THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
35



35.PELUKAN


Posisi Bella kini terduduk di atas ranjang rumah sakit dan Alan masih memeluk tubuh Bella dengan erat. Ia amat sangat takut kehilangan Bella. Kurang lebih tiga jam ia dalam perjalanan dengan keadaan gelisah memikirkan seorang wanita yang kini sedang dalam pelukannya.


"Kamu membuatku khawatir, Bel.." ujar Alan


Bella masih menitikkan airmatanya. Ia menangis dalam pelukan Alan.


Tia yang melihat itu ia pun segera keluar dari ruangan dan membiarkan mereka berdua saja.


"Kamu juga membuatku takut.." ucap Alan lagi.


Bella tidak membalas pelukan Alan, walaupun sejujurnya ia ingin lakukan itu.


Kedua tangan kokoh Alan kemudian memegang kepala Bella lalu mengecupnya berkali-kali seakan itu pertanda bahwa dirinya begitu takut kehilangan Bella.


'Cup'


'Cup'


'Cup'


'Cup'


'Cup'


Berkali-kali ia mengecup puncak kepala Bella dengan lembut. Bella yang di perlakukan seperti itu ia pun hanya bisa menerimanya saja.


Alan kemudian kembali memeluk tubuh Bella. Rasanya berat sekali untuk melepas pelukannya itu.


Air mata semakin deras membanjiri pipi mulus Bella. Hingga Alan baru menyadari kalau kini kaos yang di kenakannya basah karena air mata Bella.


Alan melapas pelukannya dan menatap wajah istrinya itu. Dilihatnya kedua matanya sembab karna menangis dan Wajahnya tampak sedikit pucat.


"Hei, Ada apa? Kenapa nangis?" Tanya Alan saat melihat Bella menangis.


Bella menundukkan kepalanya, ia tidak mampu menatap wajah Alan.


"Seharusnya kamu jauhin aku, Alan." Ucap Bella dengan suara yang bergetar karna sambil menangis.


Alan mengerutkan dahinya tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba Bella berkata seperti itu?


"Aku ada salah sama kamu?" Tanya Alan


Bella menggelengkan kepalanya masih sambil menunduk. "Aku yang ada salah sama kamu. Banyak malah."


Alan menggelengkan kepalanya.


"Ini semua salah aku, Maafkan aku, Alan."ucap Bella


Alan kembali menggelengkan kepalanya. Kemudian tangan kanannya memegang dagu Bella agar ia mau menatapnya.


"Kamu ga ada salah, kamu ga perlu minta maaf. Harusnya aku yang minta maaf." Balas Alan


Bella memberanikan diri menatap kedua manik mata Alan yang terlihat begitu serius. "Kamu terlalu baik untukku." Ujarnya


Alan hanya diam sambil menatap kedua mata Bella yang berkaca-kaca. Lagi-lagi Bella berbicara itu padanya.


"Aku minta maaf sama kamu," ucap Bella kemudian kembali menundukkan kepalanya karna tidak sanggup berlama-lama menatap Alan. "Maaf aku sudah lalai menjaga Utun."


Duarrrrrrr... Seketika sekujur tubuh Alan terasa begitu lemas saat mendengar apa yang di ucapkan Bella barusan.


Bella kemudian menghapus airmatanya. Ia mencoba untuk tegar di hadapan Alan. "Mulai sekarang kamu bebas, kamu bisa tinggalin aku, Alan."


"Apa maksud kamu, Bel?" Tanya Alan dengan nada suara yang sedikit berubah.


"Tinggalkan aku. Mungkin kamu bisa cari wanita lain yang bisa buat kamu bahagia." Jelas Bella


Alan mengerutkan dahinya.


"Mulai sekarang gak ada yang perlu kamu pertanggung jawabkan lagi dalam diri aku, Alan."


Alan benar-benar kecewa mendengar Bella berkata sebagaimana barusan. Apa secara tidak langsung dia ingin hubungan ini berakhir? Dan mereka akan menjalani hidup masing-masing, begitu?


"Aku gak akan ninggalin kamu sampai kapanpun, Bel." Balas Alan


"Tapi tugas kamu udah selesai, Alan. Sekarang udah ga ada yang perlu di pertanggung jawabkan lagi."


Alan menggelengkan kepalanya kemudian menangkup wajah Bella dan menatapnya dengan serius. Bella pun ikut memberanikan diri menatap kedua mata Alan yang begitu serius menatapnya.


"Tanggung jawabku masih ada kamu. Kamu adalah tanggung jawabku sampai maut memisahkan kita nanti." Ucap Alan


Deg.


Seketika Bella dibuat speechless saat mendengar apa yang diucapkan Alan barusan. Jantungnya berdebar dengan cepat lagi. Dirinya tidak salah dengarkan?


Mereka berdua masih menatap satu sama lain seakan sedang berbicara lewat tatapan matanya masing-masing.


Bella kembali menitikkan airmatanya. "Hiks.. maafin aku.." ucapnya kemudian memeluk tubuh Alan.


Alan membalas pelukan dari Bella. Tangan kanannya mengelus-elus punggung Bella dengan lembut. Berkali-kali ia megecup puncak kepala Bella, sebagai pertanda bahwa ia tidak ingin pergi dari Bella.


"InsyaAllah aku ikhlas, Bel. Mungkin ini ujian dari Tuhan, buat kita." Ujar Alan


"Jangan membuat ku khawatir lagi, Bel." Ucap Alan kemudian mengecup puncak kepala Bella dengan lembut.


Bella melepas pelukannya, kemudian menatap wajah Alan. Alan pun ikut menatap wajah Bella, matanya begitu sembab karna habis menangis. Kedua tangan Alan kemudian menghapus sisa-sisa air mata yang membekas di pipi mulus istrinya.


"Kamu harus banyak-banyak istirahat. Sana tidur." Perintah Alan


Bella hanya mengangguk menurut. Ia pun kembali berbaring seperti semula. Alan kemudian menarik selimutnya hingga batas dada.


"Handphone kamu di mana?" Tanya Alan


Bella menggelengkan kepalanya tidak tahu. "Aku nggak tau, Seingatku terakhir sebelum jatuh hpnya ada di saku celana."


"Terakhir kamu sama siapa di sana?"


"Teman baru."


"Dimana teman baru kamu itu sekarang"


Bella mengangkat kedua bahunya tidak tahu.


"Siapa yang bawa kamu ke rumah sakit?" Tanya Alan lagi


"Aku udah nggak sadar saat itu." Jawab Bella tidak tahu.


Alan menghela nafasnya pasrah. Iapun berbalik hendak keluar.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Bella pada Alan


Alan seketika menghentikan langkahnya dan menoleh. "Mau bicara sama Ayah dulu sebentar. Kamu di sini aja, nanti ku panggilkan Ibu untuk jagain kamu."


Bella mengangguk. "Jangan lama-lama ya."


Alan hanya mengangguk kemudian bergegas keluar.


Setibanya di luar, Alan langsung mendapati Ayah, Ibu serta Papanya Bella yang menunggu di depan ruang inap. Raut wajah mereka semua tampak begitu cemas serta khawatir.


Tia langsung bangkit dari posisinya dan berjalan menghampiri anaknya. "Nak--" belum selesai Tia mengucapkan katany. Tetapi Alan sudah memotongnya terlebih dahulu. "Alan sudah tau Bu. Ini memang berat bagi Alan sama Bella, tapi Alan mencoba ikhlas dan tetep kasih semangat untuk Bella." Potongnya seakan sudah tau apa yang akan di katakan Ibunya.


Saat Alan baru tiba di rumah sakit tadi, memang dirinya belum sempat mendengar langsung bagaimana kondisi Bella dari mulut kedua orang tua serta Papanya Bella, karna saat itu dirinya begitu panik dan mengenyahkan panggilan dari Ayah serta Papanya Bella saat sebelum dirinya masuk ke dalam ruangan.


"Alan boleh minta tolong Ibu jagain Bella di dalam ga?" Tanya Alan pada Ibunya


Tia mengangguk mengiyakan. Kemudian segera masuk ke dalam ruang inap Bella.


Kemudian pandangan Alan menatap kearah Ayahnya. "Ayah, bisa ceritakan ke Alan gimana bisa ayah sama ibu mendapat kabar kalau Bella kecelakaan dan ada di sini."


"Duduk dulu sini, Nak." Ujar Arya meminta anaknya itu untuk duduk.


Alan pun menurut dan duduk di samping Ayahnya. Disamping Ayahnya juga ada Papanya Bella.


"Awalnya Ibu mu yang mendapat telfon dari pihak rumah sakit. Mereka mengatakan bahwa ada korban kecelakaan jatuh di eskalator atas nama Bella Elyana di rumah sakit ini. Ibu mu mendengar itu langsung terkejut dan panik. Ia langsung menelfon Ayah untuk segera pulang dari kantor dan bergegas ke rumah sakit."


"Siapa yang membawa Bella ke rumah sakit? Dan gimana bisa pihak rumah sakit tau nomer Ibu?" Tanya Alan


"Ada yang bilang sih, saat Bella di larikan ke rumah sakit ada seorang wanita yang memberitahu nama Bella serta nomer ponsel Ibu mu, wanita itu bilang ke pihak rumah sakit bahwa itu adalah salah satu nomer keluarga dari korban."


"Dari mana wanita itu tahu nama Bella dan nomer ponsel Ibu? Ini tidak masuk akal, Ayah."


Roy hanya menyimak, ia sendiripun tidak tahu bagaimana kronologis ceritanya. Ia hanya mendapat kabar dari Arya bahwa anaknya itu kecelakaan dan tengah berada di ruang unit gawat darurat.


"Sepertinya wanita itu mendapatkan ponsel Bella yang tergeletak dan dia melihat ada nama Ibu mu tertera di layar ponsel panggilan tak terjawab. Karna pada saat itu kebetulan Ibu juga sedang mencoba menelfon Bella, karna Ibumu mendapat kabar dari Bi Nana kalau dia belum kembali ke rumah."


"Alan juga coba hubungin Bella pada saat sebelum ponselnya tidak aktif. Tapi kenapa wanita itu tidak memberitahu nomer ku? Kenapa malah nomer Ibu?"


Arya mengangkat kedua bahunya tidak tahu. "Sudahlah yang terpenting saat ini Bella sudah berada di dekat kita."


"Dimana ponsel Bella? Apa Ayah tau?"


"Ayah udah tanya sama pihak rumah sakit, bahwa mereka tidak menerima barang apapun dari korban, termasuk handphone."


"Jadi, ada kemungkinan ponsel Bella di bawa wanita itu." Kata Alan


"Yasudah biarkan saja."


"Alan merasa ada yang mengganjal tentang ini, Ayah."


"Aku akan mengecek cctvnya dan mencari tahu siapa wanita itu." Ujar Roy membuka suara kemudian bangkit dari posisinya.


.


.


.


.


TBC


Jangan lupaaaa vote dan komentarnya gaissss❣️