THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
37



37.DINDA


Alan menarik nafasnya panjang kemudian ia hembuskannya pelan. Kini dirinya sudah berada di depan rumah Dinda, rasanya sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di sini. Ia pun agak ragu kalau Dinda masih tinggal di rumah ini. Tangannya pun sedikit ragu untuk menekan belnya.


Alan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia jadi bingung harus bagaimana. Karna sudah lama sekali ia tidak bertatap muka dengan Dinda.


Saat hendak menekan belnya, tiba-tiba pintunya sudah terbuka begitu saja dari dalam. Alan sedikit terkejut, tapi ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya itu.


"Alan?"


Kini Dinda berdiri di ambang pintu, karna barusan dia yang membuka pintu sebelum Alan menekan belnya, sepertinya dia hendak pergi.


Alan hanya menatap datar wanita di hadapannya itu.


Tanpa aba-aba Dinda langsung memeluk tubuh Alan begitu saja. Alan pun terkejut atas perlakuaan Dinda yang memeluknya tiba-tiba. "Aku kangen sama kamu.." ujarnya


Alan langsung melepas pelukan itu dengan kasar.


Dinda mundur beberapa langkah saat Alan melepas pelukannya. "Kamu kemana aja? Hampir setiap hari aku hubungin kamu, tapi gak ada respon." Ujarnya


Alan terdiam sebentar.


"Hey, ada apa?" Tanya Dinda ulang karna Alan hanya bungkam.


"Sebenarnya apa niat kamu mencelakakan Bella?" Tanya Alan dengan nada dinginnya.


"Bella?"


"Ya, Bella, Istri ku yang kamu dorong kemarin siang." Terus terang Alan.


Dinda terdiam. Alan dapat melihat raut wajah Dinda yang seketika berubah.


"Kenapa diam?" Tanya Alan, jujur ia mulai geram saat ini.


"A-apa maksud kamu, Alan? A-aku nggak ngerti."


"Gausah pura-pura bodoh Din. Karna buktinya ada di rekaman cctv, bahwa kamu yang sengaja mendorong Bella!"


Jleb. Wajah Dinda seketika pucat.


"Kamu sengaja mendekatinya kan? Dan berpura-pura berkenalan dengannya agar bisa menjadi teman barunya lalu dengan begitu kamu bisa mencelakakannya? benar begitu, Dinda Najwa?" Tegas Alan


Dinda hanya bungkam sambil menatap wajah Alan yang sedang menampakkan ekspressi marahnya.


"Kenapa kamu lakukan itu sama dia?! Apa salah dia sama kamu?!" Tanya Alan sudah geram.


Dinda tersentak sedikit saat Alan menaikkan nada bicaranya. Ini kali pertamanya dia berbicara pada Dinda dengan nada tinggi.


"Kamu tau ngga? Gara-gara niat jahat kamu itu, dia sampe kehilangan janinnya!"


Tiba-tiba Dinda menitikkan airmatanya. Ia menangis karena Alan membentaknya.


Alan membuang pandangannya kesembarang arah sebentar saat melihat Dinda menitikkan airmata. Senjatanya wanita ialah air mata. Tapi Alan tak lagi luluh dengan air mata buaya Dinda.


"Kenapa kamu ga niat celakain aku aja? Kenapa harus Bella? Apa salah dia sam---" belum sempat Alan menyelesaikan perkataannya, Dinda sudah memotongnya terlebih dahulu. "Aku benci sama dia!" Potong Dinda tegas.


"Aku benci sama dia, Alan! Terutama pada janin yang ada di dalam perutnya!" Ujar Dinda lagi.


Alan mengerutkan dahinya. Apa yang membuat Dinda benci pada Bella serta janinnya.


Dinda menghapus air matanya, kemudian ia tersenyum sinis. "Dia wanita yang begitu beruntung bisa bersanding denganmu Alan! Wanita hina seperti dia itu gak pantas sama kamu!"


"JAGA UCAPAN KAMU DINDA!" Emosi Alan benar-benar berada di puncak saat Dinda mengatai istrinya ialah wanita hina.


"Aku bicara fakta! Benar kan? Istri mu itu hamil di luar pernikahan? Bukannya itu sama saja seperti wanita hina?"


Kedua rahang Alan mengeras, ia mengepalkan kedua tangannya kuat. Jika Dinda bukan seorang wanita, sudah pasti orang dihadapannya ini sudah babak belur karna bogemannya.


Dinda memilin rambutnya dengan santai. "Udah dehh gausah ada yang ditutup-tutupin lagi. Aku udah tau kalau sebenernya janin itu bukan darah daging kamu."


Alan bungkam. Darimana Dinda tau itu semua?


"Aku kenal kamu udah lama Alan. Bahkan sebelum wanita itu kenal kamu. Aku tau kamu bukan orang yang seperti itu, apalagi sampai menghamili orang sebelum menikah."


"Semua yang kamu lakuin kemarin itu ada hukumannya. Kamu tinggal tunggu aja." Balas Alan kemudian berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Dinda yang masih terbengong di tempatnya.


*****


Malam harinya, Alan baru kembali lagi ke rumah sakit setelah hampir seharian ia menenangkan diri di tempat sepi. Ia sudah memikirkan apa keputusan yang tepat diambilnya.


Didorongnya pintu tersebut, kini Alan mendapati Bella seorang diri tengah terbaring diatas ranjang rumah sakit.


"Hai," sapa Alan


Bella menoleh kearah pintu. Dilihatnya kini ada Alan yang berjalan menghampirinya. Bella melihat itu langsung membuang pandangannya kesembarang arah, ia sedang kesal dengan Alan saat ini.


Alan yang melihat Bella membuang pandangannya itu pun heran. "Ada apa?" Tanya Alan.


Bella hanya bungkam dan tidak mau menjawab pertanyaan Alan.


"Bel?" Panggil Alan


Bella masih tidak mau menatap wajah Alan. Ia kesal karna hampir seharian ini Alan tidak menampakkan batang hidungnya. Akhir-akhir ini dia sering pergi tanpa pamit padanya.


Alan kemudian duduk di bangku yang tersedia tepat di samping ranjang tempar Bella berbaring. "Udah makan?" Tanya Alan


Bella masih bungkam. Alan pun bingung dengan sikap Bella saat ini.


"Perlu sesuatu?" Tanya Alan lagi


Hening.


Alan baru mengerti sekarang, bahwa Bella sedang merajuk. Ia pun menghela nafasnya, kemudian tangannya menggenggam tangan Bella. "Maafin yaa udah buat kamu kesel lagi."


Bella langsung melepas genggaman tangan Alan. "Kamu dari mana aja?" Tanya Bella dengan nada datar tanpa mau menoleh kearah Alan.


Alan bungkam.


Bella akhirnya pun menoleh kearah Alan dan melihat ekspresi Alan. "Sana keluar, aku lagi mau sendiri." Ujarnya


"Aku mau temenin kamu di sini." Balas Alan


"Gaperlu, udah biasa sendiri dari tadi pagi juga."


"Tapi---"


"Aku bilang keluar ya keluar, Alan!" Marah Bella


Alan masih diam terpaku di posisinya.


"Ishhhh kamu nyebelin banget sih! Sana pergiii." Usir Bella sambil berusaha mendorong tubuh Alan dengan tangannya.


Alan tak tergerak sedikit pun. Ia masih diam di posisinya.


"Ihh sanaaa cepetan per---" belum sempat Bella menyelesaikan kata-katanya tetapi tiba-tiba Alan langsung membungkam mulutnya dengan sebuah kecupan singkat.


'Cup' Bibir Alan mendarat di bibirnya.


Kecupan yang begitu singkat dan dapat membuat Bella bungkam tidak lagi berkata-kata. Ia dibuat speechless dengan perbuatan Alan barusan karna ini kali pertamanya bibir Alan mendarat di bibirnya walau hanya sebuah kecupan singkat.


Bella menatap Alan tidak percaya. Dilihatnya dia hanya menampakkan ekspresi biasa saja. Sedangkan Bella berusaha mentralkan detak jantungnya yang bekerja lebih cepat.


"Tidur yaa, ini udah malem." Ujar Alan sambil menarik selimut untuk Bella hingga batas dada.


Bella masih bungkam. Ia pun bingung dengan sikap Alan saat ini.


"Tidur Bel, nunggu apa lagi?" Tanya Alan


Bella menggelengkan kepalanya pertanda tidak ada yang ia tunggu lagi.


"Yaudah tidur ya." Kata Alan kemudian tangannya mengelus-elus puncak kepala Bella dengan lembut walau sebagian kepalanya masih terhalang perban.


Bella mulai memejamkan matanya sambil menikmati tangan Alan yang masih mengelus puncak kepalanya.


"Tetaplah seperti ini, selalu di sampingku, Alan." Batin Bella sebelum ia terlelap dalam tidurnya.


.


.


.


TBC


Jangan lupa vote dan komentarnya seperti biasaaaaa❣️