
03.MENYATAKAN PERASAAN
Setibanya dirumah Bella menghempaskan tubuhnya diatas ranjang empuknya. Hari ini seperti menjadi hari sial baginya, belum lagi kemarin. Dirinya tidak habis pikir, bagaimana bisa Alan mau diperintahkan Papanya untuk mengawasi dirinya? Lagi pula apa dia tidak ada pekerjaan lain? Apa dia tidak ada kerjaan sehingga begitu menerima saja diperintahkan Papanya untuk mengawasi dirinya selama beberapa bulan kedepan.
Bella tidak habis pikir dengan jalan pikiran Papanya itu. Sebenarnya apa yang direncakan Tuhan dan Papanya saat ini?
Bagaimana pun juga Bella harus bisa membuat Alan menyerah, dirinya harus mencari cara lain agar Alan tidak betah dengannya dan kemudian pergi begitu saja. Karena dengan begitu dirinya bisa bebas tanpa ada pengawasan orang dewasa.
Dirinya masih begitu kesal dengan kejadian barusan. Bisa-bisanya Alan berkata sebagaimana tadi. Kini malah dirinya yang jadi berbalik dikerjai Alan, padahal niatnya ingin mengerjai Alan.
Selang beberapa menit kemudian Bella mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Bella langsung bangkit dari posisinya dan berjalan kearah jendelanya yang masih terhalang tirai. Digeser sedikit tirai jendelanya itu sehingga Bella bisa melihat kearah luar. Dilihatnya kini ada Pria yang begitu dirinya kesal sejak tadi siang, siapa lagi kalau bukan Alan.
Alan baru saja selesai memakirkan mobilnya dihalaman rumah Roy, kemudian berjalan memasuki rumahnya.
Bella masih diam diposisinya. Kepalanya kini diisi dengan begitu banyak pertanyaan mengenai Alan saat ini.
Apa Alan benar-benar akan menginap disini selama beberapa bulan kedepan? Apa yang akan di lakukannya untuk hari-hari kedepan selama papanya itu tidak dirumah? Apa dia hanya diam dirumah mengawasi dirinya terus-terusan? Menurutnya itu sangat membosankan. Lebih berguna lagi jika Alan lebih baik bekerja saja agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dari pada harus mengawasi dirinya dirumah untuk beberapa bulan kedepan.
Lalu terdengar suara langkah kaki menaiki tangga. Bella sudah bisa menebak bahwa itu ialah Alan hendak menuju ke kamarnya.
Buru-buru Bella mematikan lampu kamarnya dan menyalakan lampu tidurnya. Ia langsung menarik selimutnya hingga batas leher dan memejamkan kedua matanya berpura-pura sudah tidur.
'Ceklek' Terdengar suara pintu kamarnya terbuka. Kemudian lampu dinyalakan, Bella bisa merasakannya bahwa Alan baru saja menyalakan lampu kamarnya.
Saat itu juga Bella langsung keringat dingin. Dirinya begitu merutuki kebodohannya karena lupa mengunci pintu kamarnya. Bagaimana jika Alan berbuat macam-macam padanya?
Bodoh. Bodoh. Bodoh. Itu yang ada dipikirannya saat ini.
Hening. Tidak ada suara sedikit pun. Bella penasaran, apa yang dilakukan pria itu sehingga tidak menimbulkan suara lagi. Apa dia sudah keluar kamar? kalau sudah pasti terdengar suara pintu tertutup, tetapi ini belum. Bella belum mendengar suara pintu kamarnya ditutup.
Bella sangat penasaran sekali. Alhasil kini dirinya mengintip-ngintip untuk melihat apa yang dilakukan Alan saat ini. Perlahan-lahan ia membuka matanya sedikit, kini dirinya menangkap sosok Alan yang berdiri tepat menghadapnya. Dia tampak begitu diam saja menatap kearahnya.
Saat ini Bella benar-benar ketakutan setengah mati. Lebih baik dirinya bertemu dengan hantu atau semacamnya dikamarnya ini daripada harus melihat sosok Alan yang begitu menyeramkan saat ini berdiri menghadap kearahnya.
Raut wajah Alan tidak bisa dibacanya. Bella takut, dirinya takut kalau Alan dendam terhadapnya karena dirinya pulang begitu saja tanpa membayar makanan yang sudah dimakannya di cafe tadi.
"Saya tau kamu berpura-pura tidur." ujar Alan dengan nada datar.
Deg! Alan mengetahui kalau Bella benar-benar belum tidur.
"Buka matamu Bella."
Bella terpaksa harus membuka kedua matanya saat Alan sudah mengetahui kalau dirinya hanya berpura-pura.
"Apa?!" ketus Bella
"Kenapa kamu pulang gitu aja tadi?"
"Yaa suka-suka lah! Emangnya gak boleh?!"
Alan terdiam sejenak. "Jangan ulangi itu lagi Bella."
Bella tediam. Why? Apa karena dirinya tidak membayar?
Alan menghela nafasnya berat lalu berbalik dan keluar dari kamar Bella. Tak lupa pintu kamar itu ia tutup kembali.
Bella langsung menghela nafasnya lega saat Alan sudah tidak berada di dalam kamarnya lagi.
"Hfttt.. Belum ada satu hari aja udah begini, Gimana nanti hari-hari selanjutnya?" batin Bella.
🌻🌻🌻
Keesokkan harinya Bella sudah siap hendak bergegas ke sekolah, Kakinya melangkah menuju ruang makan untuk sarapan. Setibanya di ruang makan, Bella mendapati Bi Nana yang sedang menyiapkan beberapa sarapan untuknya.
"Selamat pagi Non.." ucap Bi Nana dengan ceria
Bella tersenyum. "Semalam nginep disini kan Bi?" tanyanya
Bi Nana mengangguk. "Iyaa non."
Bella lalu celingak-celingkuk mencari seseorang yang belum kelihatan batang hidungnya sejak tadi.
"Cari siapa non?"
"Om-om tua bangka, Liat ga Bi?"
Bi Nana mengerutkan dahinya bingung. "Memangnya disini ada om-om tua bangka?"
"Ishhh itu loh bi si Alan."
Saat itu juga bi Nana langsung tertawa. "Hahaha ohhh nak Alan toh, dia mah masih muda ganteng begitu tua bangka dari mananya sih non?"
"Ishhh pokoknya dia itu umurnya udah kepala dua jadi pantes di panggil om-om!"
"Emangnya non tau umurnya dia berapa?"
Bella hanya menggeleng tidak tahu.
Bi Nana hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala dengan heran. "Yasudah atuh itu dimakan dulu sarapannya, Bibi udah siapkan."
Bella segera duduk di kursinya dan melahap sarapannya.
"Bibi liat dia gak?" tanya Bella lagi
"Sepertinya dia lagi olahraga di sekitaran komplek sini."
Bella hanya ber-Oh ria saja, kemudian kembali melanjutkan sarapannya.
Â
Setelah selesai sarapan Bella segera bergegas keluar rumah hendak berangkat ke sekolah. Saat dibukanya pintu, dirinya dikejutkan dengan sosok Alan yang sudah berdiri tegap di depan pintu dengan keringat yang bercucuran sehabis olahraga.
"Mau berangkat sekolah?" tanya Alan sambil menyeka keringatnya dengan handuk kecil.
"Hmm," Bella hanya menjawab dengan gumaman.
"Saya yang antar kamu."
Bella menaikkan sebelah alisnya, dirinya tidak salah dengar kan? Alan ingin mengantarnya kesekolah? Yang benar saja.
"Nggak!" tolak Bella kemudian berjalan begitu saja melewati Alan dengan langkah cepat.
Alan menghela nafasnya pasrah melihat punggung Bella yang sudah menjauh.
"Yaudah kalau gitu pulangnya nanti saya jemput." ucap Alan sedikit berteriak agar Bella mendengarnya.
***
Saat Bel jam pulang sekolah berbunyi, Bella hendak bangkit dari posisi duduknya namun tiba-tiba saja Bella dikejutkan dengan seseorang yang menutup kedua matanya dengan sebuah kain begitu saja.
"Ehhh siapa ini?" panik Bella
"Tenang aja Bel, kita ga macem-macem kok."
Bella mengenal suara orang tersebut. Itu adalah suara temannya dikelas, namanya Hana.
"Ikut yuk," ajak Hana sambil menuntun Bella berjalan.
"Ini mau kemana Han?"
"Udah ikut aja."
Bella hanya menurut dituntun Hana entah kemana, dirinya tidak tahu.
Hana berhenti, Begitu juga dengan Bella. Sudah bisa ditebak Hana membawanya ketengah-tengah lapangan karena dirasanya kini matahari cukup terik.
Hening. Bella tidak mendengar suara apapun disini.
"Jangan dibuka penutup matanya sebelum hitungan ke 5 ya Bel." ujar Hana
"Emangnya ada apa sih ini?"
"Udah diem. Nurut aja."
"Satu.."
"Dua.."
"Tiga.."
Kedua tangan Bella sudah siap memegang kain yang menutupi matanya.
"Empat.."
"Li...ma.."
Bella langsung membuka penutup matanya dan seketika dibuat Speechless. Dihadapannya kini ada sosok Justin yang berdiri tegap sambil memegang sebuket bunga di tangannya.
"Hai La." sapa Justin
Bella tersenyum malu-malu.
"Setelah sekian lama, saat inilah waktu yang paling aku tunggu yaitu saat yang tepat untuk mengutarakan perasaan dan isi hati ini." ucap Justin sambil mendekat kearah Bella beberapa langkah dan bersimpuh dihadapannya layaknya seseorang yang sedang mengutarakan perasaan cintanya.
"Aku ingin mengungkapkan sebuah hal yang tak sanggup lagi aku pendam lebih lama. Aku harap ini tidak terlalu cepat dan mengejutkanmu. Aku jatuh hati sama kamu La, maukah kamu jadi pacarku?" lanjutnya dengan lantang dan tegas.
Bella menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan speechless. Dirinya benar-benar tidak menyangka dengan ini, ternyata Justin memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Ya, jujur saja Bella sudah memendam rasa menyukai justin sejak kelas 1 SMA.
Dan kini dirinya benar-benar senang saat mendengar Justin berbicara sebagaimana barusan bahwa ternyata Justin juga memiliki perasaan terhadapnya.
"Di jawab La," ujar Justin sambil menyodorkan bunga yang dipegangnya.
"Terima! Terima! Terima!" sorak para murid.
Bella menoleh kearah belakang, lagi-lagi dirinya dibuat terkejut. Ternyata dibelakangnya ada banyak murid-murid yang menontonnya. Sepertinya ini semua sudah diatur Justin, karena ada beberapa murid yang membawa papan bertuliskan 'Terima'.
Bella kembali fokus dengan orang yang masih bersimpuh dihadapannya. Dirinya menarik nafas panjang sebentar kemudian menghembuskannya pelan.
"Iya aku mau." jawab Bella
"Hah? Apa La? Ga kedengeran."
"Iya aku mau Justin."
"Ssstttttttt, Woyy pada diem dulu kek!" tegur Justin kepada murid-murid yang masih bersorak.
Bella terkekeh pelan.
"Yang kenceng dan jelas La ngomongnya biar semuanya pada denger."
"IYA AKU MAU JADI PACAR KAMU JUSTIN ALFARO" jawab Bella dengan kencang.
Justin memberikan bunga yang dipegangnya tadi kepada Bella dan Bella menerimanya. Saat itu juga Justin langsung bangkit dari posisinya dan tersenyum senang.
Suara sorak riuh para murid kembali terdengar. Tanpa aba-aba Justin langsung memeluk tubuh Bella karena senang.
Bella ikut senang jika melihat Justin senang.
"Jadi ini semua rencana kamu?" tanya Bella saat Justin melepas pelukannya
Justin mengangguk. "Iya, keren kan."
"Hahaha pede banget." celetuk Bella meledek
"Hari ini aku akan traktir kamu makan di restaurant, Kamu mau?" tawar Justin
Bella langsung mengangguk. "Mau!" jawabnya semangat
Justin tersenyum dan langsung menautkan tangan bela dengan tangannya. Kini mereka berdua saling berpegangan tangan.
"Eh Letoy! tolong ambilin tasnya Lala dong, tas dia masih dikelas." perintah Justin pada teman sekelasnya yang diberi panggilan Letoy itu.
"Emang dia namanya Letoy?" tanya Bella sedikit polos.
Justin menggeleng. "Nama aslinya Adam Sari,"
"Hahahaha seriusan?! Kok namanya kayak merk minuman yang untuk meredakan panas dalam itu ya? Iya gak si? apa aku salah?"
"Itu Adem Sari woy!" celetuk Adam yang merasa namanya dijadikan bahan bercandaan.
Justin tertawa. "Cepet Toy ambilin tasnya Lala dikelas."
Adam memutar kedua bolamatanya malas. "Yang mana tasnya?"
"Aku bisa ambil sendiri kok." kata Bella
"Eitss gausah kamu disini aja," balas Justin sambil memberi kode kepada Adam untuk segera menjalankan perintahnya.
Kemudian Adam yang diperintahkan Justin tadi menurut dan segera melakukannya.
"Tasnya warna biru yang ada gantungan bonekanya." Teriak Justin memberitahu saat Adam sudah berjalan kearah ruang kelasnya Bella.
"Dia kenapa kamu panggil Letoy?"
"Yaa lagian itu orang aku dorong pelan aja jatoh masa, letoy banget kan? Nah yaudah deh ku panggil letoy aja dari pada Adem Sari hahaha."
"Hahahaha" Bella tertawa geli mendengar itu.
Lalu tak lama kemudian Adam datang membawakan tas milik Bella. "Nih, bener ini kan?"
Bella mengangguk sambil menerima tasnya. "Terimakasih Letoy."
Adam hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Kamu bawa mobil?" tanya Bella kepada Justin
Justin mengangguk. "Iya karena hari ini spesial."
Bella hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu tunggu di mobil dulu sebentar ya." perintah Justin
Bella mengangguk dan segera berjalan kearah mobil Justin untuk masuk kedalamnya. Dilihatnya dari kaca mobil, kini Justin memberikan selembar uang dua puluh ribuan kepada masing-masing murid yang bersorak-sorak tadi. Sepertinya mereka semua team sukses Justin. Bella tidak bisa berhenti tersenyum senang saat ini.
Justin kemudian masuk kedalam mobil sambil menghela nafasnya lega.
Bella memangku tasnya diatas paha.
Justin segera menyalakan mesin dan melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah.
Tanpa Bella sadari ternyata sedari tadi ada Alan yang memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Alan melihat semuanya, dimana pada saat Bella berjalan dituntun temannya dengan mata yang ditutup lalu Justin menyatakan cintanya sambil bersimpuh dan setelah itu mereka berpelukan.
Kini Alan melihat mobil yang di tumpangi Bella sudah melaju. Buru-buru dirinya masuk kedalam mobil dan mengikuti kemana mobil yang ditumpangi Bella melaju.
Â
Alan menghentikan mobilnya saat mobil yang ditumpangi Bella bersama seorang laki-laki itu berhenti tepat di depan sebuah restaurant.
Kini Alan melihat keduanya sudah keluar mobil dan mulai berjalan memasuki restaurant. Alan pun segera keluar dari mobil dan mengikuti dua sejoli itu.
Alan duduk di bangku yang tidak terlalu jauh posisinya dari Bella dan lelaki itu. Kini dilihatnya keduanya tampak biasa-biasa saja. mereka berdua sambil mengobrol sedikit dan Alan tidak mengerti apa yang mereka bahas, yang jelas mereka berdua sedang membahas temannya di sekolah.
Alan harus tiba lebih dulu di rumah daripada Bella.
***
Setibanya dirumah, Bella langsung keluar dari dalam mobil dan diikuti dengan Justin.
"La," panggil Justin
Bella menoleh. "Iya?"
"Aku masih ga nyangka kalau kamu terima cinta ku tadi."
Bella hanya tersenyum.
"Yaudah gih sana masuk."
Bella menganguk mengiyakan. "Yaudah ya aku masuk."
"Ehhh tunggu sebentar."
"Ada apa?"
Justin mendekat kearah Bella dan mengecup keningnya begitu saja. Bella sontak terkejut akan perlakuan Justin barusan.
Lalu tiba-tiba terdengar suara deheman yang membuat Justin menjauhkan bibirnya dari kening Bella.
Bella terkejut ternyata Om-om tua bangka menyebalkan itu yang berdehem barusan dan sudah merusak moment romantisnya.
"Udah mesra-mesraannya? Masuk ke dalam rumah gih!" perintah Alan kepada Bella dengan nada datar.
"Lah emangnya kamu siapa berani nyuruh-nyuruh?!" kesal Bella
"Masuk atau saya laporkan ke papa kamu yang barusan?!" ancam Alan
Saat itu juga Bella bungkam. Dirinya benar-benar kesal dengan Alan. Bisa-bisanya dia mengancam dirinya seperti itu.
"Siapa dia La?" tanya Justin tidak kenal.
"Kamu pulang aja Just, nanti ku ceritakan di telfon." ujar Bella terang-terangan di depan Alan.
Justin menatap Alan dengan sengit. Sedangkan Alan hanya menatap datar kearah Justin.
"Masuk Bella!" perintah Alan sekali lagi.
Bella pun akhirnya menurut. "Hati-hati di jalan Just, byee." ucapnya sambil berjalan memasuki rumahnya.
"Iya Lala." balas Justin singkat.
Alan menilai penampilan Justin dari atas hingga bawah kemudian setelah itu berbalik masuk kedalam rumah meninggalkan Justin yang masih diam di tempat.
---
Didalam rumah Bella berjalan dengan langkah cepat menaiki tangga menuju kamarnya. Dirinya benar-benar kesal dengan Alan saat ini, dia begitu sudah kelewatan. Bella ingin protes kepada Papanya, dirinya tidak suka di atur-atur ataupun dikekang.
"Berhenti Bella!" panggil Alan saat Bella baru beberapa langkah menaiki tangga.
Bella menghentikan langkahnya tanpa mau menoleh kebelakang.
"Habis dari mana kamu?" tanya Alan berpura-pura tidak tahu, padahal ia tahu semuanya.
"KEPO!" balas Bella dengan nada ketus kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Saya laporin ke Papa kamu ya Bella!"
"Laporin aja, gak takut!" balas Bella sebelum kemudian membanting pintu kamarnya dengan keras.
Bi Nana segera ke ruang tengah saat mendengar suara ribut-ribut dan bantingan pintu keras.
"Ada apa nak Alan?"
Alan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa. Saya titip Bella sebentar ya?"
Bi Nana mengangguk. "Memangnya nak Alan mau kemana?"
"Ada urusan sebentar."
Bi Nana hanya ber-Oh ria saja.
"Jangan biarkan Bella keluar tanpa seizin saya ya Bi. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya aja." beritahu Alan
"Iya siap!" jawab Bi Nana sigap.
Alan tersenyum kemudian setelah itu berbalik dan pergi.
***
Di kamar Bella hanya menggerutu kesal karena kejadian tadi. Semakin hari dirinya bertambah benci dengan Alan, dia begitu penuntut sama seperti papanya dan dirinya tidak menyukai itu.
Lalu ponselnya berdering pertanda ada panggilan masuk, buru-buru ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas kasur. Nomor tidak dikenal menelfonnya, siapa ini?
"Bella?" panggil seseorang dari seberang telfon.
Bella mengenal suara ini. "Papa?"
"Iya ini Papa. Kamu lagi di mana?"
"Di rumah."
"Kamu baik-baik saja kan dirumah?"
"Tidak baik Pa, sangat tidak baik." batin Bella
"Bell kenapa diem aja?"
"I-iya baik Pa."
"Bagaimana Alan?" tanya Roy
"Bagaimana apanya maksudnya Pa?"
"Papa harap kamu betah bersama Alan."
Bella hanya bungkam saat Papanya berbicara seperti itu.
"Selama Papa tidak di Jakarta, pokoknya Alan yang selalu antar-jemput kamu kemana pun ya."
"Tapi Pa--"
"Tidak ada penolakan. Kalau kamu menolak uang mingguan tidak Papa transfer."
Bella menghela nafasnya pasrah. Papanya ini sebelas dua belas dengan Alan, bisanya mengancam orang saja.
"Terserah deh." malas Bella
"Yasudah Papa tutup dulu telfonnya ya, papa masih ada pekerjaan lain."
"Hmm.." Bella hanya bergumam. Lalu sambungan telfon pun teputus.
***
Malam harinya Bella sedang videocallan bersama kekasih barunya, yaitu Justin. Dirinya sedaritadi tertawa geli karena ulah Justin, dia terus membuat perut geli dengan perkataan-perkataan lucu atau gombalnya.
"La," panggil Justin dari seberang telfon.
Bella melihat kini raut wajah Justin yang lebih serius di layar ponselnya.
Bella menghentikan tawanya. "Iya kenapa?"
"Kamu cinta sama aku kan?"
"Kenapa tanya gitu?"
"Kalau jawabannya iya, itu artinya kamu percaya sama aku kan?"
Bella terdiam sejenak, kemudian mengangguk mengiyakan.
"Janji jangan pernah tinggalin aku ya?"
"Kamu juga janji jangan pernah tinggalin aku, apapun yang terjadi ya?"
Justin mengangguk. "Mana jari kelingking kamu?"
"Nih," Bella mengarahkan jari kelingking kanannya kearah kamera.
"Kita buat janji online ya."
Bella terkekeh mendengar itu.
"Kamu ikutin kata-kata ku ya?"
Bella mengangguk mengiyakan.
"Aku.."
"Aku.." ulang Bella
"Berjanji.."
"Berjanji.."
"Tidak akan meninggalkan kamu apapun yang terjadi."
"Tidak akan meninggalkan kamu apapun yang terjadi."
Justin mengarahkan jari kelingkingnya didepan kamera. "I Love you.." ucapnya
"I love tou too.." balas Bella sambil tersenyum manis.
"Udah makan?" tanya Justin
Bella menggelengkan kepalanya. "Belum."
"Ini sudah malam, kenapa belum makan?"
"Baru jam segini, makannya nanti aja."
"Makan La, Kalo kamu gamau makan yaudah aku yang makan."
"Hahaha ko bisa gitu?"
"Hehehe yaudah sana cepetan makan."
"Males turun kebawah, nanti ketemu om-om tua bangka itu." kata Bella
Bella memang sudah menceritakan semuanya kepada Justin mengenai Alan yang baru tinggal disini serta Papanya yang baru kemarin tugas di luar kota. Mendengar cerita dari Bella membuat Justin sedikit was-was terhadap Alan.
"Kalau dia berani macam-macam sama kamu, kamu tinggal sebut nama ku tiga kali di dalem hati."
"Hahaha emang ngaruhnya apa?"
"Nanti dalam hitungan detik aku udah ada disana, dihadapan kamu."
"Halahh gombal!" celetuk Bella
"Yaudah gih sana makan."
"Yaudah, jadi videocallannya udah ni sampe disini aja?"
"Iya. Eitss tapi jangan ditutup dulu sebentar."
"Kenapa?"
"Good Night La, I love you.." ucap Justin
Bella kembali terkekeh mendengar itu. "Iya Justinnnnn"
"Kok iya aja sih?"
"Ishhh udah lah, ini kapan aku makannya?"
Justin terkekeh melihat wajah Bella saat ini. "Yaudah yaudah byeee.."
"Bye.."
Sambungan telfon pun terputus. Bella meletakkan ponselnya diatas kasur dan setelah itu berjalan keluar kamar hendak menuju ruang makan untuk makan.
Bella celingak-celinguk mencari keberadaan om-om menyebalkan itu. Dilihatnya kini tidak ada tanda-tanda dia berada disini, kemana dia?
Bi Nana kebetulan ada di ruang makan, sepertinya Bi Nana juga baru saja selesai makan.
"Eh non Bella, Mau makan?" kata Bi Nana
"Iya."
"Biar saya siapkan non."
"Tidak perlu bi, Bella bisa sendiri kok."
"Yasudah kalau begitu. Makanannya baru saja bibi angetin tadi."
Bella hanya ber-Oh ria. "Bi lihat Alan tidak?"
"Nak Alan pergi dari tadi siang non, dia belum kembali sampai sekarang. Pintu rumah sudah bibi kunci soalnya sudah jam segini."
"Kemana dia?"
"Bibi kurang tahu, dia sih bilang tadi siang katanya ada urusan."
"Alhamdulillah, Aku doain semoga urusannya itu gak selesai-selesai supaya dia gak kembali kerumah ini."
"Ishhh gaboleh begitu non, nak Alan orang yang baik loh."
"Yeeu Bi Nana tau dari mana emang kalo dia orang baik"
"Bibi sih nebak aja."
"Diamah tampangnya aja kelihatan baik."
"Yasudah non, itu di makan nanti keburu dingin. Bibi pamit ke kamar ya non, matanya udah 5 watt nih."
"Iyaudah sana tidur Bi." ucap Bella sambil kembali fokus kepada makanannya dan tidak lagi membahas Alan.
.
.
.
TBC