THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
14



14.ORANG TUA ALAN


Justin memberhentikan motornya tepat di depan gerbang rumah Bella. Bella pun segera turun dari boncengan Justin. Kakinya melangkah begitu saja memasuki halaman rumahnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Justin.


"La." panggil Justin saat Bella baru beberapa langkah.


Bella berhenti. Kemudian menoleh ke arah Justin.


Justin membuka helm fullfacenya kemudian turun dari atas motornya lalu berjalan kearah Bella.


Bella hanya diam di posisinya. Justin lalu menghentikan langkahnya tepat di hadapan Bella. Justin menatap Bella sebentar, lalu ibu jarinya mengusap bibir Bella yang masih tersisa sedikit ice cream.


"Mau di sisain buat yang di dalem?" ledek Justin


Bella langsung terkekeh. "Hahaha ya enggalah."


Justin lalu mengecup dahi Bella dengan lembut.


Bella lagi-lagi teringat akan Alan. ****! Pria itu memang sulit sekali hilang dari pikirannya. Kejadian kemarin malah kembali membuatnya teringat dimana pada saat Alan mengecup dahinya.


"Gih masuk sana." ujar Justin


Bella mengangguk dengan kikuk. "Hati-hati di jalan." ucapnya sambil melangkah mundur perlahan.


"Bye, besok ku jemput lagi ya."


Bella mengangguk mengiyakan. "Bye." balasnya kemudian segera berbalik dan berjalan kearah pintu rumahnya.


----


Saat membuka pintu utama, Bella sudah di buat terpaku dengan adanya sepasang pria dan wanita paruh baya tengah duduk bersama di sofa ruang tamunya. Mereka berdua sama-sama menoleh kearah Bella yang masih terpaku di depan pintu. Sudah bisa ditebak itu adalah orangtuanya Alan, sesuai apa yang diberitahu bi Nana lewat telfon tadi.


Disana juga ada bi Nana yang sepertinya baru saja meletakkan beberapa makanan ringan serta minuman untuk dua orang itu.


"Eh Non Bella sudah pulang." ujar bi Nana memecahkan keheningan.


"Wahhh aslinya cantik ya ternyata anaknya Roy." ucap pria paruh baya tersebut, sudah bisa ditebak juga itu ialah Papanya Alan.


Bella lalu menutup kembali pintunya dan berjalan mendekat kearah orangtuanya Alan untuk menyalami tangan keduanya sebagai rasa sopan.


"Baru pulang sekolah?" tanya wanita paruh baya itu.


"Iya." jawabnya singkat sambil duduk di sofa yang kosong.


Lalu hening.


Bella merasa ini canggung sekali, karena sebelumnya Bella belum pernah bertemu dengan mereka. Bella melirik kearah bi Nana seakan sedang meminta bantuannya untuk mencairkan suasana, tetapi bi Nana malah menggelengkan kepalanya seakan menyerahkan semua untuknya lalu sesudah itu pergi kearah halaman belakang.


"Ehmm, lupa sampe belum kenalan. Kamu pasti bingung kan kita siapa?" tanya pria paruh baya itu.


"Orang tuanya Om Alan?" tebak Bella. Entahlah dirinya bingung harus memanggil Alan dengan sebutan apa di depan orangtuanya selain kata 'Om'


Pria paruh baya itu terkekeh pelan. "Sudah tau rupanya yaa, apa Alan memberitahu mu kami datang kesini?"


Bella menggeleng. "Dari Bi Nana."


"Oh begitu.. Yasudah perkenalkan saya Arya dan ini Istri saya Tia, kami berdua orang tuanya Alan. Kamu bebas mau panggil kami berdua Om-tante, Ayah-ibu juga gapapa hehe. Anggap saja kita sudah seperti keluarga."


"i-iya Om-Tante.." kikuk Bella


"Kamu sudah kelas 3 SMA ya?" tanya ibunya Alan.


"Iyaa sebentar lagi udah mau lulus."


"Ohhh mau lanjut kuliah dimana?"


Bella terdiam sejenak. "Ntah, paling Papa yang nentuin."


Tia langsung menoleh kearah suaminya saat mendengar Bella menjawab seperti itu.


"Ohiya omong-omong, Alan sendiri loh yang nyuruh kita kesini. Kata dia biar kita bisa liat secara langsung bidadari itu kayak apa." ujar Arya


Bella mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Mungkin yang di maksud Alan, Bidadarinya itu kamu kali ya hehehe." canda Arya


Bella seketika langsung mengerti apa yang dibicarakan barusan. Dirinya hanya ikut tertawa saja mendengar gombalan seperti itu.


Eitsss, tapi barusan Ayahnya Alan bilang kalau Alan yang berkata seperti itu. Jadi? Apa secara tidak langsung Alan sudah menggombali dirinya di depan kedua orangtuanya?


"Memangnya Alan kerja dimana sih Om-Tante?" tanya Bella penasaran


"Kamu memangnya belum tau apa pekerjaannya?" tanya Tia


Bella menggeleng.


"Memangnya dia tidak memberitahumu?" tanya Arya


Bella menggeleng lagi.


"Kemarin pas berangkat, emangnya dia gapake seragam?" tanya Arya lagi.


"Seragam? Kemarin pagi, Dia cuma pake kemeja putih sama celana panjang hitam aja."


"Ohh mungkin nanti dia ganti di apartement kali Pa.." ujar Tia berbicara kepada suaminya.


Bella masih bingung. Apartement? Apa Alan tinggal di apartement?


"Alan pekerjaannya sebagai supir Bel." ujar Arya.


Bella sedikit terkejut. Supir? Benarkah?


"Supir pesawat maksudnya hehehe." canda Arya


Bella langsung mengerti. "Ohhh jadi Om Alan itu pilot?"


Arya dan Tia sama-sama mengangguk mengiyakan. Bella baru tau apa pekerjaan Alan yang sebenarnya saat ini. Pantas saja dia bekerja hingga berminggu-minggu tidak kembali.


"Mungkin tiga minggu ke depan dia tidak pulang kesini. Katanya jadwal untuk bulan ini liburnya nanggung banget, jadi males pulang pergi kesini gitu. Soalnya biasanya sih dia gitu, kalo jadwal liburnya nanggung dia males balik kesini." jelas Arya


Bella hanya ber-Oh ria saja. Padahal itu yang diinginkannya, Alan tidak kembali lagi kesini.


"Iya udah enakan kok tante."


"Jaga kesehatan kamu ya Bel, karena Papa kamu masih lama di sana." ujar Arya


Bella mengangguk. "Iya. omong-omong Om ga kerja hari ini?"


"Kebetulan sudah ada yang menghandle pekerjaan saya untuk sementara ini. Kan hari ini saya mau liat bidadari secara live." canda Arya lagi


Bella tertawa pelan. Kenapa Ayahnya Alan sifatnya sangat berbanding terbalik sekali dengan Alan. Ayahnya Alan terlihat begitu santai dan asik diajak ngobrol,


Kemudian ponsel Bella berdering sehingga membuatnya menghentikan tawanya. Bella langsung membuka ranselnya untuk mengabil ponsel. Kini dilihatnya nama Alan tertera di layar ponselnya.


Untuk apa dia menelfon? Video call pula.


Bella melirik sebentar kearah ibu serta ayahnya Alan. Dilihatnya Ayahnya Alan sedang menyeruput minumannya.


"Siapa yang telfon?" tanya Tia penasaran karena Bella tak kunjung menjawabnya.


"Om Alan.." jawab Bella


"Angkat aja Bel," kata Arya.


Bella mengangguk kikuk. Kemudian menjawab panggilan video dari Alan.


"Dimana?" tanya Alan to the point.


Bella melihat wajah Alan begitu dekat dari layar ponselnya. Dia mengenakan seragam pilot lengkap, Jelas itu membuatnya terkagum sesaat. Bella benar-benar dibuat terkagum hanya karena Alan mengenakan seragam tersebut. Ketampanannya seakan naik berkali-kali lipat.


"Bel? denger ga sih?"


Bella langsung tersadar. "I-iya kenapa?"


"Lagi dimana?" ulang Alan


"Ya kamu kan bisa liat sendiri ini lagi dimana." celetuk Bella.


"Di rumah kamu ada Ayah sama Ibu saya ngga?"


Bella menoleh kearah kedua orangtuanya Alan. Dilihatnya kini Ayahnya Alan meminta ponselnya untuk di berikan, karena ingin berbicara sesuatu pada anaknya. Bella langsung memberikan ponselnya kepada Ayahnya Alan.


Arya menerima ponsel Bella. Dilihatnya kini wajah anak pertamanya tertera di layar.


"Kamu ngapain malah nelfon Bella? Bukannya kerja heh!" omel Arya


"Pengen mastiin aja kalo ayah sama ibu udah disana."


"Ya kan kamu bisa sms ayah atau ibu."


"Ya gapapa. Pengen mastiin aja kalo si Bella juga udah di rumah. Soalnya biasanya dia tuh pulang sekolah langsung main ga pulang-pulang sampe malem."


Bella yang mendengar pengaduan dari Alan barusan langsung mengerucutkan bibirnya kesal. Bisa-bisanya dia mengadu di depan kerabat kerja papanya.


Arya terkekeh pelan. "Hahaha namanya juga anak muda. Maklumi saja, mungkin dia masih mau merasakan masa-masa remajanya. Kayak kamu dulu aja sih sama si Dinda." celetuknya


Seketika hening.


Dinda? Siapa? Bella tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya disebut-sebut.


Bella tidak mendengar Alan merespon perkataan Ayahnya tadi. Rasanya ingin sekali Bella melihat ekspresi wajah Alan saat ini. Dirinya sangat penasaran, kenapa tiba-tiba dia bungkam saat nama Dinda di sebut.


Tia lalu berdehem memecah keheningan. "Ibu sama Ayah sudah di rumah bidadari nih, sesuai apa yang kamu suruh. Yakan? Kamu nyuruh kita berdua kesini untuk liat bidadari secara live."


Alan terkekeh dan Bella bisa mendengar kekehan tersebut walaupun tidak bisa melihat wajah Alan.


"Bu jangan ngomong di depan orangnya. Nanti dia kepedean." canda Alan


Arya dan Tia sama-sama tertawa saat mendengar anaknya berbicara seperti itu.


"Mau ngomong sama bidadari lagi ngga?" tanya Arya


"Boleh deh."


Arya langsung kembali memberikan ponsel itu kepada Bella dan Bella menerimanya.


"Saya tidak izinin kamu keluar malam hari ini ya. Pokoknya harus di rumah gaboleh kemana-mana." kata Alan


Bella melongo sebentar. "Hah?"


"Pokoknya kalau saya denger info dari bi Nana kamu keluar dari rumah, saya akan laporin ke papa kamu."


"Tapi kan---" belum sempat Bella menyelesaikan perkataannya tetapi Alan sudah mematikan sambungan telfonnya begitu saja.


Andai tidak ada orangtua Alan dihadapannya kini. Mungkin dirinya sudah banyak mengeluarkan kata-kata kasar untuk menyumpahi Om-om menyebalkan itu.


"Di matiin?" tanya Arya saat merasa Alan sudah tidak lagi bersuara.


Bella mengangguk kemudian meletakkan ponselnya diatas meja.


"Maafin ya kalo sifat anak saya begitu Bel. Mungkin itu juga demi kebaikan kamu." ujar Arya


Bella mengangguk lagi.


"Sudah yuk, Ibu hari ini jam 4 sore ada arisan Yah." ujar Tia kepada suaminya.


"Yasudah.. Kami pamit ya nak Bella. Maaf kalau menganggu. Kami berdua kesini hanya ingin menjeguk nak Bella aja. Kalau ada apa-apa dan kamu butuh bantuan telfon om atau tante aja, gausah sungkan." pamit Arya sambil bangkit dari posisinya.


"Ohgituu, iyaudah. Om sama Tante hati-hati di jalan ya.."


Tia dan Arya sama-sama tersenyum. Lalu Bella mengiring keduanya berjalan keluar.


.


.


.


TBC