THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
34



34.RUMAH SAKIT


Di sisi lain, Alan sibuk menelfon ponsel istrinya itu yang tak kunjung di jawab. Ia pun mulai khawatir, Kenapa panggilannya tak kunjung diangkat. Ia pun berinisiatif menelfon bi Nana untuk bertanya apakah Bella sudah tiba di rumah atau belum.


"Halo, Bi?"


"Iya, Ada apa Nak Alan?"


"Bella ada di rumah?"


"Nah itu dia, Bibi belum lihat non Bella dari tadi siang."


Alan langsung berdecak sebal karena tidak mendapat informasi dimana keberadaan isterinya sekarang.


"Dia gak pamit sama bibi tadi siang kalau mau pergi?"


"Enggak."


"Berarti Bella sekarang belum pulang??"


"Iya dia gak ada di rumah."


"Papanya Bella sudah pulang belum?"


"Belum, kayaknya pulang malem."


"Ini bibi lagi dimana?"


"'Masih di rumah non Bella. Bibi mau pulang, tapi nunggu non Bella di rumah dulu."


"Oh yaudah, makasih ya bi."


"Iya sama-sama."


Alan mematikan sambungan telfonnya, kemudian kembali mencoba menghubungi Bella. Kini Alan malah semakin geram saat nomer ponsel Bella tidak aktif. Kemana dia sebenarnya


Alan berjalan mondar-mandir di kamar hotelnya dengan perasaan khawatir, Ini sebenarnya yang ia takuti jika berjauhan dengan Bella. Dirinya takut terjadi sesuatu pada Bella.


Tak lama kemudian ponselnya berdering pertanda ada panggilan masuk. Dilihatnya nama Ibunya tertera di layar ponsel, langsung saja ia mengangkatnya.


"Ada apa, Bu?" Tanya Alan to the point.


Tak sengaja ia mendengar suara isakan kecil dari seberang telfon. Apa ibunya itu sedang menangis?


"Halo? Bu, Ada apa?" Tanya Alan lagi, karena ia belum mendengar suara ibunya berbicara.


"Hiks.. Alan, bisa kamu kesini?" Ujar Tia dengan suara bergetar karena sambil menangis.


"Kesini kemana bu? Alan masih di luar kota. Ibu kenapa nangis? Disana baik-baik aja kan, bu?" Alan mulai panik saat mendengar suara ibunya yang bergetar karena sambil menangis.


"Hiks.. Ibu lagi Rumah Sakit Flora."


"Siapa yang sakit bu? Jangan buat Alan khawatir."


"Bisa kamu ke sini secepatnya? Kasihan Bella.."


"Bella?! Ada apa dengan Bella, bu? Kenapa dia?" Alan benar-benar di buat panik saat ibunya menyebutkan nama Bella barusan.


Alan hanya mendengar suara isakan tangis dari seberang telfon. Ibunya itu seperti tidak sanggup untuk menjawab pertanyaannya barusan. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Kakinya sudah terasa begitu lemas saat mendengar Ibunya menangis di seberang telfon ditambah ibunya itu menyebut-nyebut nama Bella.


"Halo, Alan?"


Kini Alan mendengar suara Ayahnya di sebrang telfon. "Ayah, apa di sana baik-baik saja? Kenapa ibu menangis? Apa kalian sedang di rumah sakit? Siapa yang sakit, Ayah? Alan benar-benar khawatir di sini." Alan langsung menghujani pertanyaan kepada Ayahnya itu.


"Bella kecelakaan, Nak. Cepatlah pulang." Ujar Ayahnya Alan dari seberang telfon.


Duarrrrrrrrrrrr.....


Mendengar itu tiba-tiba saja sekujur tubuhnya terasa lemas. Dirinya tidak salah dengarkan? Bella kecelakaan?


"Sekarang Ibu sama Ayah lagi di Rumah Sakit Flora, masih menunggu kabar dari dokter. Bella masih di ruang unit gawat darurat karena mengalami pendarahan hebat." Jelas Arya


Deg.


Kini pikirannya langsung tertuju pada janin yang tengah di kandung Bella. Bagaimana keadaannya? Dirinya benar-benar takut terjadi sesuatu pada mereka berdua.


"Hiks.. Alan cepatlah kemari." Ujar Tia di sebrang telfon


"Iya, Alan segera ke sana, Bu." Balasnya kemudian langsung menutup telfonnya begitu saja.


Tanpa pikir panjang ia langsung memasukkan seluruh barang-barangnya ke dalam koper dengan asal. Untunglah hari ini ia sudah selesai dengan jadwal penerbangannya. Untuk jadwal besok, biarlah itu akan menjadi urusannya nanti.


*****


Di rumah sakit, Bella langsung mendapatkan perawatan. Kurang lebih satu jam ia terbaring di ruang unit gawat darurat saat dokter memeriksa tadi. Kondisinya masih belum sadarkan diri, Bella masih setia memejamkan kedua matanya. Begitu banyak luka di tubuhnya, Kepalanya di perban karna mendapat benturan hebat.


Kemudian pintu unit gawat darurat di buka. Arya, Tia serta Roy yang sedang menunggu di depan ruang unit gawat darurat pun langsung menoleh kearah pintu. Beberapa perawat keluar sambil mendorong ranjang rumah sakit yang diatasnya ada Bella terbaring di sana.


"Mau di bawa kemana, Sus?" Tanya Tia saat mendapati beberapa perawat membawa Bella keluar ruangan.


"Pasien mau di bawa ke ruang operasi, Bu. Dia harus mendapat penanganan segera, karena mengalami pendarahan hebat."


Tia yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya tidak percaya. Air mata terus membanjiri pipinya, sedari tadi suaminya itu hanya bisa mengelus-elus pundaknya untuk menenangkan.


Para perawat itu kemudian membawa Bella ke ruang operasi. Tak lama kemudian dokter yang memeriksa kondisi Bella tadi muncul.


"Gimana keadaan anak saya, Dok? Kenapa dia harus di bawa ke ruang operasi?" Tanya Roy ikut panik.


Dokter tersebut berdiri di depan pintu UGD, kemudian mulai menjelaskan bagaimana kondisi Bella.


"Pasien mengalami benturan hebat pada bagian perut serta kepalanya, Jadi kami perlu penanganan yang lebih serius, terutama pada janin yang tengah di kandung pasien."


"Janinnya selamat kan dok?" Tanya Tia khawatir.


"Saat ini kami belum bisa memastikan bagaimana kondisi janinnya, yang jelas kondisi ibunya sendiri begitu melemah."


"Tolong selamatkan anak saya serta janin yang ada di kandungannya dok." Ucap Roy ikut khawatir.


"Baik. Akan saya usahakan. Kalau begitu saya permisi dulu," kata sang dokter


Tia menangis sesegukan. "Hiks.. gimana kalau Alan tahu kondisi Bella serta janinnya sedang tidak baik-baik saja?"


"Kita berdoa saja Bu, supaya Bella serta janinnya baik-baik saja." Balas Arya


"Aku akan ke sana." Ujar Roy


"Kemana?" Tanya Arya


"Ruang operasi." Jawab Roy


"Bukankah tidak boleh masuk?"


"Aku menunggu di depan pintunya."


"Yasudah nanti kami menyusul," balas Arya sambil menenangkan Isterinya.


****


Kurang lebih sudah setengah jam, Roy, Tia dan Arya menunggu seorang dokter yang memberi Bella perawatan tadi baru keluar dari ruang operasi. Kini Dia melepas masker yang di kenakannya. Roy langsung berjalan mendekati dokter tersebut untuk bertanya.


"Gimana keadaannya, Dok?"


Dokter itu menghela nafasnya. "Kami mohon maaf, Pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi.." dokter tersebut menggantungkan ucapannya karena merasa berat untuk mengucapkan.


Raur wajah Roy seketika berubah. Ia merasa akan mendapat kabar buruk. "Gimana anak saya, Dok?" Tannyanya tidak sabar.


"Kondisi pasien begitu melemah Pak, jadi mohon maaf kami tidak bisa menolong janin yang ada di dalam kandungan pasien karna pasien sendiri pun sampai saat ini belum juga sadarkan diri."


"Hikss.. Jadi janinnya tidak bisa di selamatkan, Dok?" Tanya Tia sambil menangis.


Dokter tersebut menggelengkan kepalanya. "Kami mohon maaf, Bu. Pasien sepertinya mengalami benturan hebat pada bagian perutnya sehingga menyebabkan terlepasnya plasenta dari dinding rahim dan itu yang menyebabkan pasien mengalami pendarahan hebat tadi."


"Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkannya, Dok?" Tanya Roy dengan nada rendah.


Dokter itu menggelengkan kepalanya lagi. "Sekali lagi kami mohon maaf, Pak."


*****


Di perjalanan menuju Kota Jakarta Alan begitu gelisah. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Diperjalanan ia terus memanjatkan doa untuk isterinya. Sekujur tubuhnya terasa begitu lemas selepas mendengar kabar kalau Bella kecelakaan.


Baru kali ini dirinya merasakan takut kehilangan. Ia benar-benar takut kehilangan Bella, entah kenapa.


*****


Bella sudah berada di ruang inap pasien. Ia masih setia memejamkan matanya. Tia yang melihat itu merasa iba. Rasanya begitu berat sekali apa yang dialami Menantunya saat ini. Kedua matanya hanya fokus memandangi wajah Bella yang begitu pucat.


Di ruangan ini hanya ada Bella dan Tia saja. Roy serta Arya sedang berada di luar. Arya berusaha menenangkan Roy yang tampaknya juga begitu kacau.


"Bangunlah, Nak," ucap Tia pada Bella. "Sebentar lagi Alan datang, jadi kamu harus sadar."


Tak lama kemudian, Tia merasa tangan kanan Bella bergerak sedikit. Ia pun terkejut melihat itu. Bella sedang berusaha perlahan-lahan membuka kedua matanya.


"Alan..." ucap Bella pelan memanggil Alan.


"Bel, ini Ibu, Nak." Ujar Tia


"Dimana Alan, Bu?" Tanya Bella sambil memegangi kepalanya yang terdapat perban.


Tia tidak menjawab pertanyaan Bella. "Apa yang kamu rasakan saat ini?"


"Kepala Bella sakit, semua badan Bella rasanya juga kaku banget, Bu. Ada apa sebenarnya?"


"Ibu panggilkan dokter dulu ya, biar dokter yang periksa kamu."


Bella menggelengkan kepalanya. "Gausah Bu. Panggilkan Alan aja, kesini." Pintanya sambil berusaha merubah posisinya menjadi duduk.


"Kamu jangan terlalu banyak gerak, Bel." Ujar Tia


"Perut Bella kok sedikit nyeri ya, Bu." Ujar Bella, kini tangannya beralih memegang perutnya yang rata.


"Awshhhhhhh," ringis Bella kesakitan saat tidak sengaja memegang luka pada bagian perutnya yang di tutupi.


"Apa yang sakit, Bel?? Jangan banyak gerak dulu kan Ibu bilang. Kamu ini habis operasi."


"Operasi? Emangnya apa yang terjadi sama Bella, Bu?"


Tia terdiam. Seharusnya ia tidak membicarakan soal ini sekarang. Karna sekarang bukanlah waktu yang tepat saat melihat kondisi Bella kini.


"Bu, kenapa diem?" Tanya Bella lagi.


Tia masih bungkam. Jujur ia bingung harus menjawab apa. Ia sendiripun masih belum siap memberitahu yang sebenarnya.


Raut wajah Bella seketika berubah. Ia langsung mengangkat baju yang dikenakannya hingga perutnya yang terdapat penutup luka itu pun telihat.


"Janin Bella ga apa-apa kan, bu?" Tanya Bella lagi


Tia yang mendengar Bella bertanya seperti itu pun ia tidak bisa menahan air matanya lagi.


"Bu, Bella tanya. Janinnya ga apa-apa kan? Dia sehat kan bu? Ibu kenapa diem aja?" Tanya Bella mulai geram karna Ibunya Alan tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Ibu kenapa nangis? Jawab pertanyaan Bella, Bu."


Tia menggelengkan kepalanya masih sambil menangis. Ia tidak kuat melihat kondisi Bella sekarang.


"Maafkan Ibu, Bella." Ujar Tia dengan suara bergetar karena sambil menangis.


Mendengar itu Bella langsung menitikkan airmatanya sedih. "Jadi dia tidak selamat, ya bu?"


Tia haya bungkam masih sambil menangis.


Tangis Bella semakin jadi saat Ibunya Alan tak menjawab pertanyaannya, itu artinya benar. Janin yang baru dikandungnya itu tidak terselamatkan.


Bella langsung memukul-mukul kepalanya yang masih terdapat perban. Ia merasa sudah menjadi wanita yang gagal.


"Ihhhhh aku kesel sama diri aku sendiri!!!" Teriaknya kesal sambil memukul-mukul dirinya sendiri.


Tia yang melihat itu langsung mencoba menghentikan aksi Bella yang menyiksa dirinya sendiri. "Bel, jangan sakiti diri kamu sediri!"


"Hiks.. Aku kesel sama diri aku sendiri Bu! Aku merasa udah gagal jadi seorang wanita!" Katanya masih sambil terus memukuli dirinya sendiri.


"Bella! Kamu tidak boleh begini!" Ujar Tia dengan nada sedikit tinggi.


"Hiks..Biarin aja Bu, biar Bella mati sekalian." Katanya putus asa.


Tia menggelengkan kepalanya. "Jaga ucapan kamu!"


"Hiks.. di dunia ini udah gak ada orang yang sayang sama Bella, Bu."


"Kamu masih ada Papa mu Bella, masih ada Ibu, masih ada Ayah, masih ada Alan juga yang sayang sama kamu."


Bella menggelengkan kepalanya. "Alan pasti benci denger ini, Bu. Dia pasti jauhin Bella. Dia pasti marah sama Bella. Dia pasti---" belum selesai Bella mengucapkan katanya, tiba-tiba saja seseorang datang membuka pintu ruangan dan berlari kearahnya kemudian memeluknya begitu saja.


Bella terkejut. Saat mendapati Seseorang yang ia rindukan itu tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya kemudian memeluknya dengan erat.


"Alan.." ucapnya pelan


.


.


.


.


TBC


Penasaran kelanjutannya?


Vote dan komentar dulu yang banyakkkkkkk jangan lupaaaa❣️