THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
23



23.MENCARI JUSTIN


Keesokkan harinya, Bella beraktivitas seperti biasanya. Ia akan sekolah hari ini dan berusaha sebaik mungkin seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Selesai dengan semua perlengkapan sekolahnya, Bella mematut dirinya di depan cermin sambil memegangi perutnya yang masih rata.


Dirinya masih tidak menyangka akan semua ini.


Tak lama kemudian Bella mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya, kemudian ia menoleh kearah pintu dan pintu itu di buka dari luar. Kini dirinya melihat Alan di sana.


"Udah?" tanya Alan


Bella hanya mengangguk. Kemudian meraih ranselnya dan berlalu keluar. Ia berjalan melewati Alan begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Sesudahnya Bella keluar, Alan menutup kembali pintu kamar Bella dan segera bergegas ke lantai bawah.


"Bel ga sarapan dulu?" tanya Roy saat mendapati anaknya yang berjalan begitu saja melewati ruang makan.


"Belum laper." jawab Bella singkat sambil membuka pintu utama rumahnya.


Roy menoleh kearah Alan yang diam di posisinya. "Tolong kamu bujuk dia, Alan." perintahnya.


Alan mengangguk mengiyakan kemudian bergegas menghampiri Bella yang sudah menunggu di luar.


"Bel," panggil Alan saat mendapati Bella yang sedang memakai sepatunya di teras rumah.


"Hm." Jawan Bella hanya dengan gumaman.


"Sarapan dulu."


"Belum laper."


"Belum laper gimana? sejak kemarin sore perut kamu belum diisi makanan Bel."


"Aku bilang belum laper ya belum laper! Maksa banget sih!" kesal Bella.


Alan hanya menghela nafasnya.


"Lagian Papa kan udah di rumah. Kenapa kamu masih di sini sih?!" tanya Bella sewot.


"Karena kamu udah jadi tanggung jawab saya Bel."


Bella bangkit dari posisinya dan berdiri menatap Alan. "Gausah sok jadi pahlawan deh di depan Papa. Aku juga ga butuh tanggung jawab dari kamu! Aku bisa kok nyuruh Justin buat tanggung jawab!"


Ekspresi Alan seketika berubah saat mendengar nama Justin disebut Bella barusan. Kedua tangannya langsung mengepal kuat saat mendengar nama itu.


"Ayo cepetan udah siang nih!" kata Bella sambil bergegas ke arah mobil Alan.


"Sebentar Saya pamit sama Papa kamu dulu." ujar Alan kembali masuk ke dalam.


Bella yang melihat itu langsung memutar kedua bola matanya malas kemudian ia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang depan.


Tak lama kemudian Alan muncul dan masuk ke dalam mobil. Bella langsung memakai sabuk pengamannya begitu juga dengan Alan.


***


Setibanya di tempat tujuan, Bella langsung melepas sabuk pengamannya dan bergegas hendak keluar.


"Pulangnya jamberapa?" tanya Alan saat Bella sudah membuka pintu.


"Seperti biasa." jawab Bella cuek kemudian menutup pintunya kembali dan berlalu memasuki gerbang.


Sesudah itu Alan langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat.


Bella menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, dilihatnya kini mobil Alan sudah tidak lagi di sana. Dia sudah berlalu pergi.


Bella kembali melanjutkan langkahnya, tetapi kini langkah kakinya menuju kearah kelas Justin.


Setibanya di kelas Justin. Bella mendapati tempat yang biasa Justin duduki kosong. Kemana dia?


Bella menoleh sekeliling mencari seseorang. Dilihatnya kini ada Letoy yang duduk di pojok paling belakang sambil memainkan ponselnya.


"Letoy!" panggil Bella


Letoy yang merasa dipanggil ia pun menoleh. "Oit." balasnya


Bella kemudian berjalan menghampiri Letoy. "Kemana Justin?" tanyanya


Letoy kemudian menoleh kearah bangku yang biasanya Justin tempati. "Belum dateng mungkin." jawabnya saat mendapati bangku yang biasa Justin tempati kosong.


"Tapi biasanya dia dateng pagi terus."


Letoy hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu.


"Ish lo kan temennya, masa ga tau sih?!" kesal Bella


"Lah lo kan pacarnya kenapa tanya ke gue?" balas Letoy.


Bella memanyunkan bawah bibirnya karena kesal. Dirinya langsung berbalik dan berlalu keluar. Saat di depan pintu tak sengaja dirinya berpapasan dengan wanita yang waktu itu sedang bermesraan dengan Justin.


Bella masih ingat betul wajah wanita itu.


Bella menatap sinis wanita di hadapannya kini. Ia melihat dari atas kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilainya.


"Ngeliatinnya biasa aja kali!" celetuk wanita tersebut kepada Bella.


Bella langsung menatap tajam wanita itu saat dia berbicara sebagaimana barusan. "Oh jadi nama lo itu Reta? Si perebut Cowok orang?!" sinis Bella sambil membaca nametag yang ada di seragam wanita tersebut.


"Apansih ga jelas dasar!" celetuk Reta kemudian berbalik dan berlalu pergi begitu saja, tidak jadi masuk ke dalam kelas.


"Ih padahal dia yang ngga jelas!" kesal Bella kemudian ikut berlalu pergi.


---


Setiba di ruang kelasnya sendiri, Bella duduk di tempat duduknya. Di sebelahnya kini sudah ada Hana yang datang lebih dulu.


Hana menoleh kearah Bella. "Bel, gimana?" tanyanya pada Bella.


"Gimana apanya?" Bella bingung.


"Itu." Hana sambil melirik kearah perut Bella yang masih rata.


"Bokap gue udah tau Na." ujar Bella terua terang.


"WHAT?!!!" Hana terkejut.


Seketika seluruh pasang mata yang ada di kelas ini menoleh kearah mereka berdua. Langsung saja Bella menoyor kepala temannya itu karena tidak bisa mengontrol nada bicaranya.


"Ish pelan-pelan sih!" omel Bella


"Sumpah demi apa sih bokap lo udah tau? terus-terus gimana? lo disuruh gugurin gitu?"


"Lo kalo ngomong bisa ga sih pelan-pelan aja, nanti pada denger!" bisik Bella geregetan


"Ya abis gue penasaran Bel."


"Gue perlu ngomong sama Justin lagi. Tapi tadi pagi udah ke kelasnya dia belum ada."


"Bolos kali." celetuk Hana


Bella terdiam.


"Bel terus lo gimana?" tanya Hana masih penasaran.


"Gimana apanya?"


"Lo ga diomelin emang? Secara kan bokap lo tau kalo itu darah dagingnya Justin.."


Bella menggelengkan kepalanya. "Bokap gue belum tau kalau ini darah dagingnya Justin Na."


"WHAT?!! GIMANA BISA??" Hana kembali kelepasan, ia tidak bisa kembali mengontrol suaranya.


Lagi-lagi seluruh pasang mata yang ada di sini menoleh kearah mereka berdua. Bella yang melihat itu langsung menoyor kembali kepala temannya.


"Ish di bilang jangan berisik!!" kesal Bella


"Sorry-sorry kelepasan. Jadi gimana sih maksudnya?"


"Bokap gue taunya ini darah dagingnya Alan."


"Hah? Gimana si maksudnya? Alan? Siapa Alan?" Hana tidak mengerti.


Bella berdecak sebal. Dirinya merasa ini bukan tempat yang aman untuk dirinya menceritakan semua kejadian kemarin kepada Hana.


"Udah ayo ikut gue aja." kata Bella sambil menarik tangan Hana untuk pergi.


Hana pun menurut. Mereka berdua pun segera berjalan ke tempat yang sepi.


"Lo aja belum cerita! Gimana gue mau kasih saran bambang!"


"Gue bingung harus mulai dari mana."


"Oke oke sekarang gini deh. Ceritain dulu siapa itu Alan?"


Bella terdiam sejenak.


"Woy denger ga sih?!" gerget Hana, karena Bella hanya diam.


"Gue juga gatau dia itu siapa."


Hana melongo tidak percaya. "Apa sih Bel lo gajelas banget sumpah!"


"Ih gue sendiri juga bingung dia itu siapa! Yang gue tau dia itu cuma anaknya dari temen kerja Papa gue, udah itu aja."


"Yakin?"


Bella mengangguk.


"Terus awalnya lo di kenalin gitu sama dia?"


"Dia orang yang selama ini ngawasin gue saat bokap gue tugas di luar kota Na. Dia yang anter-jemput gue, Dia yang selalu--"


"Bentar-bentar.." Potong Hana, "Jangan bilang dia orang yang waktu itu nelfon gue nanyain lo?!"


Bella mengangguk.


"Oh astaga Bella lo beruntung banget!!!"


Bella mengerutkan dahinya bingung.


"Sumpah ya gue sih kalo jadi lo bakal beruntung banget karena setiap hari bisa di anter-jemput sama dia."


"Ih apansi, bukan itu masalahnya Hanaaa!!" geram Bella.


Hana terkikik pelan melihat Bella yang begitu geram padanya.


"Masalahnya tuh orang tiba-tiba ngaku kalo dia yang ngehamilin gue!" jelas Bella


Seketika hening.


Hana mendadak bisu beberapa detik.


Bella mengusap-usap wajahnya dengan kasar. Dirinya benar-benar bingung saat ini.


"Tapi sebenernya bukan dia kan yang ngelakuin itu sama lo?" tanya Hana


Bella menggeleng. "Ya enggalah!"


"Terus kenapa dia tiba-tiba ngaku gitu ke bokap lo?"


"Justeru itu gue bingung!"


"Jadi bokap lo taunya itu darah dagingnya Alan? Bukan Justin?"


Bella mengangguk mengiyakan. "Gue harus gimana?"


"Lo harus ngomong sama Justin sekarang!" ujar Hana langsung bangkit dari posisinya dan menarik tangan Bella untuk mengajaknya ke kelas Justin.


"Dia belum dateng Na."


"Udah, ini dua menit lagi bel masuk."


Bella pun hanya menurut.


Setibanya di dalam kelas Justin. Bella dan Hana mendapati bangku Justin yang masih kosong.


"Eh liat Justin ga?" tanya Hana kepada salah seorang murid yang duduk di belakang bangku Justin.


Murid itu menggelengkan kepalanya tidak tahu. Hana dan Bella hanya bisa menghela nafasnya.


"Lo kayaknya harus samperin kerumahnya deh. Siapa tau dia lagi males sekolah hari ini."


"Tapi kan lagi sekolah."


"Yaudah pulang sekolah."


"Gabisa. Pasti Alan jemput gue."


"Yaudah minta anter Alan aja sekalian kesana."


"Lo gila kali ya, nanti yang ada mereka berantem."


"Ya lo ngobrol sama Justinnya di dalem. Alan nunggu lo di dalem mobil aja."


Bella berpikir sejenak, kemudian mengangguk mengiyakan.


****


Sepulang sekolah. Bella sudah menyiapkan mental untuk menghampiri Justin ke rumahnya, dirinya harus berbicara empat mata lagi bersamanya.


Baru beberapa langkah kakinya keluar kelas, tiba-tiba perutnya kembali terasa mual. Buru-buru ia berlari kearah toilet untuk memuntahkan semuanya.


'Huekkkk..'


'Huekkkk..'


Para murid-murid yang berada di dalam toilet menatap Bella dengan ekspresi keheranan.


Bella mengabaikan itu. Setelah selesai dirinya langsung mencuci mulutnya dan bergegas keluar dengan terburu-buru.


Setibanya di depan gerbang, Bella melihat mobil yang begitu dirinya kenali sudah terparkir di pinggir jalan. Dirinya pun berjalan kearah mobil tersebut dan mengetuk-ngetuk kacanya.


Alan menurunkan kaca mobilnya dan menatap Bella yang sedikit membungkukkan badannya agar sejajar.


"Ke rumah Justin dulu ya sebentar." ujar Bella.


"Ngapain?"


"Mau ngobrol."


"Emangnya tadi di sekolah ga ngobrol?"


"Dia ga masuk hari ini. Jadi, kamu mau nganterin aku nggak? Kalo gamau yaudah aku naik taxi."


"Yaudah masuk."


Bella pun masuk ke dalam mobil dan duduk di tempat biasanya. Tak lupa ia mengenakan sabuk pengamannya.


"Jalan aja, nanti ku beritahu jalannya." ujar Bella


Alan pun mulai menginjak pedal gas mobilnya.


"Saya tidak yakin Justin akan tanggung jawab." ucap Alan tiba-tiba di tengah-tengah perjalanan.


Bella menoleh kearah Alan mengerutkan dahinya bingung. "Kamu tau dari mana kalau ini anak Justin?"


"Lalu mau siapa lagi?" balik Alan bertanya.


Bella terdiam.


"Saya udah pernah bilang ke kamu, Jauhin Justin karna Justin bukan pria yang baik. Gini kan jadinya? kalau kamu nggak dengerin saya?"


"Tapi Justin akan tanggung jawab kok!" Ujar Bella tak mau kalah.


"Ya buktikan saja."


"Ya kita liat aja nanti!" balas Bella menantang.


.


.


.


TBC


Jangan lupa vote dan komentarnyaa😊


Sorry kalau msh bnyk typo dan penggunaan bahasa yg kurang tepat/sulit dimengerti, maklumin yaww krn author bukan penulis handal✌