
16.ANEH
Kini Bella dan Alan sedang dalam perjalanan pulang kerumah Bella. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam cacing-cacing di perut Bella sudah meminta jatah. Ia melirik kearah Alan yang sedang fokus menyetir.
"Om.." panggilnya
Alan hanya bergumam tanpa menoleh sedikitpun kearah Bella.
"A-aku laper.."
Tidak ada respon dari Alan. Bella merasa dikacangin, dirinya pun hanya bisa memanyunkan bawah bibirnya dengan perasaan kesal.
Bella menoleh kearah kaca di sampingnya untuk melihat pemandangan kota Jakarta di malam hari, dirinya enggan sekali menoleh ke arah Alan yang tiba-tiba sikapnya menjadi dingin sejak kedatangannya itu.
Apa dirinya ada salah? Kenapa Alan malah menjadi cuek padanya?
Bella mengernyitkan dahi karena mobil Alan berhenti tepat di depan restaurant. ia lalu menoleh kearah Alan, dilihatnya dia keluar begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Bella pun segera keluar dari dalam mobil dan mengikuti langkah Alan yang mulai memasuki restaurant.
"Om tungguin!" panggil Bella sambil berlari-lari kecil
Alan yang mendengar itu langsung memelankan langkahnya agar Bella bisa menghampirinya.
"Kita mau makan kan?" tanya Bella
"Iya." jawab Alan singkat sambil duduk di bangku yang kosong.
Bella pun ikut duduk dengan posisi yang berhadapan dengan Alan.
Alan langsung memanggilkan pelayan untuk memesan. Tak lama kemudian pelayan datang dan memberikannya dua buku menu. Bella langsung memilih-milih apa makanan yang ingin dimakannya.
Alan dan Bella sudah selesai memesan. Kini keduanya sibuk dengan ponselnya masing-masing. Bella sedang membalas pesan Justin dan memberi info pada Justin kalau Alan sudah kembali, itu artinya Justin tidak perlu mengantar-jemputnya lagi.
Alan melihat kearah Bella, memperhatikan gadis itu yang masih asik dengan ponselnya.
Bella kemudian mendongakkan kepalanya dan tak sengaja kini kedua mata mereka bertemu.
Deg.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Oh ****! Tatapannnya membuat jantung Bella berdebar lebih cepat dari biasanya.
Alan tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Bella pun juga melakukan hal yang sama seperti Alan. Mereka berdua seperti sama-sama salah tingkah.
Lalu tak lama kemudian pelayan datang membawa makanan yang mereka pesan tadi. Diletakkannya makanan-makanan itu di atas meja. Setelah semuanya tersaji, Bella langsung menyantapnya dengan lahap.
*******
Keesokkan harinya, Bella sudah siap dengan seragam serta perlengkapan sekolahnya. Kini kakinya melangkah menuruni tangga hendak menuju ruang makan untuk sarapan, sudah bisa dipastikan pasti di sana ada Alan serta bi Nana.
Bella berjalan masuk ke dalam ruang makan dan benar saja dugaannya, bahwa kini ada Alan yang sedang menyantap sarapannya.
"Udah bibi siapin nih Non," ujar bi Nana kepada Bella
Bella mengangguk dan segera duduk lalu menyantap sarapannya. Dirinya curi-curi pandang sedikit terhadap Alan, sepertinya mood pria itu masih sama seperti semalam.
Sebenarnya ada apa sih dengan Alan?
Alan lebih dulu menyelesaikan sarapannya. Dia langsung bergegas keluar begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Kalian lagi marahan yaa?" kata bi Nana saat Alan sudah berlalu keluar.
Bella hanya mengangkat kedua bahunya. "Gatau tuh, sikapnya tiba-tiba aneh."
Bi Nana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Udah deh." ujar Bella sambil bangkit dari posisinya
"Loh kok ga dihabisin?"
"Bella jadi nggak mood makan Bi."
"Di bekelin aja ya?"
Bella menggeleng. "Ngga usah." jawabnta kemudian berlalu keluar.
Bella langsung bergegas mengenakan sepatu sekolahnya. Lalu Alan datang menghampiri Bella. Bella pun mendongakkan kepalanya menatap Alan, sedangkan tangannya masih sibuk mengikat tali sepatu.
"Hari ini saya tidak mau denger kamu bolos lagi." ujar Alan
Bella lalu bangkit dari posisinya saat sudah selesai mengikat tali sepatunya.
"Hari ini aku ada pelajaran tambahan, karena udah mau UN. Jadi pulangnya agak sore." beritahu Bella
Alan hanya diam.
Bella berbicara lagi, "Kalo Om gasempet yaudah gausah jemput. Aku bisa bareng Just--" Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, Alan sudah lebih dulu memotongnya.
"Jam berapa?"
"4 sore."
"Yaudah."
"Yaudah apa?"
"Yaudah saya jemput."
Bella hanya mengangguk.
Alan kemudian berjalan kearah mobilnya dan diikuti Bella di belakangnya.
Setibanya di sekolah Bella langsung keluar dari mobil begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Alan. Begitu juga dengan Alan, dia sedaritadi hanya bungkam.
Alan menurunkan kaca mobilnya agar bisa lebih jelas melihat Bella yang sedang menghampiri temannya di depan gerbang. Alan kenal dengan temannya itu, dia adalah Hana teman dekatnya Bella.
Hana yang melihat Bella baru keluar dari mobil putih itu terkejut karena dia masih ingat betul wajah pria yang pernah menanyakan Bella pada saat itu.
Bella berjalan menghampiri Hana dan merangkulnya begitu saja untuk mengajak masuk bersama.
"Yuk masuk." ujar Bella pada Hana.
Hana menahan kakinya dan kedua matanya masih fokus kearah seberang, dimana mobil Alan berhenti.
"Lo sama dia?!"
"Dia siapa?"
Hana masih terus menatap kearah Alan yang belum juga pergi. Bella penasaran, ia pun menoleh kebelakang mengikuti arah pandang Hana.
"Ishh dia itu cowok yang waktu itu pernah nyariin lo Bel! Dia juga yang nelfon gue nanyain lo." kata Hana
Bella hanya berOh-ria saja.
"Dia siapa lo sih? Kakak? tapi muka lo sama dia beda jauh parahhh, lo sama dia juga cakepan dia. Lagian juga lo kan anak satu-satunya."
"Udah nanti gue kasih tau. Hayu masuk ke dalem."
Hana mengangguk dan mereka berdua pun segera masuk ke dalam.
Saat melihat Bella bersama temannya itu sudah masuk, Alan baru melajukan mobilnya pergi.
----
"Lo ada hutang penjelasan sama gue. Dia siapa lo?!" gereget Hana saat sudah tiba di kelas.
Bella kemudian duduk di kursinya dan meletakkan ranselnya di atas meja.
"Gatau." jawab Bella asal
Hana langsung melongo. "Hah?! Gatau??"
Bella mengangguk cuek.
"Gimana bisa gatau?"
"Yaa gatau."
"Ishh apa sih."
"Lagian emang kenapa sih? Ngurusin hidup gue amat." celetuk Bella
"Astaga Bella Elyana.. Bukan itu masalahnya."
"Terus?"
"Gue pengen tau aja dia itu siapa lo? Bukan selingkuhan lo kan? Kalo dia bukan siapa-siapa lo kan gue bisa gebet."
"Yeuu dasar! Lagian juga gamungkin kali dia pacar gue Na, kan gue udah ada Justin."
"Setia amat sih sama Justin." celetuk Hana
Bella hanya diam menghiraukannya.
"Bucin dasar." celetuk Hana lagi.
"Lo rasain deh punya pacar. Seru tau." kata Bella
Hana mengangguk. "Pacarannya sama cowok yang tadi ya? Kira-kira cocok nggak gue kalo sama dia?" pedenya
Bella hanya terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Ish nyebelin!" kesal Hana.
*****
Kini tepat pukul 4 sore Bella keluar kelas. Dirinya baru saja menyelesaikan pelajaran tambahan untuk persiapan Ujian Nasional yang tinggal 3 bulan lagi.
Justin berteriak-teriak memanggil nama Bella, Mendengar namanya dipanggil Bella otomatis menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Kini dia melihat Justin berlari kecil menghampirinya.
"La, kamu bareng si Om-om itu?" tanya Justin
Bella mengangguk.
"Sama aku aja."
"Tapi kayaknya dia udah nungguin di depan."
"Yaudah biarin aja."
Bella terdiam.
"La, pulang sama aku aja. Ke rumah ku dulu." kata Justin
"Tapi ini udah sore Just, aku gabisa kerumah kamu dulu.."
Justin menghela nafasnya. "Yaudah deh, tapi aku yang anter kamu pulang ya?"
Bella tampak sedang memikirkan bagaimana nasib Alan jika dirinya bersama Justin.
"Just kan aku udah bilang kalo ada dia itu artinya aku ga sama kamu dulu."
"Jadi? Kamu lebih milih dia dibanding aku La?"
"Bukan gitu maksud ku Just.."
"Terserah deh."
Bella sedikit iba dengan Justin karena bagaimanapun juga Justin ialah kekasihnya. Tapi disisi lain ada seseorang juga yang sudah menunggunya di luar.
"Yaudah aku sama kamu." ujar Bella
Justin langsung tersenyum. "Nah gitu dong lebih milih aku."
"Yaudah sana kamu ambil motor. Aku tunggu disini."
Justin mengangguk dan segera bergegas ke tempat motornya parkir. Bella hanya diam berdiri dipinggir lapangan menunggu Justin datang.
Saat Justin datang, Bella langsung duduk di boncengannya dan Justin pun langsubg mentancap gasnya.
Saat sudah hendak keluar gerbang. Bella melihat ada mobil yang sangat dirinya kenali itu sudah parkir di tempat biasanya. Bella juga bisa melihat bahwa disana ada Alan yang sudah menunggu di dalam mobil, karena kacanya dibiarkan terbuka.
Bella melihat kearah Alan, begitu juga dengan Alan. Alan melihat Bella yang duduk di boncengan Justin.
Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Alan. Dia hanya memasang ekspresi datar seperti biasanya, lalu dengan sengaja ia menutup kaca mobilnya agar Bella tidak lagi melihat kearahnya.
Apa Bella berniat mengerjainya lagi?
.
.
.
TBC