THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
04



04.KETIDURAN


Kini jam menunjukkan pukul 01.00 siang tepat jam bel pulang sekolah tiba. Bella melangkahkan kakinya berjalan keluar menuju gerbang hendak menunggu Justin karena mereka akan pulang bersama.


Bella jadi teringat kata-kata Papanya kemarin siang lewat telfon, dimana dirinya harus diantar-jemput dengan Alan. Bicara mengenai Alan, Bella belum melihat batang hidung pria itu sejak semalam. Kemana dia?


Apa doanya semalam dikabulkan oleh Tuhan? Ah entahlah, dirinya tidak mau ambil pusing tentang itu.


Setibanya di depan gerbang sekolah, Bella dikejutkan dengan sebuah klakson mobil dihadapannya. Mobil itu terlihat tidak asing dimatanya. Sepertinya klakson tadi memang ditujukan untuknya.


Lalu kaca mobil diturunkan oleh si pengendara mobil. Bella tambah terkejut, kini mulutnya sedikit terbuka saat melihat siapa si pengendara mobil tersebut.


Dia adalah Alan. Pria yang baru saja ada dipikirannya tadi.


"Kamu?!" tunjuk Bella kearah Alan yang duduk di dalam mobil dengan gaya sok coolnya.


"Masuk!" perintah Alan


Bella mengerutkan dahinya. "Ha?"


"Masuk ke dalam mobil Bella."


"Ngapain?"


Alan berdecak sebal, ternyata Bella sedikit lemot.


"Ya pulang, lalu mau apa lagi?"


Bella langsung menggeleng menolak. "Nggak!"


"Masuk!" perintah Alan lagi


"Nggak mau! Aku udah ada janji."


Alan menaikkan sebelah alisnya, "Janji?"


"I-iya sam--" Bella belum sempat menyelesaikan perkataannya karena suara klakson motor terdengar dari arah belakangnya.


Bella menoleh kebelakang, dilihatnya kini Justin membuka kaca helm fullfacenya kemudian mematikan mesin motornya.


"La," Justin melirik sebentar kearah Alan yang berada di dalam mobil. "Kenapa ada dia?" tanyanya.


Bella menoleh sebentar kearah Alan lalu kembali menoleh kearah Justin lagi. "Gatau." jawabnya cuek


"Yaudah yuk." ajak Justin sambil menyodorkan helm satunya kepada Bella.


Bella mengangguk dan menerima helm tersebut lalu memakainya. Kakinya sudah siap hendak naik keatas motor tetapi tiba-tiba Alan berbicara dan membuatnya menoleh.


"Saya harus lapor apa ke Papa kamu hari ini?" tanya Alan kepada Bella dengan ekspresi datarnya.


"Eh mas! Mainnya jangan anceman gitu dong!" kesal Justin saat merasa Alan mengancam Bella.


Bella melihat Alan menaikkan sebelah alisnya.


"Anceman?"


"Iya! Jangan mentang-mentang masnya dikasih tanggung jawab buat jagain Lala situ jadi seenaknya aja ngancem-ngancem!"


"Dari mana saya ngancem Bella? Emangnya tadi perkataan saya seperti ngancem?Lagi pula niat saya kesini cuma mau jemput Bella, gak ada maksud untuk ngancem atau bagaimana."


"Yaa tapi kan--" ucapan Justin terpotong karena Bella berbicara.


"Ishhh udahhh udahhhh," kesal Bella melerai perdebatan sehat itu.


"Kamu mau pulang sama siapa La?" tanya Justin dengan nada dinginnya tanpa mau menoleh kearah Bella.


Dahi Bella bergelombang. Kenapa Justin bertanya seperti itu? Jelas, dirinya lebih memilih untuk pulang bersama Justin.


Bella menoleh sebentar kearah Alan, dilihatnya dia hanya menatap kearahnya tanpa ekspresi apapun. Sebenarnya Bella sedikit takut jika Alan benar-benar melaporkan kepada Papanya mengenai ini.


Bella tidak menjawab, dirinya naik begitu saja keatas motor Justin kemudian memerintahkan Justin untuk segera melajukan motornya.


Justin tersenyum miring melihat kearah Alan. Sedangkan Bella tidak mau menoleh sama sekali kearah Alan. Justin pun segera melajukan motornya meninggalkan Alan yang masih diam diposisinya.


Alan menutup kembali kaca mobilnya dan menginjak pedal gasnya menuju rumah. Kali ini menuju rumah orangtuanya, bukan rumah orangtuanya Bella.


Di rumah Bella menjadi begitu gelisah, dirinya tidak bisa berfikir dengan tenang. Dirinya takut kalau Alan mengadu yang tidak-tidak kepada Papanya. Bagaimana jika Alan melebih-lebihkan cerita? Lalu Papanya itu akan mengomeli dirinya habis-habisan. Yaa, bisa saja Alan dendam padanya karena persoalan tadi siang. Dimana dirinya menolak untuk pulang bersama Alan.


Belum lagi Justin yang sepertinya kesal dengannya hingga saat ini, karena pesan serta panggilan darinya tidak mendapat balasan atapun jawaban sama sekali.


"Arghhh semua ini gara-gara si om tua bangka itu!" gerutunya kesal


Kemudian terdengar suara ketukan pintu kamarnya berkali-kali, membuat Bella berjalan kearah pintu untuk membukanya.


Saat pintu dibuka, Bella mendapati Bi Nana membawakan segelas susu untuknya.


"Bibi buatkan susu untuk non."


Bella tersenyum tipis. "Terimakasih Bi." balasnya sambil menerima segelas susu itu dan meneguknya hingga habis.


"Jangan tidur terlalu malam ya non, besok masih harus sekolah." pesan Bi Nana.


Bella mengangguk mengiyakan sambil memberikan gelas yang sudah kosong kepada Bi Nana. "Oh iya ngomong-ngomong si tua bangka itu ada di rumah gak?"


"Nak Alan?" tanya Bi Nana sambil menerima gelas yang sudah kosong tersebut.


"Iya"


Bi Nana menggeleng. "Dia belum pulang dari kemarin siang non."


Bella mengerutkan dahi bingung. "Tadi siang dia juga ga kesini dulu?"


"Ga kesini dulu gimana maksudnya non? Dia kan memang belum kembali kesini dari kemarin siang."


Belum pulang dari kemarin siang? Lalu kenapa Alan tadi siang menjemputnya ke sekolah. Bella benar-benar dibuat bingung dengan pria itu.


"Oh iyaudah deh Bi."


"Ada apa memangnya non?"


"Gapapa sih."


"Oh yasudah bibi pamit ke kamar ya."


"Iya"


Bi Nana pun berbalik dan melangkah menuruni tangga untuk mengembalikan terlebih dahulu gelas yang dipegangnya. Sedangkan Bella menutup kembali pintu kamarnya.


----


Bella melihat kini jam sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Tapi dirinya tak kunjung tidur entah kenapa, Sedaritadi dirinya merubah posisi tidurnya kesana kemari tetapi tidak ada yang membuatnya nyaman dan tertidur lelap. Bella akhirnya memutuskan untuk bangkit dari posisinya dan berjalan keluar kamar.


Kakinya melangkah menuruni tangga hendak menuju ruang tv. Dirinya berpikiran mungkin dengan menonton tv nanti akan tertidur. Setibanya di ruangan tv, Bella segera duduk di sofa lalu menyalakan Tvnya menggunakan remote untuk mencari siaran yang menurutnya tidak membosankan.


Waktu pun terus berjalan, tak terasa kini sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB. Bella sudah menguap beberapa kali sejak tadi, dirinya sudah mulai mengantuk dan tidak fokus dengan apa yang di tontonnya saat ini. Alhasil kini ia tertidur di sebuah sofa dengan posisi duduknya.


Selang beberapa menit, Alan datang. Tak sengaja ia mendengar suara TV menyala, kakinya pun terpaksa berjalan kearah ruang TV dan benar saja TV itu menyala.


Alan melihat kini ada Bella dengan kedua matanya yang terpejam. Sepertinya dia tertidur. Alan pun meraih remote yang ada diatas meja lalu mematikan TV nya.


Alan menatap kearah gadis yang sedang tertidur lelap itu. Dia terlihat begitu menggemaskan jika dalam posisi seperti ini. Wajah terlelapnya begitu damai, membuat Alan sedikit tidak tega membiarkan Bella tidur di sofa dengan posisi seperti ini.


Dengan memberanikan diri Alan membopong tubuh mungil Bella dan membawanya naik ke lantai atas tepatnya ke kamar Bella.


Setibanya di kamar Bella, Alan langsung menidurkan Bella diatas ranjang gadis itu dan menyelimutinya hingga batas dada.


"Tidurlah yang nyenyak gadis kecil" ucapnya.


Alan lalu berbalik hendak keluar tetapi tak sengaja kedua matanya melihat sesuatu yang menarik untuk dilihat sehingga membuatnya menunda untuk keluar sebentar.


Kakinya melangkah mendekat kearah meja belajar gadis itu. Dilihatnya begitu tertata rapih buku-buku pelajaran serta beberapa pajangan foto. Tangan Alan meraih sebuah bingkai yang menampilkan foto Bella saat masih balita, Dia begitu menggemaskan. Tanpa sadar Alan tersenyum melihat foto tersebut.


.


.


.


TBC