THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
26



26.PESTA


Dua minggu berlalu...


Malam ini Bella sedang menghadiri acara pesta ulang tahun teman sekolahnya di salah satu cafe ternama dengan balutan dress casual yang dikenakannya. Dentuman musik terdengar begitu keras, serta ramai dengan para tamu undangan yang datang.


Ada banyak berbagai macam makanan tersaji di atas meja, Bella yang melihat itu rasa mualnya kembali datang.


"Na," panggil Bella pada temannya Hana yang duduk di sebelahnya.


Hana pun menoleh, "Kenapa?"


"Perut gue mual banget, gue pulang duluan aja kali ya."


"Tapi acaranya kan belum selesai."


"Iya justeru itu. Gimana dong ini, gue pengen muntah." ujarnya sambil menahan rasa mualnya.


"Lo ke toilet aja sana buruannn."


Bella mengangguk mengiyakan, kemudian langsung buru-buru bangkit dari posisinya dan berlari kecil kearah toilet.


Setibanya di toilet Bella langsung menumpahkan semua rasa mualnya tadi di wastafel. Selesai itu, ia kembali merapihkan penampilannya.


Kakinya melangkah keluar dari toilet. Tiba-tiba saja saat baru beberapa langkah keluar dari toilet ada seorang wanita yang dirinya tidak ingat siapa namanya itu menghadang jalannya. Bella terkejut, apa maksudnya ini?


Dilihatnya wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh dan menatap dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan sinisnya.


"Permisi," ucap Bella sambil bergeser posisi.


Wanita itu masih menghadang jalannya dan tidak mau memberi celah sedikitpun untuk dirinya lewat.


Bella berdecak sebal karena dirinya tidak diberi jalan untuk lewat. "Budek ya?" kesalnya.


"Dimana Justin?" tanya wanita itu.


Bella memutar kedua bola malas saat mendengar nama Justin disebut oleh wanita dihadapannya ini.


"Sekarang lo yang budek ya? jawab pertanyaan gue! Dimana Justin!" bentak wanita itu.


"Gue gatau!" jawab Bella ikut membentak.


Bella benar-benar kesal dengan wanita dihadapannya ini, karena dia adalah wanita yang pernah kepergok oleh dirinya sedang bermesraan dengan Justin.


"Bohong!"


"Apaansih."


"Gue tau lo bohong! Lo pasti tau kan Justin dimana?!"


Bella mengerutkan dahinya.


"Gue tanya sekali lagi sama lo, Dimana Justin?!"


"Gue gatau! Apa kurang jelas jawabannya?!!"


Wanita itu seketika terdiam. Lalu matanya melirik kearah perut Bella yang masih rata.


Bella menyadari lirikannya itu. Buru-buru ia menutupinya dengan tas yang dibawanya.


"Apa?!" ketus Bella saat wanita itu sudah mengalihkan matanya.


"Woy sini woy!" teriak wanita itu memanggil teman-temannya.


Teman-temannya itu pun datang menghampirinya. Ada sekitar 6 orangan yang datang mendekat kearahnya.


"Ada apa Re?" tanya salah satu temannya.


Bella seketika baru ingat siapa nama wanita itu. Reta, ya dia adalah Reta.


"Kalian tau kan dia siapa?" tanya Reta pada teman-temannya.


"Ceweknya Justin?"


"Ya! Lebih tepatnya dia adalah cewek simpanan Justin!"


Bella melototkan kedua matanya menatap Reta. "Apa maksud lo?!" kesalnya


Reta tertawa merendah. "Kasian banget sih, lo cuma di manfaatin Justin doang!"


Bella mengerutkan dahinya bingung.


"Lo itu sebenernya ga dianggep pacar sama dia! Dia itu cuma manfaatin lo doang!"


Bella semakin dibuat bingung.


"Lo udah tidur bareng kan sama dia?!" kata Reta terus terang.


Jleb! Seketika sekujur tubuh Bella mendadak kaku.


"Lo sekarang hamil anak dia kan?!"


Duarrrrrrrrrrrr.... Dari mana Reta mengetahui hal itu? Apa Justin cerita padanya?


"Haiiii gaissss semuanyaaa, denger ya. Dia itu wanita ******! Dia udah pernah tidur bareng sama Justin dan dia sekarang lagi hamil anaknya Justin!" ujar Reta memberitahu teman-temannya.


Bella di permalukan di depan teman-temannya Reta. Sungguh dirinya kesal dengan itu.


"Kenapa diem aja? Bener kan berarti gue ngomong?" kata Reta menantang.


Bella benar-benar sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


"Ewwwhh kalangan!" celetuk salah satu temannya Reta


"Hahahaha Kalangan!"


"Dasar kalangan!"


"Wanita marahin!"


"Huuu kalangan!"


Teman-temannya Reta terus mengatai dirinya. Tanpa sadar Bella menitikkan airmatanya begitu saja. Dirinya sedih dan marah saat ini.


Bella langsung menutup kedua telinganya sambil menggelengkan kepalanya. "GUE BUKAN KALANGAN!!!" teriaknya kesal karena teman-temannya Reta terus mengatai dirinya.


"Huuu kalangan!"


"Hahahahha kalangan!"


"Ewwhhhhh."


"IHHH SANA PERGI!!! GUE BUKAN KALANGAN!!!" teriak Bella kesal sambil berusaha mengusir Reta beserta teman-temannya itu.


Mereka semua tidak menyerah dan terus mengatai Bella habis-habisan. Sehingga membuat orang sekitar tertarik untuk datang menghampiri. Alhasil kini di hadapan Bella banyak orang-orang yang sedang menatap dirinya dengan tatapan aneh.


"Woyyy semuanya gue kasih tau ya, dia itu kalangan! Padahal statusnya masih pelajar tapi udah hamil di luar nikah!" teriak Reta memberitahu orang-orang yang ramai mendekat.


"Pergi lo semua!!!!" teriak Bella kesal sambil mendorong-dorong orang-orang yang di hadapannya.


"Huuuu kalangan!"


"Dasar kalangan!"


"Hikssss sanaaa pergi!!!!" teriak Bella sambil menangis.


"Pergiiiiii ihhhhh!!!" teriak Bella


Kemudian tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangan Bella dari belakang dan langsung membawa Bella kedalam pelukannya begitu saja.


Bella terkejut saat melihat siapa yang menarik tangannya barusan. Alan, dia adalah Alan. Bella langsung membalas pelukan dari Alan dan menangis di dalam pelukannya.


"Hikss.. Alan.."


Reta beserta teman-temannya itu terkejut saat mendapati seorang pria bertubuh proposional datang dan memeluk Bella tiba-tiba.


"Ayo pergi Bel," ujar Alan sambil melepas pelukannya.


Bella mengangguk sambil sesegukan. Alan langsung menggenggam tangan Bella untuk membawanya pergi melewati kerumunan orang-orang yang ramai menonton.


Reta dan teman-temannya itu masih tidak percaya. Banyak pertanyaan-pertanyaan muncul di kepala mereka saat melihat Bella bersama pria tampan.


Setibanya di luar, Alan melepaskan genggamannya. Bella hanya diam menunduk sambil sesegukan.


"Apa yang terjadi sebenarnya Bel?" tanya Alan.


"Hiks.. mereka semua tau kalau aku hamil, Alan."


Alan terdiam.


"Mereka semua ngatain aku, kalau aku ini cewek murahan lah, ****** lah, apalah. hiks.. mereka semua jahat."


Alan langsung menarik Bella ke dalam pelukannya lagi untuk menenangkan gadis kecil dihadapannya ini. Tangan kanannya mengelus-elus rambut Bella yang dibiarkan terurai.


Bella menangis di dada bidang Alan. Dirinya benar-benar sedih saat ini. Tidak ada seorangpun yang berpihak padanya saat itu.


Bella lalu melepas pelukannya dan menundukkan kepala. "Ayo pulang," ujarnya sambil menghapus airmatanya yang tersisa di pipi.


Alan menatap Bella dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kenapa kamu pakai hak itu lagi?" tanya Alan sambil menunjuk kearah hak yang dikenakan Bella.


"Yaa terus masa aku pake sepatu sih, ini kan acara pesta Alan..."


"Memangnya tidak ada sendal yang lain? Yang tidak berhak tinggi seperti itu."


"Ada, sendal jepit."


"Yaudah lain kali pake itu aja."


"Ihhh masa ke pesta pake sendal jepit sih, nanti aku diketawain."


Alan lalu berjongkok di hadapan Bella dan mulai memegang hak tinggi tersebut. "Ayo di lepas." ujarnya


Bella menurut saja saat Alan mulai melepas kaitan sepatu haknya. Saat sudah dilepas dua-duanya Alan kembali berdiri tegap dan menenteng sepasang heels milik Bella. Kini Bella bertelanjang kaki, tanpa mengenakan alas kaki apapun.


"Aku nyeker gitu?" tanya Bella.


Tanpa aba-aba Alan langsung menggedong tubuh Bella dengan ala bridal style untuk membawanya berjalan kearah tempat dimana mobilnya parkir.


Bella terkejut dan reflek langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Alan. "Yaampun Alan, aku bisa jalan sendiri!"


Alan hanya bungkam sambil berjalan kearah mobilnya.


Setibanya di mobil. Alan langsung mendudukkan Bella di kursi penumpang depan dan memakaikannya sabuk pengaman, lalu sepatu yang di tentengnya tadi ia letakkan di kursi penumpang belakang, Sesudah itu dirinya duduk di kursi pengemudi dan memakai sabuk pengamannya. Alan pun mulai melajukan mobilnya menuju rumah Bella.


"Alan.." panggil Bella tanpa embel-embel kata 'Om'.


"Hmm.." Alan hanya menjawab dengan gumamannya.


"Kenapa bisa kamu ada di cafe tadi?"


"Papa kamu nyuruh saya ke sana."


"Ngapain?"


"Yaa jemput kamu."


"Oh.." Bella hanya ber-Oh ria saja.


"Ini sudah malam, harusnya kamu udah di rumah jam segini Bel."


"Iya tadinya mau pulang duluan tapi acaranya belum selesai."


"Jangan datang ke acara pesta lagi ya,"


"Kenapa emangnya?"


"Kamu mau kejadian yang tadi terulang?"


Bella terdiam sejenak, kemudian langsung mengubah topik pembicaraan. "Kamu udah libur lagi?" tanyanya


"Iya."


Bella kembali ber-Oh ria. Dirinya lalu menatap kearah kaca mobil untuk melihat pemandangan kota Jakarta yang kemerlap.


Setibanya di depan rumah. Bella melepas sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil begitu juga dengan Alan.


Dengan kaki telanjangnya Bella berjalan kearah depan pintu dan berdiri di sana menunggu Alan.


Alan berjalan kearah Bella sambil menenteng heelsnya. "Ini saya taro disini ya." ujarnya sambil meletakkan heels tersebut di sudut tembok depan rumah.


Bella mengangguk mengiyakan. "Kamu ngga nginep?"


Alan menggelengkan kepalanya. "Saya mau langsung pulang. Tapi mau pamit dulu sama Papa kamu."


"Ohiyaudah, masuk ayo." ujarnya sambil membukakan pintu.


Bella dan Alan masuk ke dalam. "Paaa, Ada Alan nih.." teriak Bella memanggil Papanya.


Roy kemudian keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri Bella serta Alan.


"Sudah pulang?" tanya Roy dan Bella mengangguk.


"Saya pamit mau pulang ya Om." kata Alan sambil menyalami tangan Papanya Bella.


"Ohiyauda, besok Orangtua kamu jadi kesini kan?" tanya Roy pada Alan.


"Iya, Ayah sama Ibu jadi kesini besok."


"Oh yasudah."


Sesudah itu Alan menoleh kearah Bella dan menatapnya. "Saya pulang ya,"


Bella mengangguk mengiyakan. "Terimakasih," ucapnya.


Alan hanya tersenyum tipis. Kemudian berlalu keluar dan pergi.


.


.


.


.


To be continued..


Next? Jangan lupa vote dan komentarnya☺