar ponsel.


"Belum ngantuk." jawabnya sedikit jutek.


Kini Bella bisa melihat wajah suaminya di layar ponsel, dia masih mengenakan seragam khas pilotnya dan ketampanannya itu tidak menurun sedikit pun.


"Tidur gih," perintah Alan


"Dibilang belum ngantuk!"


Alan terkekeh pelan melihat raut wajah serta nada bicara Bella yang sepertinya sedang merajuk.


"Gausah ketawa deh!" omel Bella


"Andai aku di sana sekarang Bel, Pasti kamu udah aku cubit pipinya, abisan gemesin sih kalo lagi ngambek gitu."


"Berisik! Udah deh matiin aja telfonnya!"


Alan kembali terkekeh pelan. "Dengerin dulu ya, cantik. Sekarang aku baru selesai, dari tadi siang belum sempat pegang handphone, jadi belum bisa kabarin kamu." jelasnya.


"Oh."


"Oh, doang???"


"Terus mau apa lagi?!"


"Mau ngomong sama Utun dong."


Bella langsung mengarahkan layar ponselnya tepat di depan perutnya yang baru sedikit membuncit itu.


"Hi, Utun, Baik-baik aja kan? Tolong bujuk Mommy mu dong, bilangin jangan ngambek gitu. Nanti kalau ngambek, cantiknya hilang."


Jujur saja, Bella menahan tawanya mendengar Alan berbicara seperti itu.


"Nanti Papa ajak jalan-jalan kemana pun Utun mau, kalau Utun berhasil bujuk Mommy."


Mendengar itu Bella langsung kembali mengarahkan ponselnya ke wajahnya. "Utun doang nih?" tanyanya


"Jelas sama kamu juga dong." jawab Alan


"Kemana pun? Janji?"


Alan mengangguk mengiyakan. "Janji."


"Oke, sekarang aku udah ga ngambek. Bujukan Utun berhasil."


Alan langsung terkekeh pelan mendengar itu. "Udah makan?" tanyanya


Bella mengangguk. "Udah, kamu?"


"Udah juga."


Bella hanya berOh-ria.


"Ini sudah malam, tidur gih." ujar Alan


"Nanti."


"Nunggu apa?" tanya Alan


"Nunggu kamu." balas Bella sambil melihat di layar ponselnya bahwa Alan kini sedang berada di lift.


Alan terkekeh lagi mendengar itu. "Aku baru sampe di hotel nih,"


"Besok aku mau ke Mal boleh, ya?"


"Sama siapa? Bi Nana?"


"Sendiri." jawab Bella enteng.


"Nggak." larang Alan


Raut wajah Bella seketika berubah lagi. "Ih, kenapa?"


"Kapan-kapan aja, pas aku lagi di rumah."


"Lama, nungguin kamu pulang mah!"


"Sebentar kok,"


"Tapi, aku maunya besok Alan. Bukan kapan-kapan."


Alan tidak merespon, ia hanya bungkam karena sibuk membuka kunci pintu kamar hotelnya.


Bella yang melihat Alan tidak merespon ia pun kembali kesal. Langsung saja ia matikan sambungan telfonnya sepihak.


Bella langsung meletakkan ponselnya asal dan kembali berbaring di atas ranjang, Tangannya lalu menarik selimut hingga batas leher.


"Huh menyebalkan." gumamnya


Bella memaksakan memejamkan kedua matanya, walaupun sebenarnya ia belum bisa tertidur. Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering pertanda ada panggilan masuk. Sudah bisa dipastikan itu ialah panggilan dari Alan.


Bella meraih ponselnya, tanpa pikir panjang iapun menjawab kembali panggilan video dari Alan.


"Kok dimatiin sih?" tanya Alan dari seberang telfon.


"Lagian kamu ngeselin! Aku ngomong malah di kacangin."


"Kan aku udah bilang, Tunggu aku, biar nanti ke Malnya sama aku."


"Kelamaan! Pokoknya besok aku nekat ke sana."


Alan menghela nafasnya melihat sikap keras kepala isterinya itu.


"Janji, Ga lama-lama deh di sana."


Alan terdiam sejenak. "Jangan buat aku khawatir, Bel."


Bella yang mendengar itu ia pun tidak bisa berkata-kata lagi.


"Ini sudah malam, tidur yaa." Ujar Alan lagi


"I-iya."


"Selamat tidur Bella, Selamat tidur Utun." ucap Alan


Bella hanya tersenyum tipis menatap wajah Alan dari layar ponselnya. Dia melambai-lambaikan tangan perpisahan.


"Bye." ucap Bella


"Bye, Good night." balas Alan


Kemudian Bella mematikan sambungan telfonnya dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia pun membenarkan posisi berbaringnya dan kembali memaksakan untuk memejamkan kedua matanya.


"Selamat tidur, Alan." ucapnya dalam hati.


********


Keesokkan harinya, Bella nekat untuk pergi ke Mal seorang diri. Tidak ada orang rumah yang tahu kalau dirinya pergi. Bi Nana sendiri pun yang ada di rumah tidak tahu kalau saat ini dirinya pergi keluar.


Bella menyetir mobilnya sendiri. Dirinya memilih nekad karena begitu bosan seharian hanya di rumah saja, tidak ada aktivitas lain.


Lalu ponselnya yang berada di bangku sebelah berdering, Bella melirik kearah ponselnya yang berdering. Dilihatnya nama Alan tertera di sana.


Bella tidak menghiraukan panggilan itu, ia memilih untuk mengabaikannya. Tetapi ponsel itu terus berdering tanpa henti. Mungkin sudah ada 15 kali panggilan yang dirinya abaikan. Ia pun merasa geram dan memilih untuk menepikan mobilnya sebentar.


Di jawabnya panggilan video dari Alan. Kini Bella melihat Alan dengan seragam khasnya serta rambut yang tertata rapih seperti biasanya. Dia sepertinya saat ini sedang berada di bandara luar kota.


"Nekat?" tanya Alan dari seberang telfon saat melihat Bella yang sedang berada di dalam mobil.


Bella hanya diam.


"Sendiri?" tanya Alan lagi


"Iya."


"Aku telfon Ibu ya, biar nyusul kamu kesana."


"Gausah. Aku lagi pengen sendirian, Alan."


"Kamu yakin?"


Bella mengangguk.


"Jangan terlalu cape ya, Bel. Kasihan Utunnya."


"Iya iya."


"Ini kamu udah di mana?"


"Masih di jalan, Paling 10 menit lagi sampe."


"Pulangnya jam?"


Bella mengangkat kedua bahunya tidak tahu.


"Selesai aku landing nanti, kamu harus udah di rumah ya."


"Jam berapa emang kamu landing?"


"Mungkin jam 3 kalau cuacanya bagus."


Bella melihat jam yang tertera di layar ponselnya. "Yakali aku di Mal cuma 2 jam??"


Alan mendengar itu terkekeh pelan. "Eitsss, nurut atau engga sama sekali, nih?"


Bella memutar kedua bola matanya malas. Sifat Alan dari dulu memang tidak peernah berubah. "Iya deh iya."


"Oke, bagus."


"Sana kamu kerja!"


"Iya. Kamu hati-hati di jalan ya, Bye."


"Bye." Sambungan telfon pun berakhir.


--------


Setibanya di Mal, Bella sibuk memilih-milih baju yang di rasanya cocok untuk dirinya. Rasanya sudah lama sekali tidak belanja seperti ini. Mata dan kedua tangannya sedaritadi begitu sibuk memilih-milih. Belanja kali ini dirinya begitu terburu-buru karena Alan memberinya waktu hanya dua jam.


Bayangkan saja, bagaimana bisa seorang Bella Elyana ke Mal hanya dua jam? Menurutnya itu adalah hal yang konyol.


Saat hendak membayar pakaian yang di pilihnya tadi, tiba-tiba saja ia baru ingat kalau ternyata dompet serta tasnya tertinggal di dalam mobil.


Bella menepuk dahinya pelan. "Duh, kenapa bisa lupa gini sih." batinnya menyalahkan diri sendiri.


"Totalnya 450.000 rupiah, Mba." ujar sang kasir tersebut.


Mendengar itu Bella mengigit bawah bibirnya. "Maaf sebelumnya Mba, bisa di batalin dulu ngga? Saya lupa, dompetnya ketinggalan di mobil." ujarnya takut-takut.


"Maaf mba, tidak bisa di batalkan, soalnya sudah di scan." ujar sang kasir.


Bella merogoh saku celananya yang terdapat ponsel. "Duh gimna ya Mba, Kalo ngga hape saya deh jadi jaminannya dulu. Nanti saya balik lagi kesini untuk bayar. Saya mau ambil dompet dulu." kata Bella sambil memberikan ponselnya kepada sang kasir.


"Tanda pengenalnya di bawa, ga?"


"Nah itu dia, ada di dompet mba."


"Pakai uang saya dulu aja, mba. Berapa totalnya?" ujar seseorang di belakang Bella.


"450.000" jawab sang kasir.


Bella terbelalak saat melihat siapa yang menawarkan diri untuk menolongnya saat ini. "Kamu?" tunjuknya kepada seorang wanita yang kemarin baru ia temui di bandara. Sayangnya, ia lupa siapa namanya.


Wanita itu tersenyum menatap Bella. Sedangkan Bella masih tidak percaya bisa bertemu wanita itu kembali dan kini dia menolongnya.


"Nih mba, Terimakasih ya." ujar sang kasir sambil memberikan plastik berisi pakaian yang di beli Bella tadi.


Bella menerima plastik tersebut dan langsung bergeser posisi. Kini gantian giliran wanita yang menolongnya tadi membayar di kasir, karna dia juga membeli sesuatu.


Bella sengaja berdiri menunggu wanita itu selesai. Kini dilihatnya wanita itu berjalan menghampirinya sambil menenteng sebuah plastik yang sama dengannya.


Bella tersenyum kikuk. Ah, iya dirinya baru ingat siapa namanya.


"Uang kamu langsung ku ganti, ayo kita ke basement." ajak Bella


"Santai aja, hehe. Kamu sendirian ke sini?"


Bella mengangguk mengiyakan. "Kamu juga sendiri?"


Najwa mengangguk. "Makan dulu, yuk?"


"Tapi kan dompet ku ketinggalan di mobil."


"Pakai uang ku dulu aja gapapa, nanti kamu bisa ganti kalau udah mau pulang."


"Beneran gapapa?"


Najwa mengangguk.


"Yaudah yuk."


Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju tempat makan, tepat sekali saat ini Bella merasa perutnya sedikit lapar, sepertinya si Utun sudah meminta jatah.


Setibanya di tempat makan, Bella dan Najwa langsung memesan makanan sesuai yang mereka inginkan. Sambil menunggu makanan datang, Bella bertanya-tanya kepada Najwa, tentang kesehariannya.


"Duh gemes ya denger cerita kamu sama suami kamu, haha." celetuk Najwa di sela-sela obrolannya.


"Haha iya, dia itu aneh banget. Yakali aku di Mal cuma dua jam, haha."


"Tapi sekarang udah dua jam belum?" tanya Najwa


Bella melirik kearah jam di pergelangan tangannya. "Udah lewat 10 menit malah, hahaha."


"Ih gimana dong, nanti kamu kena omel nggak?"


"Itu sih pasti kayaknya. Tapi nanti aku jelasin ke dia, kalau aku dapet teman baru. mungkin dia batesin aku 2 jam karena dia takut aku sendirian kesini."


"Yaudah kabarin aja sekarang."


"Nanti deh, kayaknya dia baru selesai Landing."


"Gimana rasanya punya suami seorang pilot?" tanya Najwa


Mendengar itu Bella mengigit bawah bibirnya. "Maaf sebelumnya Mba, bisa di batalin dulu ngga? Saya lupa, dompetnya ketinggalan di mobil." ujarnya takut-takut.


"Maaf mba, tidak bisa di batalkan, soalnya sudah di scan." ujar sang kasir.


Bella merogoh saku celananya yang terdapat ponsel. "Duh gimna ya Mba, Kalo ngga hape saya deh jadi jaminannya dulu. Nanti saya balik lagi kesini untuk bayar. Saya mau ambil dompet dulu." kata Bella sambil memberikan ponselnya kepada sang kasir.


"Tanda pengenalnya di bawa, ga?"


"Nah itu dia, ada di dompet mba."


"Pakai uang saya dulu aja, mba. Berapa totalnya?" ujar seseorang di belakang Bella.


"450.000" jawab sang kasir.


Bella terbelalak saat melihat siapa yang menawarkan diri untuk menolongnya saat ini. "Kamu?" tunjuknya kepada seorang wanita yang kemarin baru ia temui di bandara. Sayangnya, ia lupa siapa namanya.


Wanita itu tersenyum menatap Bella. Sedangkan Bella masih tidak percaya bisa bertemu wanita itu kembali dan kini dia menolongnya.


"Nih mba, Terimakasih ya." ujar sang kasir sambil memberikan plastik berisi pakaian yang di beli Bella tadi.


Bella menerima plastik tersebut dan langsung bergeser posisi. Kini gantian giliran wanita yang menolongnya tadi membayar di kasir, karna dia juga membeli sesuatu.


Bella sengaja berdiri menunggu wanita itu selesai. Kini dilihatnya wanita itu berjalan menghampirinya sambil menenteng sebuah plastik yang sama dengannya.


Bella tersenyum kikuk. Ah, iya dirinya baru ingat siapa namanya.


"Uang kamu langsung ku ganti, ayo kita ke basement." ajak Bella


"Santai aja, hehe. Kamu sendirian ke sini?"


Bella mengangguk mengiyakan. "Kamu juga sendiri?"


Najwa mengangguk. "Makan dulu, yuk?"


"Tapi kan dompet ku ketinggalan di mobil."


"Pakai uang ku dulu aja gapapa, nanti kamu bisa ganti kalau udah mau pulang."


"Beneran gapapa?"


Najwa mengangguk.


"Yaudah yuk."


Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju tempat makan, tepat sekali saat ini Bella merasa perutnya sedikit lapar, sepertinya si Utun sudah meminta jatah.


Setibanya di tempat makan, Bella dan Najwa langsung memesan makanan sesuai yang mereka inginkan. Sambil menunggu makanan datang, Bella bertanya-tanya kepada Najwa, tentang kesehariannya.


"Duh gemes ya denger cerita kamu sama suami kamu, haha." celetuk Najwa di sela-sela obrolannya.


"Haha iya, dia itu aneh banget. Yakali aku di Mal cuma dua jam, haha."


"Tapi sekarang udah dua jam belum?" tanya Najwa


Bella melirik kearah jam di pergelangan tangannya. "Udah lewat 10 menit malah, hahaha."


"Ih gimana dong, nanti kamu kena omel nggak?"


"Itu sih pasti kayaknya. Tapi nanti aku jelasin ke dia, kalau aku dapet teman baru. mungkin dia batesin aku 2 jam karena dia takut aku sendirian kesini."


"Yaudah kabarin aja sekarang."


"Nanti deh, kayaknya dia baru selesai Landing."


"Gimana rasanya punya suami seorang pilot?" tanya Najwa


"Hmm gimana ya, Ditinggal terus, nggak enak."


Najwa mendengar itu terkekeh. "Iya itu risikonya jadi istri pilot."


Bella mengangguk mengiyakan. "Sekarang gantian dong, ceritain gimana kisah kamu sama suami kamu?"


Najwa tertawa. "Haha, aku belum married."


"Upss.. seriusan?"


Najwa mengangguk. "Aku kalah cepat sama kamu."


"Berapa umur kamu?"


"25."


"Terus, Pacar ada?" tanya Bella penasaran.


Najwa menggeleng. "Terakhir putus dua tahun yang lalu."


"Ya ampun, cewek secantik kamu belum punya pacar?? Ini aneh sumpah. Kamu mau cowok yang kayak gimana? biar aku cariin."


"Hahaha ga perlu, Aku udah dapet sasarannya sendiri."


"Oh, kamu udah ngincer seseorang?"


Najwa mengangguk. "Yup, dan itu mantan ku dua tahun yang lalu."


"Oh, jadi ceritanya kamu belum moveon sama mantan?"


Najwa mengangguk pelan.


Kemudian ponsel Bella berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Sudah bisa di tebak bahwa itu ialah panggilan dari Alan.


"Nah, ini dia telfon." ujar Bella


"Suami kamu?" tanya Najwa


"Iya."


"Yaudah angkat."


Bella langsung menjawab panggilan videonya. Dilihatnya kini tertera wajah suaminya di layar ponsel.


"Tuh kan belum pulang," ujar Alan


Mendengar itu Bella terkikik geli. "Aku lagi mau makan. Ini lagi nunggu makanannya dateng."


"Kenapa ga makan di rumah aja?"


"Aku di sini sama teman baru ku,"


"Teman baru?"


Bella mengangguk. "Eh, temen kamu ada yang jomblo gak? kasihan dia belum bisa move on dari mantannya, haha." candanya


Najwa yang mendengar itu hanya tersenyum getir.


Kemudian pelayan datang membawakan semua pesanan yang di pesannya itu. Diletakkannya makanan itu di atas meja. Bella menatap makanan-makanan yang sudah tersaji di atas meja dengan tatapan laparnya.


"Udah jangan di liatin aja, cepet di makan." ujar Alan dari seberang telfon


"Iya ini mau makan."


"Yaudah matiin dulu telfonnya. Tapi selesai makan langsung pulang ya? Janji?"


Bella mengangguk. "Iya, Janji."


"Jangan keluyuran kemana-mana lagi."


"Iya."


"Kabarin kalau udah sampe di rumah."


"Iya Alan iya, Astaga."


Alan terkekeh pelan. "Yaudah bye, salam buat Utun."


"Bye."


Kemudian sambungan telfon berakhir. Bella meletakkan ponselnya di atas meja.


"Siapa Utun?" tanya Najwa


"Nih," tunjuk Bella ke arah perutnya sendiri.


Najwa tertawa pelan. "Dia nyebutnya Utun?"


Bella mengangguk sambil menyendok makanannya. "Iya, karena kita belum tau apa jenis kelaminnya, jadi dia panggil Utun."


Najwa hanya menggelengkan kepalanya dan lanjut memakan makanannya.


-------


Selesai makan, Bella memutuskan untuk langsung pulang ke rumah dan tidak pergi kemana-mana lagi. Dirinya takut menjadi isteri yang durhaka nantinya kalau tidak menuruti kata suami sendiri.


Bella masih bersama teman barunya, Najwa. Mereka berjalan beriringan keluar dari tempat makan hendak menuju basement. Hari ini Mal tampak terlihat tidak begitu ramai, karena ini bukan weekday.


"Eskalator atau lift nih?" tanya Bella pada Najwa.


"Eskalator aja." jawab Najwa


Bella mengangguk mengiyakan. Mereka pun mulai berjalan mendekati eskalator turun. Saat sudah mendekati eskalator, tiba-tiba saja Bella merasa ada seseorang yang sengaja mendorongnya begitu saja.


Bella pun jatuh tergelinding di eskalator dan kini posisinya berakhir dengan tengkurap. Ia merasa seluruh badannya terasa sakit dan nyeri terutama pada bagian perutnya.


Sedetik sebelum Bella kehilangan kesadarannya, Ia merasa ada darah segar keluar dari keningnya.


"Alan.." ucapnya pelan, setelah itu ia semuanya gelap.


Bella tidak lagi melihat dan merasakan apapun setelahnya.


.


.


.


.


TBC


VOTE DAN KOMENTARNYA JANGAN LUPA GAISSS HEHEHE😊 SUPAYA AUTHORNYA SEMANGAT NULIS💪👀