
29.WEDDING
ALURNYA AUTHOR CEPETIN YAA SUPAYA GA KEBANYAKN PART hehe😂
Happy reading❤️
****
Beberapa minggu kemudian...
Waktu bergulir begitu cepat dan tak terasa hari ini adalah hari pernikahannya. Pernikahan ini harus segera di lakukan karena permintaan Papanya.
Dengan jantung yang berdebar Bella menerima semua ini, meskipun ia belum tahu apakah Alan yakin dengan pilihannya itu. Hanya tinggal hitungan beberapa menit lagi dirinya sudah sah menjadi isteri Alan, entah bagaimana dirinya bisa menjalankan semua ini nanti.
Tidak ada teman di sekolahnya yang ia undang, karena takut akan menimbulkan berita yang tidak enak. Bella hanya mengundang satu teman dekatnya di sekolah, yaitu Hana. Sedangkan para saksi dan tamu undangan hanyalah suadara-saudara dekat dan jauh dari kedua belah pihak.
Bella menatap dirinya dipantulan cermin, Ia kini sudah dengan balutan kebaya pengantin sederhana berwarna putih serta riasan makeup pengantin menghiasi wajahnya dengan beberapa aksesoris lainnya.
Lalu terdengar suara ketukan pintu kamarnya membuat Bella tersadar dan menoleh. Pintu terbuka dan menampakkan Hana di sana dengan balutan kebaya birunya serta riasan makeup natural. Hana berjalan mendekat kearah Bella.
"Semuanya udah pada siap di bawah." beritahu Hana.
Bella meneguk salivanya dengan kaku. "Gue.. masih ragu Na."
"Oh astaga Bella, ini adalah keputusan yang lo ambil jadi lo harus yakin sama diri sendiri!" Hana lalu memegang pundak Bella untuk meyakinkan, "Percaya sama gue, ini adalah pilihan yang terbaik." lanjutnya.
Bella menghela nafasnya pendek lalu mengangguk. Hana langsung mengiring Bella untuk turun kelantai bawah dimana para tamu saksi sudah menunggu. Pernikahannya ini berlangsung di kediaman rumah orangtuanya Alan.
Kakinya melangkah perlahan-lahan menuruni tangga, sebenarnya ia gemetaran karena ini ia rasakan hanya sekali dalam seumur hidup. Hanya senyuman kikuk tercetak dibibir Bella, dia tampak begitu gerogi saat ini.
Setibanya dilantai dasar, Bella menghentikan langkahnya sebentar dan semua para tamu saksi langsung menoleh kearahnya. Kini ia menjadi pusat perhatian. Bella menjadi tambah kikuk karena semua orang menatap kearahnya, termasuk Alan. Ya, Bella kini melihat kearah Alan yang sedang duduk dihadapan papanya dengan setelan jas pengantin yang sepasang dengannya. Tatapan keduanya bertemu.
"Bel ayo, kenapa malah bengong?!" bisik Hana dan membuat Bella langsung memutuskan kontak matanya dengan Alan.
"I-iya." balas Bella sedikit salah tingkah.
Bella lalu berjalan mendekat kearah Alan yang duduk tepat dihadapan papanya. Dirinya duduk dengan kaki ditekuk rapat tepat disamping Alan. Bella tidak berani menoleh kearah Alan, sedangkan Alan sedaritadi terus menarik nafasnya pendek lalu menghembuskannya perlahan seakan sedang mengatasi geroginya.
"Sudah siap?" tanya Penghulu kepada Alan dan Bella.
"Siap." jawab Alan sedikit santai sedangkan Bella hanya mengangguk dengan kikuk.
Bella menoleh sebentar kearah papanya yang duduk bersebelahan dengan penghulu, dia hanya mengembangkan senyum bahagianya saat ini. Sudah lama sekali rasanya tidak melihat papanya tersenyum bahagia. Apakah papanya begitu bahagia?
Roy berjabat tangan dengan Alan,
"Ananda Alan Anggara bin Arya Anggara, aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandungku, Bella Elyana dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan uang berjumlah seratus juta rupiah di bayar tunai." ucapnya lantang.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Bella Elyana binti Roy Megantara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." balas Alan tak kalah lantang.
Penghulu mengedarkan pandangannya sekeliling, "Bagaimana sah?"
"Sah..." jawab para saksi serentak
"Alhamdulillah..."
Kini status Bella sudah sah menjadi isterinya Alan.
Setelah itu Alan menyematkan cincin dijari manis Bella, begitu juga sebaliknya. Bella menyalami tangan Alan sebagai rasa hormat kepada sang suami. Kemudian Alan mencium keningnya cukup lama.
Bella hanya bisa memejamkan kedua matanya saat Alan mencium keningnya dengan lembut. Jantungnya kembali berdebar dengan cepat saat Alan mencium keningnya.
"Oh, Ya Tuhan.." batin Bella
Alan tersenyum menatap Bella, "Kamu cantik sekali Bel," bisiknya
Seketika Bella dibuat merona oleh Alan.
***
Malam harinya, Bella duduk di tepi ranjang dengan perasaan campur aduk. Malam ini ia menginap di rumah orang tuanya Alan. Ia bingung harus melakukan apa malam ini, karena ini adalah malam pertama dirinya dengan status yang berbeda.
Bella melirik kearah bantal serta guling yang tersedia diatas ranjang. Pikirannya langsung tertuju pada yang aneh-aneh. Apakah dirinya dan Alan akan tidur satu ranjang? Lalu apa yang harus dirinya lakukan malam ini?
Bella benar-benar dibuat seperti orang polos yang tidak tahu apa-apa. Seharusnya ia tidak gerogi seperti ini, Toh sebelum ini dirinya pernah tidur satu ranjang dengan pria lain.
Oh astaga, baru malam pertama saja sudah seperti ini. Lalu bagaimana malam-malam selanjutnya?!
Ceklek.. Suara pintu terbuka. Bella langsung menoleh kearah pintu dan mendapati Alan disana yang hendak menutup pintu kembali.
Jantung Bella langsung berdebar lebih cepat. Kini Alan berjalan kearahnya dengan setelan tidurnya, seakan sudah siap hendak tidur.
"Belum tidur?" tanya Alan
Bella hanya mengangguk kikuk.
Alan duduk tepat di samping Bella dan menatapnya. "Kenapa? Laper?"
Bella menggeleng. "En-ngga kok."
"Terus?"
"Gapapa, i-ini baru mau tidur." jawabnya sedikit gugup
Bella mulai berbaring diatas ranjang dengan jantung yang berdebar cepat. Sungguh, dirinya belum pernah merasakan seperti ini.
Alan hanya diam melihat Bella yang menyelimuti tubuhnya sendiri dengan selimut tebal hingga batas leher.
"Tapi sebenernya aku belum ngantuk," ucap Bella
"Lalu?"
"Martabak? Malam-malam begini?"
Bella mengangguk. "Iya martabak dekat rumah ku, Itu rasanya enak."
"Besokkan kita ke rumah kamu, belinya besok aja gimana?"
Bella memanyunkan bawah bibirnya. "Kepengennya sekarang.."
Alan kemudian melirik kearah jam dinding kamarnya. Dilihatnya kini jam menunjukkan pukul 9 malam.
"Jam segini masih buka?"
Bella mengangguk. "Tutupnya jam 12 malam."
"Yaudah saya ganti baju dulu." ujar Alan sambil bangkit dari posisinya hendak berganti pakaian.
Bella menghela nafasnya lega saat Alan mulai masuk ke dalam walk in closet. Ia langsung merubah posisinya menjadi duduk.
Tak lama kemudian Alan muncul dengan pakaian santainya, kaos polos serta celana pendek sebatas lututnya.
"Kamu di sini aja kan?" tanya Alan sambil meraih kunci mobilnya di atas nakas.
Bella mengangguk. "Aku tunggu, Hati-hati ya."
"Iya." balas Alan kemudian pergi berlalu keluar.
****
Tepat pukul setengah sepuluh malam Alan sudah kembali ke rumahnya dengan membawa tentengan plastik berisi martabak keju sesuai keinginan Isterinya. Ah, berbicara tentang isteri, Dia pun masih sedikit tidak menyangka bisa menikahi gadis remaja seperti Bella.
Kakinya melangkah menaiki tangga menuju kamarnya, saat di bukanya pintu. Ia mendapati Bella yang tengah terkikik geli duduk di sofa sambil menonton acara tv.
"Eh udah dateng, sini.." ujar Bella sambil mengajak Alan untuk mendekat kearahnya.
Alan kemudian berjalan mendekat kearah Bella dan memberikan makanan yang dibelinya tadi kepada Bella. Ia pun duduk di sebelah Bella.
"Mau di makan kapan?" tanya Alan
"Ya sekarang dong,"
"Emangnya belum ngantuk?"
Bella menggeleng sambil melahap martabak yang di beli Alan tadi.
"Kamu mau?" tawarnya dan Alan menggeleng.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
"Saya nunggu kamu tidur duluan."
Seketika Bella tersedak makanan yang sedang dikunyahnya. 'Uhuk..uhuk..'
Langsung dengan sigap Alan mengambil sebotol air mineral yang tersedia di atas nakas. "Hati-hati makannya." ucap Alan sambil membuka penutup botolnya yang masih tersegel kemudian memberikan minumannya kepada Bella.
Bella langsung meneguk air mineralnya hingga setengah. "Terima kasih." ucapnya sambil memberikan kembali kepada Alan.
Alan meletakkan kembali di atas nakas kemudian menatap Bella dengan serius. Bella yang ditatap seperti itu ia pun kembali kikuk dan deg-degan. Suasana seketika berubah menjadi canggung.
"Bel," panggilnya
"I-ya."
"Boleh saya merubah panggilan menjadi aku-kamu?"
Bella terdiam sejenak. Kemudian Alan berbicara lagi, "Kesannya terlalu baku, kalau suami-isteri pakai kata Saya."
Bella mengangguk kikuk. "I-iya terserah kamu aja."
Alan kemudian tersenyum tipis. "Yaudah di lanjut makannya."
"Kamu yakin gamau? ini enak loh, kamu harus coba. Ini langganan aku tiap minggu." kata Bella memecah kecanggungan.
"Kamu aja yang habisin, kan kamu yang minta."
"Ih nih kamu harus coba, ini enak bangetttt." kata Bella sambil menyodorkan sepotong martabak ke mulut Alan, seakan memaksa Alan untuk memakannya.
Mau tidak mau Alan terima, Ia mengunyah martabak tersebut yang di sodorkan Bella. "Kamu nonton apa sih itu?" tanyanya sambil fokus keacara televisi yang sedang di tonton Bella tadi.
"Tonton aja, pasti kamu ketawa." jawab Bella sambil mengunyah.
Mereka berdua kemudian fokus menonton acara televisi hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Alan kemudian melirik kearah Bella yang sudah tidak bersuara, sepertinya dia tertidur lagi.
Dan benar saja, saat ia melirik ke sebelahnya ternyata gadis itu sudah tertidur lelap. Dia selalu seperti ini. Alan menggelengkan kepalanya saat melihat Bella sudah terlelap. Martabak yang di belinya tadi sudah habis di makan, ternyata sesuka itu dia dengan martabak.
Alan mematikan siaran tv nya kemudian mulai membopong tubuh gadis kecil itu untuk membawanya ke atas ranjang. Di tidurkannya Bella di atas ranjang, kemudian ia menarik selimut hingga batas dadanya.
"Selamat tidur." ucap Alan kemudian mematikan lampu kamarnya dan menyalakan lampu tidur.
.
.
.
TBC
Next part??? Jangan lupa vote dan komentarnya😊