THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
12



12.PERGI???


Keesokkan harinya, Bella merasa ada yang menepuk-nepuk kakinya pelan yang masih terhalang selimut. Mau tidak mau Bella membuka kedua matanya yang masih terasa berat itu. Dilihatnya kini ada Bi Nana yang sedang berusaha membangunkannya.


Bella mengucek-ucek kedua matanya. "Ada apa Bi?" tanyanya


"Non ini sudah jam setengah 7, kenapa belum bangun? hari ini sekolah kan?"


Bella melirik kearah jam dinding di kamarnya, benar saja dilihatnya kini jam menunjukkan pukul 06.30. Bella rasanya malas sekali ingin bangkit dari posisinya, entah kenapa ia merasa badannya pegal-pegal sekali.


"Bella gamasuk sekolah dulu hari ini ya Bi," ujarnya


"Loh kenapa? Non Bella gaenak badan?"


Bella mengangguk.


"Memangnya non Bella kemarin habis dari mana aja? Nak Alan nyariin non, dia begitu khawatir sama non Bella, dia juga--"


"Bisa tolong ambilin aku segelas air putih Bi?" potong Bella karena malas mendengar nama pria itu disebut-sebut.


Bi Nana menghela nafasnya kemudian mengangguk mengiyakan. "Yaudah Non Bella istirahat aja." ucapnya kemudian berlalu keluar.


Bella merubah posisinya menjadi duduk sambil menyandar. Dirinya melihat kini masih mengenakan seragam sekolah. Siapa yang membawa dirinya ke kamar? Karena seingatnya terakhir dirinya bersama Justin. Apa Justin yang membawanya?


Mengingat nama Justin membuat Bella menyunggingkan senyum lebar.


Bella turun dari atas tempat tidur, Ia berniat untuk mengganti pakaiannya.


----


Alan yang sedang sarapan di ruang makan, Melihat bi Nana memasuki ruang makan lalu mengambil gelas yang kosong dan mengisinya dengan air putih.


"Gimana Bella bi?" tanya Alan sambil mengunyah makanannya pelan.


"Non Bella sepertinya lagi nggak enak badan, Dia tidak masuk sekolah hari ini."


Alan mengerutkan dahinya.


"Bibi anter minum dulu ya,"


Alan mengangguk kemudian dengan segera menyelesaikan sarapannya.


----


Bella sudah selesai mengganti pakaiannya, kini dirinya kembali berbaring di tempat tidur. Lalu tak lama kemudian Bi Nana masuk sambil membawa segelas air mineral untuknya.


"Non Bella butuh dokter ga? Biar bibi panggilkan," tanya bi Nana sambil memberikan gelas yang dibawanya tadi kepada Bella.


Bella menggeleng sambil menerima gelasnya. "Gausah, Bella cuma butuh istirahat aja paling."


"Yakin?"


Bella mengangguk.


"Mau sarapan? Biar bibi bawakan,"


"Boleh deh,"


Bi Nana segera kembali ke ruang makan untuk menyiapkan sarapan untuk Bella.


Diruang makan, Alan melihat bi Nana sedang menyiapkan sesuatu.


"Untuk siapa?" tanya Alan


"Non Bella," jawab Bi Nana sambil menyiapkan sarapan.


"Tolong jaga Bella nanti pas saya lagi ga ada disini ya Bi. Jangan biarkan dia telat makan." pesan Alan


Bi Nana tersenyum. "Jelas atuh, Itu sudah jadi tugas saya kalau nak Alan ga ada disini."


Alan membalas tersenyum. "Sini bi, biar saya aja yang bawa ke kamarnya."


"Udah selesai sarapannya?" tanya Bi Nana


Alan mengangguk.


"Oh iyaudah nih," balasnya sambil memberikan nampan yang diatasnya sudah tersaji sarapan untuk Bella.


Alan menerima nampan tersebut kemudian langsung berjalan menaiki tangga menuju kamar Bella.


Alan masuk begitu saja ke dalam kamar Bella tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Dilihatnya kini Bella sedang berbaring diatas tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


"Taro di meja aja bi," ujar Bella tanpa menoleh.


Bella mengira Alan adalah Bi Nana. Karena Bella tidak menoleh sedikit pun kearah Alan, dia hanya sibuk dengan gadgetnya.


"Kamu sakit beneran atau bohongan?" ujar Alan sedikit menyindir.


Bella seketika langsung menoleh keasal suara dan terkejut saat mendapati Alan berdiri sambil membawa sarapannya. Dilihat dari penampilan Alan saat ini begitu berbeda dari biasanya. Kini dia terlihat begitu rapih mengenakan kemeja putih lengan panjang serta celana hitam panjang.


"Saya tidak yakin kamu sakit beneran," ujar Alan lagi


Ekspresi wajah Bella langsung berubah menjadi kesal. Memangnya apa urusannya kalau dirinya sakit beneran atau bohongan?


"Nih sarapannya, Cepetan dimakan." perintah Alan


"Iya nanti, taro aja di meja."


"Saya maunya kamu makan sekarang, gapake nanti-nanti Bella." tegas Alan


Bella langsung cemberut kesal. "Ishhh kenapa nyuruh-nyuruh sih?!"


"Cepet di makan." perintah Alan lagi


Bella berdecak sebal. Ponselnya ia letakkan di sampingnya. Mau tidak mau dirinya harus memakan sarapannya saat ini juga.


"Yaudah sini!" ketusnya sambil merubah posisinya menjadi duduk.


Alan langsung memberikan sarapan yang dibawanya tadi kepada Bella.


Bella pun menerimanya dan mulai memangku nampannya.


Sebelum melahap makanannya Bella melirik kearah Alan. Dilihatnya dia masih setia berdiri disana.


"Ngapain disitu? Sana keluar!" Usir Bella.


"Kamu ngusir saya?"


"YA!"


"Saya tidak akan pergi sebelum kamu habiskan sarapannya."


Bella menghela nafasnya pedek. "Astaga Om! Emangnya aku anak kecil apa? kalo lagi makan harus ditungguin sampe selesai?"


"Iya." jawab Alan


Bella langsung melototkan kedua matanya kearah Alan. "Menyebalkan!" gerutunya


"Cepat di makan."


"Iya iya bawel!" kesalnya, kemudian mulai melahap makanannya.


Alan hanya diam diposisinya sambil melihat Bella mengunyah sarapannya.


"Mau sampe kapan kamu disitu terus?!" tanya Bella risih karena Alan terus melihat kearahnya.


"Sudah jangan banyak tanya, cepat habiskan!"


Bella memutar kedua bola matanya malas sambil mengunyah.


Setelah selesai sarapan, Bella memberikan nampan yang diatasnya ada piring serta gelas kotor kepada Alan. "Nih sana bawa ke bawa dapur!" perintahnya


Alan menerima nampan tersebut kemudian diletakkan diatas meja.


"Kok taro disitu sih?!" omel Bella


"Kemarin habis dari mana?" tanya Alan dengan nada dingin.


Bella memundurkan kepalanya sedikit. "Kepo banget sih!"


"Saya nanya Bella. Kamu harus jawab."


"Main!"


"Main kemana?"


"Kemana kek, pengen tau aja urusan anak muda." celetuknya


"Kamu tau? Saya hampir frustasi cari kamu, Sudah larut malam kamu belum pulang juga. Saya khawatir Bel,"


Bella tertegun sebentar saat Alan mengucapkan kata sebagaimana barusan. Benarkah? dia mengkhawatirkannya?


"Jangan lakukan itu lagi, Saya tidak suka." ucap Alan


Aneh. Ini benar-benar Aneh. Bella mengira Alan akan memarahinya habis-habisan karena pulang larut malam. Tapi nyatanya? ya ini lah. Dia berbicara begitu lembut tanpa ada nada sedikitpun membentak.


Entah kenapa Bella merasa hatinya sedikit tersentuh sekarang.


"Jujur sama saya, Kamu membolos kan kemarin?" tanya Alan


"Hmmm.." Bella hanya menjawab dengan gumaman.


"Kenapa? Apa untungnya buat kamu?"


Bella baru saja hendak menjawab, tetapi tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya membuat Bella tidak jadi berbicara.


Tok..tok..tok..


"Nak Alan? Ada temannya dibawah udah nungguin." ujar Bi Nana dari luar.


Bella mengerutkan dahinya bingung. Temannya Alan? Untuk apa kesini?


Alan bangkit dari posisinya, kemudian berjalan kearah pintu dan membukanya.


"Tolong bilangin bi, 5 menit lagi saya selesai." pesan Alan


Bi Nana mengangguk dan kembali turun kelantai bawah.


Alan kembali menutup pintu kamar Bella dan berjalan lagi kearah Bella lalu duduk di posisi yang tadi.


"Beberapa minggu kedepan saya tidak disini, Saya sudah harus kembali melakukan pekerjaan saya." beritahu Alan


Batin Bella terkejut. Benarkah? Beberapa minggu kedepan??


"Oh ya? Bagus kalau begitu." balas Bella


Alan menatap Bella dengan ekspresi datarnya. Entah kenapa saat Bella berbicara seperti itu dirinya merasa Bella seperti kehilangan satu beban.


"Jaga diri kamu baik-baik disini. Semoga kejadian kemarin tidak kamu ulangi lagi." pesan Alan


Bella hanya diam.


Alan bangkit dari posisinya lalu mulai mendaratkan kecupan singkat di dahi Bella. Singkat sekali, bahkan bagi Bella itu tidak terasa apa-apa.


Bella tegang, tentu saja. Ini adalah kecupan pertama yang diberikan Alan untuknya. Kenapa dia begitu berani sekali menciumnya?


Tetapi Bella merasa ini seperti kecupan perpisahan seorang kakak dengan adiknya.


"See you," ucap Alan lalu mengelus-elus kepala Bella dengan lembut, kemudian pergi berlalu keluar begitu saja.


Bella masih terdiam di posisinya dengan pikiran yang campur aduk.


Alan pergi?


Haruskah dirinya senang atau sedih?


Memangnya dimana tempatnya bekerja?


Lalu Bella tersadar saat mendengar suara mesin mobil dinyalakan. Buru-buru Bella berjalan kearah jendela kamarnya, ia membuka tirai jendelanya sedikit untuk mengintip suasana di luar sana.


Ah, ini sepertinya bukan lagi mengintip, karena Bella sudah menampakkan seluruh wajahnya kearah Jendela agar leluasa melihat keadaan di luar sana.


Dilihatnya kini mobil Alan mulai mundur perlahan keluar gerbang. Bella melihat di kursi penumpang depan, tepat disamping Alan ada seorang pria dewasa lain, sepertinya itu adalah temannya yang menunggu tadi. Kaca mobil depan kanan kirinya tidak di tutup jadi Bella bisa melihatnya.


Mobilnya kini sudah keluar gerbang, Bi Nana sudah siap hendak menarik gerbang untuk menutupnya kembali.


Bella melihat kini Alan menatap kearahnya, dia menyadari bahwa Bella sedaritadi mengintip dari jendela kamarnya.


Alan tersenyum tipis kearah Bella, Sedangkan Bella langsung menoleh kearah lain, berpura-pura tidak melihatnya.


Mobil putih itu pun melaju hingga Bella sudah tidak bisa lagi melihatnya.


--------


Bella kembali ke posisinya. Dirinya duduk di tepi ranjang. Pikirannya tertuju pada Alan tentang kecupan yang tadi. Tangannya lalu beralih memegang dahinya yang belum lama bibir Alan mendarat disana. Bella benar-benar dibuat spechlees hanya karena sebuah kecupan. Ini aneh.


Bella lalu menoleh kearah jendela. Dirinya jadi terbayang-bayang lagi senyuman Alan yang barusan saat sebelum mobilnya melaju pergi. Senyuman itu tertuju untuknya, ya tentu saja. Siapa lagi memangnya?


Alan, pria itu belum lama masuk kedalam kehidupannya tetapi sudah membuat pikirannya bercabang.


Dan mulai hari ini hingga beberapa minggu kedepan Alan tidak ada lagi di sisinya. Biasanya pria itu yang terus menguntitnya kemana pun dirinya pergi. Mengantar-jemputnya sekolah, sarapan bersama, hingga berdebat.


Harusnya dirinya senang akan ini. Ya, satu sisi Bella senang karena kini dirinya hidup bebas, tapi satu sisi lagi dirinya merasa ada yang hilang atau kosong padahal baru beberapa menit saja Alan pergi. Ini sungguh tidak biasa.


Lalu ponselnya berbunyi pertanda ada panggilan masuk dan itu membuatnya tersadar dari lamunannya. Bella langsung meraih ponselnya dan segera mengangkatnya saat dilihat nama Papanya tertera di layar.


"Bella?"


"Iya Pa.." jawab Bella


"Kamu sakit?"


"Iya, kecapean aja paling."


"Alan yang kasih tau Papa tadi kalau kamu kurang enak badan. Sekarang dia udah berangkat kan?"


"Iya, barusan."


"Papa disini masih lama Bel, Kemungkinan masih 2 bulan lagi."


Bella hanya diam.


"Kamu berobat gih, minta anter bi Nana aja."


"Gausah, dirumah aja. Bella cuma butuh istirahat aja."


"Kamu yakin?"


"Iya Pa.."


"Yaudah kalau gitu Papa tutup ya telfonnya."


"Hmm" Bella hanya bergumam.


Tak lama kemudian sambungan telfon terputus. Bella langsung melempar ponselnya dengan asal diatas tempat tidur.


**


Diperjalanan Alan lebih sering tersenyum sendiri karena pikirannya terus memikirkan gadis remaja itu. Kedua matanya fokus kedepan sedangkan pikirannya tertuju pada gadis itu. Bella Elyana, ya dia adalah gadis remaja yang akhir-akhir ini terus ada di pikirannya entah kenapa.


Padahal niatnya tadi pagi ingin mengomeli Bella dan memberinya pelajaran, tetapi entah kenapa saat mendengar kabar bahwa gadis itu sedang tidak enak badan membuat dirinya tidak tega untuk mengomelinya.


Kejadian tadi pagi membuatnya terus kepikiran. Entah keberanian dari mana dirinya mencium gadis itu. Dirinya pun merasa ada yang aneh akhir-akhir ini.


.


.


.


TBC