THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
46



46.EMOSI


Alan menatap Justin dengan tatapan dinginnya, kedua tangannya sudah mengepal kuat saat ini. Entah kenapa jika melihat wajah Justin emosinya begitu susah untuk dikontrol.


"Lala.." ucap Justin.


"Justin.." ucap Bella.


Alan menoleh kearah Bella yang masih diam terpaku di posisinya. Apa setelah ini Bella akan meninggalkannya lagi?


"Aku perlu bicara sama kamu, La. Kemarin saat di rumah sakit kamu pergi gitu aja, kita belum sempet bicara berdua." Kata Justin


Haruskah Bella memberi Justin kesempatan untuk berbicara? Jika iya, lalu bagaimana dengan Alan sekarang?


Bella kemudian melirik kearah tangan Alan yang sudah mengepal kuat, ia tidak mau kejadian kemarin malam terulang.


Bella pun menghela nafasnya pelan. Ia berjalan mendekat kearah Alan dan berdiri di sampingnya.


"Ada apa lagi, Just?" Tanya Bella.


Kedua mata Justin kini tertuju pada perut rata Bella.


"Dimana anak kita, La?" Tanya Justin.


Duarrrrrrrrrr... mendengar pertanyaan dari Justin barusan seketika membuat Bella kembali teringat dengan janinnya yang tak terselamatkan itu.


"Kemana aja selama ini? Baru tanya itu sekarang?!" Kata Alan mulai emosi. Kedua tangannya mengepal kuat saat ini.


Bella menatap kearah Alan. "Al.." ucapnya pelan sambil mengelus-ngelus tangan Alan untuk menenangkannya.


Alan menoleh kearah Bella yang berdiri disampingnya. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Bella seakan sedang berbicara lewat tatapan matanya itu pada Alan.


"La, aku tanya dimana anak kita?!" Tanya Justin dengan nada sedikit meninggi, hingga membuat Bella tersentak sedikit.


Alan langsung menatap tajam kearah Justin karna sudah berbicara dengan nada tinggi pada Bella.


"Jawab La!!!" Bentak Justin geram.


Oh,****! Batin Alan.


"Kenapa baru sekarang kamu akuin kalo dia itu anak kamu?!" Tanya Bella.


Bella menitikkan airmatanya sedih saat ini, luka lamanya kembali terbuka. Sakit sekali rasanya mengingat kejadian dimana ia harus kehilangan janinnya.


"Hiks.. KENAPA JUSTIN?!!!" tanya Bella balas membentak Justin.


Justin hanya diam.


"Mana bukti kata-kata kamu dulu yang pernah bilang ke aku kalo kamu ngga akan pernah ninggalin aku apapun yang terjadi??? Mana?!" Marah Bella pada Justin.


Alan melihat Bella menitikkan air matanya, dirinya benar-benar tidak bisa melihat Bella menangis, apalagi hanya karna seorang Justin yang brengsek.


"Bell.." Alan benar-benar sudah tidak kuat lagi untuk menahan emosinya saat melihat Bella menangis.


"Inget ya! Waktu itu, kamu ngajak aku bolos sekolah buat ke rumah kamu, terus di sana kamu rayu aku dengan kata-kata manis kamu, kamu sampe bikin aku lupa kalau sebenernya aku masih punya masa depan dan saat itu juga kamu hancurin semua masa depan aku. Berminggu-minggu kemudian, aku hamil terus aku minta pertanggung jawaban dari kamu, tapi apa nyatanya?! Kamu malah pergi ninggalin aku Justin!!! Kamu pergi gitu aja, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun!! Bahkan kamu pun ga akuin kalau aku hamil anak kamu! Kamu tega Justin! Aku menyesal pernah kenal sama kamu, aku menyesal sudah merelakan semuanya untuk kamu!! Dan sekarang, sudah berbulan-bulan lama kamu ninggalin aku kemarin, kamu baru kembali sekarang dan nanya dimana anak kita?! Apa kamu gapunya rasa malu, Just?!!"


"La, sekarang aku kembali. Aku kembali untuk menebus semua rasa bersalah ku saat itu. Aku minta maaf, maaf karna udah ninggalin kamu, maaf karna aku ga nepatin janji, maaf karna aku udah buat kamu menderita selama ini. Aku tulus bicara ini sama kamu La. Aku masih sayang kamu,"


Mendengar itu Bella langsung membuang pandangannya kearah lain. Ini adalah senjata Justin, dia paling pandai dalam mengucapkan kata-kata manis agar membuat hati Bella luluh.


"Janin yang aku kandung saat itu, sekarang udah engga ada, Just." Ucap Bella sedikit bergetar.


"Apa maksud kamu, La?!"


Bella terdiam masih sambil menangis. Ia tidak sanggup menatap wajah Justin saat ini.


"La, maksud kamu apa? Jawab!!" Justin terbawa emosi saat ini.


"DIA UDAH GAADA JUSTIN!!" balas Bella membentak.


Sekujur tubuh Justin seketika kaku. Ia merasa baru saja dilemparkan bom yang begitu dahsyat.


Justin menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Kamu pasti bohong kan?! Pasti kamu nyembunyiin dia dari aku! IYAKAN?!"


"Terserah kamu mau bilang apa." Balas Bella.


"Kenapa bisa La?! Kenapa bisa dia udah ngga ada?!"


Bella hanya diam.


Kemudian pandangan Justin kini menatap kearah Alan. "Pasti ini semua karna dia! Iyakan?!!" Tunjuknya kearah Alan. Kemudian tanpa aba-aba Justin langsung membogem wajah Alan begitu saja.


BUGH!!!


"ALAN!!" Teriak Bella saat Alan mendapat serangan tiba-tiba dari Justin.


Tangan kanan Alan yang mengepal kuat sudah melayang hendak membalas bogeman dari Justin tadi. Tetapi Bella menahannya.


"JANGAN ALAN!!" Teriak Bella menahan Alan.


Alan seketika menghentikan aksinya yang belum tersampaikan. Ia menoleh kearah Bella yang berlinang airmata. Dilihatnya Bella menggelengkan kepalanya seakan memberitahu Alan untuk tidak membalas Justin. Namun emosi Alan benar-benar tidak bisa dikendalikan saat ini. Ia harus benar-benar memberi pelajaran pada Justin.


"Maaf Bel," ucap Alan kemudian langsung membalas Justin dengan bogeman yang lebih keras.


BUGHHHHH!!! Alan membogem wajah Justin.


Justin meringis kesakitan, karna lebam diwajahnya yang kemarin belum membaik dan sekarang sudah mendapat serangan lagi.


Bella kecewa lagi melihat itu. Iapun memilih pergi dari dua pria itu. Dirinya berlari sekuat tenaga dengan sepatu ber-hak tinggi yang dikenakannya.


Alan yang melihat Bella pergi itupun ia langsung mengejarnya. "Bel!" Panggilnya sambil mengejar Bella yang terus berlari.


"****!" Justin mengumpat kesal saat Bella pergi begitu saja dan Alan mengejarnya.


"Bella!" Panggil Alan dan masih berusaha mengejar Bella.


Bella terus berlari dengan berlinang airmata. Namun, tiba-tiba saja kakinya tergelincir begitu saja karna berlari mengenakan hak tinggi.


"Awshhhhhh.." Bella meringis kesakitan saat kakinya tergelincir.


Alan langsung menghampiri Bella, saat melihatnya tergelincir. Posisi Alan kini berjongkok dihadapan Bella.


Tangannya sibuk melepas sepatu ber-hak itu, sesudah di lepaskannya sepasang sepatu tersebut, Alan langsung membuangnya asal, kesembarang arah.


Bella dibuat melongo saat itu juga. "Kok di buang sih sepatunya?!" Kesal Bella.


"Itu cuma nyiksa kamu. Kan aku pernah bilang, jangan pake sepatu ber-hak tinggi itu lagi, Bel." Kata Alan dengan nada datarnya.


Bella memanyunkan bawah bibirnya kesal. Alan kemudian memerintahkan Bella untuk duduk di tempat yang lebih tinggi sedikit agar dia bisa meluruskan kakinya.


Sesudah Bella duduk, Alan langsung meluruskan kaki Bella. Bella hanya diam, menunggu apa perlakuan Alan selanjutnya.


"Mana yang sakit?" Tanya Alan.


"Ini." Bella menunjuk tumit kakinya yang ikut terasa nyeri.


Lalu Alan memijit-mijit pelan tumit kaki Bella kemudian ia mengecup punggung kaki Bella.


'Cup'


"Semoga sakitnya cepet hilang." Ujar Alan.


Bella masih dibuat speechless oleh perlakuan Alan barusan. Apa maksudnya ini?


Alan mendongak dan menatap Bella. "Mana lagi yang sakit?" Tanyanya


"Ini." Tunjuk Bella kearah mata kakinya yang sedikit berdarah.


"Ini harus segera diobatin." Kata Alan saat melihat luka di mata kaki Bella.


Bella hanya diam melihat ekspresi Alan.


"Oh astaga, Tuhan. Kenapa bisa dia memiliki hati yang begitu lembut." Batin Bella memuji.


Alan kemudian bangkit dari posisinya dan Bella mendongakkan kepalanya untuk menatap Alan.


Apa lagi setelah ini? Batin Bella.


Alan menghela nafasnya sebentar. Kemudian tanpa aba-aba langsung menggendong tubuh Bella ala bridal style untuk membawanya kembali ke parkiran mobil. Bella dibuat terkejut lagi dengan perlakuan Alan barusan dan ia pun reflek melingkarkan tangannya di leher Alan.


Bella menatap wajah Alan dengan dekat. Begitu sangat dekat, sehingga membuat jantungnya kembali berdebar dengan cepat. Oh astaga, kenapa setiap kali berdekatan dengan Alan jantungnya terus berdetak tidak normal.


Terdapat lebam sedikit di ujung bibir Alan, ini adalah lebam baru yang didapati Alan karna perkelahian tadi. Bella bisa melihat lebam itu di wajah Alan, haruskah dia seperti ini terus?Mendapat luka hanya karna masalahnya?


Bella benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia terus menatap wajah Alan yang tampak datar itu.


Oh Tuhan.. Ciptaan-Mu begitu sempurna. Batin Bella.


"Iya aku tau, aku ganteng. Ngeliatinnya biasa aja kali, sampe nggak kedip gitu matanya." Sindir Alan sambil berjalan saat merasa Bella terus menatapnya.


Mendengar itu Bella langsung memanyunkan bawah bibirnya kesal. "Ishhh pede banget kamu!"


"Lah itu barusan buktinya."


"Diem kamu! Aku lagi kesel tau!" Omel Bella


"Oh ya?" Tanya Alan lalu menghentikan langkahnya.


"Iya! Kamu juga bikin aku kesel malam ini! Kan aku udah pernah bilang, nyelesain masalah gak harus pake kekerasan gitu! Kenapa sih susah banget dibilanginnya?! Kan kalo begitu ujung-ujungnya kamu kena pukul juga, kamu yang rugi juga, kamu luka juga, kamu ikutan sakit juga, kamu---" ocehan Bella tiba-tiba terhenti.


'Cup' Alan mengecup bibirnya begitu saja dengan singkat. Mungkin hanya sedetik dirasanya.


Bella dibuat melongo atas perlakuan Alan barusan. Ia menatap Alan masih speechless.


"Udah ngomelnya?" Tanya Alan santai.


"Ya tapi kan kamu----"


'Cup' Lagi-lagi Alan mengecup bibirnya singkat.


Jantung Bella semakin dibuat berdetak dengan tidak normal. Perasaannya bercampur aduk saat ini.


Kemudian sebelah tangan Bella langsung menepuk bibir Alan pelan. "Ihhhhhhh Alannnnn! Ini tempat umum, malu tau!" Kesalnya.


"Sepi." Celetuk Alan.


"Ya tapi gak di sini juga!"


"Terus maunya di mana? Di mobil? Atau di rumah?" Goda Alan.


Saat itu juga Bella langsung mencubit kecil pinggang Alan dengan gemas. "Udah cepetannn jalannnn, kaki aku sakit nihhh!" Geregetnya.


"Iya ini mau jalan, aku juga udah nggak kuat nih. Kamu berat banget." Goda Alan lagi.


"Jadi menurut kamu aku gendut gitu?!"


Alan hanya mengangkat kedua bahunya. Melihat itu Bella pun kesal memanyunkan bawah bibirnya lagi.


Alan lalu terkikik geli melihat ekspresi istrinya saat ini. "Tapi sexy kok." Ucap Alan, kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju parkiran.


"Dasarrrrrr Alannnnnnnnnn!!" Teriak Bella kesal.


.


.


.


.


To be continued..


Gimana? Udah puas dengan part ini? Kalau puas jangan lupa Vote dan komentarnya seperti biasa teman-temannn😻 supaya authornya rajin update hehe


Mohon maaf kalau ada penggunaan kata/bahasa yang kurang tepat. Mohon dikoreksi yaaa.. maklum author bukan penulis handal✌️


Thankyouuu❣️ sampai nanti.. dipart selanjutnyaa