
47.PERTANYAAN
"Pulangnya ke rumah aku aja ya." Pinta Bella pada Alan saat di perjalanan.
Alan kemudian menoleh sebentar kearah Bella yang sedang menatapnya sambil memohon. "Di rumah aku aja, ada Ayah sama Ibu."
"Please.."
Alan menghela nafasnya pelan lalu mengangguki permintaan Bella. Melihat itu Bella tersenyum senang.
Setibanya di halaman rumah Bella. Alan langsung mematikan mesin mobilnya dan membuka sabuk pengamannya. "Kamu tunggu disitu." Perintah Alan lalu keluar dari mobil.
Bella mengerutkan dahinya bingung. Untuk apa ia menunggu di sini?
"Dimana kunci rumahnya?" Tanya Alan sambil membuka pintu penumpang depan.
"Nih," jawab Bella sambil menunjukkan kunci yang di pegangnya kepada Alan.
"Kamu pegang." Ujarnya kemudian tanpa aba-aba ia langsung membopong tubuh Bella untuk masuk ke dalam rumah. Bella pun dibuat terkejut lagi atas perlakuan Alan saat ini.
"Aku bisa jalan sendiri Alan, ini ga terlalu sakit kok." Kata Bella
Alan menutup pintu mobilnya dengan kaki dan memilih tak merespon perkataan Bella barusan.
"Buka pintunya." Ujar Alan saat sudah di depan pintu.
Bella kemudian mulai membuka kunci pintu rumahnya. Alan lalu masuk begitu saja, tak lupa ia tutup kembali pintunya. Ia berjalan menuju kamar Bella. Setibanya di kamar Bella, ia langsung mendudukkan Bella di tepi ranjang.
"Tunggu di sini." Kata Alan kemudian langsung berlalu keluar.
Bella hanya menurut. Lalu tak lama kemudian Alan kembali datang dengan membawa kotak p3k berukuran sedang ditangannya. Alan berjongkok di hadapan Bella, lalu tangannya menyentuk kaki kanan Bella yang terdapat luka.
"Tahan ya." Kata Alan sambil mengobati luka di mata kaki Bella.
Bella mengangguk mengiyakan. Melihat itu ia terkagum sejenak. Rasanya sudah berkali-kali ia menyakiti hati pria dihadapannya ini, tetapi entah kenapa tidak sedikitpun dia berniat meninggalkannya. Hati Alan begitu lembut, sehingga membuatnya semakin merasa bahwa Alan tidak pantas untuknya. Andai sejak dulu dirinya dipertemukan dengan Alan, pasti ceritanya berbeda dengan sekarang.
Tak lama kemudian Bella mendengar suara perut lapar meminta jatah. Saat itu juga dirinya langsung tertawa geli. "Hahahahahahahahaha," tawany dengan lepas.
Alan mendongakkan kepalanya menatap Bella yang tertawa geli. Kenapa disaat-saat seperti ini perutnya itu harus meminta jatah, ia benar-benar malu saat ini pada Bella.
"Hahahaha, kamu laper?" Tanya Bella
Alan kemudian bangkit dari posisinya setelah selesai mengobati luka Bella. "Tidur, Bel. Ini sudah malam," ujarnya kemudian pergi berlalu keluar.
Melihat punggung Alan sudah menjauh, Bella pun masih tertawa geli. Terdengar jelas tadi, bahwa perut Alan berbunyi sudah meminta jatah. Ia baru ingat bahwa saat di acara resepsi tadi mereka berdua tidak sempat makan karna Alan buru-buru mengajaknya pulang dan dirinya juga ingat betul bahwa Alan terakhir makan saat sarapan bersama pagi tadi. Ia jadi tidak tega pada Alan.
Bella kemudian turun dari atas ranjang dan berjalan keluar kamar dengan perlahan-lahan menuju dapur. Ia akan memasak sesuatu untuk Alan.
Setibanya di dapur, Bella langsung membuka lemari pendinginnya untuk melihat ada bahan apa saja yang bisa dimasak di sana. Kini dilihatnya ada bahan-bahan yang lumayan cukup untuk dimasak malam ini, langsung saja ia mengeluarkannya untuk dimasak.
--------
Disisi lain, Alan sibuk mencari keberadaan Bella saat ini karna saat ia masuk ke dalam kamar, istrinya itu tidak ada di sana.
"Bell," panggil Alan sambil berjalan mencari Bella.
"Bella."
Tidak ada respon.
Alan mencari hingga ke dalam kamar mandi pun istrinya tidak ada disana. Kakinya terburu-buru menuruni tangga hendak menuju ruang keluarga. Saat baru beberapa langkah hendak masuk ke ruang keluarga, samar-samar ia mendengar suara dari arah dapur. Apa Bella ada di sana?
Tanpa pikir panjang Alan pun langsung berjalan kearah dapur untuk memastikan. Setibanya di dapur iapun langsung menghela nafasnya saat mendapati Bella yang membelakanginya.
"Bel," panggil Alan
Bella menoleh, saat merasa ada yang memanggilnya.
"Ngapain?" Tanya Alan
"Ya masak lah. Kamu laper kan?" Tanya Bella balik, kemudian kembali fokus dengan masakannya.
Alan kemudian berjalan mendekat kearah Bella dan berdiri di sebelahnya. "Kaki kamu ngga sakit emang udah bisa jalan kesini?"
"Lebay deh, ini ga seberapa sakitnya, dibanding sama muka kamu yang bonyok itu."
Alan hanya tersenyum miring.
"Sana kompres lagi itu." Ujar Bella.
"Nanti."
"Sekarang."
"Nanti."
Bella menghela nafasnya, kemudian mengecilkan api kompornya. Kini posisinya jadi menghadap Alan. "Nanti nunggu apa sih?" Tanyanya
"Nunggu sampe parah, gitu? Iya?" Tanya Bella lagi.
Alan menggeleng.
"Yaudah cepet dikompres lagi sekarang. Nunggu apa lagi nanti-nanti." Kesal Bella, karna Alan susah diberitahu.
"Nunggu kamu."
Bella terdiam sedang menyimak perkataan Alan barusan.
"Nunggu kamu selesai masak, terus kita makan, abis itu kamu kompres lebam aku, abis itu kita tidur. Udah deh." Kata Alan
Mendengar itu Bella langsung kembali fokus dengan masakannya. Pria di sampingnya ini memang sedikit keras kepala.
-----
Selesai masak, Bella menyajikan semua makanan yang dimasaknya tadi di atas meja makan. Alan melihat itu dengan tatapan laparnya, perutnya benar-benar sudah meminta jatah makan saat ini.
"Untung aku punya istri pinter masak." Ujar Alan
"Ihhh bawel deh, udah cepet dihabisin makannya biar abis itu aku kompresin lebam kamu." Balas Bella.
Mendengar itu Alan hanya terkekeh pelan. Kemudian langsung melahap makanannya dengan cepat.
Selesai makan bersama, Bella meletakkan piring-piring kotor itu di tempat cuci piring. Alan bangkit dari posisinya, "Aku ke kamar ya." Ujar Alan.
Bella menoleh sebentar. "Iya."
Alan berlalu pergi meninggalkan ruang makan menuju kamar. Sedangkan Bella sibuk menyiapkan bahan untuk mengompres lebam di wajah Alan.
Kini kakinya melangkah menuju kamar untuk menghampiri Alan, dengan sebelah tangannya yang membawa sebuah wadah kecil.
Bella berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Setibanya di kamar ia mendapati Alan yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya di sofa panjang yang tersedia di kamarnya. Bella menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Melihat itu Alan langsung meletakkan ponselnya.
"Sini!" Ujar Bella meminta Alan untuk mendekat kearahnya.
"Sebentar, aku ganti baju dulu." Kata Alan kemudian bangkit dari posisinya.
Bella hanya menghela nafasnya. Kini Alan dengan santai membuka bajunya di hadapan Bella. Melihat itu Bella langsung membuang pandangannya kesembarang arah. Ia merasa dejavu.
Alan sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang lebih santai. Ia kembali duduk di sofa yang tadi dan mendekat kearah Bella.
Bella lalu menatap Alan. Begitu juga dengan Alan, ia menatap istrinya dengan serius. Bella kemudian tersadar karna merasa sudah cukup lama menatap Alan. Ia mulai melakukan aksinya untuk mengompres lebam di wajah Alan.
Dilihatnya kini Alan masih terus menatap Bella dengan serius, hingga Bella merasa kini jantungnya tak lagi bekerja dengan normal, tetapi dirinya berusaha untuk tetap fokus dengan lebam diwajah Alan.
"Bel," panggil Alan masih sambil menatap Bella dengan serius.
"Hmm." Bella hanya bergumam
"Kamu masih cinta Justin?" Tanya Alan.
Bella seketika menghentikan aksinya saat mendengar Alan bertanya seperti itu. Ia balas menatap Alan. Kini mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Kamu mau tau jawabannya?" Tanya Bella
Alan mengangguk. "Iya."
Bella hanya menghela nafasnya pelan. Alan merasa Bella sulit untuk menjawab pertanyaannya barusan, itu artinya Bella masih mencintai Justin. Tatapan Alan kini berubah.
"Kalau kamu masih cinta Justin, pergilah Bel, mungkin bahagiamu ada di sana, Bersama Justin." Kata Alan
Bella hanya diam.
"Mungkin seharusnya dari awal aku ngga ambil keputusan untuk nikahin kamu. Karna aku liat sampai sekarang sepertinya kamu masih mencintai Justin. Aku juga liat tadi, gimana Justin berbicara dengan kata-kata yang diucapkannya begitu tulus sama kamu. Dia masih cinta kamu, dan dia serius sama kamu, Bel."
Mendengar itu Bella kembali menghela nafasnya. Ia tidak mengubris perkataan Alan barusan, kini dirinya lebih memilih untuk kembali fokus mengompres lebam diwajah Alan.
"Bel..."
"Besok di kompres lagi ya.." kata Bella mengalihkan pembicaraan. Kemudian bangkit dari posisinya dan berlalu keluar kamar sambil membawa wadah yang tadi.
.
.
.
.
To be continued..
Jangan lupa vote dan komentarnya seperti biasa❣️supaya authornya rajin updateee😻
Sepertinya sisa beberapa part lagi ceritanya ending nih😭 siap-siap deh nextt part kalian dibikin baper🔥