THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)

THE PILOT'S WIFE (COMPLETED)
43



43.BAKU HANTAM


Tanpa aba-aba Justin langsung memeluk tubuh Bella begitu saja. Bella sama sekali tidak berkutik, dia hanya diam tidak membalas ataupun menolak. Alan yang melihat itu hanya diam.


"Aku kangen kamu, La." Ucap Justin masih sambil memeluk Bella.


Bella masih tidak percaya akan ini. Justin kembali. Justin datang kepadanya. Justin memeluknya. Apakah ini mimpi?


Panggilan 'Lala' kini di dengarnya lagi. Itu artinya ini nyata, ini nyata bahwa Justin kembali.


Seketika Bella baru ingat bahwa ia kesini bersama Alan. Alan masih berdiri di sampingnya tanpa bergeming sedikit pun. Buru-buru Bella melepas pelukan Justin saat baru menyadari bahwa ada Alan di sampingnya.


"La, udah lama banget aku gak ketemu kamu. Aku kangen kamu." Ucap Justin enteng.


Bella masih bungkam manatap Justin. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat wajah Justin. Dirinya pikir Justin tidak akan kembali.


"Aku jauh-jauh datang dari Singapore ke Jakarta nyari kamu. Aku masih sayang sama kamu, La." Ucap Justin.


Duarrrrrrrrrrrr... mendengar itu Alan seakan baru saja mendapat bom yang sengaja dilemparkan untuknya. Kepalan kedua tangannya pun semakin kuat.


Justin kembali memeluk tubuh Bella. "Aku sayang kamu."


Bella masih terpaku diposisinya. Kesabaran Alan sudah habis, ia tidak bisa lagi menahan-nahan amarahnya saat ini sejak melihat wajah Justin si pengecut itu datang.


"Brengsek!!!" Langsung saja dengan kasar Alan menarik tubuh Justin untuk menjauh dari istrinya. Tak segan-segan ia langsung melemparkan bogeman kepada Justin.


BUGHHH!


Satu bogeman dari Alan mendarat di pipi Justin, sehingga membuat Justin hampir terhuyung dan mundur beberapa langkah kebelakang.


Bella melihat itu shock. Ia terkejut saat Alan tiba-tiba menyerang Justin begitu saja.


"PENGECUT!" kesal Alan dan memberi Justin bogeman lagi.


BUGHH!


Justin sudah dua kali mendapat bogeman mentah dari Alan. Ia pun tidak terima dan langsung membalas kepada Alan dengan bogemannya lagi.


BUGH! Sebuah bogeman pun ikut mendarat di pipi Alan.


"ALAN!" Teriak Bella saat melihat Alan mendapat bogeman.


Alan tak mau diam. Ia masih terus ingin menyerang Justin hingga dia benar-benar kapok.


Mereka berdua pun saling baku hantam. Bella menangis ketakutan, terlebih lagi saat melihat Alan juga mendapat serangan.


"ALAN! JUSTIN! STOP!" Teriak Bella berusaha memberhentikan aksi mereka berdua.


Namun kedua tak ada yang mendengarkan Bella. Mereka berdua masih saling beradu otot satu sama lain. Bella masih terus menangis kebingungan. Ia tidak tega melihat wajah babak belur Alan, begitu juga dengan Justin saat ini.


Dilihatnya ujung bibir Justin sedikit sobek dan mengeluarkan darah segar. Separah itu kah Alan memberinya pelajaran?


Justin terhuyung kebawah. Ia tergeletak di aspal dengan pakaian yang kusut karna berkelahi. Amarah Alan masih memuncak, ia belum puas memberi Justin pelajaran. Alan mengunci tubuh Justin yang tergeletak di aspal agar dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Justin benar-benar begitu sudah lemas dan tidak lagi berdaya untuk membalas. Tangan kanan Alan yang mengepal kuat sudah melayang dan siap hendak membogem wajah Justin lagi.


Namun Bella kembali berteriak. "JANGANNN ALANNN!!!!!!" Teriaknya meminta Alan untuk tidak menghajar Justin lagi.


Tangan kanan Alan masih melayang, ia belum melemparkan bogemannya itu karna Bella. Bella meminta untuk menghentikan aksinya.


Nafas Alan terengah-engah, keringat bercucuran di wajahnya. Ia menoleh kearah istrinya yang berlinang airmata.


****! Bella menangis. Alan langsung bangkit dari posisinya dan berusaha untuk menetralkan emosinya.


Bella menatap Alan kecewa. "Udah cukup untuk kedua kalinya ya kamu kayak gini!" Marahnya


"Bel, aku---" ucapan Alan terpotong. "Kenapa kamu pukul dia gitu aja?!" Potong Bella membentak.


"Dia brengsek, Bel!" Balas Alan ikut membentak.


Bella sedikit tersentak saat Alan membentaknya. Tangisnya tambah jadi saat mendengar Alan membentaknya. Entah kenapa rasanya begitu sakit sekali saat Alan membentaknya.


"Dia itu pengecut! Apa dia perduli sama kamu pada saat itu? Apa dia ada di sisi kamu pada saat itu?! Kenapa baru muncul sekarang?! kemana aja dia selama ini?! Tiba-tiba dateng terus peluk kamu dan bilang sama kamu kalau dia masih sayang sama kamu! Apa itu masih pantes menurut kamu??!!" Marah Alan.


"Tapi gak harus dengan kekerasan gini, Alan! Kita bisa selesainnya dengan kepala dingin!"


"Orang kayak dia itu gakbisa nyelesain masalah dengan kepala dingin, Bel! Dia harus diberi pelajaran!" Kesal Alan sambil menunjuk-nunjuk kearah Justin yang masih terbaring lemas di aspal.


"Sebenernya kamu yang gak bisa nyelesain masalah dengan kepala dingin, bukan dia!!" Balas Bella membentak.


Alan seketika bungkam. Ia menatap Bella dengan tatapan kecewanya. Kenapa istrinya ini masih membela pria brengsek seperti Justin yang sudah jelas-jelas melakukan kesalahan besar. Lagi-lagi dirinya kalah dengan Justin. Apa benar Bella masih mencintai Justin?


"Aku kecewa sama kamu, Bel." Ujar Alan dengan nada dinginnya.


Bella terdiam. Ia melihat Justin yang sudah babak belur tergeletak di aspal sedikit tidak tega. ia pun berjalan menghampiri Justin dan membantu Justin untuk bangkit.


Alan hanya diam melihat itu. Bella mencoba berusaha membantu Justin untuk bangkit.


"Ayo ke rumah sakit." Ujar Bella sambil merangkul Justin untuk mengajaknya berjalan kepinggir jalan raya memberhentikan taxi yang lewat.


Hati Alan mencelos begitu saja saat melihat Bella pergi membawa Justin.


"Ternyata kamu lebih memilih dia daripada aku, Bel." Gumam Alan saat melihat punggung Bella sudah menjauh.


Alan pun melihat Bella masuk ke dalam


Taxi bersama Justin. Taxi yang ditumpanginya pun berlalu pergi.


Alan langsung mengacak-acak rambutnya frustasi. "ARGHHHHHHH!" Kesalnya.


****


Alan kembali pulang kerumahnya. Ia tidak kembali kerumah Bella. Ia butuh menenangkan pikirannya dulu sejenak. Ini sudah malam, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Alan masih setia duduk di sofa ruang tamunya dengan kaki yang di selonjorkan.


Lebam-lebam di wajahnya pun dibiarkan begitu saja. Ia tidak berniat sedikit pun untuk mengobatinya. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Dirinya yakin, Bella pasti belum pulang kerumahnya saat ini. Dia masih bersama Justin.


Alan memejamkan kedua matanya sambil memijit-mijit pangkal hidungnya. Mengingat kejadian tadi membuatnya begitu kecewa. Ternyata Bella lebih memilih Justin dari pada dirinya.


----


Waktu terus berjalan, kini jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Bella keluar dari taxi setelah membayarnya. Ia menghampiri Alan kerumahnya, karna tadi saat dirinya tiba di rumah Alan tidak ada di sana, maka dari itu ia menghampirinya kesini.


Dilihatnya kini mobil Alan terparkir di halaman depan rumah. Sudah bisa dipastikan bahwa Alan benar-benar ada disini. Langsung saja ia melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah Alan.


Setibanya di depan pintu utama. Bella hendak


Memencet bel rumahnya tetapi tidak jadi, ia melihat jam yang melekat dipergelangan tangannya. Ini sudah malam, pikirnya. Pasti mereka semua sudah tidur. Jika ia menekan belnya pasti semua orang di rumah ini akan bangun. Bella pun mengurungkan niatnya itu untuk memencet bel.


Kemudian tangannya mencoba mendorong pintu tersebut. Alhasil kini pintu terbuka, karna tidak dikunci. Bella pun masuk dan tak lupa ia tutup kembali pintunya.


Bella berjalan mendekat kearah sofa ruang tamu saat merasa ada seseorang yang tengah berbaring disana.


Kakinya pun melangkah perlahan-lahan mendekati orang tersebut. Saat sudah dekat, iapun langsung menghela nafasnya lega karna ternyata Alan lah yang sedang berbaring di atas sofa. Kini dilihatnya wajah tenang Alan saat tertidur.


Ia menatap Alan dengan iba. Diwajahnya masih terdapat beberapa lebam yang membiru karna perkelahian tadi. Apa dia tidak mengobatinya sepulang tadi?


Bella membungkukkan sedikit badannya. Kemudian tangan kanannya memegang pelan lebam di wajah Alan itu.


Alan menggeliat dari tidurnya. Ia meringis pelan saat merasa ada seseorang yang menyentuh lukanya.


"Awsshh." Ringis Alan pelan, kemudian membuka kedua matanya.


Alan terkejut karna kini ia mendapati Bella ada disini.


"Kamu belum obatin ya lukanya?" Tanya Bella saat Alan sudah membuka kedua matanya.


Alan hanya bungkam.


Bella merasa tidak mendapat jawaban dari Alan. Ia pun langsung bergegas ke dapur mengambil alat dan bahan untuk mengompres lebam di wajah Alan.


Alan masih diam diposisinya. Bella kembali menghampiri Alan dengan tangannya yang memegang sebuah wadah kecil berisikan esbatu dan sapu tangan kecil.


"Duduk!" Perintah Bella pada Alan.


Alan masih diam.


"Duduk, Alan!" Perintahnya lagi.


Alan pun menurut, ia kemudian mengubah posisinya menjadi duduk.


Bella lalu duduk di samping Alan dan tanganny mulai mengompres luka Alan dengan esbatu yang dibungkus perlahan-lahan.


"Awshhh." Alan hanya meringis kesakitan saat Bella mengompres lukanya.


Bella hanya diam fokus mengompres luka Alan. Sedangkan Alan menahan rasa nyeri atas lukanya itu sambil menatap wajah Bella yang begitu dekat.


Ada apa dia kesini? Bukannya tadi pergi bersama Justin? Pikir Alan.


"Sok jadi jagoan sih, jadinya gini kan." Sindir Bella masih sambil mengompres luka Alan.


Alan hanya bungkam. Ia masih memandangi wajah istrinya itu.


.


.


.


.


To be continued..