
15.KEMBALI
Tak terasa kini sudah berjalan lebih dari 3 minggu Bella tidak bertemu Alan. Semenjak Pria itu pergi bekerja kedua orang tuanya sering datang ke rumah hanya untuk sekedar menjenguknya. Terakhir dirinya berkomunikasi dengan Alan satu minggu yang lalu itu juga karena Ayahnya Alan sendiri yang menelfon, Ayahnya Alan menelfon pada saat Alan sedang tidak ada jadwal penerbangan.
Alan. Kapan pria itu kembali?
Seharusnya Bella senang Alan pergi lama, karena itu dirinya bisa memiliki banyak waktu bersama Justin.
Bella sedang duduk di bangku teras rumahnya dengan tatapan kosong lurus kedepan. Pikirannya entah tertuju pada siapa, yang jelas Bella merasa kini hidupnya begitu miris. Tidak ada yang memperdulikannya. Mamanya sudah pergi untuk selamanya, Papanya juga pergi dan sibuk dengan urusannya sendiri tanpa memperhatikan dirinya.
Tanpa sadar Bella menitikkan air matanya sedih. Kenapa dirinya harus terlahir kedunia ini kalau pada akhirnya tidak ada seorangpun yang memperdulikannya?
Justin. Ya, hanya dia yang memperdulikannya saat ini. Bella masih memiliki Justin.
Bella kemudian langsung tersadar saat sebuah mobil putih yang sangat dirinya kenali itu mulai memasuki halaman rumahnya. Gerbangnya belum di tutup jadi mobil itu leluasa masuk.
Alan? Benarkah itu Alan?
Buru-buru Bella mengusap pipinya yang basah karena air mata agar Alan tidak berfikiran yang macam-macam nantinya.
Lalu mobil itu berhenti. Tak lama kemudian sang pemilik mobilnya keluar. Dilihatnya pria itu masih mengenakan seragam khas pilotnya.
Tampan. itu adalah satu kata yang menggambarkan pikirannya saat melihat Alan mengenakan seragam tersebut.
Alan kini berjalan kearahnya. Bella tidak bergeming sedikit pun.
"Hai," sapa Alan
Bella hanya diam.
"Bel?"
"Ngapain kamu kesini?" tanya Bella
Alan mengernyit. Apa Bella tidak suka dengan kedatangannya?
"Saya lagi libur." jawab Alan sedikit datar.
Bella menghela nafasnya pendek lalu bangkit dari posisinya dan masuk ke dalam rumahnya begitu saja meninggalkan Alan yang masih diam di posisinya. Entah kenapa sore ini mood Bella benar-benar sedang tidak bagus.
Alan berbalik dan berjalan kearah mobilnya untuk mengambil kopernya yang masih disana. Sesudah itu dirinya membawa koper itu masuk ke dalam, tepatnya ke arahnya kamarnya.
Alan masuk ke dalam kamarnya dan segera membersihkan dirinya. Setelah itu dirinya bergegas kembali turun ke bawah dan berpapasan dengan bi Nana.
"Ehhh Nak Alan kapan datengnya?" ujar Bi Nana
"Tadi Jam 4 bi."
"Udah ketemu Non Bella?"
Alan mengangguk.
"Ini mau kemana lagi?" Tanya Bi Nana penasaran, karena Alan seperti hendak pergi lagi.
"Saya mau ke rumah orangtua saya dulu."
"Tapi nginep lagi di sini kan?"
"Iya."
"Oh iyaudah atuh.."
"Yaudah saya pamit ya, titip Bella sebentar."
Bella mendengar itu dari lantai atas. Buru-buru dirinya mencegah Alan yang hendak pergi.
"Tunggu." ucap Bella dari lantai atas.
Alan langsung menoleh ke lantai atas tepatnya ke asal suara barusan. Begitu juga bi Nana. Bella buru-buru menuruni tangga untuk menghampiri Alan.
"K-kamu mau kemana?" Tanya Bella
"Ke rumah."
"Disana ada Ayah sama Ibu kamu kan?"
"Iya."
"A-aku ikut."
Alan menaikkan sebelah alisnya heran.
"Tungguin, Aku ganti baju dulu." kata Bella kemudian bergegas kembali ke kamarnya.
Alan dan Bi Nana sama-sama saling menoleh satu sama lain karena heran. Ada apa gerangan? Kenapa Bella ingin ikut ke rumahnya?
"Tolong bilangin Bella ya bi, saya tunggu di depan." ujar Alan dan diangguki Bi Nana kemudian bergegas keluar.
-----
Bella sudah selesai mengganti pakaiannya yang lebih sopan. Kini dirinya melangkah keluar untuk menemui Alan. Dilihatnya kini Alan sedang duduk di bangku teras rumahnya.
"Ehm.." Bella berdehem agar Alan menyadari kehadirannya.
Alan menoleh keasal suara. Dilihatnya kini Bella sudah terlihat lebih rapih dari sebelumnya.
Alan bangkit dari posisinya tanpa mengucapkan sepatah katapun, lalu berjalan kearah mobilnya dan diikuti Bella di belakangnya.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan sama-sama memasang sabuk pengamannya masing-masing. Lalu Alan menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya keluar.
Diperjalanan tidak ada yang membuka suara sedikit pun. Keduanya sama-sama bungkam, seakan rasa canggung baru hadir. Bella merasa Alan marah padanya, karena saat dia datang tadi dirinya malah mengabaikannya begitu saja.
Bella berdehem pelan. "Mampir ke supermarket dulu ya, Om." pintanya
Alan menoleh sebentar sambil menyetir. "Mau beli apa?" tanyanya
"Buah."
"Untuk?"
"Orang tua kamu."
"Tidak usah."
"Kenapa?"
"Tidak usah repot-repot."
"Tapi setiap orang tua kamu dateng ke rumah ku, dia selalu bawain makanan."
"Aku mau beliin juga. Masa bertamu ke rumah orang ga bawa apa-apa."
Alan hanya menghela nafasnya. Ia pun akhirnya memberhetikannya mobilnya tepat di depan sebuah supermarket, sesuai permintaan Bella.
Bella segera melepas sabuk pengamannya dan keluar, begitu juga dengan Alan.
"Om ngapain ikut?" tanya Bella
"Emangnya ga boleh?"
Bella menghela nafasnya pendek kemudian berjalan memasuki supermarket tersebut. Alan berjalan di belakang Bella, mengikuti gadis itu kemana dia melangkah.
Kini Bella tertuju pada buah Apel yang begitu segar-segar. dirinya pun mulai memilih-milih buah yang segar untuk dibelinya.
"Ayah saya tidak suka buah apel, jadi jangan beli apel." kata Alan
Bella lalu bergeser ke buah jeruk yang tak kalah segarnya. Dirinya pun mulai memasukkan beberapa buah jeruk yang menurutnya segar ke dalam wadah plastik.
Saat dirasanya sudah cukup buah yang dipilihnya, Bella menyuruh Alan untuk membawakannya dan Alan menurut.
"Orang tua kamu suka Brownis kan?" tanya Bella saat melihat disini juga menjual brownis.
Alan mengangguk. Bella pun segera mengambil sekotak brownis cokelat dan memberikannya kepada Alan untuk dibawakan.
"Udah Bel." kata Alan
"Iyaudah."
Mereka berdua pun berjalan kearah kasir. Alan meletakkan buah serta brownis yang dipilih Bella tadi di meja kasir. Bella pun mulai mengeluarkan dompetnya dari dalam tas.
"Totalnya 87.500." ujar kasir tersebut.
Alan langsung menyondorkan selembar uang kertas seratus ribuan kepada kasir tersebut. Bella yang melihat itu melongo.
"Lah ko malah jadi kamu yang bayar sih?"
Alan hanya memasang ekspresi santainya saat kasir itu sudah lebih dulu menerima uang yang diberikannya.
Kasir tersebut pun mulai memberikan barang belanjaan yang sudah dalam wadah kantong plastik itu kepada Alan serta memberikan kembaliannya.
"Terimakasih." ucap sang kasir itu sambil tersenyum genit kepada Alan.
Alan menerima belanjaan tersebut serta kembaliannya. Lalu bergegas keluar dari supermarket.
Bella mengikuti langkah Alan dari belakang yang menuju ke parkiran.
Setibanya di parkiran, Keduanya langsung masuk ke dalam mobil dan Alan meletakkan belanjaan yang tadi di kursi belakang.
Bella langsung meletakkan selembar uang seratus ribuan di dashboard mobil Alan. "Nih, ganti yang tadi." ujarnya
Alan memasang sabuk pengamannya dan menghiraukan itu. Dirinya malah fokus menyetir.
Bella kesal karena merasa di cueki. "Kamu denger gak sih?!"
Alan melirik kearah Bella.
"Itu uangnya!" gerget Bella
"Buat kamu aja."
Bella melotot kesal. "Itu mah judulnya kamu yang beliin buat orang tua kamu sendiri!"
"Iya emang."
"Ish kan aku maunya tuh beliin buat orang tua kamu pake uang pribadi aku sendiri bukan kamu yang bayar!"
"Tinggal bilang aja ke orang tua saya, kalau itu dari kamu."
"Tapi kan itu bayarnya pake uang kamu!"
Alan hanya diam tidak menghiraukan. Bella benar-benar geram dengan Alan saat ini.
***
Setibanya di rumah orang tuanya Alan. Bella hanya menoleh sekelilingnya yang tampak asing. Ini kali pertamanya Bella mengunjungi rumah Alan. Rumah bergaya minimalis dan tampak luas jika dilihat dari luarnya saja.
Alan mulai memencet bel rumahnya. Lalu tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membukakan pintunya. Bella langsung menyalami tangan Ibunya Alan. Begitu juga Alan langsung menyalami tangan Ibunya.
"Loh? Alan? Bella?" Tia terkejut.
"Kenapa bu?" tanya Alan
"Kok sudah pulang? Kenapa kamu nggak bilang-bilang sama Ibu sih." kata Tia berbicara kepada anaknya.
"Liburnya hanya 6 hari Bu."
"Yaudah hayu masuk masuk." Tia mempersilahkan mereka berdua masuk.
"Nih dari Bella, Alan taro di meja ya Bu." ujar Alan sambil meletakkan belanjaan yang tadi di atas meja makan.
"Waduhh kamu bawa apan Bel, gausah repot-repot." ujar Tia pada Bella
"Buah sama brownis aja kok tante."
"Haduuu haduu, lain kali kalo mau kesini gausah bawa apa-apa ya."
"Gapapa, kan Tante sama Om kalo kerumah juga suka bawain Bella makanan."
"Kan itumah beda hehe."
Bella hanya tersenyum.
"Dimana Ayah?" tanya Alan pada ibunya
"Belum pulang." jawab Tia.
Alan kemudian berjalan ke lantai atas tepatnya kearah kamarnya. Ia meninggalkan Bella berdua dengan ibunya di ruang tamu yang sedang asik mengobrol.
.
.
.
TBC