
25.VIDCALL
Keesokkan harinya, Bella merasa seperti tidak ada gairah hidup. Pandangannya kosong, pikirannya entah kemana. Hana yang sedang duduk bersebelahan dengan Bella ia pun bingung dengan sikap Bella hari ini.
"Bel." panggil Hana
Tidak ada jawaban dari Bella.
"Bella!" panggil Hana lagi sedikit dengan nada tinggi. Alhasil Bella pun tersadar.
"Eh-iya? kenapa?" tanya Bella
"Lo kenapa sih ngelamun terus?! Ayo pulang!"
Bella hanya bungkam.
"Bel..."
"Justin pergi Na," lirih Bella
"Pergi?!" Hana terkejut.
Bella mengangguk mengiyakan.
"Jadi maksud lo dia pergi ga tanggung jawab gitu?!"
Bella mengangguk lesu. "Gue gatau harus gimana lagi.."
Hana langsung merangkul sahabatnya seakan sedang memberinya kekuatan. "Yang sabar ya Bel. Tapi lo udah coba hubungin dia belum?"
"Udah, tapi nomernya ga aktif."
"Kemarin lo ke rumahnya ada orang tuanya ngga?"
"Justeru itu Na. Rumahnya kosong, gaada satu pun orang yang tinggal disana lagi."
"Masa sih?"
"Tetangganya bilang orang tuanya Justin udah cerai."
"Hah seriusan?! Justin gaada cerita apa-apa gitu sama lo?"
Bella menggelengkan kepalanya.
Hana mengelus-elus pundak sahabatnya. "Terus gimana janin yang ada di perut lo Bel?"
Bella langsung menoleh sekeliling, dilihatnya suasana kelasnya sudah mulai sepi karena satu persatu teman sekelasnya sudah keluar.
"Bel.."
"Gue gatau Na,"
"Terus gimana dengan Alan? Dia yang bakal tanggung jawab kan?"
Bella terdiam. Dirinya tidak yakin kalau Alan akan benar-benar tanggung jawab, secara ini bukanlah anak kandungnya dan apa untungnya buat Alan jika dia bertangung jawab atas kehamilannya ini?
"Bokap lo juga taunya dia kan yang ngehamilin lo?"
Bella masih bungkam dengan pandangan lurus ke depan.
"Bel, jawab.."
"Alan terlalu baik untuk gue Na,"
"Jalanin aja dulu Bel, Mungkin emang Alan yang terbaik untuk lo.."
Bella menggelengkan kepalanya. "Ini bukan salahnya dia, seharusnya dia ga usah masuk kedalam masalah gue Na."
"Itu artinya dia perduli sama lo Bel."
"Tapi apa untungnya buat dia ngelakuin itu? Secara gue ini bukan siapa-siapanya dia Na, kenal juga belum lama."
"Gue rasa dia punya perasaan lebih sama lo Bel."
Bella langsung menggelengkan kepalanya. "Gamungkin Na, karena yang gue tau dia itu udah punya pacar."
"Lo yakin? tau dari mana?"
"Belum lama, ga sengaja gue liat notif di handphonennya."
"Apa emang?"
"Cuma pesan singkat aja, tapi ada kata sayangnya."
"Jadi lo liat di notif handphone dia ada yang kirim pesan pake kata sayang?"
Bella mengangguk mengiyakan.
"Siapa namanya?"
"Nomernya ga disimpen sama dia."
"Lah kok aneh?"
Bella hanya mengangkat kedua bahunya.
"Dia ga pernah cerita sama lo emangnya?"
Bella menggeleng.
"Ini aneh sumpah. kalo emang dia punya pacar terus kenapa mau tanggung jawab sama kehamilan lo ini?!"
"Entahlah."
"Terus hari ini dia jemput lo?"
Bella menggeleng. "Dia udah kembali ke rutinitasnya."
"Apa?"
"Ya kerja lah, Na."
"Tapi kan biasanya tiap hari dia anter-jemput lo terus."
"Iya itu kalo lagi libur."
"Ohh gitu..Tapi nih ya, saran gue lo sama si Alan aja Bel."
"Ya mau gimana lagi Na, bokap gue kan taunya Alan yang ngehamilin gue. Yaa jadi otomatis lah dia yang bakal disuruh sama bokap gue untuk tanggung jawab."
"Lo beruntung banget ada Alan di sisi lo Bel."
Bella hanya diam. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Langsung saja ia menjawabnya saat melihat nama Papanya tertera di layar.
"Halo Pa?"
"..."
"Iya ini Bella mau keluar."
"..."
"Iya."
"Ayo keluar Na, Bokap gue udah nunggu di depan." ujar Bella sambil bangkit dari posisinya.
Hana mengangguk dan ikut bangkit dari posisinya.
***
Di dalam perjalanan pulang, Bella hanya menatap ke arah kaca mobil melihat jalanan. Pikirannya jadi tertuju pada Alan. Sebenarnya apa motif dari pria itu yang mau ikut masuk ke dalam masalahnya ini.
Roy menoleh kearah anaknya yang hanya diam menatap kearah kaca mobil samping. "Bel," panggilnya
Bella hanya bergumam.
"Saat Alan kembali nanti, kamu sudah selesai ujiannya belum?"
"Bulan depan aku baru mulai ujian."
"Sekarang baru pertengahan bulan, Itu artinya masih ada cukup waktu untuk Alan menyiapkan semuanya."
"Menyiapkan? Menyiapkan apa Pa?" bingung Bella.
"Pernikahan kamu sama dia."
Bella terdiam.
"Kamu fokus ujian aja. Biar itu jadi urusan Alan sama Papa."
"Pa jangan terlalu dibebankan semuanya ke Alan. Dia juga punya kesibukan yang lain, kasihan dia."
Roy hanya bungkam sambil fokus menyetir.
"Terus gimana Om Arya sama Tante Tia, Pa?"
"Tentu saja mereka juga harus ikut campur mengenai hal itu."
Bella hanya bisa menghela nafasnya pasrah sambil memejamkan kedua matanya.
"Maaf ya Alan.." batinnya
*****
Setibanya di kamar, Bella langsung melempar ranselnya asal kemudian menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Pandangannya menatap langit-langit kamarnya yang polos.
Pikirannya tertuju pada Alan, pria yang sudah masuk ke dalam masalahnya. Dirinya tidak tahu bagaimana jadinya nanti setelah menikah dengan Alan.
Bella menarik keatas sedikit seragam yang dikenakannya lalu tangan kanannya memegang bebas perutnya yang masih rata. Diusapnya perut itu dengan lembut layaknya ibu hamil pada umumnya. Tanpa sadar kini air mata sudah mengalir di pipinya.
Kemudian ponselnya berdering pertanda ada panggilan masuk. Buru-buru Bella menghapus air matanya yang sudah membanjiri pipi, sesudah itu ia mengambil ponselnya.
Dilihatnya kini nama Alan tertera di layar ponselnya. Untuk apa dia menelfon?Video call pula. Tanpa pikir panjang Bella langsung menjawabnya.
Bella merubah posisinya menjadi duduk. Dilihatnya kini tertera wajah Alan di layar ponselnya.
"Habis nangis ya?" tanya Alan, karena dia bisa melihat wajah Bella lewat layar ponselnya.
Bella menggelengkan kepalanya. "En-ngga kok."
"Saya bisa liat itu dari mata kamu."
Bella terdiam.
"Siapa yang kamu tangisi Bel?"
Bella masih diam.
"Justin?" tebak Alan.
"Kamu lagi di mana itu?" tanya Bella mengalihkan pembicaraan.
Alan mengenyahkan pertanyaan dari Bella barusan. "Udah pulang sekolah?"
Bella mengangguk mengiyakan.
"Udah makan?"
Bella menggeleng.
"Makan gih."
"Gamau, perutnya lagi ga enak."
"Mual?"
"Yaa gitu deh."
"Cari makanan yang ngga bikin mual."
"Apa?" tanya Bella.
"Gatau." jawab Alan
Bella langsung tertawa geli. "Hahahahaha kamu aneh deh."
Alan hanya tersenyum melihat Bella tertawa di layar ponselnya.
"Sana kerja!" perintah Bella
"Nanti belum jamnya."
Bella hanya ber-Oh ria saja.
"Bel," panggil Alan
"Iya?"
"Dimana Papa kamu?"
"Udah berangkat lagi ke kantor, kenapa?"
"Gapapa, Tadi yang anter-jemput siapa?"
"Papa."
Kemudian Bella mendengar suara dari seberang telfon memanggil-manggil nama Alan. Alan pun menoleh keasal suara, Bella bisa melihat itu di layar ponselnya.
"Ohiyaudah, saya tutup dulu telfonnya yaa.. Ada urusan sebentar." Kata Alan
Bella mengangguk mengiyakan. Kemudian Alan langsung mematikan sambungan telfonnya.
Dirinya jadi ingat dulu saat pertama kali bertemu dengan Alan. Pria itu benar-benar mengjengkelkan dan rasanya ingin menyingkirkannya jauh-jauh tetapi entah kenapa akhir-akhir ini dirinya ingin Alan selalu ada di sisinya.
Ternyata Bella salah menilai Alan selama ini.
.
.
.
TBC
Jangan lupa Vote dan komentarnya yaaa..☺