
50.EPILOG!!!!!!
Dengan rambut yang masih setengah basah sehabis mandi, Alan langsung bergegas menghampiri istrinya yang masih di dapur. Setibanya di dapur ia mendapati Bella yang masih setia berdiri di sana membelakanginya. Kakinya pun melangkah mendekat kearah Bella.
Tanpa aba-aba Alan langsung memeluk Bella dari belakang begitu saja, sehingga membuat Bella terkejut.
"Astaga, Alan!"
"Aku udah wangi kan."
"Aku lagi masak, Al. Udah sana kamu duduk manis aja."
"Nanti."
"Kalo gini, gimana aku masaknya?!" Kesal Bella karna Alan tak mau melepas pelukannya itu.
Mendengar itu Alan terkekeh pelan. Tetapi tetap saja, ia belum juga mau melepaskan tangannya dari pinggang ramping Bella.
Bella pun mulai geram, ia langsung berbalik badan. Alan melepas pelukannya saat Bella berbalik. Kini mereka jadi saling berhadapan.
Bella sudah siap hendak mengomeli Alan. "Kamu tuh----"
'Cup' ucapannya terhenti karna tiba-tiba Alan menciumnya begitu saja.
Bella melebarkan matanya menatap Alan. Pria di hadapannya ini benar-benar sudah membuatnya menguras tenaga pagi-pagi begini.
"Al---"
'Cup' Lagi-lagi Alan menciumnya.
Bella pun geram. Ia langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya agar Alan tidak lagi menciumnya. "Kamu ini kenapa sih? Kalo kayak gini terus aku kapan selesai masaknya??!" Omel Bella masih sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Melihat itu Alan tertawa. "Hahaha abisan kamu gemesin."
Bella berdecak sebal sambil memutar kedua bola matanya.
"Duduk nggak?!" Perintah Bella
"Nanti, kan kamu belum selesai masaknya."
"Iya sekarang cepetan duduk!"
Alan hanya diam.
"Duduk Alannnnnn!"
"Iya sayang iyaa." Pasrah Alan kemudian berjalan kearah meja makan dan duduk di kursinya.
Melihat itu Bella langsung menjauhkan tangannya dari mulutnya dan berbalik lagi untuk melanjutkan masakkannya yang sempat tertunda.
Alan hanya diam duduk di kursi sambil menopang dagu memperhatikan istrinya yang sedang fokus memasak itu.
-----
Malam harinya, Bella berdiri di balkon kamar sambil menikmati udara di malam hari. Pikirannya kini tertuju pada Alan. Kisah kehidupannya benar-benar tak terduga, awalnya ia membenci Alan tetapi sekarang pria itu malah menjadi suaminya.
Bella mencintai Alan, bahkan dirinya sangat berterimakasih pada Tuhan karna sudah menempatkan Alan di hatinya. Entah bagaimama kehidupannya jika tanpa Alan.
Bella memejamkan kedua matanya sambil menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, sehingga angin malam ini mampu membuatnya merasa tenang.
Tak lupa juga ia bersyukur pada Tuhan karna sudah mempertemukannya dengan Alan. Karna hanya dia sosok pria baik yang mau menerima dirinya apa adanya. Alan memang terlalu baik untuknya, tapi mau bagaimana, memang ini sudah jalannya dan Bella harus melihat kedepan menjalani apa yang sudah seharusnya.
Tak lama kemudian ia merasa ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Reflek ia membuka kedua matanya karna terkejut. Dilihatnya kini tangan kokoh sudah melingkar di pinggangnya. Sudah bisa dipastikan itu ialah tangan Alan.
"Ini udah malem. Masuk yuk." Ajak Alan.
Bella menghela nafasnya pelan, kemudian melepaskan tangan Alan dari pinggangnya lalu berbalik menghadap Alan.
Alan diam menatap Bella begitu juga dengan Bella, ia menatap Alan dengan serius.
"Aku mau tanya sesuatu sama kamu, Al." Ujar Bella membuka suara.
"Apa?"
"Sampai kapan kamu akan mencintaiku?"
"Apa pertanyaan itu perlu ku jawab?"
"Tentu saja sampai maut memisahkan kita berdua."
"Aku tidak sempurna, kenapa kamu mencintai ku, Alan?" Tanya Bella lagi.
Alan terdiam sebentar. Kemudian ia melangkah maju untuk lebih dekat dengan posisi Bella. Tangan kanannya lalu menyelipkan anak rambut Bella ke belakang telinga. Bella hanya diam menatap kedua mata Alan yang menatapnya dengan serius.
"Aku tidak mencari yang sempurna. Yang kucari kebahagiaan. Bersamamu saja aku sudah bahagia, Bel." Kata Alan tulus.
Bella hanya diam menyimak perkataan yang diucapkan Alan barusan.
"Buat apa mencari yang sempurna jika yang sederhana saja bisa membuatku bahagia." Lanjut Alan.
Mendengar itu Bella tersenyum.
"Aku akan menjadi alasan kenapa kamu tersenyum, menemanimu ketika tak ada yang mau bersamamu, dan menghapus setiap tetesan air mata yang kau jatuhkan. Karena aku ada untuk mu." Ujar Alan lagi kemudian mencium kening Bella dengan lembut.
Bella memejamkan kedua matanya saat Alan mencium keningnya dengan lembut. Seketika airmatanya jatuh begitu saja. Bella menangis.
"Hey, kenapa nangis?" Tanya Alan saat melihat Bella menitikkan airmatanya.
Bella menundukkan kepalanya. Alan kemudian menangkup wajah Bella agar mau menatapnya. "Are you okay?" Tanya Alan lagi.
"Hiksss.. Aku jadi ingat Papa." Tangis Bella tanbah jadi. Alan pun langsung menarik Bella kedalam pelukannya. Ia memeluk Bella dengan erat.
"Aku sangat berterima kasih sama Papa kamu, Bel. Karna Papa kamu aku di pertemukan sama kamu dan bisa di sini sama kamu."
Sekelebat Bella jadi teringat masa-masa dimana Papanya itu memperkenalkannya pada Alan dulu. Tanpa sadar ia terkekeh pelan masih sambil menangis.
Bella kemudian melepas pelukan dari Alan. "Dulu kamu tuh Om-om nyebelin tau nggak?!" Ucapnya
Mendengar itu Alan ikut terkekeh pelan. "Terus sekarang?"
"Sama aja! Masih nyebelin!"
Alan masih terkekeh pelan. Kemudian ibu jarinya menghapus air mata yang membasahi pipi Bella. "Ngeselin gini tapi suami kamu, kan?"
Mendengar kata suami barusan Bella seketika merona. Entah kenapa ia masih belum terbiasa dengan kata itu.
"Ini malam terkahir kita ya? Besok kamu udah berangkat kan?" Tanya Bella
Alan mengangguk.
"Jangan berpaling ke wanita lain ya, Al." Ucap Bella
"Kenapa ngomongnya gitu?" Tanya Alan
"Di sana kan banyak pramugari-pramugari cantik. Pasti dari mereka ada yang genit sama kamu."
Alan kemudian kembali menangkup wajah Bella dan menatapnya. "Hatiku sudah terkunci rapat dan di dalamnya cuma ada kamu, Bella Elyana."
"Yaa kali aja gitu selagi aku ngga ada di dekat kamu."
"Aku nggak mungkin selingkuh, kecuali Tuhan nyiptain kamu lebih dari satu." Ucap Alan dengan serius.
Bella menatap kedua manik mata Alan begitu dalam. Kini mereka berdua saling tatap satu sama lain. Bella tidak melihat ada tanda-tanda kebohongan atas apa yang diucapkan Alan barusan. Dia benar-benar tulus mencintainya.
"I love you, My Wife." Ucap Alan
"I love you too, My Husband." Balas Bella
Alan kemudian langsung menarik tengkuk leher Bella dan ******* bibirnya dengan lembut. Bella pun membalasnya.
Tuhan, terima kasih sudah menciptakan Alan.
Bella sangat besyurkur bisa memiliki Alan dalam hidupnya.
.
.
.
-END-