THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
45



45.SHE IS MINE


Alan sudah selesai membersihkan diri, ia langsung bergegas ke ruang makan untuk sarapan. Setibanya di ruang makan, ia melihat sudah ada Bella, Ibu, serta Ayahnya duduk disana.


"Sini, sarapan." ujar Tia pada Alan.


Alan kemudian duduk dibangku yang kosong tepat dihadapan Bella duduk. Posisi mereka bersebrangan.


"Ehmm.. Bel, kamu mau tau ngga?" ujar Tia.


Bella menoleh kearah Ibunya Alan. "Apa Bu?"


"Masa tadi pagi-pagi ada yang ngelindur." ucap Tia sambil melirik kearah anaknya yang sedang asik mengunyah.


"Oh ya? Siapa, Bu?" tanya Bella penasaran.


"Itu tuhhh." Kedua mata Tia melirik kearah Alan.


Alan kemudian menoleh kearah ibunya dan menaikkan sebelah alisnya. "Bohong tuh." bantah Alan.


Bella terkekeh pelan.


"Kayaknya ada yang takut banget kehilangan kamu, Bel." sindir Arya ikut membuka suara.


Tia mengangguk. "Iya kayaknya ada yang takut banget kamu kabur tadi."


Mendengar itu Bella tersenyum. Benarkah Alan takut kehilangannya?


"Ibu, Ayah, udah cepetan dimakan sarapannya." ucap Alan membuka suara.


"Emangnya tadi---" ucapan Bella di potong Alan. "Udah Bel, cepet makanannya dihabiskan." potong Alan dengan nada datarnya.


Tia dan Arya sama-sama ikut terkekeh pelan melihat sikap anak serta menantunya itu saat ini.


*****


Malam harinya, Alan sudah rapih dengan setelan kemejanya karna malam ini ia akan datang ke acara resepsi pernikahan temannya.


Kini Bella melihat punggung Alan. "Kamu mau kemana?" tanya Bella diambang pintu kamar.


"Hotel." jawab Alan tanpa menoleh kearah Bella.


"Ada acara?"


"Resepsi temanku."


"Aku boleh ikut ngga?" tanya Bella


Alan kemudian berbalik dan menatap Bella.


"Boleh ya?" mohon Bella.


"Butuh berapa menit lagi aku nunggu kamu?" tanya Alan.


"Aku udah mandi kok, tinggal ganti baju aja." kata Bella.


Alan menghela nafasnya. "Aku tunggu kamu di bawah." ucapnya kemudian pergi berlalu.


Bella langsung mengumpat kesenangan. Mungkin ini adalah kesempatan untuk dirinya berbicara empat mata dengan Alan nanti. Sejujurnya sejak pagi tadi Bella sudah berusaha ingin mengajak Alan berbicara namun pria itu malah terus menghindarinya dan memilih untuk menyibukkan diri. Bella yakin bahwa Alan masih marah padanya tentang soal kemarin malam karna terlihat jelas dari sikap Alan yang berubah tidak seperti biasanya.


Buru-buru ia mengganti pakaiannya dan memoles tipis makeup natural diwajahnya agar terlihat lebih fresh. Selesai itu ia langsung bergegas untuk menghampiri Alan yang sudah menunggu di lantai bawah.


Suara langkah kaki Bella menuruni tangga terdengar jelas ditelinga Alan. Alan pun menoleh keasal suara, kini ia mendapati Bella sedang berjalan kearahnya.


Alan menatap Bella dari ujung kepala hingga ujung kaki dan kini tatapannya berhenti pada kaki Bella yang mengenakan hak tinggi.


"Pake itu?" tanya Alan masih datar.


Bella mengangguk. "Di sini gaada sendal teplek. Semuanya ada di rumah ku. Gapapa kan?"


"Pijam sendal Ibu yang ngga ber-hak tinggi." kata Alan


"Ukurannya beda, Alan."


"Sendal kamu yang semalam mana? pake itu aja."


"Yakali aku pake sendal begitu ke acara resepsi, yang ada aku diketawain temen-temen kamu nanti di sana."


Alan kemudian menghela nafasnya. Kemudian langsung berjalan keluar begitu saja dan disusul Bella di belakangnya.


------


Di dalam mobil, Alan langsung memakai sabuk pengamannya begitu juga dengan Bella. Alan kemudian memutar musik di dalam mobilnya agar suasana tidak terlalu hening.


Diperjalanan mereka berdua saling bungkam, tidak ada yang membuka pembicaraan hingga tiba di tempat tujuan. Bella sudah memutuskan, bahwa ia akan berbicara pada Alan nanti, sepulang dari acara ini.


Bella dan Alan berjalan beriringan memasuki ballroom hotel. Begitu banyak para tamu undangan yang hadir malam ini. Ini adalah yang kedua kalinya dirinya datang ke acara resepsi bersama Alan. Mengingat ini yang kedua, dirinya jadi ingat bahwa saat datang ke acara resepsi yang pertama itu status mereka belum ada ikatan apapun. Berbeda dengan acara resepsi yang saat ini dirinya datangi, karna kini statusnya sudah bersuami-isteri. Mengingat itu seketika membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Rencana Tuhan memang sulit ditebak.


"Aku ke toilet dulu sebentar, kamu duduk aja tunggu di sini." ujar Alan pada Bella selesai mereka berdua memberi ucapan selamat kepada sepasang pengantin di atas pelaminan tadi.


Bella mengangguk. Alan kemudian berlalu ke toilet. Bella kemudian duduk di bangku yang sudah tersedia, Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan memainkannya sambil menunggu Alan.


Bella berfikir bahwa lelaki ini hanya sekedar duduk saja, karna dia juga tamu di sini sama sepertinya. Tapi entah kenapa lama-kelamaan Bella merasa lelaki dihadapannya ini seperti menatap kearahnya terus. Dirinya pun menjadi sedikit risih. Disaat-saat seperti ini Bella berharap bahwa Alan akan segera datang.


Dengan memberanikan diri Bella menegakkan kepalanya dan memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Ia hendak bangkit dari posisinya untuk pergi namun tangannya ditahan oleh lelaki dihadapannya, Alhasil ia terduduk kembali.


"Mau kemana?" tanya lelaki tersebut.


Bella melirik kearah tangan kokoh pria itu yang menahan tangannya.


"Ups, sorry." ujar lelaki itu kemudian menjauhkan tangannya dari tangan Bella.


Bella kemudian bangkit dari posisinya. Lelaki itu pun ikut bangkit dari posisinya.


"Tunggu sebentar," ujar lelaki itu menahan Bella kembali namun tidak lagi memegang tangannya.


Bella menahan langkahnya, kemudian memberanikan diri menatap wajah lelaki itu. "Maaf, ada apa ya?" tanyanya


"Boleh kenalan?"


Bella terdiam. Sejujurnya dirinya takut jika ada orang dengan modelan seperti sekarang ini. Tetapi untungnya disini ramai para tamu undangan, jadi dirinya tidak perlu takut.


Lelaki itu mengulurkan tangannya mengajak Bella untuk berkenalan. "Egy." ujar lelaki itu.


Bella pun menerima jabatan tangan itu untuk berkenalan. "Bella." balasnya dengan sedikit kikuk.


"Sendirian aja?"


Bella menggeleng.


"Terus?"


Bella benar-benar dibuat risih dengan lelaki bernama Egy ini. "Pe-permisi, soalnya lagi buru-buru." ujarnya hendak pergi.


Lagi-lagi tangan Bella ditahan oleh Egy. "Tunggu, Rumah kamu di mana? biar aku antar. Masa cantik-cantik gini pulang sendirian." kata Egy sambil memegang dagu Bella.


Bella langsung menepis tangan Egy dari dagunya. ****! Rasanya Bella benar-benar ingin berteriak saat ini juga. Kenapa di acara seperti ini harus ada orang bermodelan seperti Egy. Lelaki yang tidak memiliki sopan santun.


"A-aku lagi buru-buru maaf ya." tolak Bella.


"Iya biar aku yang antar."


Bella menggeleng.


Kemudian Bella mendengar suara seseorang berdehem dari belakangnya. "Ehm.."


Bella menoleh dan ia mendapati Alan. Saat itu juga ia menghela nafasnya lega.


Alan memasang ekspresi datar menatap lelaki di hadapannya ini. Alan juga sudah melihat tadi, bagaimana lelaki dihadapannya ini dengan lancang mencoba untuk menggoda Bella.


Alan mendekat kearah Bella dan berdiri di sampingnya. Tangan kirinya kemudian merangkul pinggang ramping Bella dengan sengaja.


"She is mine, ada masalah?" tanya Alan dengan santai.


Bella melihat kini tangan Alan merangkul pinggangnya. Oh, Astaga! Jantung Bella benar-benar kembali dibuat berdebar dengan cepat.


"Upss, Sorry. Ternyata dia milikmu." kata lelaki itu kemudian pergi begitu saja.


Bella lagi-lagi menghela nafasnya saat lelaki yang bernama Egy itu sudah pergi. Alan kemudian melepas tangannya dari pinggang Bella.


"Ayo pulang," kata Alan


"Pulang? Kita kan baru sampe sini?"


"Lalu mau apa lagi, Bel? Mau nunggu lelaki lain datang lagi menggodamu, begitu?"


Mendengar itu Bella langsung terkikik pelan. Apa Alan sedang cemburu?


Melihat itu Alan pun jengah dan pergi bergitu saja meninggalkan Bella yang masih tertawa pelan.


"Eh, kok aku ditinggalin sih. Alan!" panggil Bella sambil berlari kecil mengejar Alan.


"Duhh kebiasaan deh." gerutu Bella sambil mengejar Alan.


--------


Setibanya di parkiran luar dekat lobby. Alan langsung menghentikan langkahnya seketika, Begitu juga dengan Bella dibelakangnya. Bella langsung ikut menghentikan langkahnya saat melihat seseorang berdiri di dekat mobil Alan.


Justin.


Kenapa dia ada di sini? Batin Alan.


.


.


.


To be continued.. Sengaja author gantungin biar kalian makin penasarannnn✌